
Semenjak Ayah tidak bisa mengantarku, setiap harinya ka Adrian yang menggantikannya. Sempat ka Adi juga menawarkan ku tumpangan tapi ka Adrian selalu bilang bila aku bareng dengannya saja.
Oh iya, Ka Adrian juga perlahan-lahan sudah mulai belajar sholat dan segala macam, Tante Karin aja sampai kaget melihat perubahan Ka Adrian. Dan yang lebih kagetnya lagi Ka Adrian sudah tidak bersikap dingin lagi padaku bahkan dia mau di ajak makan di warteg.
" Ayo berangkat dek, nanti telat" Ucap Ka Adrian padaku.
" Iya ka" Balasku sambil masuk ke dalam mobil miliknya.
" Kak, ga repot ngantar jemput aku terus?" Tanyaku pada Ka Adrian ketika kami sudah berada di jalan.
"Engga kok" Balas Ka Adrian tersenyum.
"Terimakasih ya ka" Aku tersenyum juga.
Alhamdulillah kalau ka Adrian sekarang sudah banyak berubah. Aku senang banget rasanya bisa memiliki keluarga yang aku impikan sejak dulu.
"Nanti kalau sudah pulang telpon kakak ya seperti biasa" Ucap Ka Adrian ketika sudah sampai di sekolahku.
" Iya ka. Aku sekolah dulu ya" Aku meraih tangan Ka Adrian untuk menciumnya.
" Hati-hati, belajar yang pintar" Pesan Ka Adrian sebelum menjalankan mobilnya.
Aku yang mendengar itu membalasnya dengan melambaikan tanganku dan tersenyum padanya.
" Lu di anter kakak tiri lu lagi?" Suara Raina mengejutkan ku.
" Astaghfirullah, Raina!" Ku elus dada ku karena terkejut.
" Hehehe kaget lu ya?"
" Itu nanya"
" Abis darimana?"
" Nih kantin" Raina menunjukan makanan yang berada di tangannya.
" Yaudah yu kelas" Ajak ku pada Raina.
" Lu belum jawab, Lu di anterin kakak tiri lu lagi?" Raina mengulangi pertanyaannya lagi.
" Iyaa Ina...." Balasku.
" Rain! jangan Ina! . Btw, kok lu damai banget bareng dia? biasanya ngeluh!"
" Sekarang dia udah baik sama gua"
" Oh...pantes ga ngeluh mulu lu karena ovt soal kakak lu. But, that's weird" Ucap Raina dengan nada curiganya.
" Udah ahh, ga boleh su'udzon gitu" Ku rangkul bahu Raina.
" My feeling tuh gaenak lho Dar"
" Gapapa, gua kan baik-baik aja"
" Yaudah oke" Pasrah Raina.
Sebenarnya aku juga aneh dengan perubahan ka Adrian. Maksudku semenjak pertama kali dia menjemputku dan sampai sekarang sudah mau satu bulan dia tiba-tiba berubah menjadi baik.
***
" Dara, lu ikut ga ke rumah Mila?" Tanya Syifa teman sekelasku.
" Hah, emang mau ngapain Fa?" Balasku dengan nada bingung.
" Lho, lupa lu. kan mau kerkel"
" Astaghfirullah" Aku baru inget kemarin Mila bilang kalau kerja kelompoknya besok di rumah dia.
" Gua lupa" Balasku tidak enak hati.
" Nah lho, jadinya bisa ga lu?" Tanya Syifa lagi.
" B..bisa maybe"
" Yaudah, nanti kesananya bareng ya" Syifa pergi dari tempatku.
'Haduh, gimana aku bisa lupa kaya gini. Aku kabarin ka Adrian dulu deh' Batinku.
Ku ambil ponselku dan ku buka aplikasi chatting. Aku mencari kontak yang tertera nama ka Adrian.
...Chat...
...Ka Adrian...
...online...
^^^Ka Adrian, Maaf Dara ganggu^^^
^^^Nanti kakak gausah jemput Dara ya, Dara ada kerja kelompok^^^
mengetik...
iya sayang
Kalau sudah selesai kerja kelompoknya bilang kakak ya
Aku sedikit heran sama Ka Adrian. Akhir-akhir ini selain perubahan sifatnya ia jug terkadang memanggilku dengan kata-kata manis kaya : Dek, Sayang, dan Manis ku. Apa dia benar-benar sudah anggap aku sebagai adiknya ya?.
***
" Ayo Dar, naik " Ajak Syifa padaku untuk naik ke dalam mobil taksol.
Setelah bel pulang sekolah berbunyi. Aku, Mila, Syifa, dan Alice segera memesan taksi online untuk ke rumah Mila.
" Sumpah deh , gua males banget tau kaya gini kalau si Bu Indi ga ngasih tugas mah" Gerutu Alice setelah kami berada di dalam mobil.
" Au ya, ribet bat asli. Masa pelajaran matematika aja pake segala bikin Makalah" Balasku.
" Nah kan..."
" Padahal mah nanti kagak kepake" Timpal Mila.
" Ahahaha, benar kalian semua" Timpal Syifa.
Akhirnya setelah itu hanya terjadi keheningan hingga kita semua sampai di rumah Mila.
" Beli makan dulu yu buat nanti" Ajak Mila.
" Boleh tuh, ayo" Balas Alice.
Kami semua jajan terlebih dahulu di pedagang kaki lima yang berada di sekitar rumah Mila. Mila dan Syifa pergi membeli minuman, Aku dan Alice juga mengikuti mereka.
" Eh Dar, tungguin ya gua mau beli martabak" Ucap Alice menunjuk ke arah tukang martabak.
" Yaudah, gua juga mau cari jajan ga jauh kok" Balasku padanya.
" Oke, eh tapi gua takut mahal martabak nya"
" Jiakhhh, kagak kok. Inikan martabak abang-abang gerobak bukan yang punya ruko" Balasku dengan nada bercanda.
Alice ini sebenarnya selalu bawa uang banyak tetapi terkadang ia hanya takut merasa boros saja akan uang jajannya.
" Yaudah deh, gua pergi dulu ya" Pamitnya berjalan ke arah tukang martabak di sebrang.
Aku melihat ke sekeliling yang banyak tukang jajan, tapi ramai. Aku ingin sekali membeli makanan tapi aku juga bingung makan apa.
" Woy, lu mau jajan ga Dar?" Mila mengejutkan ku dengan menepuk bahu ku.
" Aduh, ga tau bingung" Balasku.
" Jajan aja , gua tungguin kok" Ucap Mila.
Aku kembali melihat-lihat tukang jajan hingga mata ku tertuju pada pedagang sosis bakar.
" Aku beli itu dulu ya, tungguin" Ucapku dengan menunjuk pedagang sosis bakar.
" Iya Dar..." Balas Mila.
Memang agak ramai sih jadinya mau tidak mau aku harus menunggu sampai antriannya selesai.
" Mau beli apa neng? di ambil aja atuh, nanti mamang bakarin" Ucap penjual sosis bakar yang sedang sibuk membalik-balikan sosis yang sedang di bakar.
" Iya mang"
Segera ku ambil piring plastik yang tersedia disana. Ku ambil dua sosis berukuran jumbo dan juga dumpling yang berisi keju.
" Ini mang" Aku memberikan piring yang sudah penuh.
" Bentar ya neng" Balas mamang penjual sosis bakar. Ia kemudian mengambil pesenan ku dan mulai membakarnya.
Aku menunggu dengan sangat sabar sambil ku dekap kedua tanganku di dada. Ku lihat Alice masih sibuk membeli martabak sedangkan Mila dan Syifa sudah selesai membeli minuman. Mereka berjalan ke arahku.
" Beli apa Dar?" Tanya Mila.
"Itu, tungguin ya" Balasku menunjuk pesananku.
" Gua beli makan dulu ya disana, nanti lu nyusul aja" Balas Mila menunjuk pedagang di belakangku.
"Oke..."
Mereka pergi meninggalkanku. Alice yang sudah selesai juga awalnya menghampiri ku hingga ia kemudian pergi duluan menyusul Mila.
" Nih neng" Mamang penjual sosis memberikan pesananku yang sudah jadi.
" Makasih ya bang, ini uangnya " Ku berikan uang pas padanya.
" Oke neng..."
Aku berjalan menyusul teman-temanku dengan makanan yang berada di tanganku.
" Dah selesai?" Tanya Mila.
" Iya udah..." Balasku.
Setelah Mila selesai dengan pesanannya begitupun Syifa. Barulah kami berempat berjalan ke rumah Mila yang tak jauh dari sini.
###
Continue