
Evan pov
Setelah mendapat kabar kecelakaan Adam sahabatku aku langsung berlari meninggalkan meeting yang sedang kujalani. Perasaan cemas dan panik membuatku membawa mobil seperti orang kesetanan. Bagaimana bisa Adam kecelakaan ? Setahuku dia orang yang selalu berhati-hati dalam berkendara berbeda dengan ku. Lalu bagaimana dengan Ana ? Apa dia sudah tahu ?
Aku mengambil ponselku dan menghubungi Ana, Ana terkejut mendengar kabar yang kusampaikan dan menangis histeris.
benar dugaanku Ana belum tahu mengenai kabar kecelakaan daddynya. Ya tuhaaan... semoga Adam baik-baik saja.
Saat sudah sampai di UGD dokter mengatakan kalau keadaan Adam kritis dan harus segera di operasi tanpa pikir panjang aku langsung tanda tangan menyetujui operasi. Sekarang disinilah aku, di depan ruangan operasi menunggu Adam sahabatku.
" om evaaaann " aku mengalihkan pandanganku dari pintu ruang operasi mendengar seseorang berteriak memanggil namaku. Di koridor sana Ana berlari menghampiriku
" om bagaimana daddy, kenapa bisa kecelakaan ? " baru saja sampai dihadapanku Ana sudah memberondongku dengan beberapa pertanyaan. Kulihat air mata masih mengalir deras di pipinya dan peluh nampak mengucur deras di pelipisnya. Kurengkuh tubuh kecil ana membawanya dalam pelukanku, membiarkan dia menumpahkan tangisnya dipelukanku, Aku tahu dia pasti ketakutan mendengar kabar ini.
" om belum tahu bagaimana keadaan daddy kamu sekarang, dia masih di operasi. Kita berdoa saja yah supaya daddy baik-baik saja " ku rasakan Ana semakin erat memeluk tubuhku akupun membalasnya tak kalah erat.
Empat jam sudah berlaru namun tak ada tanda-tanda operasi akan selesai di lakukan, kulihat Ana yang tertidur dalam pelukan ku, akhhh... gadis kecilku ini menggemaskan sekali jika sedang tidur meski gurat lelah dan jejak air mata nampak jelas terlihat diwajahnya.
" cklek.. "
Pintu ruangan operasi dibuka, seorang dokter keluar dari ruangan operasi, aku mencoba meletakan kepala Ana pada sandaran kursi namun pergerakan ku ternyata membangunkannya.
Melihat dokter yang sudah keluar dari ruang operasi Ana langsung berdiri dan mendekati dokter tersebut
" dok bagaimana daddy saya "
" Alhamdulillah operasinya berjalan dengan lancar dan berhasil " Aku dan Ana menghela bafas lega namun pernyataan dokter selanjutnya membuat tubuh kami membeku
" operasinya memang berhasil namun keadaan pasien masih kritis. Dan dengan berat hati saya menyampaikan bahwa pasien koma "
Adam sudah dipindahkan keruang rawat , sejak Adam dipindahkan keruang rawat tak sekalipun Ana melepaskan genggaman tangannya dari Adam " Ana.. makan dulu yuk, kamu belum makan loh dari tadi siang dan ini sudah larut malam " Aku mencoba mengajak Ana makan biar bagaimanapun aku tak ingin dia sakit namun Ana hanya diam tak merespon matanya masih terus menatap Adam.
Aku mendekati Ana dan mengusap punggungnya " ana... " Ana menoleh dengan tatapan sendunya, ya tuhaan aku tak sanggup melihat kesedihan dimatanya " Ana mau disini aja om, Ana mau nemenin daddy " Aku menghela nafas mendengar jawabannya dan membiarkan dia melewatkan makannya tapi aku janji hanya untuk kali ini saja.
Dua hari sudah berlalu namun Adam belum juga membuka matanya. Saat ini hanya aku sendiri yang menemani Adam, sedangkan Ana ku paksa untuk sekolah karena dia sudah membolos kemaren aku tak ingin dia ketinggalan pelajaran, tak lama kulihat tangan Adam bergerak dan matanya perlahan terbuka. Aku berjalan mendekati Adam
" Dam, kau sudah sadar ? " tanyaku pada Adam dan menekan tombol untuk memanggil dokter. adam tak menjawab pertanyaanku tangannya memegang tenggorokan aku yang mengerti langsung mengambilkan air minum untuknya.
Tak lama setelah dokter memeriksa kondisi Adam Ana datang dengan masih mengenakan seragam sekolahnya. Melihat Adam yang sudah membuka matanya Ana berlari memeluk Adam dan menumpahkan tangisnya dalam pelukan daddy tercintanya itu
" loooh... anak daddy ko nangis ? " tangan Adam menghapus lembut air mata Ana " sayang udah dong, daddy gak suka ah lihat Ana nangis " benar saja Ana langsung menghentikan tangisnya setelah mendengar perkataan Adam walaupun masih tersisa sesenggukannya .
" Van... " Adam memanggilku dengan suara lirihnya. Sekarang diruangan ini hanya ada kami berdua karena Ana sedang membeli makan dikantin rumah sakit. Aku mendekat kearah Adam dan memegang lengannya
" apa ada yang kau butuhkan ?" Tanyaku pada Adam namun Adam hanya menggeleng dan tersenyum menatapku. Lama kami membisu sampai adam berkata "menikahlah dengan putriku" aku terkejut mendengar perkataannya, bagaimana bisa dia memintaku untuk menikahi putrinya. Adam yang melihat keterkejutanku melanjutkan perkataannya "aku merasa waktuku tidak akan lama lagi dan aku tidak ingin begitu saja pergi tanpa ada yang menjaga putriku, dan aku hanya percaya padamu untuk menjaga putriku" Aku menatap matanya yang menyorotkan kesedihan mendalam dan ketakutan luar biasa.
"aku tahu kau mencintai Ana, karena itu menikahlah dengannya" katanya lagi. Shit.. aku memang mencintai Ana bahkan sejak dia berusia tujuh tahun, awalnya aku berfikir bahwa itu hanya perasaan cinta seorang Ayah pada anaknya namun seiring berjalannya waktu aku sadar rasa ini berbeda, bukan cinta seorang ayah pada anaknya namun cinta seorang lelaki pada wanitanya namun biarpun begitu aku tak pernah berfikir untuk menikahi Ana. Aku sadar diri usiaku dan Ana terpaut sangat jauh jadi tak mungkin Ana mau menikah denganku.
"aku mohooon .." Adam memohon kepadaku seraya menggenggam tanganku "dam jangan begini, kalau soal Ana aku janji akan menjaganya meski aku tidak menikahinya" Namun Adam tetap menggeleng dengan raut wajah memohon , akhirnya dengan berat hati aku mengiyakan permintaannya . Dan itulah permintaan terakhirnnya sebelum menutup mata untuk selamanya.