My Stepbrother

My Stepbrother
Di jemput Ka Adrian



Sudah sebulan lebih aku tinggal bersama ayah. Sejauh ini aku hanya akrab dengan Tante Karin dan kedua adikku, juga ayahku. Terkadang aku juga Akrab dengan Adi anaknya Tante Karin.


" Dara, hari ini kakak anterin ke sekolah ya" Ucap Adi menawarkan tumpangan.


Biasanya sih ayahku yang mengantarkanku kesekolah tapi hari ini dia harus berangkat pagi ke kantornya. Awalnya sih aku di suruh berangkat naik ojek online saja oleh Ayah.


" Ga ngerepotin ka?" Tanyaku padanya.


" Ga kok, sekalian kakak mau berangkat ngajar. Ayo naik!" Suruhnya padaku.


Aku naik ke dalam mobil milik Ka Adi. Tiba-tiba saja aku melihat Ka Adrian keluar dari rumah dengan setelan jas nya. Ia menatapku tajam dan dingin, apa dia tak suka padaku ya?. Ku tundukan kepalaku agar tidak menatapnya.


" Dri , bilangin Mama Dara udah gua yang anterin" Ucap Ka Adi sebelum masuk ke dalam mobilnya.


Adrian hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Lalu mobil Ka Adi melaju meninggalkan rumah.


Ka Adi dan Ka Adrian itu bekerja di tempat yang berbeda. Jika Ka Adrian pemimpin perusahaan maka Ka Adi adalah seorang Dosen disalah satu universitas terfavorit di kota ini.


" Kamu nanti mau kuliah dimana Dar?" Tanya Ka Adi.


" Ah ga tau ka, belum kepikiran" Balasku malu-malu.


" Coba kamu nanti kuliah di tempat kakak ya, semoga aja kalau kakak rekomendasiin ke temen kakak yang punya kampusnya kamu bakal di terima" Ucap Ka Adi.


" Wah makasih ya ka" Aku tersenyum. Seperti mendapatkan jackpot kalau bisa kuliah di tempat Ka Adi ngajar.


" Sekolah kamu disini kan?" Tanya Ka Adi setelah mobilnya berhenti di dekat gerbang sekolahku.


" Iya ka, terimakasih ya ka" Ucapku sebelum turun dari mobilnya.


" Sama-sama Dar, kakak duluan ya" Pamitnya kemudian mobilnya melaju meninggalkanku.


Aku masuk ke dalam sekolah. Di koridor aku bertemu dengan Riana temanku.


" Dara..." Panggil Riana menghampiriku.


" Tumben baru dateng, biasanya lebih pagi dari gua" Riana merangkul bahuku.


" Iya nih, Ayah gua ga bisa anter jadi kakak tiri gua yang anterin tadinya sih mau naik ojol " Balasku.


" Lho, katanya kakak tiri lu ga suka sama lu?" Tanya Riana mengangkat satu alisnya heran.


" Bukan yang gua ceritain, ini yang satunya lagi si kembaran Adrian"


" Oh...."


" By the way, tadi pas gua berangkat kan liat Adrian ya, dia natap gua dingin banget sumpah kaya ada dendam pribadi " Ceritaku pada Riana.


Btw, kalo sama Riana aku ga perlu panggil kedua saudara tiriku dengan embel-embel Kakak.


" Cemburu kali lu di anterin sama kembarannya" Celetuk Riana.


" Gelo kali, ya ga lah. Masa bocah banget sih dia, emang gua perebut apa sampe cemburu gitu sama Adi" Sungutku kesal.


" Bukan gitu dongo " Riana menoyor kepalaku,


" Maksud gua tuh si Adrian kali aja suka sama lu makanya dia ga suka lu di anterin sama si Adi " Lanjutnya.


" Ya kali dah, Dia aja first impression sama gua aja kaya gua itu buronan yang kalau ga diliatin bakal kabur " Ucapku mengingat bagaimana Adrian menatapku terus menerus dengan datar kala itu.


" Atau dia cemburu karena ke datangan lu bikin ibunya ga sayang sama dia lagi " Ucap Riana.


" Ga mungkin! dia itu ga deket sama ibunya " kilahku.


" Atau dia emang ga suka sama bokap lu makanya di lampiaskan ke lu "


" Bisa jadi sih, tapi dia sama bokap gua keliatan fine aja "


" We never know bestie "


" Iyasi "


Sesampainya di kelas aku dan Riana duduk di tempat kami.


" Liat Pr mtk yang kemaren deh" Ucap Riana padaku.


" Kebiasaan " Aku membuka tasku dan memberikan buku ku ke Riana.


" Hehehe...." Tawa Riana tanpa dosa.


***


Kring....


Kring ....


Bel pulang sekolah berbunyi . Semua anak keluar dari kelas masing-masing termasuk aku dan Riana.


" Lu pulang bareng siapa Dar?" Tanya Riana padaku. ketika kami sudah keluar kelas.


" Ga tau, gua mau hubungin bokap gua dulu. Kalo lu sama siapa?" Aku balik bertanya pada Riana sambil menatap ponselku.


" Sama ayang dong hehehe" Tawa Riana.


" Najis"


" Yeh, sirik jomblo. Cari pacar dong!" Balas Riana.


" Emoh dih" Jutekku.


" Dih, sama Kakak lu aja nih Adrian. kan ga masalah , ga sedarah ini dan biasanya banyak kan cerita-cerita pacaran atau nikah sama saudara tiri sendiri" Ucap Riana tanpa dosanya.


" Yeh gelo, emoh gua! apalagi sama Adrian" marahku.


" Hahahaha....duluan ya bestie" Pamitnya ketika melihat pacarnya sudah keluar dari kelas.


" Hem..."


Sedari tadi aku melihat ponselku. Sepertinya Ayah sibuk sehingga tidak membalas chat ku. Apa aku coba telpon.


" Halo " Sapaku setelah Ayah mengangkat telponnya.


" Iya Dar, kenapa?" Tanya Ayah dari seberang sana.


" Ayah ga jemput aku?"


" Aduh Dar, ayah masih sibuk di kantor ada problem. Kamu naik ojek online aja ya" Ucap Ayah yang memang terdengar sedang sibuk.


" Oke.." Ku matikan telponnya karena takut mengganggu kerja Ayah.


Aku memutuskan untuk turun kebawah. Lebih baik aku memesan ojeknya di depan gerbang sekolah.


" Neng Dara " Panggil Pak Harto satpam sekolah.


" Iya pak?"


" Kakaknya neng nungguin tuh di luar" Beritahu pak Harto yang membuatku mengernyit bingung. Kakak?, masa sih Ka Adi jemput aku kan lagi ngajar dia.


" Neng...Neng!" Ucap Pak Harto membuyarkan lamunanku.


" Eh iya pak, makasih ya pak" Ucapku pada Pak Harto. Segera saja aku berlari menuju gerbang sekolah.


Setelah berada di pintu gerbang aku melihat Adrian sedang menungguku dengan pakaian santai dan kacamata hitam yang ia pakai, sepertinya Ka Adrian baru saja pulang kantor. Dengan stylenya yang kerennya itu membuat para siswa disini menatapnya dengan kagum.


" Ka Adrian" Aku menghampirinya.


" Sudah selesai?" Tanyanya cuek.


" Apanya?" Aku yang tidak mengerti maksudnya balas bertanya.


" Sekolahnya" Balas Adrian.


" Oh iya udah ka. Maaf ya kakak udah lama ya nunggu aku?" Tanyaku tak enak hati.


" Iya, cepat masuk" Suruhnya dingin yang membuatku mau tidak mau menurutinya.


Di dalam mobil hanya terjadi keheningan di antara aku dan kakakku ini. Dia benar-benar terlihat sangat fokus dengan jalanan di depan.


" Kamu udah makan?" Tanya Ka Adrian memecahkan keheningan.


" Belum ka" Balasku.


" Lapar?"


" E..enggak kok ka" Bohongku padahal sedari tadi aku menahan lapar.


Kruk...kruk....


" Huftt..." Adrian melihatku dan menghela nafasnya.


" Hehehe" Aku salah tingkah karena ketauan bohong.


" Kakak lapar, kita makan dulu ya. Mama lagi ga ada di rumah" Ucap Ka Adrian.


" Iya ka "


Ka Adrian membelokan mobilnya ke salah satu restoran yang masih di sekitar daerah sekolahku dan bagiku sangat mewah.


" Ayo turun" Ajak Ka Adrian yang baru saja keluar dari mobil.


Ia berjalan di depanku sedangkan aku berada di belakangnya. Tiba-tiba Ka Adrian berhenti membuatku tanpa sengaja menabrak punggungnya.


" Aduh..." Ucapku mengusap kepalaku.


" Sini" Ka Adrian mengulurkan tangannya ke arah ku.


" Hah?" Aku membeo bingung.


" Pegang tangan aku" Ucap Ka Adrian yang membuatku dengan terpaksa menurutinya.


Kami berdua berjalan masuk sambil saling menggenggam tangan. ' Baiklah kenapa jantung ini berdebar tuhan' Batinku sambil menatap tanganku yang berada di genggaman Ka Adrian.


" Meja buat dua orang " Ucap Ka Adrian pada waiters di restoran ini.


" Silahkan pak" Waiters itu menunjukan meja kosong pada kami.


" Ini buku menunya" Ucap waiters itu lagi memberikan kami buku menunya setelah kami duduk di kursi.


" Pergi saja dulu, nanti saya panggil lagi" Ucap Ka Adrian membuat waiters yang tadi menunggu pergi.


Ku lihat-lihat buku menu yang penuh dengan makanan mengiurkan tetapi tidak dengan harga nya. Bayangin aja ya, masa nih Udang mentega aja seporsi 80 rb . Iyasi tempatnya bagus okee tapi kan arghh ga bisa pokoknya ga bisa aku tuh anak hemat.


" Mau pesen apa?" Tanya Ka Adrian menatapku datar.


" Emm, ka boleh ga kita pindah aja makannya?" Tanyaku. Sumpah mending makan di warteg langganan ku.


" Kenapa?" Ka Adrian menaikan sebelah alisnya.


" Emm, mahal hehehe" Ucapku dengan tertawa.


" Kakak yang bayar" Balasnya dingin.


" Emm, tapi nanti kakak uangnya abis makan disini" Ucapku lagi dengan nada khawatir.


" Ga akan"


" T..tapi..." belum aku selesai berbicara ka Adrian langsung memotongnya.


" Yaudah ayo kita pergi" Ucapnya sambil bangkit dari kursi.


' Ya Allah, aku salah' Batinku tidak enak melihat sikap ka Adrian.


" I...iya ka..." Aku yang ketakutan menyusulnya dari belakang. Tapi tiba-tiba saja ka Adrian menggenggam tanganku lagi.


" Tidak jadi pak?" Tanya waiters tadi.


" Ga" Balas Ka Adrian cuek dan langsung menarikku untuk pergi dari restoran.


' Ka Adrian marah ya?' Batinku takut .


Setelah sampai di mobil , aku dan Ka Adrian masuk ke dalam mobilnya.


" Kamu yang cari tempat nya ya" Ucap Ka Adrian.


" Bener ka?" Tanyaku terkejut. Aku kira dia marah dan memilih mengantarkanku pulang.


" Iya " Dia melajukan mobilnya keluar dari parkiran.


" Kita makan di warteg yang ada disana aja ya ka. Disana bisa masuk mobil kok" Beritahu ku sambil memberitahu ka Adrian warteg langgananku.


" Iya " Ka Adrian membelokan mobilnya ke arah warteg langganan ku.


Aku dengan semangat 45 turun dari mobil dan tanpa sengaja menarik tangan Ka Adrian dengan semangat untuk masuk ke dalam warteg. kaeimsksamjssn, bodohnya.


" Bu Ani, aku mesen kaya biasanya ya terus sambelnya banyakkin " Ucapku yang sudah akrab dengan pemilik warteg ini.


" Siap neng " Balas Bu Ani sambil mempersiapkan makananku.


" Kakak mau makan apa?" Tanyaku pada Ka Adrian yang wajahnya terlihat heran dengan pemandangan di warteg ini.


" Ayam goreng aja sama sayur sup" Balasnya.


" Bu , satu lagi ya nasinya , lauknya ayam goreng sama sayur sup" Ucapku lagi pada Bu Ani.


" Siap neng"


Aku mengajak Ka Adrian duduk di salah satu tempat yang ku tag sebagai tempat favorit ku.


" Sini ka duduk di samping aku" Aku memberikan space agar ka Adrian bisa duduk.


Dengan wajah datar ka Adrian duduk di sampingku.


" Ada neng Dara, baru keliatan neng?" Ucap Pak Raden supir angkot kenalanku yang baru saja datang.


" Iya nih pak..." Balasku dengan wajah sumringah.


Btw warteg ini langganan ku setiap pulang sekolah selalu makan disini. Makanya aku kenal dengan pelanggan yang lain, macam pak Raden ini.


" Nih neng makanannya" Bu Ani menghidangkan makanan di depanku dan Ka Adrian.


" Makasih ya Bu" Balasku yang sudah tidak sabar untuk makan. Ku basuh tanganku di mangkuk kobokan yang sudah di sediakan oleh Bu Ani. Setelahnya aku memakan dengan lahap.


Berbeda denganku. Ka Adrian mengambil sendok dan garpu, ia memakan makanannya dengan perlahan-lahan.


" Yah bang, kalau makan kaya gitu mah ayamnya bisa mental " Tegur Pak Raden melihat Ka Adrian yang kesusahan untuk memakan ayamnya.


Aku menghentikan makan ku dan menatap ka Adrian.


" Boleh Dara bantu?" Tanyaku menawarkan diri.


" Hemm.." Dehemnya sambil memberikan space untukku bisa membantunya.


Aku mengambil ayam goreng di piring ka Adrian. Ku pisahkan daging dengan tulang ayamnya agar ka Adrian bisa makan.


" Ga sopan kamu" Ka Adrian menatapku tidak suka.


' Salah ya Allah , Dara bodoh '


" Aku mau bantu biar kakak mudah makannya" Balasku.


" Bantu atau kotorin makanan saya sama tangan kamu?" Tanya Ka Adrian dingin.


" Maaf ka tapi lebih mudah pake tangan" Ucapku dengan nada lesu.


" Saya bukan kamu ya, yang makan pake tangan kaya babi" Hardik Ka Adrian dengan berbisik.


Ku tatap mata ka Adrian. ' Dasar manusia sombong' .


" Nih kakak makan" Ucap ku ingin menyuapkan nasi ke mulut Ka Adrian yang pedes mampus.


" Ga!, tangan kamu banyak kumannya" Tolaknya dingin.


" Coba dulu" Aku memaksanya.


Ka Adrian melihat sekeliling. Dia dengan terpaksa menerima suapan dari tanganku. Mungkin ga mau jadi ribut kali ya.


Dia mengunyah makanannya sambil terdiam menatapku.


" Gimana ka ?" Tanyaku padanya.


"Lagi" Balasnya.


" Itu makan aja sendiri" Ucapku padanya.


" Ga mau, suapin lagi" Pinta Ka Adrian dingin.


Aku melotot terkejut. Maksudnya dia kaya tadi kah.


" Cepet" Ucapnya lagi.


Akhirnya aku kembali menyuapi ka Adrian dengan tanganku. Tadi katanya dia kotor sekarang malah mau makan dari tanganku.


" Cielah romantis amat neng Dara sama pacarnya sampe nyuapin gitu " Celetuk Bu Ani.


" E..."


" Iya nih makanya saya makin sayang" Ucap Ka Adrian yang membalas omongan Bu Ani dengan tersenyum ramah.


' Maksudnya?' Batinku terkejut mendengarnya.


Aku menyuapi ka Adrian dengan terburu-buru agar bisa cepat selesai, lagi pula makanku masih setengah lagi.


Setelah selesai, Ka Adrian membayar makanannya .


" Haduh, kebanyakan bang" Ucap Bu Ani melihat nominal uang yang di berikan Ka Adrian.


" Ambil aja kembaliannya buat ibu" Balas Ka Adrian.


" Serius?, Makasih atuh bang kasep" Ucap Bu Ani.


" Iya sama-sama, ayo" Ka Adrian menggenggam tanganku supaya aku mengikutinya untuk ke mobil.


####


Continue