My True Love Is My Underclassmate

My True Love Is My Underclassmate
Chapter 3



Di kelas sudah mulai sepi.


*****


“Vechia aku pulang duluan ya!”, “Iya, hati-hati..”, Alice pun segera menghilang dari kelas. Vechia baru akan pergi setelah selesai memasukkan semua buku-bukunya ke dalam tas abu abu kesukaannya. Namun datang seorang pria dengan perawakan rapi dan tampak lebih muda darinya. Pria itu berdiri di depan pintu kelas, seakan menunggu seseorang. “Maaf Dik, semua orang sudah pergi, kau mau mencari siapa?”, Vechia menyapanya sekedar saling menghormati saja. “Aku mau mencari Kakak.”, sahut pria itu. Vechia yang merasa belum mengenal pria itupun kembali bertanya, “Aku? Memangnya ada apa?”, “Namaku Azhiel, aku adalah murid kelas sepuluh. Mungkin kakak belum mengenalku bahkan belum pernah melihatku tapi aku sudah menyukai Kakak sejak pertama kali melihat kakak.”, sahut anak itu polos. “Apa?”, Vechia merasa geli mendengar pengakuan anak itu. “Apa kau sedang menyatakan perasaanmu?”, batin Vechia. “Hahaha.. Kau ini sungguh lucu. MOS untuk anak kelas sepuluh sudah selesai, dasar Adek kecil katakanlah siapa yang menyuruhmu melakukan hal itu? Aku ini tidak mudah untuk kau bohongi mengerti. Dan kalau kau kesini hanya untuk bermain-main, minggirlah kau hanya membuang waktuku.”, cerocos Vechia yang langsung pergi tanpa menunggu jawaban dari pria itu. “Dasar bocah kurang ajar, berani-beraninya dia mempermainkanku, tunggu dulu bukankah dia adalah pria yang kulihat tadi? Dasar bocah playboy!”, Vechia berbalik dan melihat bagaimana pria tadi mematung di tempatnya. Namun Vechia tak berniat menghampiri pria itu dan langsung pergi meninggalkannya.


Sementara Azhiel masih setia berdiri dan tak berniat untuk segera pergi. Dia baru saja menyatakan perasaannya dan baru saja pula dia ditolak tanpa ada basa-basi sedikitpun. Apa yang salah darinya, apa mungkin karena gadis itu terkejut karena tiba-tiba saja orang tak dikenal menyatakan cinta padanya. Kalau begitu maka Azhiel berniat untuk mendekati gadis itu dengan pelan-pelan.


***


Vechia baru saja selesai makan siang dan berniat mengecek akun facebooknya. “Ada permintaan pertemanan siapa ya?”, dengan meminum teh hangat Vechia mengecek satu persatu. “Azhiel Charlie .S? Bukankah ini bocah tengil itu? Dasar, biar saja lah. Aku tak ingin berteman dengan orang ini. Lebih baik aku mencari video BTS yang baru update.”. Vechia pun menutup akun facebooknya. “Vechia, ada Alice nih.”, suara Mama Vechia menggema hingga ke kamarnya. Beberapa detik kemudian kepala seseorang mungcul dari balik pintu kamarnya, “Masuklah!”, Alice masuk dengan ekspresi yang aneh. “Kenapa? tumben sekali kau ke sini?”, “Em.. Aku sedang bosan di rumah, adikku sangat menyebalkan. Jadi kuputuskan untuk kesini sekaligus ingin membuat tugas bersamamu bagaimana?”, “Ish.. Kau merepotkan saja, ini aku sudah selesai, kau boleh meminjamnya tapi awas jangan sampai robek!.”, Vechia menyerahkan sebuah buku pink dengan motif bunga. “Wah, senangnya tapi bolehkah aku minta minum, aku haus.”, pinta Alice dan mendapat respon yang menjengkelkan dari Vechia. “Dasar!, tunggulah sebentar, awas jangan membuat kekacauan.”, Vevhia pun segera pergi. Sepeninggal Vechia, Alice pun segera mengambil ponsel Vechia yang kebetulan ditaruhnya di tempat tidur, dia segera mengetik sesuatu di sana, “Maafkan aku ya Vechia, aku terpaksa tapi aku jamin kau tak akan menyesal oke.”, tampak gurat kepuasan di wajah Alice. “Minuman datang..”, Vechia masuk dan mendapati Alice tengah menyalin tugasnya. “Kau serius sekali aku bahkan tak pernah melihatmu seserius ini.”, ejek Vechia. “Kau teralu meremehkanku, kau tahu tak baik meremehkan sesuatu.”, Alice langsung meneguk minumannya. “Oh Tuhan kenapa ini susah sekali? Aku salut padamu, kau bisa mengerjakan soal ini, aku bahkan berkali-kali mencari jawabannya ke sana-kemari tapi hasilnya Nihil.”, celetuk Alice. “Kau terlalu lebay, kau saja yang tak mendengarkan penjelasan guru.”, Vechia mengambil buku sastranya. “Kau tahu aku sangat membeci Bu Mei. Dia membuat kepalaku pusing, dan gaya centilnya itu membuatku muak. Aku bahkan sangat senang waktu kau memberinya pertanyaan, tapi sayang dia sepertinya sangat tertekan.”, celoteh Alice lagi. “Sejujurnya aku juga tak suka dengan Bu Mei, jawabannya pun tidak membuatku puas tapi membuatku semakin bingung, penjelasannya pun tak masuk akal untuk ku.”, timpal Vechia. “Berarti semua murid tak menyukainya.”, sahut Alice girang. “Kenapa kau terlihat sangat senang kalau semua orang tak menyukai Bu Mei?”, tanya Vechia bingung. “Bukannya senang tapi merasa bangga karena kita semua kompak.”, Alice masih menekuni pekerjaannya. Vechia menekuni bukunya dan Alice masih masih mengerjakan tugasnya jadi tak ada pembicaraan lagi diantara mereka karena mereka sedang sibuk. Tak heran kalau mereka sibuk karena sebentar lagi mereka akan menempuh ujian Kelulusam jadi harus dipersiapkan dari sekarang. Dan tak ada waktu bagi Vechia untuk memikirkan yang namanya pacaran, setidaknya untuk saat ini. Selain karena memang orang tuanya yang belum mengijinkan tapi juga karena Vechia yang masih sampai saat ini belum mau membuka hatinya untuk pria lagi.


***


“Bu, berapa?”, Vechia membayar makanannya. Dia membeli beberapa jajanan di kantin sekolah. Dia ingin makan dengan tenang, tanpa ada yang mengganggu tapi semua tempat disini sudah penuh. “Oh mereka sudah pergi.”, Vechia segera duduk di bangku yang baru saja ditinggalkan oleh sekelompok gadis kelas XII IS. Dia duduk manis sambil membuka pelan tutup makanannya. “Em.. Lezatnya, mungkin ini efek dari perutku yang kelaparan. Untung saja Pak Maestro berhalangan kalau tidak mungkin aku akan mati kelaparan.”. Merasa cukup kenyang dia pun meminum minumannya. Mata Vechia tiba-tiba saja menangkap sepasang kekasih yang sedang bermesraan, “Ish, itu bukannya Dante dan Zeffy? Aku tak menyangka mereka bermesraan di sana. Mereka itukan tokoh sekolah, sebentar lagi juga ujian, bisa-bisanya mereka begitu. Tapi mereka kan pintar, apalagi Zeffy. Aku jadi iri.”, batin Vechia. Walaupun sudah lama namun Vechia tak menyangkal kalau rasa cemburu masih saja merasuk di hatinya. “Kalau dipikir-pikir aku belum pernah merasakan rasanya pacaran, apalagi berpegangan tangan dengan laki-laki kecuali Papaku.”, Vechia menatap tangannya, “ kasian sekali kau, tapi kau harus bersabar ok?!”. “Tapi bagaimana kalau aku mencoba untuk menerima Nathan atau Zayn atau bagaimana kalau Steve saja.”, Vechia mengingat nama-nama pria yang pernah menyatakan cinta padanya. “Vechia!?”, Vechia menoleh karena ada yang memanggil namanya. “Steve?”, baru saja dipikirkan sekarang orangnya sudah datang dengan sendirinya. Vechia berharap Steve tidak mendengar apa yang dikatakannya barusan. Steve membawa bungkusan dan meletakkannya di depan Vechia. Vechia menaikan satu alisnya pertanda dia tidak mengerti maksud Steve. “Aku lapar sekali tadi habis dapat pelajaran biologi dari Pak Golarden.”, “Lalu?”, Vechia bangun dan ingin meninggalkan Steve Namun Steve menahannya dan memintanya untuk menemaninya makan. Awalnya Vechia menolak tapi karena tak tega membiarkan bocah ini mewek jadilah dia menemani Steve di kantin. “Hei, pelan-pelan saja, aku tidak akan meminntanya, aku sudah kenyang.”, “Aku takut kau akan pergi dan makananku belum habis.”, sahut Steve yang terus menekuni makanannya. Vechia mendengush pelan, dia tidak tahan dengan cara Steve yang terus saja mencoba merayunya. Walaupun Vechiamengakui kalau kadang-kadang dia sempat terpukau oleh Steve .Steve bukanlah pria jahat ataupun jelek. Bisa dibilang dia salah satu pria terkeren dan pintar di sekolah ini. Tapi sayang dia tak cukup setia untuk menunggu cinta Vechia. Dulu Vechia pernah mempertimbangkan akan menerima cinta Steve tapi Steve malah pacaran dengan Anggie adik kelas mereka. Jadilah seperti ini, Vechia tak mau lagi menerima Steve takutnya Jadi dicap sebagai perusak hubungan orang. “Makananmu sudah habis aku pergi!”, Vechia ingin pergi namun tiba-tiba saja tangannya ingin diraih oleh Steve, sayangnya Steve tak secepat gerak refleknya Vechia. Dengan hitungan detik tangan Vechia berhasil menghindar. “Jangan pernah mencoba untuk menyentuh ku!”, Vechia segera pergi tanpa mendengarkan apapun dari mulut Steve. Sedangkan Steve cuma mematung memandang punggung Vechia yang semakin menjauh. “Vechia, kenapa kau susah sekali untuk sekedar dekat denganku. Apa kau marah? Aku menyesal pernah menyatakan perasaanku padamu.”, Steve mengingat kembali masa dimana dia pernah menyatakan perasaannya pada Vechia. Waktu itu mereka kelas 3 SMP, Steve pun tak bisa lagi memendam perasaannya dan memutuskan untuk mengungkapkan semuanya pada Vechia. Namun sayang Vechia malah semakin menjauh darinnya, dan sejak saat itu mereka berdua menjadi canggung terutama Vechia yang selalu menghindar darinya.


“Steve!”, suara perempuan membuyarkan lamunannya. Ternyata itu Rachel teman sekelasnya. Rachel mengajaknya ke kelas karena pelajaran akan segera dimulai. Steve cukup dekat dengan Rachel, bahkan dulu Rachel juga teman dekatnya Vechia namun semenjak kelas mereka berbeda mereka jadi jarang ngobrol selain karena perbedaan waktu istirahat ini juga dikarenakan Rachel yang selalu menghidar setiap kali melihat Vechia. Sepeninggalnya Steve dan Rachel dari kantin ternyata di balik rimbunnya pohon, Vechia tengah memperhatikan mereka berdua sejak tadi. “Rachel, ternyata benar. Maaf kalau selama ini aku selalu membuatmu kesal. Mungkin dengan begini kau tak marah lagi padaku.”, Vechiapun pergi dan masuk lagi ke kelasnya. Tak ada hal yang menarik baginya selain tidur dan mengenang kembali masa-masa indahnya di SMP. Dia menyesal seandainya dulu dia tidak bersikap dingin pada pria-pria yang mengejarnya mungkin sekarang dia bisa memiliki setidaknya satu pacar saja jadi dia tidak akan ngejomblo kesepian seperti ini. “Ih.. Alice mana sih lama sekali perginya. Nanti kalau gurunya masuk baru tahu rasa. Eh tapi pak Maestro kan nggak masuk.”, Vechia menutup wajahnya dengan kedua tangan yang terbuka lebar. Karena terus saja berkutat dengan pemikirannya dia jadi tidak sadar ada seseorang yang duduk di sampingnya. Orang itu cukup lama memperhatikan Vechia. “Hei, sedang apa?”, sapa pria itu. “Ah, oh aku? Aku sedang duduk, kau tidak lihat?”, balas Vechia acuh tak acuh. “Kamu bisa saja Chia, oh iya aku boleh duduk di sini?”, tanyanya basa-basi namun Vechia tak mau menjawabnya lagi pula kalau dia menjawab “tidak” toh pria itu sudah duduk di situ. “Ada apa?”, tanya Vechia to the point. “Enggak, cuma pengen ngobrol sama kamu saja.”, pria itu berusaha mencairkan suasana canggung yang dibuat Bechia. “Chia, aku boleh pinjam PR sastra kamu nggak, soalnya aku susah banget dapat inspirasinya. Siapa tahu kalau baca punyamu aku jadi dapat insirasi yang bagus. Kamukan pintar, boleh ya?”. Vechia berpikir sejenak, dia ragu meminjamkan PR-nya pada pria ini, tak mau dicap sebagai teman yang pelit jadi dipinjamkan juga. “Baiklah aku pinjamkan tapi jangan lupa kembalikan.”, Vechia mengeluarkan buku tugasnya. “Wah terima kasih tapi apa kau tahu namaku Chia?”, pertanyaan pria ini membuat Vechia tak bisa berkata apa-apa. Apa maksud pria ini bertanya seperti itu bukankah mereka sudah satu tahun jadi teman sekelas. “Bukannya apa-apa tapi kau tak pernah menyebut namaku setiap kali aku mengajakmu ngobrol.”. Vechia kehabisan kata-kata kali ini. “Kau pikir aku ini kuper sekali ya? Sampai nama teman sekelasku saja aku tak tahu. Hei dengar ya Albert , aku ini tidak sekuper itu mengerti dan kalau kau tak ingin aku berubah pikiran dan mengambil kembali bukuku itu pergilah sekarang!”, pria yang dipanggil Albert itu segera enyah dari hadapan Vechia yang kesal. Kalau sampai Vechia memasang wajah seperti itu, itu berarti dia benar-benar marah.


“Vechia!”, teriak Alice dari balik pintu kelas. Dari raut-raut wajahnya Alice tampak bahagia sekali berbeda dengan Vechia yang hampir setiap hari selalu gelap. Setelah mendudukan pantatnya di bangku, Alice langsung bercerita panjang lebar tentang dirinya dan Carl. “Ya ya ya dia memang pria yang romatis tapi kau sadar salivamu sampai keluar saat kau menceritakan itu. Kau memang beruntung punya kekasih yang membuatmu terhibur, sedangkan aku? Aku bosan sendirian tak ada yang bisa diajak curhat.”, desah Vechia namun bisa di dengar oleh Alice. “What, jadi tuan putri sudah bosan dengan buku-buku itu?”, ejek Alice yang dari dulu kesal dengan temannya ini yang tak mau menerima pria-pria yang mengejarnya. Alice menahan tawanya agar tak menyinggung perasaan temannya ini. “Bagaimana kalau kau aku kenalkan dengan temannya adikku, dia tampan dan cukup pintar sesuailah denganmu, bagaimana kau mau?”, tawar Alice. Vechia menatapnya tak percaya bagaimana mungkin temannya ini berniat menjodohkannya dengan anak ingusan. “Kau pikir aku suka berondong huh?”, Vechia kesal, bagaimana mungkin sekarang dia memikirkan hal-hal tak penting ini. “Sudahlah lupakan saja kalau aku pernah mengatakan aku kesepian. Aku menarik semua perkataanku tadi.”, Vechia memasukkan buku-bukunya karena bel sudah berbunyi dan itu berarti sudah waktunya pulang. Alice ingin mengatakan sesuatu tapi tak jadi karena Vechia mengacuhkannya. “Vechia, hati-hati..”, kata Alice kemudian. Rupanya hari ini Alice pulang bersama Carl jadi dia tidak bisa mengantar Vechia sampai ke parkiran, sebenarnya tidak usah diantar juga tak apa karena di sana Vechia sudah ditunggu oleh sepupunya yang sekarang sudah kelas dua.


#tobecontinue


#Like&Vote Yah!


#tidakpelitupdate