My Old Husband

My Old Husband
First Kiss



Waktu menunjukkan pukul 23.00 Evan memasuki kamarnya yang sekarang menjadi kamar Ana juga.


dilihatnya Ana yang sudah tertidur pulas di atas ranjangnya. Evan mendekati Ana dan membenarkan selimutnya sampai sebatas dada.


tangan Evan membelai lembut pipi chubby Ana, bibirnya tersenyum melihat betapa polosnya gadis yang di cintainya ini ketika tidur.


"I love you" bisiknya mesra di telinga Ana yang sedang tidur. Evan mencium kening Ana lama sebelum dirinya ikit berbaring di samping Ana dan memeluknya dari belakang, merasakan kehangatan tubuh gadis yang dicintainya ini.


"Euuunghh" lenguhan khas bangun tidur terdengar seksi dari bibir Ana, saat akan bangun Ana merasa ada beban berat yang menimpa perutnya.


Ana melihat ke arah perutnya yang terasa berat, sebuah tangan melingkar indah diperutnya. Ana membalikkan badanya menghadap Evan yang masih tertidur sambil memeluk dirinya.


Tangan Ana membelai wajah Evan, Ana menarik sedikit sudut bibirnya menatap kepolosan Evan ketika tidur. Jika diperhatikkan, meskipun usia Evan sudah hampir kepala empat, namun dia tidak terlihat tua, justru lebih terlihat seperti pria dewasa yang mempesona.


Alis tebal, bulu mata lentik, hidung mancung dan bibir seksinya membuatnya terlihat seperti dewa yunani.


Tangan Ana turun membelai rahang Evan yang sedikit kasar karena di tumbuhi bulu-bulu halus yang semakin membuatnya terlihat seksi.


"Maafin sikap Ana kemarin yah Om" bisiknya di depan bibir Evan dan mencium pipinya sekilas. Ana bergegas lari ke kamar mandi sebelum Evan memergoki kelakuannya yang aneh pagi ini.


"Huftt" Evan menghembuskan nafasnya lega saat Ana sudah memasuki kamar mandi. Sebenarnya Evan sudah bangun sebelum Ana bangun, hanya saja karena dia ingin memeluk Ana lebih lama Evan memilih berpura-pura masih tidur.


dan saat Ana membelai wajahnya, tubuh bagian bawahnya menengang. Ana sialan, nafas hangatnya yang menerpa wajah Evan membuatnya ingin sekali menggulingkan tubuh Ana di bawahnya, untung saja akal sehatnya masih bekerja sehingga dia bisa menahan hasratnya.


Evan mendudukan dirinya di pinggir ranjang, menatap tajam pintu kamar mandi yang di dalamnya ada Ana.


Akkhh... seandainya Ana sudah bisa menerima pernikahan wasiat ini tentu saja dengan senang hati Evan akan menerobos masuk dan ikut bergabung bersama Ana.


Lagi-lagi fikiran kotornya membayangkan tubuh polos Ana yang sedang berdiri di bawah guyuran air shower. Shit... kejantanannya semakin menegang.


Setelah menunggu lama akhirnya Ana selesai juga, namun apa yang dilihat Evan sekarang? Ana keluar dari kamar mandi hanya menggunakan selembar handuk yang tidak bisa menutupi seluruh tubuhnya.


"Apa kau berniat untuk menggodanya?" tanya Evan. Matanya menatap tajam Ana dari ujung kaki sampai kepalanya membuat Ana meneguk ludahnya kasar melihat tatapan mengerikan Evan.


"A... apa? ti... tidak. aku sama sekali tidak berniat menggoda, a... aku ha... hanya lupa membawa baju ganti" jawab Ana gugup. Bukan hanya karena tatapan Evan yang tajam namun juga karena Evan yang sudah berjalan menghampiri dirinya yang masih berdiri mematung di depan pintu kamar mandi.


"O... om m..mma..mau apa ?" tanya Ana saat Evan mulai mendekatkan wajahnya dengan Ana. Evan terus memajukan wajahnya hingga tersisa jarak beberapa inci saja dari wajah Ana. Evan menarik sudut bibirnya melihat kegugupan di wajah Ana.


Ana memejamkan matanya rapat merasakan jaraknya dan Evan yang semakin menipis. detak jantungnya semakin kencang membuat Ana merasa sulit untuk bernafas. Ingin sekali Ana mendorong dada Evan agar menjauh darinya namun setiap kali Evan mendekatinya seperti ini entah kenapa Ana selalu merasa kehilangan tenaganya hingga akhirnya Ana hanya pasrah menerima apa yang akan Evan lakukan padanya.


Meskipun sejak awal Evan memang sudah tergoda oleh Ana, namun niatnya menghampiri Ana hanya untuk menggodanya saja. Namun melihat Ana yang menutup matanya rapat dan menggigit bibirnya membuat Evan ingin sekali menggantikannya untuk menggigit bibir pink alami itu. dapat Evan tebak, rasanya pasti lebih manis dari madu.


Akhh... persetan dengan Ana yang masih belum menerima pernikahan ini dan menerimanya sebagai suami. Evan tidak bisa menahan gairah yang semakin bergejolak ditubuhnya. Evan menarik dagu Ana mendongakannya, lalu dengan secepat kilat bibirnya kini sudah memagut bibir Ana dengan gairah yang terasa semakin membuncah.


Sebelah tangan Evan menarik pinggang Ana agar menempel dengan tubuhnya dan sebelahnya lagi menarik tengkuk Ana untuk memperdalam ciumannya.


Ana diam, tidak menolak juga tidak membalas. Dirinya benar-benar terkejut atas tindakan Evan hingga dia tak bisa melakukan apapun selain hanya diam dengan mata yang membola. Ini merupakan ciuman pertamanya, dan seumur hidupnya Ana tidak pernah membayangkan ciuman pertamanya akan di ambil oleh suaminya. Bukan, bukan masalah suaminya atau bukan, tetapi ini adalah Evan. Laki-laki yang sudah dianggapnya seperti ayah kandungnya sendiri.


"Akkh" desahan lembut mengalun begitu saja dari bibir Ana saat dia merasakan tangan Evan meremas pinggangnya. dasar om-om tidak tahu diri. Sudah tua masih suka daun muda. Evan melepaskan ciumannya saat dirasa Ana sudah kehabisan nafas


"Hhh... hahh.. hahh..." Ana mengambil nafasnya dalam dan menghembuskannya mencoba menormalkan pernafasannya. Bibirnya terasa kebas dan membengkak akibat ciuman Evan yang begitu dalam dan intens.


"Manis" ucap Evan sambil mengelus bibir bawah Ana yang basah. Evan mengecup sekilas bibir Ana lagi sebelum melangkah masuk ke kamar mandi.


Ana merasakan aura panas di wajahnya, dia yakin pasti sekarang pipinya sudah memerah seperti kepiting rebus dan jantungnya ? Astagaa... jantungnya berdetak seperti orang yang habis lari maraton.


Ana memegang kedua pipinya dan memejamkan matanya merasakan rasa Aneh yang baru dirasakannya


"Dasar om-om nyebelin, bisa-bisanya dia mencuri ciuman pertamaku" lirih Ana sambil menggigit bibir bawahnya "tapi... ciumannya manis juga" lanjutnya dengan bibir yang dihukum menahan senyum.