
Ana Pov
Bayangkan apa yang kamu pikirkan saat Ayahmu menjodohkan mu dengan laki-laki yang usianya terpaut sangat jauh darimu. mungkin jika perbedaanya hanya lima sampai sepuluh tahun itu masih masuk akal tapi ini dua puluh tahun? DUA PULUH TAHUN !
ini gila, ini benar-benar gila dan yang lebih gila lagi laki-laki itu adalah sahabat Ayahmu sendiri. OH MY GOOOSSSHHH !!!
Aku menendang-nendang kerikil di jalan yang sedang kulewati ini, aku sengaja pulang sekolah dengan berjalan kaki agar bisa sampai rumah lebih lama untuk menghindari pertemuanku dengan om Evann.
sejak semalam, aku tak pernah bisa berhenti memikirkan tentang wasiat ayah. Menikah dengan om Evan ? Yang benar saja ! Aku sudah menganggap om Evan sebagai ayah keduaku, bagaimana bisa aku menikah dengannya ? Apa yang akan terjadi pada pernikahan ku nanti, astaga.... aku tak bisa membayangkannya.
Saat aku sampai rumah kulihat om Evan sedang duduk diruang keluarga, matanya terfokus pada lapetop yang ada didepannya. Huh... aku mendengus ketika tatapan kami tak sengaja bertemu, Malas sekali rasanya melihat wajahnya sejak pembacaan surat itu. lagipula kenapa om Evan wajahnya biasa saja yah mendengar wasiat daddy apa om Evan sebelumnya sudah tahu ?
"kau sudah pulang?" tanyanya padaku . Om evan menutup lapetopnya dan menghampiriku
"kenapa diam saja? apa kau sudah makan?" tanyanya lagi padaku, tangannya mengelus lembut rambutku. Perasaan disayangi seketika merambat dihatiku menguarkan rasa hangat. Tapi tidak, aku tidak boleh terbuai. Om Evan yang tengah mengelus rambutnya dan tersenyum manis dihadapannya kini bukanlah Om Evan yang dulu. Setidaknya itu yang ku rasakan.
"Udah" jawabku ketus dan berlalu begitu saja dari hadapannya, rasanya malas sekali berlama-lama di dekatnya karena setiap melihat wajahnya aku selalu teringat wasiat Daddy, dan itu membuatku kesal.
***
Denting sendok yang saling beradu dengan piring terdengar begitu nyaring diruang makan, berbanding terbalik dengan Ana dan Evan yang sama-sama memilih diam. Aura kecanggungan begitu jelas terasa diantara mereka meski sesekali Ana mencuri pandang melalui ekor matanya pada Evan yang tampak serius menikmati makan malamnya.
"ekhem" Ana berdehem mencoba menarik perhatian Evan karena tak tahan dengan kebisuan yang terjadi diantara mereka. Ingat, Ana tak pernah suka dengan suasana yang sepi.
"Om Evaaan..." Evan yang tahu Ana sudah sangat kesal kepadanya akhirnya menanggapi panggilan Ana. Sebenarnya Evan menyadari bahwa Ana mencoba menarik perhatiannya tapi dia sengaja mengabaikan Ana untuk menggodanya karena bagi Evan, wajah kesal Ana adalah hiburan tersendiri untuknya.
"iya, kau tidak perlu berteriak seperti itu, telingaku masih cukup normal untuk mendengar suara cempreng mu itu" jawab Evan dengan wajah tanpa dosanya membuat Ana semakin kesal sedangkan Evan mati-matian mencoba menahan tawanya melihat wajah Ana yang sudah memerah karena kesal.
Ana mendengus kesal mendengar jawaban Evan "Kenapa reaksi Om biasa saja saat Om Rudi membacakan wasiat Daddy? atau jangan-jangan...." Ana menghentikan ucapannya dan menatap Evan curiga membuat sebelah alis Evan terangkat menunggu kelanjutan ucapan Ana.
"Jangan-jangan apa?" tanya Evan yang masih menatap Ana dengan santai. "jangan-jangan Om sudah tau soal wasiat Daddy?" jawab sekaligus tanya Ana pada Evan, dan tiba-tiba saja matanya terbelalak ketika dengan santainya Evan menganggukkan kepalanya.
"Apa?" teriak Ana dan reflex berdiri dari duduknya. "Lalu kenapa Om diam saja dan tidak menolaknya?" tanya Ana masih dengan mata yang memicing tajam dan wajah yang memerah menahan amarah. Ini gila, bagaimana mungkin Evan diam saja? Apa lelaki di depannya ini berniat menjadi seorang pedofil?.
Evan masih bersikap tenang melihat kemarahan yang terpancar jelas diwajah Ana. Dia cukup mengerti dan memaklumi atas reaksi keras Ana. Walau bagaimanapun Ana pasti shock mendengar kabar mengejutkan ini terlebih usianya yang masih sangat muda dan masih duduk di bangku menengah ke atas.
"Ekhem..." Evan berdehem dan menatap lekat mata Ana yang berkilat tajam bagai sebilah pisau. "Well sebenarnya saya tidak tahu menahu soal surat wasiat itu, tetapi saya sudah bisa menduganya" Ana mengernyitkan keningnya heran mendengar ucapan Evan namun Ana memilih untuk diam menunggu kelanjutan ucapan Evan. "Daddimu memintanya langsung padaku sebelum dia menutup mata untuk selamanya. Kau ingat saat daddymu meminta kau membeli makanan di kantin? saat itulah dia mengatakan permintaannya padaku " jelas Evan. Ana mencoba mengingatnya dan dia ingat saat dia kembali dari kantin daddynya sudah terbujur kaku tertutup kain putih "iya aku ingat, lalu apa jawaban Om saat itu?" tanyanya lagi pada Evan.
"Awalnya aku menolak, namun saat melihatnya memohon padaku, aku tak kuasa untuk mengecewakannya. dan yah, akhirnya aku menyetujuinya" jawab Evan membuat mata Ana terbelalak menatap kearahnya
"kenapa Om mau? Om tahukan aku bahkan masih sekolah, bagaimana mungkin aku menikah di usia semuda ini" tanya Ana dengam geraman yang tertahan. "tentu saja karena itu permintaan terakhir daddymu" jawab Evan. Ana menghempaskan kembali tubuhnya ke kursi dan menatap kosong pada Evan. Ana tak tahu harus mengatakan apa lagi. Lidahnya kelu tak bisa mengeluarkan sepatah katapun. Benar yang dikatakan Evan, semua hanya karena permintaan terakhir daddynya. Lalu Ana harus bagaimana ? Haruskah Ana juga menerima permintaan daddynya ?
Evan menatap Ana yang hanya diam dengan tatapan kosongnya, Evan tahu Ana masih belum bisa menerima permintaan Adam. Sebenarnya Evan tak tega melihat Ana namun bagaimana lagi selain ini permintaan terakhir Adam, Evan juga mencintai Ana. dan ini kesempatan untuknya memiliki Ana seutuhnya.