
~Setelah itu tidak lama bel masuk sekolah berbunyi, semua orang langsung berlarian ke tempat duduknya masing masing dan ada yang menuju kelasnya masing masing.~
.
.
.
.
.
Sekarang sudah masuk waktunya istirahat, awalnya Rangga yang hanya ingin membaca novel kesukaannya namun tidak jadi karena ia merasa perutnya yang lapar.
Rangga memutuskan untuk pergi ke kantin dan memakan sesuatu. Saat sudah sampai disana, Rangga memesan semangkok bakso dan es teh lalu mencari tempat duduk yang nyaman baginya.
"Kayaknya disitu saja" batin Rangga yang melihat tempat untuk makan dekat dengan taman dan disana juga terlihat sepi.
Rangga memakan makanannya dengan santai tetapi itu tidak menjadi santai saat Rey mendatanginya.
"Woww lihat anak miskin ini. Dia sangat menikmati makanannya sekali, oh ya perlu gak gw tambahin sesuatu biar tambah enak" ejek Rey lalu menumpahkan es teh milik Rangga dan tidak lupa juga ke arah kepala Rangga.
"Nah sekarang makanlah! Terlihat enak bukan hahaha" Rey yang sangat senang sekali dengan kelakuannya tadi.
Rangga yang dulu hanya bisa berdiam diri namun sekarang ia sangat berbeda sekali. Rangga langsung membela dirinya dengan menyiram baksonya ke arah Rey.
"Gimana rasanya kamu dihina seperti ini?" tanya Rangga dengan dingin.
Rey yang terkejut dengan tindakan Rangga langsung menjadi meledak dengan tindakan Rangga.
"B*ngs*t punya hak apa lu begini hah!" teriak Rey yang merasa dirinya sedang dihina.
"Tidak ada. Kau tidak mempunyai hak untuk melarangku hal ini" jawab Rangga.
Rangga's POV On
Sementara Rey sedang termakan kemarahannya, Rangga mulai menghubungi Peter lewat pikiran.
"Peter apakah aku bisa membeli kemampuan bela diri?" tanya Rangga lewat pikirannya.
[Bisa tuan]
[Kemampuan pelajari semua bela diri yang ada di dunia tingkat tinggi seharga 1.500 poin utama]
[Apakah tuan akan membelinya?]
[Yes/No]
"Tentu saja yes" jawab Rangga dengan tegas.
[Kemampuan semua bela diri tingkat tinggi sedang diproses...]
[Selesai]
[Selamat tuan sudah bisa melakukan kemampuan ini].
Seketika semua gerakan bela diri yang ada di dunia masuk ke ingatan Rangga. Rangga merasa tubuhnya sangat luwes dan ringan sekarang.
"Makasih Peter"
[Sama sama tuan]
Rangga's POV Off
"Tidak ada. Kau tidak mempunyai hak untuk melarangku hal ini" jawab Rangga.
"Cih! Kalian dengar? serang dia sekarang juga di hadapan gw" perintah Rey.
Semua bodyguard Rey yang mendengar perintah tuannya langsung menyerang Rangga. Tentu saja Rangga dapat menghindar serangan tersebut dan sebaliknya, yang terluka adalah para bodyguard milik Rey.
Rey yang masih tidak percaya jika bodyguard terkuatnya kalah dengan anak miskin seperti Rangga. Saat Rangga mendekati Rey, ia sangat ketakutan sekali dengan Rangga.
"Mohon maafkan aku pliss" mohon Rey, namun Rangga tidak mendengarkannya sama sekali.
"Kau kata minta maaf mu bisa menghilangkan rasa sakit ku dan orang lain yang kau hina hah?!" tanya Rangga yang sudah sangat hati mengingat masa lalunya.
Dengan cepat Rangga menendang Rey dan ditambahkan pukulan ke arah wajah Rey.
"Apa menurutmu orang sepertimu aku akan takut hah?! Tidak! Kamu saja seperti manusia biasa tetapi bedanya kau ini masuk ke golongan sampah!" teriak Rangga yang sambil memukul wajah Rey.
Rangga sudah sangat kehilangan akal saat ia mengingat kembali masa lalunya. Tidak lama kemudian para guru mendatangi mereka dan melerai Rangga dengan Rey.
"Cukup Rangga cukup!" teriak pak Andi yang merupakan guru BK Rangga dan Rey lalu menarik Rangga menjauh dari Rey.
"Lepaskan bapak lepaskan saya!" teriak Rangga yang hendak lepas dari pak Andi.
Pak Andi langsung menampar wajahnya Rangga karena Rangga tetap saja memberontak dengannya.
"Sudah cukup Rangga! Liat wajah Rey sekarang! Kalian berdua pergi ke ruang bapak sekarang!" perintah Pak Andi dan menyeret Rangga dan guru lain membantu Rey untuk ke ruang BK.
"Siapa yang sudah berani mencelakai anakku!" sebuah teriakan yang sangat keras di sana.
Yang berteriak tadi adalah orang tua Rey yang sangat berkuasa di sekolah ini dan juga merupakan orang berkuasa di kota ini.
"Hooh ternyata b*njing*n kecil ini yang sudah berani melukai anakku" sambil melirik tajam ke arah Rangga.
"Tolong tenang dulu pak Agam. Kita bisa bicarakan ini baik baik" Pak Andi yang berusaha menenangkan Pak Agam.
"Tidak bisa! Wajah anakku akan menjadi rusak karena pukulannya!" teriak pak Agam yang tidak tenang melihat keadaan anaknya.
"Tapi pak..."
Sementara Pak Agam dan Pak Andi sedang berdebat, Rangga hanya sedang melihat kejadian yang sedang terjadi dan nanti ai akan bertindak namun...
"Kalau begitu bagaimana kita hukum anak itu skorsing beberapa hari" Kepala sekolah yang mencoba meleraikan perdebatan Pak Agam dan Pak Andi.
"Ide bagus pak. Kasih anak itu hukuman seberat beratnya karena telah melukai anak saya!" Pak Agam yang senang dengan perkataan Kepala sekolah.
"Baiklah kalau begitu saya.." saat Kepala sekolah memberi hukuman Rangga, omongannya tersebut dipotong oleh Pak Andi.
"Pak tunggu! Kita tidak bisa ambil keputusan itu" protes Pak Andi.
"Siapa kamu yang bisa memprotes perkataanku dan Pak Agam! Pak Agam ini sudah banyak sekali membantu sekolah ini jadi sekolah ini akan memprioritaskan dia dahulu!" jawab Kepala sekolah dengan agak keras.
"Sekolah macam apa ini! Apakah sekolah ini mengajarkan pilih kasih antar murid?!" Pak Andi yang tidak menyangka dengan jawaban Kepala sekolah.
"Seterah saya apa yang saya lakukan sekolah ini! Memangnya kau punya hak.."
"Sudah cukup!" suara Rangga yang menghentikan perdebatan tersebut.
Semua orang yang berada di ruangan langsung melihat ke arah Rangga yang terlihat sangat santai sekali dan tidak takut sama sekali.
"Ternyata disini hanya tempat kandang *njing yang senang menjilat kaki tuannya" Rangga yang menyindir sikap Kepala sekolah tadi.
"Jaga mulut kamu!" teriak Kepala sekolah yang sangat tidak suka sekali dengan sindiran Rangga.
Rangga yang mendengar itu langsung mendekati Kepala sekolah dan mendekatkan wajahnya dengan wajah Kepala sekolah.
"Kalai begitu kau ini apa? Sampah kah?" tanya Rangga dengan tatapan tajam dan dingin.
Kepala sekolah yang melihat Rangga saat ini sangat ketakutan dan tubuhnya kelihatan bergetar. "Kenapa aku sangat takut melihat tatapan anak ink?!" batin Kepala sekolah.
Setelah itu Rangga meninggalkan Kepala sekolah dan mendatangi Pak Agam tanpa takut.
"Kamu ini sungguh berani berbicara saat dalam masalah dengan saya" jawab Pak Agam yang memuji keberanian Rangga.
"Kenapa aku harus takut dengan bapak? Bapak sama saja seperti orang lain menurut pandangan saya" jawab Rangga yang tidak peduli dengan pujian Pak Agam.
"Mulutmu minta di lakban karena omong besarmu itu!" teriak Pak Agam.
"Hehh memang benar sekali jika anak *njing akan meniru tindakan induknya hahaha" sindir Rangga dengan keras.
"B*JING*N!!" teriak Pak Agam yang tidak menerimanya.
Rangga yang mendengar teriakan itu langsung tersenyum dengan lebar. Pak Agam melihatnya langsung memukul ke arah wajah Rangga tetapi Rangga langsung menghindarinya dan memukul kembali Pak Agam.
"Bapak tenang saja. Bukan sekolah ini akan memberikan aku hukuman, tetapi aku akan keluar dari sekolah ini yang seperti kandang *njing" Rangga yang membisikkan itu ke Pak Agam.
"Baiklah aku akan mengundurkan diri dari sekolah ini. Masih banyak sekolah yang menerima diriku karena kepandaianku di bidang akademik dan diperlakukan lebih adil daripada disini" teriak Rangga.
"Baguslah lebih baik pergi dari sekolah ini" jawab Pak Agam dan hendak duduk tetapi badannya sangat sakit dari pukulan Rangga.
"Kalau gitu saya akan pergi dan gak usah urus administrasinya tetapi ingat! Roda akan selalu berputar mungkin hari ini berada diatas tetapi di kemudian hari bisa akan berada dibawah" jawab Rangga dan meninggalkan ruang BK dan menuju kelasnya.
Ia harus mengumpulkan barangnya yang ada di kelas dan keluar dari sekolah ini tetapi saat ia keluar dari sekolah, terlihat Pak Andi sedang menunggu dirinya di gerbang sekolah.
"Maafkan bapak ya tidak bisa bantu kamu tadi. Padahal bapak tau kalau kamu ini anak yang baik" Pak andi yang terlihat sangat sedih.
"Tidak kok pak. Memang saya yang hendak keluar dari sekolah ini" jawab Pak Rangga yang merasa bersalah.
"Mudah mudahan nanti kamu mendapatkan cahaya diluar sana ya" ucap Pak Andi dan merupakan kata perpisahan darinya.
"Makasih pak kalau gitu saya pergi dulu ya" jawab Rangga dan meninggalkan Pak Andi dan sekolah tersebut.
.
.
.
.
.
Chapter ini terlihat sangat panjang karena sesuai dengan judul chapternya ╮(─▽─)╭ makasih yang sudah baca karya gw dan jangan lupa baca juga novel pertama gw ok see you next time 👋🏻👋🏻