My Stepbrother

My Stepbrother
New Brother



"Duduk Dar " Ucap perempuan itu.


"Iya Tante " Dara duduk pada sofa empuk yang berada di belakangnya.


"Dar, kenalin keluarga ayah " Ucap ayahnya pada Dara. Terkejut? sangat.


"O..Oh iya..." Balas Dara canggung.


Sejak kapan ayahnya memiliki keluarga baru lagi? dan apakah ini alasan ayahnya meninggalkan Dara dan ibunya.


" Ini Tante Karin, istri ayah" Ucap Ayahnya memperkenalkan perempuan yang sejak tadi bersikap ramah pada Dara.


" Ini Arka dan Aris, adiknya Dara. Anak ayah juga " Lanjut ayahnya memperkenalkan kedua bocah laki-laki tadi.


" Oh iya, dimana Adrian dan Adi?" Tanya Ayahnya pada Tante Karin.


" Sebentar aku panggil dulu keatas" Balas Tante Karin yang pergi menuju lantai atas.


"Ada namanya Adrian dan Adi, kakaknya Dara. Anaknya Tante Karin" Ayahnya tersenyum pada Dara.


Dara, entah maksudnya dia merasa bingung dengan semua ini. keluarga baru?, satu ibu tiri dengan empat saudara tirinya. Setahu dirinya, Ayahnya hanya mempunyai anak yaitu dia, dan mempunyai istri yaitu ibunya Dara.


"Nah tuh dia..." Ucap ayahnya ketika melihat dua pria yang memiliki wajah sama dan terbilang sudah dewasa baru saja turun dari tangga yang disusul Tante Karin di belakangnya.


"Dar, kenalin ini anak Tante. Namanya Adrian dan Adi " Tante Karin memperkenalkan kedua anaknya.


Dara hanya tersenyum canggung membalasnya, sedangkan dua pria itu juga membalas senyuman Dara.


"Oh iya, mereka ini kembar Dar tapi tak seiras. Yang pendek namanya Adi"


"Ibu..." Rengek pria yang memang lebih pendek dari pria satunya.


"Hahaha, kalau yang ini namanya Adrian. Mereka cuman beda 5 menit aja kaya Upin dan Ipin" Ucap Tante Karin memperkenalkan anak-anaknya.


"Nah Adrian dan Adi, kenalin ini anak Bapak. Namanya Dara, umurnya masih 17 tahun. Kalau sama kalian beda 8 tahun lah " Giliran ayahnya yang kini memperkenalkan Dirinya.


"Hai Dar..." Sapa Adi ramah. Sedangkan Adrian hanya tersenyum saja.


" Aduh masa Adi doang yang nyapa Dara. Adrian engga?" Tanya Tante Karin.


"Hai Dar " Ucap Adrian akhirnya.


" Gitu dong. Maaf ya Dar, kalau Adrian ini orangnya memang rada kaku soalnya kuper dia " Ucap Tante Karin dengan nada bercanda.


" Ayo kita ke meja makan, Tante sudah siapin banyak makanan disana " Ajak Tante Karin.


"Yey makan " Girang dua bocah laki-laki tadi.


Aku mengikuti keluarga ini ke meja makan. Sampainya disana Tante Karin mengambilkan aku dan yang lainnya makanan yang tersedia di meja makan.


"Makan yang banyak Dar, masakan Tante Karin enak banget lho " Ucap Ayahku.


"Iya yah "


"Bisa aja kamu sayang. Ayo Dar di makan " Timpal Tante Karin.


Aku memakan dengan perlahan. Memang masakannya enak, tetapi lebih enak masakan ibuku. Aku melihat ayah yang sangat bahagia dengan keluarganya ini, aku hanya bisa tersenyum menyaksikannya. Yah, mungkin semuanya sudah berubah.


Ketika aku asik dengan pikiranku, aku merasa sedari tadi ada yang memperhatikanku. Ku tatap ke depan dimana sebelahnya Tante Karin terdapat Ka Adrian. Ia menatapku dengan tatapan yang sulit di artikan. Aku tersenyum melihat itu, canggung, malu , dan rasanya mau pulang saja.


"Gimana Dar, enakan masakan Tante?" Tanya Tante Karin tiba-tiba yang membuatku langsung mengalihkan pandanganku.


"Iya Tante, enak "


"Habisin ya, bila perlu nambah " Balas Tante Karin dengan ramah.


***


Setelah makan Tante Karin menyuruhku untuk istirahat di kamar milik Arka dan Aris. Sekarang aku sudah di dalam kamar milik Arka dan Aris bersama yang punyanya. Dua bocah itu terlihat sedang asik main game.


"Game apa tuh?" Tanyaku berbasa-basi pada mereka.


"Game perang-perang ka" Balas mereka yang sebelumnya saling memandang satu sama lain.


"Kakak tau game ini?" Tanya salah satu dari mereka, Arka.


"Tau, mau aku ajarin main?" Tanyaku dengan wajah sombong.


" Wah boleh...."


Sepanjang hari aku bermain dengan kedua adik tiriku ini. Sebenarnya, aku ketika melihat mereka pertama kali ada perasaan marah, namun tidak ada salahnya untuk berusaha dekat dengan mereka.


###


Continue