
Arganta kuswara Mahendra merupakan putra tunggal dari pasangan Kuswara Mahendra dan Monica Tamala, Kuswara merupakan pengusaha sukses yang sangat ternama serta memiliki banyak cabang perusahaan di luar negri.
Sementara Arasa Liandra Wijaya merupakan putri kedua dari Pasangan Ardan Wijaya dan Dewi Kumala, Ardan juga merupakan pengusaha sukses yang hebat.
Arasa dan Arganta sudah berteman sejak usia mereka 7 tahun, Pertemuan pertama mereka di mulai ketika Arasa dan Mamanya berkunjung kerumah Arganta dan sejak itulah Arganta dan Arasa sering bermain bersama dan menjadi teman dekat sampai sekarang.
Flash back on
"Dewii, Ya Ampun aku kangen banget sama kamu" Sambut Monic sambil cipika-cipiki dan memeluk teman akrabnya itu untuk melepas rindu, Maklum saja mereka sudah lama tidak bertemu, setelah melepaskan pelukannya Ntah kenapa pandangan Monic tertarik kepada gadis kecil di sebelah Dewi.
"Haii kamu pasti Ara iyakan?" Tanya Monic kepada Arasa kecil.
"Iya Tante" Jawab Arasa kecil sambil menganggukkan kepala.
"Salim sayang sama tante" Ujar Dewi kepada Arasa, mendengar itu Arasa segera menurutinya lalu mencium punggung tangan Monic.
"Ya Ampun cantik nyaa" Monic mengelus pipi cabi Arasa.
"Ini sepertinya akan lebih cantik dari kamu Dew" Goda Monic dengan gelak tawa.
"Bisa saja kamu menggoda ku Mon" Timpal Dewi tersenyum.
"Bundaa" Panggil Arganta kecil dengan wajah bantalnya, sepertinya Arganta kecil baru saja bangun dari mimpinya.
Monic menoleh ke sumber suara dan mendapati Arganta yang tengah berdiri di belakangnya "Sayangg, ayo kesini" Ajak Monic dengan lambaian tangannya.
Arganta pun beranjak menghampiri lalu memeluk Bundanya "kamu udah bangun ternyata" Monic merapikan rambut Arganta yang sedikit berantakan.
"Ya Ampun kamu Arga" Dewi merunduk lalu memegang dagu Arganta dia tidak menyangka jika kedua anak mereka sudah sebesar ini karena terakhir bertemu keduanya sama-sama Masi bayi.
Arganta menganggukan kepalanya "Iya Tante aku Arganta Kuswara Mahendra, anaknya Papa Kuswara dan Bunda Monic" Jawab nya yang begitu antusias.
Dewi hanya tersenyum puas mendengar jawaban dari Arganta "Lihat lah Monic anak mu ini sangat mewarisi sifat dirimu" Ungkap Dewi yang membuat Monic tertawa.
"Oh iya, sayang Salim sama Tante Dewi" Mendengar perkataan itu Arganta langsung menyalami Dewi.
"Dia siapa bunda?" Tanya Arganta bingung sambil menunjuk ke arah Arasa.
Monic mendekati Arasa lalu memegang kedua bahu nya"Nah Sekarang Arganta juga harus kenalan sama Anak Tante Dewi" Ucap Monic kepada Arga.
Monic mendekatkan Ara dihadapan Arga, kini mereka berdua sudah saling berhadapan.
Arga terdiam sejenak dia menatap mata indah Ara yang berwarna hitam pekat.
"Nama aku Arganta Kuswara Mahendra, kamu bisa panggil aku Arga, nama kamu siapa?" Arga memperkenalkan diri nya.
"Nama aku Arasa, kmu bisa panggil aku Ara" Arasa membalas uluran tangan Arganta.
Monic dan Dewi yang berada di sana hanya bisa tertawa karena gemas dengan tingkah polos kedua anak mereka.
"Sayang kamu ajak Ara main ya, Bunda sama Tante mau masak dulu di dapur" Ucap Monic
"Iya bunda" Arga mengangguk, kemudian Monic dan Dewi meninggalkan mereka berdua.
****
Pagi itu nampak seorang remaja laki-laki yang sedang membonceng seorang wanita di bagian jok belakangnya, dia melajukan motor ninja miliknya dengan kecepatan sedang lalu memarkirkan di halaman parkir sekolah.
Gadis itu turun dari motor dan membuka helm yang sedari tadi dikenakannya "Nanti pulang sekolah Lo ga usah nungguin gue ya" Ara menyerahkan helm itu kepada Arga.
Mereka adalah Arga dan Ara dewasa
Arga tumbuh menjadi seorang remaja laki-laki yang tampan, dengan tubuh yang Atletis serta wajah yang indah rupawan, selain itu jangan lupakan senyumannya yang mempunyai daya tarik tersendiri, pantas saja jika dia menjadi primadona dikalngan siswi perempuan bisa di bilang Ara merupakan Wanita yang beruntung karena bisa dekat dengan Arga bahkan banyak juga dari mereka yang merasa iri kepada Ara.
Sebaliknya Ara juga tumbuh menjadi gadis remaja yang sangat cantik, dengan kulit bersih seputih susu, selain itu dia juga memiliki bulu mata yang lentik, bibir yang mungil serta bola mata yang indah.
Arga menaikan alisnya dan mengambil Helm yang di berikan Ara "kenapa Ra?" Tanya Arga.
"Hari ini gue ada rapat OSIS kemungkinan pulangnya sore, jadi Lo duluan aja" Ara menepuk bahu Arga pelan dan tersenyum simpul.
Arga mengangguk mengerti "Oh ya udah kalau gitu nanti sore gue bakal jemput Lo oke" Arga mengacak puncak rambut Ara hingga membuat sang pemilik kesal.
"Ihh Arga ini rambut gue udah rapi, ga usah Lo acak-acak" Kesal Ara, dia merapikan kembali rambutnya yang tadi di buat acak-acakan oleh Arga.
Melihat itu Arga tertawa kecil dan mengacak kembali rambut Ara namun kali ini dengan kedua tangannya.
"Dadah Araaa" Arga berlari pergi meninggalkan Ara dengan senyum puas di wajahnya.
"Argaaa, resek banget si lo" Teriak Ara kesal, sepagi ini dia sudah di buat darah tinggi oleh temannya itu.
.
.
.
Siang ini Arga dan teman-teman nya tengah Asyik bermain bola basket di lapangan, Arga memang menyukai bola basket sejak kecil pantas saja jika sekarang dia terpilih menjadi kapten
basket di sekolahnya.
"Ga si ara nyariin Lo tu" Panggil dari salah satu temannya yang bernama Sadnan.
Mendengar itu Arga langsung memberikan bola basket di tangannya kepada Abi lalu kemudian berlari menghampiri Sadnan.
"Dimana?" Tanya Arga yang kini berada di hadapan Sadnan.
"Di dekat toilet cewe" Ucapnya yang di balas anggukan oleh Arga.
Setelah itu Arga langsung menuju ke arah yang di sebutkan tadi, dan benar saja Arga melihat Ara yang sedang berdiri disana, dia berjalan mengendap-endap menghampiri Ara.
"DORRR" Ucap Arga yang sukses membuat Ara terkejut, lagi-lagi dia tertawa puas karena berhasil menjahili teman kecilnya itu.
"Argaaa ga lucu tau" Kesal Ara yang semakin membuat Arga tertawa geli.
"Iya iya maaf, Lo ngapain manggil gue kesini?" Tanya Arga yang berusaha menghentikan gelak tawanya.
"Ga Lo bantuin gue dong?" Ucap Ara yang menunggu balasan dari Argaa.
"Bantuin apaan?" Arga
"Emm anu Ga" Ara begitu berat untuk mengatakannya, sebenarnya dia malu untuk meminta bantuan ini kepada Arga tapi mau bagaimana lagi, cuma Arga yang bisa dia andalkan saat ini.
Arga mengangkat alisnya bingung, sebenarnya apa yang ingin temannya itu katakan.
"Emmm" Ara hanya bisa menggigit bibir bawahnya rasanya berat sekali dia ingin mengatakan hal itu.
Arga semakin di buat penasaran dengan gelagat Ara Tidak biasanya_batin Ayres
"Lo kenapa Ra?" Tanya Arga penasaran
"Lo demam ya Ra" Arga memegang dahi Ara untuk merasakan suhu badannya.
"gue tu ga demam Argaa" Kesal Ara
"Terus Lo kenapa?" Jawab Arga jengkel yang langsung membuat Ara terdiam membisu.
Ara mendekati Arga perlahan dan menatap kedua manik temannya itu, dia menelan Slavina nya kasar dan berusaha mengatakan apa yang ingin dia katakan, sementara Arga yang semakin di buat penasaran hanya bisa menunggu Ara mengatakan hal yang ingin dia katakan.
"Tolong beliin gue pembalut" Dengan nada pelan Araa mengatakan itu kepada Arganta, jujur saja dia begitu malu sampai mengulum bibirnya dalam-dalam.
"Apa pembalut?" Beo Arga yang sedikit terkejut.
Ara langsung menutup mulut Arga yang tadi mengatakan hal itu dengan nada yang sedikit kencang.
"Duh Arga kecilin dikit suaro Lo" Kesal Ara, dia membuka kembali mulut Arga yang tadi sempat dia bungkam.
"Gue ga salah denger?" Tanya Arga kali ini dengan nada suara pelan, dan di balas gelengan kepala oleh Ara.
"Lo mau kan bantuin gue" Asya menyatukan kedua tangannya dan memperlihatkan senyum memohon kepada Arga.
Arga menatap manik Ara dan menghela nafasnya, entah sihir apa yang telah Ara lakukan hingga membuat Arga tidak dapat menolaknya.
"Ya udah iya gue beliin, Lo tunggu aja di dalam" Ucapnya.
Sebenarnya Arga malu untuk membelikan benda itu, tapi mau bagaimana lagi dia juga tidak tega dengan Ara.
"Makasih ya Ga" Ara senang mendengarnya
"Iya sama-sama Tuan putri" Goda Arga yang sukses membuat Ara tersenyum malu.
"Ya udah kalau gitu gue pergi dulu" Pamit Arga.
Ara mengangguk dan menatap Kepergian Arga dengan senyum simpul, dia merasa senang karena memiliki teman seperti Arga yang selalu siaga membantu kapan pun dia membutuhkannya.
.
.
.
"Yang mana ni, gue pikir pembalut merk ny cuman satu" Gumam Arga sambil memegangi kedua pembalut yang berbeda merk.
"Gue lupa nanya lagi sama si Ara" Arga menggaruk kepalanya bingung.
"Ga Lo ngapain si ngajak kita buat beli pembalut" Ucap Sadnan yang merasa heran kepada Arga.
"Iya ni Lo malu-maluin aja" Tambah Abi, dia melirik kanan kiri untuk memastikan bahwa tidak ada orang yang melihat mereka disana, bisa turun harga diri mereka jika sampai ada orang yang melihat.
"Menurut kalian merk yang paling bagus yang mana?"
Bukannya menggubris pertanyaan dari mereka, Arga yang sejak tadi bingung ingin membeli merk yang mana malah menanyakan hal itu kepada kedua temannya.
Sadnan dan Abi merupakan Sahabat dekat Arga di SMA, mereka selalu membantu Arga kapan pun Arga membutuhkannya hal itulah yang membuat Arga senang bersahabat dengan mereka.
"Ya mana gue tau, lagi pula gue belum pernah pakai begituan" Jawab Abi.
"Kalau Menurut Lo Nan?" Arga lanjut bertanya kepada Sadnan.
"Arga Lo apa-apaan sih, jangan bilang kalau Lo mau pakai begituan, Lo ga belok kan Ga?" Sadnan langsung memeriksa kening Arga.
"Apa-apaan si Lo" Arga langsung menepis tangan Sadnan
"Gue Masi normal, ya kali pakai beginian" Ungkap Arga kesal dengan kedua temannya itu.
"Alhamdulillah" Sadnan dan Bimo bersyukur ternyata temannya ini Masi normal.
"Lah terus ini buat apaan?" Tanya Abi yang masi bingung.
"Ini itu buat Araa" Ucap Arga yang langsung membuat Sadnan dan Abi tertawa geli.
"Arga Arga sampai segitunya Lo sama Ara" Abi memukul Pundak Arga sambil tertawa.
"Lo suka ya sama Ara" Lanjut Abi.
"Ya ga lah, ngaco Lo mana mungkin gue suka sama Ara" Arga membantah perkatan Abi.
"Bayangin aja ni Lo sampai bela-belain beli beginian cuma buat si Ara" Tambah Sadnan.
Arga terdiam sejenak mendengar perkataan kedua temannya itu.
"Ya ga lah, gue sama Ara itu udah temenan dari kecil jadi wajar gue care sama dia" Ucap Arga dia berusaha membuang pikiran itu dari teman-temannya.
"Iya siapa tau ajakan dari temen bisa jadi demen ya ga bro"
"Yoi Bro"
Ucap Abi yang sukses membuat dirinya dan Sadnan tertawa, tapi lain halnya dengan Arga dia menatap tajam kedua temannya itu hingga membuat Sadnan dan Abi diam tak berkutik.
Argaa Bestie
*Ra gue udah di depan*
Melihat pesan WhatsApp dari Arga, Ara langsung keluar dan menemui nya.
"Nihh" Arga menyodorkan kantong plastik yang berisi beberapa Pembalut di dalamnya.
Ara langsung mengambil kantong plastik itu dan membukanya.
"Kok banyak banget Ga" Tanya Ara bingung
"Iya gue bingung mau beli yang mana, jadi gue beli aja semuanya" Ucap nya dengan polos.
Ara yang mendengar itu tersenyum melihat betapa polosnya temannya ini"Kan Lo bisa chat gue Arga" Oh iya ya dirinya sungguh tidak memikirkan hal itu.
"Ya udah Ni duit Lo gue ganti" Ara menyodorkan Selembaran uang kepada Arga.
"Apaan si Ra ga usah di ganti-ganti segala" Ucap Arga sambil tertawa.
"Serius Arga ni gue ganti duitnya" Ulang Ara
"Ga usah Ra, lo kaya minta bantuan sama siapa aja" Tolak Arga.
"Ya udah kalau gitu makasih Argaa" Ara mencubit kedua pipi Argaa dan kemudian masuk ke dalam toilet.
"Gila ya si Ara kalau nyubit ga kira-kira" Gerutu Arga, dia mengelus kedua pipinya yang merasa sakit.
Sehabis rapat tadi Ara langsung keluar menuju depan gerbang sekolah dia berniat menunggu Arga yang katanya akan menjemputnya, dia menunggu Arga sambil memainkan Handphone miliknya untuk menghilangkan bosan.
"Nunggu siapa Ra?"Suara itu sukses membuat Ara memalingkan Handphone yang sedari tadi dia mainkan.