
Tanggal 18 Maret 20** di Jakarta
"Hah... hah.. hah..."
"Heiii! Berhenti kabur!!" suara teriakan laki laki yang sedang mengejar seorang wanita yang membawa anaknya yang masih bayi.
"Tidak!! Aku tidak mau berhenti! Anak ini harus kubuang jauh jauh!" teriak perempuan yang sedang berlari dari kejaran laki laki yang mengejarnya.
Perlarian wanita tersebut berlangsung lama lalu saat wanita tersebut berlari, ia menemukan sebuah panti asuhan yang lumayan besar. Wanita tersebut langsung memikirkan apakah ia akan meninggalkan anaknya di panti asuhan ini.
"Apa aku tinggalkan anakku disini dan saat masalahku dan mas sudah selesai, akan ku pergi menjemputnya dengan mas?" pikir wanita tersebut.
Setelah beberapa menit wanita tersebut memikir solusinya, akhirnya ia memutuskan anaknya untuk dititipkan di panti asuhan yang ia temukan.
Ia menaruh anaknya di depan panti asuhan tersebut, tidak lupa ia meninggalkan sebuah kalung yang berukiran namanya dan "KING".
"Maafkan mama nak, mama telah meninggalkan kamu disini. Mama janji nanti mama dan papa akan menjemputmu saat masalah keluarga kita" ucap wanita tersebut sambil mengeluarkan air matanya karena tidak tega untuk meninggalkan anaknya sendiri.
Setelah ia mengucapkan selamat tinggal dengan anaknya, ia memencet bel panti asuhan tersebut beberapa kali dan langsung meninggalkan anaknya disana.
Saat ia belum pergi menjauh dari panti asuhan tersebut, ia kembali melihat anaknya yang kembali dari jauh.
"Aku harus segera menjemput anakku, aku berjanji akan menjemput anakku dengan segera" batin wanita tersebut dengan penuh tekad untuk menjemput kembali anaknya dan setelah itu ia berlari dan meninggalkan panti asuhan tersebut.
.
.
.
.
.
17 tahun kemudian
Tanggal 28 Agustus 20** di Jakarta
"Akhh..."
Terdengan suara kesakitan seorang anak laki laki yang sedang dibully oleh murid temannya di belakang gedung sekolah.
"Anak miskin harusnya gak boleh sekolah disini! Lu itu gak cocok masuk disini tau! Lu bisa merusak nama sekolah kita" suara bentakan dari Rey.
"Memangnya aku salah apa di mata kalian" tanya seorang laki laki tersebut yang sedang dibully bernama Rangga.
"Hehh miskin gak tau diri! Lu baru di gerbang saja sudah merusak nama sekolah tau gak!!" bentakan sekali lagi dari Rey sambil menyiramkan air kotor ke Rin.
Rangga hanya bisa berdiam diri saja saat dibully oleh mereka karena saat ia melawannya, pasti akan mendapatkan nasib buruk selanjutnya dan seterusnya.
Apabila ia melaporkan ini kepada guru yang ada di sekolah, dirinya yang akan dihukum sekolah karena orang tua Rey mempunyai donasi besar di sekolahnnya.
Setelah mereka puas membully Rangga, ia meninggalkan Rangga dengan merasa tidak bermasalah sama sekali.
Rangga pun mulai berdiri dan membersihkan kotoran yang ada di bajunya.
"Aku harus segera pulang. Aku tidak mau pengasuh di panti asuhan mencemasku" pikir Rangga dan mulai pulang ke panti asuhan.
Saat ia sampai di panti asuhan, ia sudah disambut oleh salah satu anak dari panti tersebut. Anak tersebut sudah dianggap sebagai adiknya oleh Rangga dan begitu juga sebaliknya.
"Kakak Rangga selamat datang" sambutan dari anak tersebut.
"Makasih dah sambut kakak pulang Ika" dan mengelus kepala adeknya tersebut.
Ayah adalah panggilan untuk kepala panti asuhan Rangga.
"Baiklah, kakak akan menemui ayah" jawab Rangga dan segera mendatangi ruangan ayahnya bekerja.
"Tok tok tok" suara dari ketukan pintu.
"Masuklah" jawab Ayah dari dalam.
Rangga yang mendengarnya segera masuk untuk menemui ayahnya.
"Halo ayah apa kabar?" tanya Rangga.
"Sehat kok. Oh ya Rangga, ayah ingin kamu mendengarkan permintaan ayah?" tanya balik Ayah ke Rangga.
"Tentu saja Ayah, Rangga akan memenuhi permintaan ayah" jawab Rangga tanpa berpikir dahulu.
"Ayah ingin kamu segera meninggalkan panti asuhan malam ini juga".
"Degh"
Rangga yang mendengarkan itu terkejut dengan permintaan ayahnya.
"Tu... Tunggu ayah! Kenapa aku harus keluar dari sini? Umur Rangga belum berumur 18 tahun ayah?!" tanya Rangga dengan setengah tidak percaya.
"Iya tapi karena kondisi keuangan panti asuhan kita sedang menipis. Ayah ingin mengurangi tampungan disini dan salah satunya kamu Rangga" jawab ayah dengan santainya.
Hanya dengan alasan seperti itu?! Itu tidak masuk akal sekali ayah! Kenapa aku yang dikeluarkan ayah!" tanya Rangga dengan agak keras.
"SUDAH DIBILANG UANG PANTI KITA MENIPIS! APA MASIH TIDAK MENGERTI JUGA!" jawab ayah dengan keras.
Rangga yang mendengar tersebut sangat sakit hati dengan tindakan ayahnya tersebut. Ia pun langsung meninggalkan ruangan ayahnya tersebut tetapi sebelum ia meninggalkan ruangan ayahnya tersebut ia mengatakan "Baiklah ayah, aku akan mengemasi barang ku dahulu".
"Baiklah ayah tunggu di depan nanti" jawab ayah dan mengurusi berkas kepergian Rangga.
Rangga pun segera mengemaskan barang barangnya di kamar dan akan meninggalkan panti asuhan ini.
Saat ia sudah berada di depan panti asuhan, ia melihat Ika sedang menangis disana. Rangga pun langsung memeluk Ika dan mengucapkan selamat tinggal untuknya.
Setelah itu Rangga mendapatkan uang untuk biaya hidupnya untuk diluar untuk sebulan dari ayahnya.
"Kau simpan dan gunakan baik baik uang ini" dan memberikan uang 5 juta untuk Rangga.
"Jika uang panti asuhan sedang menipis, kenapa kau memberiku uang sebanyak ini" pikir Rangga.
Karena Rangga tidak mau ambil pusing, ia pun menerima uang tersebut dan segera meninggalkan panti asuhan tersebut.
"Mulai dari ini aku akan melakukan apapun untuk hidupku hari ini" batin Rangga yang penuh tekad.
.
.
.
.
.
Ini novel kedua gw, dan gw ingin sekali coba bikin dengan sistem seperti ini. Oh ya jangan lupa baca karya gw yg pertama judulnya "Pangeran Vampire" mksh yg sudah baca ok see you next time 👋🏻👋🏻