
“Hei, pulang sama siapa sekarang?”, mereka masuk ke kelas yang penuh dengan gelak tawa itu. “Hem.. mungkin nungguin jemputan, soalnya akhir-akhir ini Azhiel nggak pernah muncul lagi. Padahal berkat dia aku bisa pulang lebih cepat dan nggak perlu nungguin jemputan.”. Mereka berpapasan dengan Albert. “Bagaimana kalau aku antar?”, tawar Albert yang ternyata mendengar obrolan mereka. “Oh, nggak usah, nanti kamu repot, rumah kitakan beda jauh banget.”, tolak Vechia meskipun menyesal Vechia mencoba untuk menutupinya. Kapan lagi bisa pulang diantar oleh Albert . Ingin sekali Hana memutar waktu dan mengatakan, “Mau dong!!!”, dengan suara lantang. Sayangnya nasi sudah jadi bubur, dia tak punya mesin waktu untuk memutar waktu. “Bener nih?”, Albert menawarinya lagi. “Ih apaan sih? Sudahlah aku mau ke kelas dulu.”, Vechia menarik tangan Alice yang cekikikan. “Albert!!! Ke sinilah!!!”, teriak Dinda dari dalam kelas. Vechia yang sudah ada di dalam mendengarnya dan hatinya marah. Dinda adalah contoh wanita yang tidak disukainya. Wanita yang sudah punya pacar, pacarnya jauh dan di sini dia bebas bermesraan dengan laki-laki lain. Dan herannya lagi semua laki-laki itu mau-mau saja padahal mereka sudah tahu kalau Dinda sudah punya pacar. Dan sekarang Albert mulai menjadi salah satu dari laki-laki itu, sungguh sakitnya. “Alice, Farell pernah nggak cerita sesuatu tentang Azhiel?”, Vechia duduk menghadap Alice yang sibuk memainkan HP-nya. Alice pura-pura berpikir, mematikan ponselnya, “Kau kangen sama anak ingusan itu?”, tanya Alice kemudian. Vechia menggeleng dengan cepat, “Enak saja. Aku cuma....”, “Cuma apa hayo???? Cie.... Vechia mulai naksir cowok ni ye???”, goda Alice. Tiba-tiba saja muncul Albert di belakang mereka. “Alice, kamu ngomong apaan sih?”, tanya Albert . “Ini urusan cewek tahu, jangan ikut campur deh, tuh kamu ditungguin sama Dinda. Sana pergi!!!!”, Vechia mendorong Albert agar menjauh dari mereka. Albert pun pasrah dan pergi. “Chia, kamu kok gitu sih? Padahal tadi Albert sudah baik lo nawarin ngantar kamu pulang.”, Alice tampaknya tidak setuju dengan perlakuan Vechia pada Albert. “Habis aku benci laki-laki seperti itu.”, Vechia melirik Dinda yang sedang memegang tangan Albert dan Albert terlihat menikmatinya. “Lihatlah! Masa dia mau dipegang sama Dinda yang bukan pacarnya tapi pacar orang lain.”, “Oh itu masalahnya? Kau tahukan kalau Dinda memang wanita seperti itu, semua laki-laki di kelas ini dirayunya, jadi kamu jangan heran anggap saja kalau kamu tidak pernah melihatnya. Lagi pula Albert kan bukan siapa-siapamu, dan kamu tidak mencintainya kan?”, pertanyaan Alice sukses membuatnya ragu. “Enggak lah, mana mungkin.”, jawab Vechia dan langsung mengemasi bukunya dan pulang meninggalkan Albert yang melihatnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
Azhiel keluar dari kelasnya dengan muka masam. Rindu, mungkin itulah yang sedang menggerogoti jiwanya. Ingin rasanya dia memanggil nama gadis yang disukainya, namun ada keraguan yang menyerangnya. Ragu kalau seandainya apa yang dikatakan Farell salah dan dia tak punya kesempatan untuk Vechia. “Azhiel, duluan ya?”, Farell berlari mendahului Azhiel yang sempoyongan. “Dasar, hati-hati nanti kakimu patah!”, teriak Azhiel dengan suara lantang yang dipaksakan. Vechia, Vechia dan Vechia hanya itu yang dia pikirkan. Baru ingin memutar sepeda motornya, matanya menangkap sosok gadis yang memenuhi pikirannya itu. Sayangnya, Vechia sedang berdua dengan laki-laki yang tak dikenalnya. Marah, itulah yang kini dirasakannya. Seakan laki-laki itu akan merebut Vechia darinya. “Kak Vechia?”, desah Azhiel. Azhiel mengemudikan motornya dengan kesal dan melewati Vechia begitu saja. Sapaan atau mungkin lebih tepatnya teriakan Vechia tak diacuhkannya sama sekali. Dan itu membuat Vechia jadi kesal, aneh kalau Azhiel tak mengacuhkannya.
Okeh...jangan lupa yah...di bagian visual ada separuh dari bab 6 awal...jangan lupa dibaca yah.