
Ana masuk keruang kerja ayahnya yang kini sudah berganti menjadi ruang kerja Evan, Dia duduk dihadapan Evan yang sedang serius dengan berkas-berkasnya
"Ekhem..." Evan melirik sekilas kearah Ana lalu kembali fokus pada berkas yang sedang dibacanya.
Ana menggeram kesal menatap Evan yang hanya melihatnya sekilas dan mengabaikannya, akkhh kenapa sekarang Evan selalu membuatnya kesal padahal dulu lelaki ini begitu baik dan selalu memanjakannya.
"Aku mau bicara" ucap Ana yang tak jua di hiraukan oleh Evan membuatnya mendengus kesal dan merebut berkas yang sedang dibaca Evan membuat laki-laki berahang tegas itu menatap tajam kepadanya, namun Ana tak perduli, dia benci diabaikan
"Bicara apa? katakan saja" ucap Evan menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Percuma saja dia dia berdebat dengan Ana, Dia tahu betul Ana dan kekeraskepalaannya tak dapat dipisahkan.
"Aku mau bikin surat perjanjian" ucap Ana menatap serius pada Evan yang kini menatap bingung kepadanya.
"Surat perjanjian" sebelah alis Evan tertarik seolah meminta Ana untuk mengulangi ucapannya.
"Iya surat perjanjian. Perjanjian mengenai pernikahan kita" tegas Ana "Perjanjian apa?" tanya Evan lagi pada Ana
"Pertama, tidak ada pesta pernikahan. Kedua, pernikahan harus dirahasiakan. Ketiga, tidak boleh ada sentuhan fisik diantara kita." Evan melotot kearah Ana mendengar permintaan gadis itu, jika yang pertama dan kedua mungkin bisa saja tapi yang ketiga ? Tidak ada sentuhan ? Hell, itu tidak masuk akal menurutnya.
"TIDAK!" Ana membelalakan matanya mendengar penolakan keras dari Evan, dia fikir Evan akan langsung menyetujui permintaannya mengingat mereka menikah karena wasiat dari ayahnya.
"Untuk yang pertama dan yang kedua mungkin aku masih bisa menyetujuinya, tapi untuk yang ketiga..." Evan sengaja menggantung ucapannya, ditatapnya dengan lekat wajah Ana yang sedang duduk menatapnya serius menunggu kalimat selanjutnya.
Evan beranjak dari duduknya dan berdiri di samping Ana lalu berjongkok menyamakan tingginya dengan Ana yang sedang duduk. "Aku laki-laki normal sayang, walau bagaimanapun aku juga menginginkan seseorang untuk menghangatkan ranjangku. dan berhubung kau yang akan menjadi istriku maka kau yang harus memberikan kehangatan itu" bisik Evan dengan suara beratnya membuat darah Ana berdesir hebat. Ana melotot tajam kearah Evan sedangkan Evan terkekeh melihat reaksi Ana yang terkejut namun juga tersirat rasa takut dalam sorot matanya
"Tapi aku masih sekolah om, lagipula aku tidak mau disentuh sama om. Jadi jangan harap om bisa menyentuhku. "
setelah mengatakan itu dan memberi ketegasan pada Evan, Ana keluar dari ruang kerja Evan sambil menghentakkan kakinya kesal dan kembali kekamarnya.
***
Saat ini Ana dan Evan sedang makan disebuah cafe, di daerah jakarta selatan. Mereka baru saja membeli cincin dan gaun pernikahan juga tuxedo yang akan mereka kenakan dihari pernikahan mereka nanti.
Tidak ada obrolan diantara mereka, Ana yang sibuk dengan makanannya dan Evan yang sesekali membalas e-mail dari sekertarisnya. Suasana canggung nampak terlihat sekali diantara mereka padahal dulu mereka sangat akrab seperti ayah dan anak namun sekarang justru tampak seperti dua orang asing yang tak saling mengenal.
"Evan..." seorang wanita seksi datang menghampiri Evan dan mencium kedua pipinya tanpa sungkan. membuat Ana membolakkan matanya tak percaya melihat kelakuan agresif wanita itu.
"Chelsea" Evan tersenyum menatap wanita yang baru saja menyapanya. Jenis senyuman yang membuat Ana muak karena dulu dia juga selalu menyukai senyuman itu. Yah, setidaknya itu dulu.
"Apa kabar? kamu makin ganteng aja sih sekarang" Evan tersenyum mendengar pujian dari wanita didepannya, matanya melirik sekilas kearah Ana yang kini menatapnya kesal membuat Evan merasa senang dan berniat menggoda Ana.
"Aku sangat baik, apalagi setelah bertemu denganmu. dan yah, kau juga semakin cantik dan juga... seksi" Evan mengangkat sebelah alisnya menggoda, memuji balik wanita dihadapannya membuat wanita berambut ikal itu tersipu. Setelah menanyakan kabar masing-masing mereka terlibat obrolan seru mengabaikan Ana yang ada dihadapan mereka.
Ana menatap Evan kesal, om-om dihadapannya ini benar-benar selalu membuat darah tingginya naik. Apa-apaan ini, setelah memaksa Ana untuk membeli keperluan pernikahan mereka pria tua itu kini malah mengabaikannya dan asik bercengkrama dengan wanita seksi disampingnya yang Ana sendiri tak tahu datang dari planet mana.
"Tu... "
"Kamu pulang saja duluan, Evan masih akan mengobrol denganku" Evan yang baru saja akan menjawab Ana langsung berhenti karena ucapannya dipotong oleh wanita yang saat ini duduk disampingnya.
Ana menatap kesal pada wanita yang masih bergelayut manja dilengan Evan itu, datang tiba-tiba mengganggu makan siang mereka dan sekarang seenak jidatnya mengatakan kalau dia masih akan mengobrol dengan Evan
"Ck... wanita tidak tahu diri" setelah mengucapkan kalimat sarkas itu Ana langsung bangkit berdiri dan berlalu pergi tanpa menghiraukan Evan yang terus memanggilnya. Biarkan saja laki-laki itu bersama perempuan berwajah dempul itu, Ana tak peduli.
"Chelsea... apa yang kau lakukan?" Evan menatap geram chelsea. Bisa-bisanya wanita ini mengatakan hal seperti itu pada Ana.
"Loh, memangnya apa yang aku lakukan? bukankah kita memang masih akan mengobrol? dan memangnya dia siapa?" Evan semakin menatap kesal pada Chelsea yang bersikap seenaknya itu
"Dia calon istriku !" setelah mengatakan itu Evan pergi menysul Ana, meninggalkan chelsea yang masih terbengong mendengar ucapannya.
***
Ana dan Evan sudah duduk dihadapan penghulu, sebentar lagi pernikahan yang hanya dihadiri oleh beberapa orang itu akan dilaksanakan
"Bagaimana, apa bisa kita mulai sekarang?" tanya penghulu kepada kedua mempelai. Ana dan Evan saling bertatapan menyelami hati masing-masing. Evan mengalihkan kembali tatapannya pada penghulu di depannya "Silahkan pak, kami sudah siap" jawab Evan.
"Baiklah, saudara Evan mari jabat tangan saya" Sebelah tangan Evan menjabat tangan penghulu dan sebelahnya lagi menggenggam tangan Ana yang dingin. Ana menatap Evan sebentar sebelum menundukkan wajahnya kembali. hanya dalam hitungan detik saja dia akan resmi menyandang gelar nyonya Zamora, dan seumur hidupnya Ana tak pernah membayangkan hal ini akan terjadi. Dia pikir, Dia akan menikah melalunproses yang normal, berkenalan, berpacaran lalu menikah. Tapi yang terjadi justru sebaliknya, Ana menikah karena wasiat dari Ayahnya.
"Saudara Evan Zamora, saya nikahkan engkau dengan Shavana Narendra Putri dengan maskawin perhiasan emas seberat seratus gram dibayar tunai"
"Saya terima nikahnya Shavana Narendra Putri binti Alm. Adam Narendra dengan maskawin yang tersebut tunai"
Suara ramai yang menyejukkan kalimat sah menandakan kalau sekarang resmilah sudah Ana menjadi istri dari seorang Evan Zamora. Entah apa yang harus dirasakannya kini, haruskah dia bahagia ?
Evan menatap wajah Ana yang tampak murung setelah kalimat sakral itu terucap. "Apa kau tidak berniat mencium tanganku?" Ana menatap Evan yang mengulurkan tangan padanya. dengan ragu Dia meraih uluran tangan Evan dan mencium punggung tangannya yang dibalas kecupan dikeningnya.
Ana memejamkan matanya merasakan kecupan Evan dikeningnya, hatinya tiba-tiba merasa hangat merasakan ciuman Evan dan tanpa disadari airmatanya menete membasahi pipinya. Entah apa yang dia tangisi kini.
Evan menghapus air mata yang menetes dipipi Ana, diangkatnya dagu Ana dan ditatapnya dalam mata hezel yang selalu membuatnya jatuh cinta itu
"Jangan takut, aku janji akan selalu berusaha untuk membahagiakanmu. Kau hanya perlu percaya padaku" bisik Evan di depan wajah Ana lalu kembali mencium kening Ana sekilas dan mendekapnya dalam pelukan hangatnya. Ana terharu mendengar perkataan Evan. Dia hanya berharap semoga Evan bisa menepati ucapannya.
"Daddy... Ana sudah menikah dengan laki-laki pilihan daddy. Daddy bahagiakan disana?" doakan Ana juga bahagia yah dad, Ana sayang Daddy..." lirih Ana dalam hati dan membalas dekapan hangat Evan.
Ini adalah awal dari kisah hidupnya yang baru. Ana berharap hidupnya bersama Evan akan menjadi lebih baik.