My Old Husband

My Old Husband
Jedag Jedug



Suasana canggung begitu terasa dalam mobil yang sedang di kendarai Evan dan Ana. Setelah kejadian Evan yang mencium Ana pagi tadi mereka memang belum saling bicara.


Ana duduk gelisah dalam mobil Evan, sesekali matanya mencuri pandang ke arah Evan, melihat apakah Evan measakan kegugupan yang sama seperti yang tengah dirasakannya kini, namun melihat Evan yang mengemudi dengan tenang membuat Ana mendengus pelan, ternyata hanya dirinya yang dilanda gugup sedangkan Evan tampak biasa saja.


Evan merasakan kegelisahan Ana dan dia juga tahu kalau sedari tadi Ana mencuri-curi pandang ke arahnya. Mungkin Ana berfikir kalau Evan tenang saja setelah yang dilakukannya tadi pagi pada Ana namun sebenarnya Evan juga merasakan kegugupan yang sama seperti Ana.


Evan memang terlihat fokus mengemudi namun dibalik itu semua dia berusaha mati-matian untuk mengontrol dirinya agar tetap terlihat tenang di depan Ana karena dia tidak ingin Ana melihat kegugupannya.


Mobil yang di kendarai Evan sudah sampai di depan gerbang sekolah Ana, saat Ana akan membuka pintu mobil,  Evan menahannya membuat Ana membalikan badannya menghadap Evan.


"mm... soal... tadi pagi..." Evan menggantungkan kalimatnya tak tahu harus berbicara apa pada Ana.


Ana mengigit bibirnya menanti Evan melanjutkan ucapannya


"Kenapa kau selalu saja menggigit bibirmu" ucap Evan dengan Geraman tertahan. Tak tahukah Ana perbuatannya memancing sesuatu yang mati-matian berusaha Evan pendam.


"Hah apa?" Ana mendongakan kepalanya terkejut dengan pertanyaan Evan.


Evan mengelus lembut pipi Ana kemudian mendongakkan dagunya agar menatap wajahnya, Ana memejamkan matanya melihat Evan mulai mendekatkan wajahnya, mungkinkah Evan mau menciumnya lagi?


Wajah Evan semakin mendekat dan


Cup


Evan memang mencium Ana tapi bukan di bibir melainkan di kening, Evan menciumnya dalam dan lama membuat perasaan hangat hinggap di dada Ana.


Evan melepaskan ciumannya dan menatap Ana dalam "Masuk gih nanti pulangnya aku jemput" ucap Evan pada Ana namun Ana hanya diam saja masih terhipnotis dengan tatapan Evan.


Evan mengernyitkan keningnya melihat Ana yang masih diam


"Ana..."


"Ana..." panggil Evan lagi namun kali ini sambil mengibaskan tangannya di depan wajah Ana membuat Ana tersadar


"Hah apa Om?" jawab Ana gugup. Evan tersenyum lembut melihat Ana gugup, membuat lagi-lagi jantung Ana berdetak tidak normal


"nanti pulangnya aku jemput" ucap Evan lagi


"oh, iya..." setelah mengucapkan itu Ana langsung membuka pintu dan turun dari mobil.


Evan langsung menjalankan mobilnya  tak lama setelah Ana turun. Ana memegang dadanya " ya tuhaaann... kenapa jantung aku selalu jedag jedug yah kalau om Evan bersikap manis " lalu Ana juga menangkup kedua pipinya yang ia yakini sudah berubah warna menjadi kemerahan seperti kepiting rebus.


****


Waktu menunjukkan pukul satu siang, Ana berjalan keluar kelas. Saat Ana akan sampai gerbang sekolah dia melihat mobil Evan sudah menunggunya.


Ana memegang dadanya yang berdetak lebih cepat padahal yang dilihatnya baru mobilnya Evan, lalu bagaimana jika dia sudah bertemu Evan? Akankah jantungnya akan berdetak lebih cepat lagi dari sekarang


"Sepertinya aku harus ke dokter, jantungku selalu berdetakntidak normal setiap melihatnya, dan aku sungguh tidak ingin mati muda" gumamnya pelan.


"Ana..." Evan memanggilnya dan tersenyum lebar kepadanya. dengan ragu Ana melangkahkan kakinya mnmenghampiri Evan.


"Bagaimana sekolahmu?" tanya Evan saat Ana baru saja sampai di hadapannya.


"Ba... ba... baik" Evan tersenyum dan mengelus rambut Ana. Evan membukakan pintu mobil untuk Ana dan menyuruhnya masuk.


Suasana di dalam mobil masih canggung sama seperti tadi pagi saat Evan mengantarkan Ana ke sekolah.


"Kita makan dulu yah" setelah mengatakan itu Evan langsung menghentikan mobilnya di sebuah kafe tanpa meminta persetujuan Ana lebih dulu


"Kami mau pesan apa?" tanya Evan setelah mereka duduk.


"mm... samakannsaja dengan Om" jawab Ana gugup. Evan menyeringai mendengar jawaban Ana. "Oh samain yah... kalau begitu aku mau pesan bibirmu saja boleh?" Ana membelalakkan matanya terkejut mendengar perkataan Evan. Ana mendongakkan kepalanya dan kembali menunduk ketika menyadari Evan sedang menggodanya, terlebih pelayan yang sedari tadi berada di antara mereka juga terlihat sedang menahan tawanya membuat wajah Ana semakin memanas karena malu.


Saat pelayan pergi, Ana langsung mengalihkan pandangannya keluar melihat kendaran lalu lalang di jalan. Meja mereka memang terletak di pojok dan di samping kaca sehingga bisa sambil menikmati pemandangan luar.


Deg... deg... deg...


"Tuh kan jantungku jedag jedug lagi..." gumam Ana dalam hati saat sudut matanya melihat Evan yang menatapnya intens .


Ana tidak mengerti mengapa dia seperti itu padahal dulu sebelum daddynya meninggal mereka sering makan bersama bahkan kadang-kadang hanya berdua dengan Evan dan itu bukan hanya sekedar makan tapi juga di bumbui dengan jalan-jalan ke mall seperti shopoing dan juga nonton. Tapi jantungnya tidak pernah berdetak Aneh seperti ini.


"Permisi mas,mba ini pesanannya" suara pelayan yang mengantarkan pesanan mereka menghilangkan kecanggungan di antara mereka tapi hanya sesaat, karena setelah pelayan pergi kecanggungan itu kembali terasa.


Ana memakan makanannya dengan serius sedangkan Evan makan sambil terus menatap Ana. Dia terkekeh saat melihat saus yang menempel di ujung bibir Ana, Evan mengulurkan tangannya menghapus saus di bibir Ana dengan ibu jarinya dan menjilat saus itu membuat Ana terbengong menatap tingkahnya sedangkan Evan hanya tersenyum dan mengangkat sebelah alisnya menggoda Ana.


Ana menundukkan kepalanya, dia sangat malu dengan tingkah Evan yang membuat jantungnya terus berdetak abnormal, dan Ana yakin pipinya pasti sudah lebih merah dari kepiting rebus.


Lagi-lagi Evan tersenyum melihat wajah Ana yang memerah, dia sangat bahagia meskipun hubungannya dengan Ana seperti jalan di tempat tapi setidaknya Ana sudah tidak terlalu jutek lagi kepadanya.


***


"Kamu masuk aja, saya harus kembali ke kantor karena sore ini akan ada meeting penting" ucap Evan saat telah sampai ke depan pintu rumah. Ana hanya mengangguk saja tak ingin menatap wajah Evan, dia masih benar benar malu dan tak tahu harus berbuat apa.


Evan mencium kening Ana sekilas dan berlari menaiki mobil kembali lalu menjalankannya sedangkan Ana lagi-lagi dibuat terdiam oleh perlakuan Evan. Belum hilang rasanya rasa malunya atas sikap manis Evan di cafe tadi,  sekarang Evan membuatnya semakin malu lagi.


Ana tidak mengerti pada hatinya, karena kalau dia deg-degan saat Evan mencium bibirnya ia merasa wajar karena itu pertama kalinya namun mencium kening? Bukankah sejak dulu Evan memang suka mencium keningnya dan perasaannya baik-baik saja, sedangkan sekarang jangankan Evan mencium keningnya, Evan menatap matanya dalam saja sudah membuatnya ingin guling-guling di lantai. Akkhhh sepertinya pengaruh Evan sangat luar biasa bagi kesehatan jantung Ana.


*****


Evan baru pulang saat waktu menunjukkan pukul delapan malam, dia masuk sambil menenteng beberapa kantong berisi makanan.


Evan menghampiri Ana yang sedang asik menonton tv dan ikut duduk di sampingnya


"Kau sudah makan?" tanya Evan yang di jawabi gelengan kepala oleh Ana


"Kalau begitu kamu siapin ini, aku mandi dulu sebentar, setelah itu baru kita makan bersama" ucap Evan lag sambil menyerahkan paper bag berisi makanan pada Ana dan langsung berlalu pergi ke kamarnya.


Ana menyiapkan beberapa makanan yang sudah di beli Evan dan menatanya di piring, ternyata Evan membelikannya sate dan soto, dua makanan favorite Ana, mata Ana berbinar melihat makan favoritnya yang sudah tertata rapi di meja.


Ana melongokkan kepalanya melihat ke arah kamar Evan, wangi makanan favoritenya membuatnya tak sabar ingin mencicipinya namun meskipun begitu dia tetap menunggu Evan sesuai permintaan lelaki itu.


Setelah sepuluh menit menunggu akhirnya Evan datang juga, Ana terpana melihat penampilan Evan yang mengenakan celana training panjang dan kaos singlet. Kaosnya yang ketat mencetak otot-otot tubuh Evan yang bebentuk kotak-kotak.


"Aku tahu aku tampan, tapi jangan sampai liurmu menggantikan kuah soto itu" ucap Evan yang sukses membuat Ana mengatupkan bibirnya rapat. Dia menyadari apa yang dikatakan Evan memang benar, Ana menatap Evan seolah-olah seperti melihat buah mangga muda yang asam manis membuatnya tak tahan untuk tidak meneteskan liurnya.


Namun meskipun begitu Ana tidak mau mengakuinya, dia justru berpura-pura acuh dengan memulai makan lebih dulu dengan lahap tanpa menghiraukan Evan yang kini sedang menatapnya.


Evan yang melihat Ana makan dengan lahap mengulum senyumnya, dia tahu Ana paling tidak bisa menolak dua makanan kesukaannya itu, sate dan soto.


"Saya sudah selesai, kamu habiskan saja makanannya. Saya mau melanjutkan pekerjaan yang belum selesai. Kalau kau mencari aku, aku ada di ruang kerjaku" ucap Evan dan pergi ke ruang kerjanya.


Ana menghembuskan nafasnya lega melihat Evan yang sudah masuk ke dalam ruang kerjanya "Huftt... jantung oh jantung, kenapa kamu selalu berdisko kalau lagi sama Om Evan" gumam Ana sambil menekan dadanya yang terasa deg-degan.


"Akhh tidak, tidak... aku tidak ingin mati muda. pokoknya aku harus pergi ke dokter" gumammya lagi sambil menggeleng-gelengkan kepalanya


"Lagipula aku kan juga belum merasakan malam pertama, masa iya mati duluan" gumamnya lagi tapi kali ini dengan suara lebih pelan lagi nyaris tak terdengar


"Eh, mikir apa sih aku ya Ampun..." Ana memukul jidatnya dan terus menggeleng-gelengkan kepalanya saat menyadari ucapan terakhirnya. Tanpa di sadari Ana seseorang terkikik geli melihat kelakuannya, dan seseorang itu adalah Evan.


Evan memang sudah masuk di ruang kerjanya namun melihat gelas minum di mejanya kosong dia keluar kembali untuk mengambil air.


Baru saja Evan membuka pintu Evan melihat tingkah Ana yang menurutnya menggemaskan, jadilah dia hanya berdiri di l pintu sambil memperhatikan Ana


"Dasar bocah" ucap Evan dengan senyuman gelinya lalu masuk kembali ke ruang kerjanya mengurungkan niatnya untuk mengambil air.