My Old Husband

My Old Husband
Hot kiss



Dua bulan sudah Ana dan Evan menjalani rumah tangga, bukan hal yang mudah bagi mereka untuk mempertahankan pernikahan, apalagi pernikahan mereka bukan berlandaskan cinta melainkan wasiat.


" eeeuungh.. " Ana merelakskan otot-otot tubuhnya dan mengucek matanya. Di lihatnya sisi tempat tidurnya yang kosong. Ana menghembuskan nafasnya, lagi-lagi Evan berangkat kerja sebelum dirinya terbangun.


Memang sudah beberapa minggu ini Evan selalu berangkat pagi-pagi sebelum dia bangun dan akan pulang larut malam saat Ana sudah tidur. Biasanya Evan akan mengiriminya pesan walaupun hanya sehari sekali namun beberapa hari ini Evan belum pernah lagi mengiriminya pesan.


" hmmm... kenapa aku jadi mikirin tuh om-om sih " gumam Ana sebelum melangkahkan kakinya ke kamar mandi.


****


Bel istirahat berbunyi nyaring para siswa berhamburan keluar kelas, banyak di antaranya memilih kantin untuk menghabiskan waktu istitahat namun ada juga yang memilih perpus atau yang lainnya. seperti Ana misalnya, dari pada menghabiskan waktu istirahatnya di kantin Ana lebih memilih menghabiskan waktu istitahatnya di taman belakang sekolah.


Duduk di bawah pohon sambil mendengarkan musik favoritenya dan juga membaca novel lebih membuatnya nyaman apalagi akhir-akhir ini entah kenapa Ana selalu kepikiran tentang Evan.


Ada rindu yang diam-diam menyusup di relung hatinya meski ia masih enggan untuk mengakuinya, namun hatinya merasakan kekosongan saat dirinya tak bertemu Evan beberapa minggu ini.


" akkhh kenapa aku terus saja memikirkannya, apa aku merindukannya " Ana menggeleng-gelengkan kepalanya mencoba menyangkal perasaannya.


***


Evan merenggangkan otot-otot tubuhnya setelah seharian bekerja. Akkhh akhirnya pekerjaannya selesai juga sehingga dia bisa oulang lebih cepat hari ini.


Sudah beberapa minggu ini Evan di sibukkan dengan penggelapan uang yang di lakukan salah satu karyawannya dan hal itu benar-benar membuatnya sangat sibuk sehingga dia harus berangkat pagi sekali dan pulang malam sekali. Hal itu juga membuatnya tidak pernah lagi berkomunikasi dengan Ana. Karena saat berangkat kerja Ana masih tidur dan saat pulang kerja Ana sudah tidur, rasanya Evan benar-benar merindukan Ana.


Evan membereskan berkas-berkas yang masih berserakan di atas meja dan bergegas pulang ke rumah, dia sangat tidak sabar untuk bertemu dengan pujaan hatinya. Sepanjang jalan di lewatinya dengan senyum manis yang tak pernah pudar bahkan sesekali dia menyapa karyawannya, hal yang tidak pernah di lakukannya selama ini. Tentu saja sikapnya tersebut membuat para karyawannya keheranan, pasalnya bos mereka yang selama ini selalu berwajah datar kini tersenyum sepanjang jalan bahkan sampai menyapa beberapa karyawan, benar-benar sebuah keajaiban bagi mereka.


Evan memasuki mobilnya dan melajukannya menuju apartemen, di tengah perjalanan Evan menghentikan mobilnya di depan toko bunga.


" selamat siang, ada yang bisa saya bantu pak ? " sapa seorang perempuan yang sepertinya salah satu pegawai toko bunga itu.


" oh iya, saya mau bunga lili yah, tolong buatkan satu buket buat saya " pinta Evan yang langsung di iyakan sang pegawai.


" ini pak bunganya sudah selesai, maaf menunggu lama " ucap si pegawai seraya memeberikan bunganya pada Evan.


" iyah terimakasih, ini uangnya " ucap Evan dan memberikan dua lembar ratusan ribu rupiah pada pegawai setelah itu langsung meninggalkan toko bunga itu dan kembali melanjutkan perjalanannya.


Pukul lima sore mobil yang di kendarai Evan sudah sampai di apartemennya. Evan membuka pintu apartemen setelah memasukan beberapa kombinasi angka . Di lihatnya apartemen yang nampak sepi, kemana Ana? Apa belum pulang.


Evan membuka pintu kamarnya dan tertegun menatap Ana dengan ketelanjangannya, sepertinya Ana sedang berganti baju dan tidak menyadari ada seseorang yang memperhatikannya.


Evan menelan ludahnya kasar, melihat tubuh Ana tanpa sehelai benangpun membuat jiwa kelelakiannya bangkit begitu saja. Jangankan melihat Ana telanjang, Ana berpakaian lengkap saja Evan selalu tergoda. Beruntung Evan selalu bisa menahan dirinya agar tidak menyentuh Ana lebih dari sekedar ciuman.


" ekhem " Evan berdehem membuat Ana terkejut dan membalikkan tubuhnya


" aaaaaaa " Ana menjerit karena terkejut melihat Evan yang sudah berdiri di pintu kamarnya, buru-buru dia berlari ke kamar mandi tanpa menghiraukan ketelanjangannya.


Evan terkekeh pelan melihat wajah merah Ana, antara malu dan marah membuatnya terlihat menggemaskan di mata Evan. Evan berjalan duduk di sisi tempat tidur, meregangkan otot-ototnya yang kaku sembari menunggu Ana yang sedang memakai baju di kamar mandi.


"Bodoh, bodoh, bodoh... kenapa bisa kamu bertrlanjang di dalam kamar Ana... you are so stupid ! Harusnya kamu sadar kalau kamu sudah menikah bodoh " Ana merutuki kebodohannya sendiri sambil memukul-mukul kepalanya.


" Lagian tuh om-om kenapa nongol tiba-tiba sih, udah kaya jelangkung aja, biasanya juga pulangnya malam " lanjutnya lagi sambil terus memukul kepalanya dan berjalan mondar-mandir di dalam kamar mandi.


" Iikkhh kesell ... kan malu... Gimana dong... Tau akkh " Ana menghentakkan kakinya kesell.


ckleekkk


Suara hendle pintu yang terbuka membuat Evan mengalihkan matanya dari ponsel di genggamannya, Tak lama Ana keluar masih dengan wajah merahnya, menahan kesal karena Evan masuk ke kamarnya tanpa mengetuk pintu terlebih dulu meski dia tahu kamar ini bukan hanya miliknya tetapi juga milik Evan.


" kenapa masuk kamar tidak ketuk pintu dulu ? " tanya Ana dengan geramannya, dia benar-benar malu Evan melihat tubuh telanjangnya, rasanya ingin sekali menceburkan diri di kali.


" kenapa ? Ini kamarku juga, lagipula kau istriku, tidak masalah jika aku melihat seluruh tubuhmu bahkan menyentuhnya pun bukan sesuatu yang salah " jawab Evan santai, kelewat santai sampai membuat Ana semakin kesal di buatnya.


" kemarilah " Evan menepuk tempat di sisinya, meminta Ana untuk duduk di sampingnya, mengabaikan kekesalan gadis itu.


Masih dengan kekesalan dan rasa malu yang mencapai ubun-ubun Ana berjalan menghampiri Evan dan duduk di samping lelaki itu.


" untukmu " Evan memberikan bunga yang sempat di belinya sebelum pulang. Ana terkejut melihat bunga Lilly yang di sodorkan Evan, tak urung tangannya mengambil bunga yang menjadi kesukaannya itu.


" terimakasih " Ana menerima bunganya dan mengalihkan pandangannya ke lain arah, pipinya merona mendapat bunga dari Evan.


" maaf karena beberapa minggu ini aku terlalu sibuk dengan pekerjaan ku sehingga mengabaikan mu " ucap Evan menggenggam sebelah tangan Ana. Ana mengalihkan kembali pandangannya, melihat tangannya yang di genggam Evan erat.


Ana tergugu mendengar permintaan maaf Evan, mengapa lelaki ini meminta maaf padanya seolah dia merasa bersalah? Bagi Ana kesibukan Evan karena pekerjaan bukanlah kesalahan lelaki itu asal jangan sibuk dengan wanita lain saja.


" Ugghh... Kenapa aku jadi kesal membayangkan Om Evan dengan wanita lain " batin Ana.


" bersiap-siaplah, malam ini kita makan di luar " ucap Evan dan berlalu keluar kamar meninggalkan Ana yang lagi-lagi termangu karena ucapannya.


" ada apa dengan Om Evan ? Kenapa dia berubah sikapnya ? " gumam Ana walau sebenarnya dia juga merasa bahwa sikap Evan kembali lagi seperti dulu saat status mereka bukan sepasang suami istri.


Ig : @Leni_sarkani