
"Bubur Ayam" Hidung Ara terus mengendus aroma sedap itu.
Arga berjalan mendekati Ara denganl membawa semangkuk Bubur Ayam, dia menarik kursi di sebelah Bad UKS tempat Ara berada.
Melihat Arga yang sudah duduk di sebelah nya, Ara segera mengambil semangkuk Bubur Ayam di tangan temannya itu.
"Makasih Argaaa" Belum sempat Ara mengambil Semangkuk Bubur Ayam itu Arga terlebih dulu menariknya ke belakang.
Ara mengecutkan keningnya "Itu buat gue kan?" Tanya Araa bingung.
Arga menganggukan kepalanya "Iya ini buat Lo" Ara semakin dibuat bingung dengan temannya ini, jika Bubur Ayam itu untuknya lantas kenapa di saat dirinya ingin mengambil Bubur Ayam itu malah di tarik kembali.
"Ya udah kalau gitu sini kasi ke gue" Tukas nya.
"Ga, biar gue yang suapin Lo" Tegas Arga
Arga menyendok Bubur Ayam itu lalu mengarahkannya ke mulut Ara "Aaaa, Ayo buka mulut Lo" Perintah Arga yang di balas tatapan Aneh oleh Ara.
"Udah lah sini gue makan sendiri aja ya" Bujuk Ara dia mencoba mengambil Alih sendok yang di sodorkan oleh Arga.
"Ga Ra, gue yang bakal suapin lo"
"Ayo mangap" Titah Arga dia kembali menyodorkan sendok ke mulut Ara.
"Lo tau kan gue paling ga suka di bantah" Lanjut Arga.
Ara dengan terpaksa menuruti keinginan temannya perlahan dia membuka mulutnya lalu memakan Bubur Ayam itu.
Arga tersenyum simpul melihat Ara yang mau makan dari suapannya.
.
.
.
Pagi-pagi sekali Rena sudah di sibukan membagi selembaran kesetiap masing-masing temannya dia menghampiri setiap anak dan memberikannya satu persatu, entah selembaran apa yang dia bagikan sampai membuatnya sesibuk itu.
"Ini buat Lo"
"Oh ya ini Lo juga"
"Jangan lupa datang ya" Ucap Rena
Rena melihat Arga yang baru saja tiba bersamaan dengan Ara segera menghampiri mereka dan memberikan selembaran tadi.
"Ini Ambil" Rena menyodorkan selembaran itu kepada Arga.
Arga menatap selembaran itu dia menaikan alisnya bingung "Apaan tu" Tanya nya.
"Mending kamu baca sendiri aja" Rena memberikan langsung selembaran itu di tangan Arga.
"Oh ya ini juga buat Lo" Rena juga memberikan selembaran itu kepada Ara.
"Makasih Rena" Ucap Ara.
"Iya sama-sama" Balas Rena dengan senyum hangat.
Ara mengambil selembaran itu dan membacanya begitu juga dengan Arga Disana tertera Undangan party ulang tahun Reyna yang ke 18 Tahun, Party itu akan di adakan malam ini sejak Pukul 19.45 s/d Selesai.
Arga menganggukkan kepalanya setelah mengetahui isi dari selembaran itu sementara Rena tersenyum simpul melihatnya.
"Jangan lupa datang ya" Rena mengingatkan.
Abi yang baru saja datang bersamaan dengan Sadnan langsung mengambil paksa selembaran di tangan Rena "Ihh Apaan si Lo main ambil aja" Kesal Rena.
Abi membuka selembaran itu lalu membacanya "Wihh bakalan ada party ni ntar malem" Ucap Abi antusias.
Sadnan merasa penasaran dan mengambil selembaran itu di tangan Abi dan membacanya sendiri "Asik nih kita bakalan happy-happy malam ini" Girangnya.
"Yoii brother" Ucap Abi yang tak kalah girangnya.
"Saga" Panggil Rena ketika melihat Saga tengah berjalan melintas di depan mereka.
Mendengar namanya di sebut Saga langsung memutar badannya dan menoleh ke arah sumber suara.
"Iya kenapa?" Tanya Saga.
"Sini" Ajak Rena menggunakan tangannya mengajak Saga bergabung bersama mereka.
Saga menghamipiri mereka setelah mendapat ajakan dari Rena.
"Ini buat Lo" Rena memberikan Selembaran itu kepada Saga.
Saga tanpa ragu mengambil selembaran itu dan membacanya.
"Ada apa tu rame-rame" Ucap Dinar lalu menghampiri mereka dia penasaran apa yang membuat mereka berkerumun sepagi ini.
"Ada apa ni, kok pagi-pagi udah berkerumunan aja?" Tanya Dinar
Dinar menganggukan kepalanya lalu menatap dingin Rena "Ada tanggal lahir juga lo ternyata" Cibir Dinar.
"Eh Mak lampir, gue lagi ga mau debat Ama Lo ni dan Berhubung suasana hati gue lagi baik jadi Lo bakalan gue undang"
"Ni Ambil" Rena menyodorkan Selembaran itu kepada Dinar.
Saga melihat Dinar enggan untuk mengambil selembaran itu membujuknya "Udah Ambil aja" Dinar menatap Saga yang berusaha meyakinkannya.
"Ayo Ambil sebelum nanti gue berubah pikiran" Tukas Rena.
Dinar dengan berat hati mangambil kasar selembaran itu dari tangan Rena, ogah banget Dateng ke Party Ulang Tahun nenek sihir ini_Dinar menatap Sinis Rena.
Memang ada acara apa aja disana_ Dinar membuka Selembaran itu dengan malas dan membaca susunan isi acara yang akan di adakan.
"Dansa" Gumam Dinar yang hanya bisa di dengar oleh dirinya sendiri.
kesempatan bagus ni siapa tau gue bisa dansa sama Arga, gue ga boleh melewatkan kesempatan ini_ Dinar menatap Arga dengan senyum sumringah.
"Pokoknya malam ini kalian semua harus datang" Final Rena.
.
.
.
Drettt Drett Drettt
Suara getaran Handphone Ara terus berbunyi dari atas nakas, Arga Bestiee nama yang tertera di panggilan Itu Ara segera mengambil Handphone miliknya lalu mengangkat panggilan masuk tersebut.
"Iya Hallo"
"Ra Lo udah siap kan gue udah otw ni bentar lagi sampe, awas aja Lo kalau gue Dateng Lo belum siap" Ucap Arga memberitahu, Arga tidak mau jika harus menunggu Ara bersiap-siap seperti biasanya.
"Iya-iya berisik Lo" Ara langsung memutuskan panggilan dan melempar asal Handphone nya di atas ranjang.
Ara berkacak pinggang dia menatap semua pakaian dia atas ranjang yang telah dia keluarkan dari dalam lemari bahkan dirinya saja Masi bingung harus memakai baju apa untuk pergi ke Party Rena.
Ara mengambil beberapa baju lalu mencobanya dia berjalan ke arah cermin dan melihat pantulan dirinya "Ga cocok lagi yang ini" Ucap Ara memperhatikan dari atas sampai bawah penampilannya tapi Masi saja tidak ada yang cocok.
Dia kembali mencoba baju terakhirnya dan hasilnya tetap sama"Aghhh" Ara mengacak rambutnya prustasi.
"Gimana ni, apa gue ga usah Dateng aja ya" Pikirnya
"Tapi kalau gue ga Dateng terus Arga gimana dia kan udah mau kesini, lagian juga ga enak sama si Rena"
"Duh gimana ni" Ara mengigit jari jempolnya dia benar-benar bingung sekarang.
"Sayangg" Ucap Dewi dari balik pintu kamar Ara
"Iya Ma sebentar" ArA beranjak untuk membukakan pintu kamarnya.
"Ada apa Ma?" Tanya Ara setelah pintu di buka.
"Kamu kok belum siap-siap, itu si Arga udah nungguin di bawah" Dewi memberitahu.
"Ayo buruan siap-siap kasian si Arga nungguin kamu lama" Omel Dewi.
"Kayaknya Ara ga jadi pergi deh mah" Ucap Ara yang membuat Dewi kebingungan.
"Kenapa?"
"Ara ga punya baju buat ke Party nya Rena" Ucap Ara dengan loyo.
Dewi langsung masuk ke kamar Ara setelah mendengar perkataan itu "Baju sebanyak ini kamu bilang ga punya?" Tanya Dewi dia menunjuk semua pakaian yang berada di atas ranjang dan di dalam lemari Ara.
Dia tidak habis pikir dengan putrinya ini masa iya baju sebanyak ini dia bilang tidak punya.
"Bukan itu maksudnya Ma" Tukas Ara.
Dewi mengernyitkan dahinya bingung"Terus Apa?" Tanya Dewi.
"Semua baju itu ga ada yang cocok buat Ara pakai di Acara Party nya Rena" Jelasnya.
Dewi tersenyum seraya menggelengkan kepalanya "Ara Ara ada ada saja kamu ini, kalau cuma itu masalahnya Mama bisa atasi" Dewi mencolek puncak hidung Ara.
Ara mengernyitkan Dahinya "Atasi dengan apa Ma? Tanya Ara polos.
"Ayo ikut ke kamar Mama" Ajak Dewi.
Setelah tiba di kamarnya, Dewi langsung membuka lemari pakaian miliknya dan mengeluarkan Shoulderless Coctail Dress berwarna light gray.
Ara membulatkan matanya "Indah sekali" dia berdecak kagum melihat Shoulderless Coctail Dress itu.
"Ini pemberian dari Papa mu"