
Mendung masih menyelimuti hati seorang gadis cantik bernama Shavana narenda putri atau Ana pasalnya ini adalah hari ketiga sejak kepergian Daddy tersayangnya Adam narendra. Satu-satunya orang tua yang yang dimilikinya karena mommynya Tiara ramadhani sudah meninggal sejak Ana berusia lima tahun.
Kini Ana benar-benar sendiri, satu-satunya orang yang selalu bersamanya dan melindunginya sudah pergi menyusul mommynya. Ana bingung dan merasa takut bagaimana nanti cara dia menjalani hari tanpa sang daddy ? Sanggupkah dia melewati semua ujian hidupnya ?
Ana berjalan keruang keluarga disana sudah ada Rudi Hutomo atau yang biasa di panggil pak Rudi pengacara daddynya dan Evan Zamora sahabat daddynya yang sudah menemaninya selama tiga hari ini.
Semalam Evan mengatakan pada Ana kalau hari ini rudi pengacara daddynya akan datang untuk membacakan surat wasiat yang di tulis Adam sebelum terjadi kecelakaan yang menewaskannya.
Ana tak tahu wasiat apa yang ditulis Adam pasalnya jika soal harta warisan Ana yakin bahwa itu semua akan diserahkan kepadanya mengingat dia putri tunggal Adam. Lalu jika bukan tentang warisan tentang apa? Ana menjadi penasaran sendiri.
Ana duduk disamping Evan dan berhadapan dengan rudi. Matanya menatap sebuah berkas yang ada di meja yang entah kenapa membuatnya gugup dan merasa deg-degan.
" Selamat pagi nona Ana " Ana tersenyum membalas sapaan rudi, dia tidak nyaman hatinya gelisah dan luar biasa gugup.
" baiklah saya akan langsung saja membacakan surat wasiat yang di tulis tuan Adam sebelum beliau meninggal " Rudi mengambil berkas yang ada di meja dan membukanya, menatap kearah Ana dan Evan sebentar lalu berdehem sebelum membacakan isi suratnya
bismillahirohmanirrohim... Ana anak kesayangan daddy dan kebanggaan daddy, saat rudi membacakan surat ini itu artinya daddy sudah tidak disampingmu lagi dan menjagamu lagi. Karena itu daddy ingin sekali ada seseorang yang menggantikan Daddy untuk menemani dan menjagamu..
Ana, jika saja tuhan mengizinkan ingin sekali daddy menemani dan menjagamu untuk selamanya namun apa daya daddy hanya manusia biasa yang tak kuasa untuk melawan takdir
Ana, selama ini daddy tak pernah meminta apapun kepadamu tapi kali ini untuk yang pertama dan terakhir kalinya daddy meminta kepadamu, bisakah kamu mengabulkannya ?
Ana, daddy ingin kau menikah dengan om Evan sahabat daddy. Daddy tahu kamu akan terkejut dan mungkin tak bisa menerima permintaan daddy ini, tapi daddy hanya percaya pada om Evan untuk menjagamu. Daddy yakin om Evan mampu untuk menjaga dan membahagiakanmu.
Tolong... turuti permintaan daddy. Percayalah kalau apa yang daddy minta ini adalah semata-mata untuk kebaikan mu.
Ana menutup mulutnya tak percaya mendengar permintaan daddynya. Menikah dengan om Evan sahabat ayahahnya ? Yang benar saja bahkan usia mereka saja terpaut 20 tahun. Bagaimana bisa dia menikah dengan om-om. Astaga... apa kata teman-temannya nanti.
Sedangkan Reaksi Evan hanya biasa saja karena dia sudah bisa menebak isi dari surat wasiat tersebut. Adam memintanya untuk menikahi putrinya, itu adalah pesan terakhir yang dikatakan Adam kepadanya sebelum menghembuskan nafas terakhirnya dirumah sakit.
Ana merbeut surat yang ada di tangan pak Rudi dan membaca ulang suratnya, benar apa yang dibacakan pak Rudi tadi sama dengan yang ditulis daddynya. Tapi bagaimana bisa dia menikah dengan Evan ? Baginya Evan adalah ayah kedua setelah Adam, ya tuhaaann...
" seminggu sebelum kecelakaan terjadi, tuan adam datang kekantor dan menemui saya. Dia bercerita kalau akhir-akhir ini peeasaannya tidak enak dan selalu gelisah. Dia merasa kalau dia akan berpisah dengan nona Ana dan akan pergi jauh " Rudi menceritakan apa yang dirasakan Adam sebelum meninggal. Benarkah daddynya sudah punya firasat aebelum terjadi kecelakaan dan meninggal dunia?
Ya tuhaaan.... apa yang harus di lakukan Ana, usianya baru saja 16 tahun dan masih menduduki bangku kelas dua SMA tapi dia harus menikah hanya karena selembar kertas yang ditulis daddynya ? Tidak masuk akal.