My Little Friend

My Little Friend
Pasar Malam



"Nunggu siapa Ra?" Suara itu sukses membuat Ara memalingkan Handphone yang sedari tadi dia mainkan.


"Saga" Beo Ara.


Ya Allah sungguh indah ciptaan mu_Batin Ara dia memandang wajah tampan Saga cukup lama.


Sagara merupakan ketua OSIS di sekolah Arga dan Ara sementara Ara merupakan wakil dari ketua OSIS, Ara memang sudah sejak lama mengagumi Saga bahkan dia juga sering mencuri pandang jika ada kesempatan.


"Ganteng banget si" Imbuhnya dengan senyum mengembang', dan tanpa sadar mengucapkan kalimat itu di depan Saga.


Saga mengangkat alisnya bingung, apa yang baru saja di katakan gadis ini.


"Lo barusan ngomong apa Ra?" Tanya Saga yang sukses membuat Ara membelalakkan kedua bola matanya.


Ara mengulum bibirnya dalam-dalam "Ga, Aku ga ngomong apa-apa" Ungkapnya sedikit gugup


"Ga, barusan Lo ngomong sesuatu" Bantah Saga


"Mungkin Saga salah dengar kali, emangnya aku ngomong apaan?, Heheh" Bela Araa.


Duhh ni mulut ga bisa di kontrol banget si_batin Ara


"Ahh sudah lah ga usah di bahas, Lo nunggu siapa disini?" Saga kembali menanyakan pertanyaan yang belum sempat Ara jawab.


"Aku lagi nunggu Arga, katanya si dia mau jemput" Ucapnya.


"Tapi Sampai sekarang belum juga Dateng" Lanjutnya.


Saga melihat hari semakin sore, dan langit yang sedikit mendung.


"Sepertinya sebentar lagi akan turun hujan"


Ara melihat langit yang sudah dipenuhi awan hitam serta Udara yang mulai dingin"Iya sepertinya akan hujan" Ucapnya


"Mending Lo bareng gue aja" Ajak Saga kepada Ara.


Ara yang mendengar itu sangat senang, baru kali ini dia mendapatkan ajakan dari saga.


"Ga usah Lo duluan aja ga papa, palingan bentar lagi si Arga juga jemput" Ucap Ara tersenyum kecil, bagaimana pun dia tidak boleh menerima ajakan Saga begitu saja, dia harus jual mahal meskipun mau.


Dan benar saja hujan rintik-rintik mulai turun.


"Mending Lo ikut gue deh, Lo mau kehujanan disini?" Ajak Saga kembali.


Ara melihat rintik hujan yang mulai turun, Tanpa berpikir panjang dia langsung menyetujui ajakan Saga, kapan lagi kan kesempatan ini datang kepadanya.


"Iya iya aku ikut" Ara mengangguk mantap dan menaiki motor Saga.


"Pegangan biar ga jatuh" Perintah Saga


Ini serius saga nyuruh gue megang dia, ya ampun mimpi apa si gue semalem_Batin Ara yang di selingi senyum mengembang.


Tanpa berlama-lama Ara langsung melingkarkan tangannya di pinggang Saga hal itu membuat jarak mereka begitu dekat sampai-sampai dia bisa mencium jelas aroma parfum milik Saga.


Ara menghirup dalam aroma parfum Saga di selingi senyum di wajahnya entah kenapa aroma parfum itu seketika membuatnya candu.


Merasa Ara sudah berada di posisi nyaman dan aman Saga hendak melajukan Motornya menuju kediaman Ara.


"Araa" Suara bariton itu menghentikan pergerakan Saga yang mau melajukan motornya.


"Lo" Sorot mata Saga menajam ketika melihat lelaki di hadapannya itu begitu pula dengan lelaki itu yang juga menatap tajam Saga.


"Argaaa"


Senyum yang semulanya mengembang di wajah Ara seketika menghilang saat melihat Arga, teman nya ini benar-benar menghancurkan keberuntungan miliknya.


Ini Arga, ngapain si ganggu aja_Upatnya kesal.


"Araa Ayo turun pulang sama gue" Arga mengajak Ara turun dan menaiki motornya.


"Tap_"


"Buruan" Belum sempat Ara melanjutkan pembicaraannya Arga langsung memotong nya.


"Ckkk" Ara memanyunkan bibirnya, dengan terpaksa dia harus turun dari motor Saga.


"Sorry ya Ga, aku harus ikut sama Arga" Ara tersenyum simpul, ada rasa tidak enak hati kepada Saga karena tidak jadi ikut dengannya.


"Iya ga papa Ra, kalau gitu gue duluan ya" Pamit Saga kepada Ara, tapi tidak dengan Arga kedua mata mereka Masi sempat beradu sengit.


Arga melihat Araa Masi menatap Saga dari kejauhan merasa jengkel "Ra buruan naik"


Pandangan Ara pun beralih ke Arga dia menatap temannya itu dengan kesal, semantara Arga yang tidak tau apa-apa menaikan kedua alisnya bingung yang di pikirkanya sekarang dia tidak mau jika sahabatnya berteman akrab dengan musuhnya, entah apa penyebab dari Permusuhan mereka itu Masi menjadi misteri.


.


.


.


Mereka kini sudah berada di kediaman rumah Ara.


"Ra Lo kenapa si, kok dari tadi ngediemin gue" Tanya Arga bingung dengan sikap dingin temannya.


"Seharusnya Lo itu ga usah jemput gue Arga" Ucap Ara dengan kesal.


Arga semakin bingung dengan perkataan Ara "Memangnya kenapa, Setiap hari kan yang selalu antar jemput lo sekolah kn gue?" Ara terdiam mendengar Ucapan Arga.


"Kok Lo jadi marah ga jelas gini sama gue? Tanya Arga


"Ga tau lah, Pikir aja sendiri" Ucap Ara kesal lalu pergi meninggalkan Arga ke kamarnya.


Arga menggaruk tengkuknya "Tu anak kenapa si ga jelas banget" Ucapnya bingung Arga berpikir apa kesalahan yang telah dia perbuat sampai Ara sekesal itu.


Dewi melihat Ara menaiki tangga dengan kesal langsung bertanya "Araa kenapa Ga?" Tanya Dewi.


"Ga tau Tan, Arga juga bingung " Jujur saja dia juga sedang berpikir kesalahan apa yang sudah dia perbuat.


Dewi mengangguk dan tidak begitu mempermasalahkannya, karena ini hal biasa yang sering mereka alami.


"Ya udah kalau gitu ayo makan Tante udah masakin makan siang buat kalian" Ajak Dewi


Ketika berada di ruang makan Ara Masi bersikap dingin kepada Arga


"Ra Lo Masi kesel sama gue?" Tanya Arga


"Sedikit" Ucap Araa cuek sambil melahap makanannya.


Arga menghela nafasnya dia merasa sedikit lega mendengarnya, setidaknya Ara tidak sekesal tadi kepadanya.


"Nanti malam keluar yok Ra?" Ajak Arga , dia berusaha mengembalikan mood temannya itu.


"Kemana?" Jawab Ara dengan posisi yang sama.


"Gimana kalau ke pasar malam aja, kita kan udah lama banget ga ke sana" Saran Arga, dia tahu betul jika Ara sangat menyukai pasar malam.


Ara berfikir sejenak "boleh juga tu" Ucap Ara yang kini sudah tersenyum kembali, sepertinya saran Arga benar-benar ampuh untuk mengembalikan mood Ara.


"Nah gitu dong senyum ga usah cemberut lagi sama gue"Goda Ara


"Iya-iya Sorry, gue ga bakal gitu lagi sama Lo"Ucapnya tersenyum manis, Ara menjadi bersalah karena perlakuan dia kepada Arga tadi, seharusnya dia tidak bersikap seperti itu.


"Nah gitu dong" Arga mencubit kedua pipi Ara dengan gemas.


"Ihh sakit tauu" Ara mengelus kedua pipinya, Sementara Arga yang melihatnya hanya tertawa.


.


.


.


Di Pasar Malam Arga dan Ara begitu menikmati kebersamaan mereka disana, seperti tidak ada lelahnya mereka mencoba berbagai permainan yang ada di sana.


"Arga gue Laper" Rengek Ara kepada Arga


Arga melihat Ara memegangi perutnya yang keroncongan "Oh jadi Lo laper?" Tanya Arga sambil mengelus puncak rambut Ara.


Ara mengangguk manja membuat Arga gemas dengan tingkahnya.


"Cup-Cup" Argaa mencubit kedua pipi Ara dengan gemas.


"Argaaa" Ara melepas tangan Arga yang mencubit kedua pipinya.


"Sakit tau" Ara mengelus kedua pipinya yang terasa sakit.


"Iya-iya maaf" Arga mengelus puncak rambut Ara gemas.


"Nyebelin Lo" Kesal Ara yang membuat Arga tertawa.


"Makan sate seafood enak kali ya?" Arga menunjuk sebuah gerobak yang berada di sekitar mereka.


"Boleh juga tu" Ara mengangguk, kemudian mereka pergi mendekati penjual itu.


"Pak Sate seafood nya dua porsi ya?" Ucap Arga


"Iya mas silahkan di tunggu" Ucap si penjual.


"Ayo Ra" Arga menggandeng tangan Ara sambil mencari tempat duduk.


Setelah menunggu beberapa lama Akhirnya pesanan mereka tiba, terlihat Ara yang makan dengan lahapnya.


"Ara biasa aja makan nya" Ucap Arga, dia benar-benar tidak habis pikir dengan temannya ini.


"Abisnya gue laper banget" Ucap Ara di sela makannya, dia terlihat seperti orang yang tidak makan selama setahun.


"Iya gue juga tau kalau Lo laper, tapi ga sampai belepotan gini juga kali" Arga mengelap sisa makanan yang berada di sudut bibir Ara dengan tangannya.


Ara terdiam kaku ketika wajah Arga dengannya hanya berjarak satu jengkal saja.


Kok gue jadi deg-degan gini si_Batin Ara, dia menatap wajah Arga yang kini berada dekat di hadapannya, entah rasa apa yang dia rasakan sekarang Ara memiliki rasa yang sangat sulit di artikan.


"Ternyata Ara cantik juga kalau dilihat dari dekat kaya gini" Ungkap Arga yang terus memandangi wajah cantik Ara sambil tersenyum tipis.


"Nah sekarang udah bersih" Ucap Arga yang sukses membuat Ara tersadar.


"Beneran udah bersih?" Ucapnya gugup


Entah kenapa sekarang Ara menjadi salah tingkah di depan Arga.


"Iya udah bersih" Angguk Ara.


"Lo kenapa Ra?"Tanya Arga yang sedikit bingung dengan gelagat temannya.


"Ga kok gue ga papa" Elak Ara, entah kenapa kini suasana mereka terasa canggung.


****


Setelah pulang dari pasar malam Arga langsung mandi dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang, dia menatap langit-langit kamarnya lalu tersenyum, entah kenapa kejadian di pasar malam tadi terlintas di pikirannya.


"Gue baru sadar ternyata Ara secantik itu" Ucapnya yang di selingi senyum mengembang.


"Udah pinter, ngegemesin, cantik lagi, Pantesan aja banyak yang ngejar lo" Ucap Arga tersenyum.


"Coba aja Lo jadi pacar gue pasti banyak tu yang iri hahah" Lanjut Arga dengan tawa.


Arga mengerjapkan matanya "Ga ga gue ga boleh ngomong gitu" dia segera membuang jauh-jauh pikirannya itu bagaimana bisa dia berkata seperti itu.


Tetapi tidak bisa di pungkiri Arga terus tersenyum ketika mengingat kejadian di pasar malam bersama Ara tadi.


Keesokan harinya seperti biasa Arga menjemput Ara terlebih dahulu sebelum berangkat ke sekolah.


"Ara pamit ya Mah" Ucap Ara sambil menyalami Dewi.


"Pamit Tan" Tambah Arga yang juga ikut menyalami Dewi


"Iya kalian hati-hati di jalan" Ucap Dewi


"Iya, Dadah Mamah"Ucap Ara sebelum Arga melajukan motornya.