My Stepbrother

My Stepbrother
Keinginan ayah



"Dar, kamu mau pulang?" Tanya Ayahnya yang masuk kedalam kamar Arka dan Aris.


"Iya yah..." Balas Dara yang sebelumnya melihat jam sudah menunjukan pukul 7 malam.


" Yaudah siap-siap, ayah anterin kamu pulang" Balas ayahnya yang kembali keluar dari kamar Arka dan Aris.


"Yah, kakak mau pulang?" Tanya Arka dengan wajah sedih. Seharian ini Dara sudah menemani mereka bermain, ada rasa sedih juga pergi meninggalkan mereka.


"Iya..." Balas Dara tersenyum.


"Yah, kenapa Kakak ga nginep disini?" Tanya Aris giliran.


"Emm...." Dara pura-pura tampak berpikir. Padahal iya tidak bisa menjawab pertanyaan Aris, ga mungkin dong bilang ke anak kecil kalau dia mulai bosan disini.


"Kakak, besok mau sekolah. Nanti kapan-kapan kesini lagi" Bohong Dara padahal besok ia masih liburan sekolah.


"Yaudah deh " Balas dua anak itu cemberut.


"Jangan sedih gitu dong. Nanti kita main lagi ya " Dara merasa tidak enak melihat kedua adiknya.


"Okee " Balas mereka berusaha mengerti Dara.


Dara akhirnya bersiap-siap untuk pulang. Setelah selesai ia menghampiri ayahnya yang sudah berada di mobilnya.


"Tante Karin, Dara pamit ya " Pamit Dara mencium tangan Tante Karin.


"Iya Dar, kamu kesini lagi ya kapan-kapan " Balas Tante Karin dengan ramah.


"Iya Tante " Dara tersenyum membalasnya.


" Arka dan Aris, kakak pulang dulu ya" Ucap Dara pada kedua adiknya.


"Iya ka, nanti kita main lagi ya " Balas mereka dua. Mereka ini memang berbeda umur tetapi terlihat seperti anak kembar.


"Iya , nanti kita main lagi "


"Emm..." Dara sangat canggung ketika ingin pamit pada anaknya Tante Karin.


"Dara mau pulang ya, hati-hati ya di jalan " Ucap Adi yang tahu kalau Dara sangat canggung padanya dan Adrian.


"Iya , k-ka..." Balas Dara gugup.


"Hati-hati ya Dar, nanti main lagi kesini" Ucap Adrian pada Dara.


"Iya, ka..."


"Yaudah yu sayang Tante anterin keluar, ayahnya udah nunggu tuh" Ucap Tante Karin mengantarkan Dara sampai pintu utama.


"Udah pamitan Dar " Tanya Ayahnya yang sedari tadi menunggunya di luar.


"Udah yah..."


"Yaudah ayo " Ajak Ayahnya yang berjalan menuju mobilnya.


"Dara pamit ya Tan " Ucap Dara yang ikut menyusul ayahnya.


"Hati-hati Dara "


"Hati-hati ka Dara " Tiba-tiba Arka dan Aris keluar dari rumah dan ikut melambaikan tangannya pada Dara.


Dara tersenyum melambaikan tangannya. Kemudian mobil ayahnya jalan menembus kegelapan malam.


***


"Dar..." Panggil ayahnya Dara.


"Apa yah?" Tanya Dara menolehkan kepalanya pada sang ayah.


"Dar, ayah punya permintaan ke kamu"


" Apa?"


"Tinggal sama Ayah ya Dar" Dara terkejut mendengar permintaan ayahnya.


"Terus gimana ibu?. Dara ga mau ninggalin ibu sendirian "


"Bukannya ibu kamu mau nikah lagi?"


Memang ibunya Dara lusa kemarin meminta izin untuk menikah kembali dengan pria yang selalu Dara panggil Om Rifan.


"Iya si..."


"Yaudah, Dara tinggal sama ayah. Biar ibu sama suami barunya"


"Nanti Dara pikirin dulu yah "


"Dar " Ayahnya mengelus kepala Dara.


"Keluarga ayah sekarang penting buat ayah, tapi Dara lebih penting buat ayah. Ayah mohon, Dara tinggal sama ayah ya " Jelas Ayahnya.


"Jadi, Tante Karin alasan ayah ninggalin aku dan ibu? " Ku beranikan diri bertanya pada ayah. Pertanyaan yang sedari tadi aku simpan setelah bertemu Tante Karin dan yang lainnya.


"Hmm..." Ayah tersenyum dan perlahan menjalankan mobilnya.


" Ayah dan ibu ga bisa sama-sama lagi karena saat itu sangat sulit sekali untuk kita. Ayah ga bisa kasih nafkah ke ibu, ga bisa bayar sekolah Dara. Ayah, lari dari tanggung jawab ayah. Ayah merasa ga becus buat Dara dan ibu, makanya ayah memutuskan untuk pergi meninggalkan Dara dan ibu " Jelas Ayah yang membuatku terdiam.


"Terus, ayah ketemu Tante Karin yang saat itu baru saja ditinggal suaminya yang seorang pengusaha bersama kedua anaknya. Ayah berusaha untuk membantu Tante Karin, tapi namanya manusia yang mempunyai hati, kami berdua jatuh cinta dan memutuskan menikah. Lalu pernikahan kami berdua di karuniai anak pertama bernama Arka, kemudian tidak lama lahir Aris " Lanjut Ayah tersenyum.


Sekarang aku paham. Aku juga lihat ayah sangat bahagia dengan Tante Karin, apa aku harus menuruti keinginan ayah.


" Besok sekolah Dar?" Tanya Ayah.


" Ga kok, Kenapa?"


"Gapapa..."


"Oh ya yah, emm...anaknya Tante Karin itu"


" Adi sama Adrian?"


"Iya, kayanya yang namanya Adrian ga suka sama Dara ya yah "


" Hahaha, mereka seneng kok ada Dara. Cuman Adrian kan orangnya kaku, semenjak kematian ayahnya Adrian itu selalu ngurung diri di kamar , dia juga kerjaannya belajar terus. Kalau Adi anaknya ceria, dia berusaha selalu ngehibur ibunya " Balas Ayahku menceritakan dua anaknya Tante Karin.


"Oh..."


***


" Sudah sampai..." Ucap Ayah memberhentikan mobilnya di depan rumahku.


"Dara turun ya yah " Pamitku pada Ayah.


" Dar, tolong pertimbangkan lagi ya keinginan ayah " Ucap Ayah sebelum pergi.


Apa aku harus menuruti keinginan ayah buat tinggal bersama dirinya dan keluarganya. Nanti aku harus bicara dengan ibu.


###


Continue


ini on going, jadi harap sabar ya.