
Burung bernyanyi menghibur para siswa baru dan lama. Namun sayang semua itu tak berlaku untuk Vechia, seorang murid kelas XI di SMA METHOPAN. Baginya terik matahari sudah membakar seluruh tubuh dan semangatnya siang itu. Dia tak seperti teman-temannya yang lain, saat semua tengah semangat-semangatnya melatih calon adik kelas, dia malah asyik berteduh di bawah Pepohonan Bambu yang rindang. Baginya semua temannya bukan tengah mengajar tapi sedang mencari perhatian adik kelas. Yang pria, bukannya mengajar malah curi-curi pandang pada gadis-gadis cantik. Sesekali mata Vechia tertuju pada teman pria yang tengah menggoda adik kelas. “Cih, dasar pria mata keranjang. Dia pikir semua gadis termakan rayuannya, rasakan saja nanti kalau sudah dapat batunya pasti nyesel.”, Vechia merasa agak kesal pada Dimas teman sekelasnya yang selalu berusaha menjadi playboy. Vechia berpaling dan menyandarkan kepalanya di pohon Bambu, memejamkan mata dan merasakan bagaimana aroma musim panas ini. Tanpa disadarinya seorang pria tengah memperhatikannya dari jauh. Pria itu merasa senang melihat Vechia yang tampak tenang ketika teman-temannya ribut kesana-kemari. Satelah puas dia membuka matanya lagi dan di depan matanya terpampang jelas Tania, yang sedang bergenit ria bersama beberapa orang adik kelas laki-laki. Vechia sedikit memincingkan matanya, “Aku rasa dia berencana memasukkan semua pacar-pacarnya jadi grup pemain sepak bola. Kau memang cantik tapi sayang kau terlalu percaya diri dengan kecantikanmu itu.”, umpat Vechia. Vechia bosan dengan semuanya. Dan tak ada yang bisa dilakukannya karena dia memang tak suka dengan acara ini. Baginya kegiatan yang berkaitan dengan pramuka adalah hal yang paling menyebalkan. Meskipun dulunya dia adalah kelompok pramuka tapi dia merasa tak suka sama sekali dengan itu. Kali ini dia memperhatikan seorang gadis yang terlihat kelelahan memimpin acara ini, dia adalah Zeffy, sang ketua OSIS yang sangat berprestasi. Selain di sekolah Zeffy juga berprestasi di luar sekolah. Bagi Vechia , hanya Zeffylah yang serius mengurus semua ini.
Kini acara yang ditunggu-tunggu khususnya oleh Vechia akhirnya tiba, acara penutupan MOS dimulai. Kakinya sudah gatal ingin segera pulang ke rumah. “Vechia, kesini.”, panggil seorang wanita dengan rambut yang diikat polos ke belakang. Vechia mendekati gadis itu dan duduk disebelahnya. “Chia, dari tadi kamu kok nggak kelihatan sih?”. Vechia menolah dengan wajah kesal yang dibuat-buat, “Mana mungkin aku kelihatan sementara matamu dipenuhi dengan pria itu, kau tahu sampai sekarang aku bisa melihat bayangan Carl di matamu, dasar genit.”, Vechia merubah raut wajahnya. Gadis yang dipanggil Alice cuma nyegir tak jelas. “Aku kira kamu nggak masuk lagi hari ini.”, bisik Alice pada Vechia karena takut mengganggu Pembina yang sedang memberi pengarahan. “Mana mungkin tidak masuk lagi, sudah dua kali aku nggak hadir. Takutnya jadi masalah nantinya.”, “Benar juga ya, kamu kan sekretaris masak nggak masuk terus.”. Alice yang merupakan teman Vechia, kini cuma duduk manis sambil sesekali curi-curi pandang denga Carl. Sekarang ini Zeffy mengambil alih posisi Pembina dan mulai memberi wejangan pada adik kelas. Vechia meresa kagum pada ketua osisnya ini, selain cantik dan pintar dia juga berani, tak salah jika Dante jatuh hati padanya. Tidak seperti dirinya yang selalu merasa terasingkan. “Membuatku iri saja.”, gumam Vechia spontan. Dari dulu dia merasa iri pada Zeffy yang selalu mendapat juara 1 Umum sedangkan dirinya terpaksa harus megalami penurunan prestasi. Dulunya Vechia mendapat peringkat 2 Umum kemudian 3 Umum kemudian kehilangan dan kini dia berhasil mendapat Juara 2 Umum lagi. Namun dia merasa agak ragu apa bisa mempertahankannya. Acara penerimaan hadiah untuk siswa baru yang dianggap paling baik akhirnya di dimulai. Vechia ditugaskan untuk membawakan hadiah ke atas panggung aula. Dengan santai Vechia pun melaksanakan tugasnya. Semuanya biasa saja saat dia naik namun sesuatu yang tak biasa rupanya dirasakan oleh seorang murid baru. Matanya tak lepas memandang Vechia yang naik membawa hadiah untuk temannya. “Manisnya kakak OSIS itu, sayang baru kali ini aku melihatnya. Kak mungkinkah aku menyukaimu?”, batin pemuda itu. “Untuk seluruh anggota OSIS diharapkan naik ke panggung.”, suara Zeffy menggelegar dan dituruti oleh seluruh anggota. Tepuk tangan meriah menggema di seluru penjuru aula. Tak ingin menghilangkan kesempatan emas ini, pemuda yang dari tadi memperhatikan Vechia mengambil ponselnya dan diam-diam ikut memfoto Vechia saat semua OSIS dan guru-guru serta siswa yang mendapat hadiah berfoto di panggung. “Hei, apa yang sedang kau lakukan?”, tiba-tiba temannya mengagetkan setelah dia menyimpan kembali ponselnya di saku celana. “Aku cuma iseng.”, bohong pria itu namun jawabannya tak begitu penting toh itu bukan urusannya juga.