
******
*******************
Mereka sampai di rumah Farell, di sana Vechia asyik belajar dengan Alice. “Kakak!!!! Aku pulang.”, Farell mendekati Vechia dan mendekapnya sayang layaknya seorang adik pada kakaknya. “Ya ampun bocah ini, kau sangat menjijikan. Kau pikir dia itu kakakmu? Hingga kau bisa memeluknya setiap kali kau mau, kau juga Chia, nanti kalau pacarmu lihat pasti dia akan marah.”, ejek Alice. “Tentu saja dia boleh memelukku, diakan adikku.”, Farell senang bukan main karena dibela Vechia, namun dia tak sadar ada sepasang mata yang geram. Farell menyadari hal itu, “Oh aku lupa, Zhiel ke sinilah!”, kata Farell yang mulai duduk dengan wajar. “Kak ini Azhiel, teman sekelasku. Zhiel ini Kak Vechia kakakku yang paling pintar. Oh iya kau jangan iri ya.”, ejek Farell yang merasa sangat senang karena bisa membully Azhiel di depan orang yang dia sukai. Sementara Azhiel merasa sangat jengkel karena Farell memamerkan kedekatannya dengan Vechia padahal ada Azhiel yang ingin sekali bisa dekat dengan Vechia. Azhiel mencoba curi-curi pandang dengan Vechia namun Vechia selalu menghindari kontak mata dengannya. Berharap Vechia akan mengingatnya.
Azhiel merasa harus ada yang dia lakukan agar bisa ngobrol berdua dengan Vechia. Jadi dia meminta Farell mengantarnya ke kamar kecil alasannya sih ingin buang air tapi sebenarnya sih ada udang di balik batu. “Farell aku ingin buang air kecil tolong antarkan aku.”, pinta Azhiel. “Kau ini manja sekali bukankah kau sudah biasa, sana pergi saja sendiri!”, tolak Farell namun dia tak bisa menolak permintaan Azhiel karena Azhiel pasti tak mau meminjamkan buku lagi padanya. “Iya..iya baiklah kau jangan marah seperti itu.”. Merekapun pergi meninggalkan dua gadis yang sedang sibuk. Sepeninggal mereka berdua, “Chia, bagaimana menurutmu?”, “Apanya?”, Vechia acuh tak acuh. “Itu, Azhiel. Bukankah dia lumayan?”, “Hei, kau jangan menggodaku! Aku sedang tak tertarik pacaran.”, jawab Vechia sesantai mungkin. Walaupun dia berkata seperti itu tapi tak dipungkiri hatinya bergetar ketika pertama kali mata mereka bertemu. Itulah mengapa dia selalu menghindari bertatap mata dengan Azhiel.
Sementara itu, “Farell, kau ini bagaimana sih? Kenapa kau tak membiarkan aku dan Kak Vechia ngobrol berdua. Tolonglah kapan lagi aku bisa melakukan itu.”, “Tidak, aku ingin belajar dengan Kak vechia .kalau kau mau kau bisa ikut.”, Farell tetap tak mau. “Kalau begitu bagaimana kalau kau kupinjamkan buku yang baru aku beli, um?”, tawar Azhiel dan langsung disetujui oleh Farell. “Dasar bocah edan, aku rayu pake buku cepet banget nangkapnya.”. Merekapun kembali ke tempat di mana Vechia dan Alice berkutat. “Kak Alice ada telpon dari mama katanya penting.”, bohong Farell. “Chia, aku tinggal sebentar ya.”, Alice pergi dan Vechia tak terlalu acuh. Sekarang giliran Farell yang harus lenyap dari tempat itu. Sekarang tinggal Vechia dan Azhiel yang tinggal di sana. Memang terasa aneh tapi Vechia mencoba bersikap biasa saja. “Kak, kakak sekelas ya sama Kak Alice ?”, tanya Azhiel akhirnya. “Iya, kamu sekelas sama Farell ya? Sayang ya kita belum pernah ketemu sebelumnya.”, sahut Vechia sekenanya. Jujur saja Vechia tidak seperti Alice yang bisa dengan mudah berkomunikasi. Mungkin karena itu juga dia memilih kelas bahasa. Azhiel mulai melancarkan aksinya, “Siapa bilang? Kita pernah bertemu kok. Aku dengar Kakak pintar ya. Nilai Kakak selalu bagus, pasti kakak belajar terus ya?”. Vechia terkejut, “Emang iya ya? Kapan?”, “Sayang sekali Kaka ngga ingat, tapi ngga apa-apa, lupakan saja. Beda banget sama aku. Aku selau mendapatkan nilai rendah akhir-akhir ini, aku bingung harus belajar sama siapa?”, Azhiel menunduk, Vechia pun jadi kasihan melihatnya, “Bagaimana kalau kau belajar sama Kakak aja, tapi itu kalau kamu mau. Soalnya anak muda sekarangkan sukanya nongkrong dan pacaran aja.”, Vechia menutup bukunya dan kini mulai bisa nyaman ngobrol dengan Azhiel. Azhielpun jadi senang akhirnya bisa bicara dengan Vechia secara langsung. “Mau kok Kak. Kalau ada yang ngajarin pasti aku senang.”, jawab Azhiel malu-malu dan itu membuat Vechia jadi gemas. “Wah, kamu imut banget sih?”, gumam Vechia. “Tapi kapan Kakak bisa ngajarin aku?”, “Kapanpun, besok juga boleh.”. Mereka akhirnya ngobrol dan sesekali tertawa bersama.
****
#tobecontinue
#like&Voteyah💪🏻.