My Little Friend

My Little Friend
Perasaan Argaa



"Auww" Ringis Ara tanpa sadar tangannya refleks memegang tangan Arga.


Kedua bola mata mereka saling bertemu  Ara menatap intens bola mata indah Argaa begitu juga dengan Arga yang menatap mata sendu milik Ara bahkan wajah mereka sekarang hanya berjarak satu jengkal saja.


Deggg


Entah kenapa ada guncangan yang begitu hebat di hati keduanya, jantung mereka berdetak begitu cepat tidak seperti biasa.


Kenapa lagi ni, kalau begini terus bisa-bisa copot jantung gue_Batin Arga dia merasakan hal yang sama jika bersentuhan dengan Ara jantung berdebar tidak karuan.


Astagaa jantung gue kenapa ya_batin Ara dia menatap Arga dengan perasaan yang sulit di artikan.


Sadar akan hal itu Ara segera melepas tangan Arga dari genggamannya dia memalingkan pandangannya dari tatapan Arga


"Sorry gue ga sengaja" Ucap Arga dia mencoba menetralkan Jantungnya yang tak biasa dan begitu juga dengan Ara.


"Iya ga papa" Angguk Ara dia tidak Berani menatap Arga langsung.


Setelah kejadian tadi tidak ada percakapan di antara mereka entah kenapa kejadian tadi membuat suasana menjadi canggung.


Arga memperhatikan wajah Ara yang masi terlihat kikuk setelah kejadian tadi dia memandangi wajah Ara cukup lama di selingi senyum di wajah tampannya.


"Lo kenapa liatin gue kayak gitu?" Ara tidak nyaman Ayres melihat nya seperti itu


"Lo ternyata cantik juga ya Ra" Ucap Arga yang sukses membuat kedua pipi Ara merah merona.


"Lo baru sadar kalau gue cantik" Ungkap Ara yang membuat Arga terkekehl, Arga juga tidak tahu kenapa dia bisa berkata seperti itu.


"Eh bentar-bentar" Ara melihat rambut Arga yang sedikit berantakan lalu merapikannya.


"Berantakan banget si" Ara menyisir rambut Arga dengan tangannya.


Degg


Sekali lagi jantungnya berdetak cepat, Arga merasa ada yang berbeda pada dirinya.


"Argaa, Lo ga papa?"


"Kok lo kaya tegang gini" Tanya Ara heran melihat Arga tidak seperti biasa.


Arga menunjukan senyum kikuk nya kepada Ara "Gue ga papa" Dia berusaha menetralkan detak jantungnya.


Arga kembali memandangi Ara yang masih merapikan Pangkal Rambutnya terlihat senyum samar terbentuk di wajahnya.


"Lo udah selesai?" Tanya Arga yang di balas anggukan oleh Ara.


"Iya udah udah rapi ni" Ucap Ara yang di balas Anggukan oleh Arga


"Emang Rambut gue seberantakan itu ya?" Tanya Arga penasaran.


"Bangettt, tapi sekarang udah rapi kok" Ucap Ara yang di balas Anggukan oleh Argaa.


"Kalau gitu Gue beresin bekas kompresan Lo dulu"


Arga memasukan kain bekas kompresan tadi ke dalam sebuah wadah lalu membersihkannya di wastafel dia terus berpikir keras apa yang sebenarnya terjadi padanya kenapa akhir-akhir ini dia merasakan ada hal aneh jika bersama Ara, dan tentu saja setiap pergerakan Arga tak luput dari perhatian Ara dia terus memperhatikan Arga di selingi senyum di wajah manisnya.


"Makasih ya, Lo udah baik banget sama gue" Ucap Ara kepada Arga sambil tersenyum simpul, Arga yang mendengar perkataan itu menghentikan aktivitas nya dia mendekati Ara lalu menatapnya dengan lembut.


"Ini tugas gue Ra, gue udah janji sama Lo kalau gue bakal ngelindungin dan terus ngejaga lo sampai kapan pun" Ucap Arga


"Lo lupa?" Tambah Arga dia mencoba mengingatkan Ara tentang kejadian beberapa tahun yang lalu.


"Iya gue masi inget kok"


Flash back on


Saat itu Arga dan Ara sedang duduk di ayunan taman sambil menikmati es krim


"Emm Ara suka banget sama Es krim" Ara begitu menikmati setiap rasa Es krim yang mendarat di mulutnya.


"Kalau Ara suka Arga juga suka" Timpal Arga sambil menjilati Es krimnya.


"Hahahaha" Ara tertawa terpingkal-pingkal ketika melihat Arga sementara Arga erlihat bingung apa yang membuat temannya tertawa seperti itu.


"Ihh Argaa lucuh deh makannya belepotan" Tunjuk Ara dia tertawa melihat Mulut Arga yang berlumuran es krim.


Setelah tau akan hal itu Arga segera mengelap asal sekitar mulutnya.


"Ara juga makannya belepotan tu" Arga balik menunjuk Ara dengan gelak tawa ketika melihat sekitar mulut Ara juga berlumuran dengan es krim.


Ara mencoba mengelap bagian mulutnya yang kotor karena Es krim tapi bukannya menghilangkan malah kini wajah Ara dipenuhi dengan Es krim sehingga membuat tawa keduanya pecah.


Ketika sedang asik-asiknya tertawa, ada dua anak laki laki menghampiri mereka satu di antaranya mendekati Ara lalu menjatuhkan es krim di tangan Ara dan itu tentu saja membuat Ara Langsung menangis sejadi-jadinya tapi lain halnya dengan kedua anak lelaki itu mereka malah tertawa senang melihat Ara menangis.


"Hahahah" Suara gelak Tawa kedua anak laki-laki itu.


Arga tidak terima dia berdiri dan mendekati kedua anak laki-laki itu dia menatap keduanya dengan tajam lalu mendorong keduanya sampai terhuyung ke belakang.


Mereka yang kesal dengan perlakuan Arga bangkit dan balik mendorong Arga sampai jatuh ketanah, Arga begitu marah dia mengepalkan kedua tangannya dan menatap mereka dengan bengis Arga ingin mencengkeram mereka namun di hentikan oleh Dewi yang Baru saja datang.


"Heii hentikan ada apa ini" Mendengar suara itu kedua anak laki-laki itu langsung berlari menjauh.


Arga yang melihat Ara Masi menangis tersedu-sedu menghampirinya.


"Mereka udah pergi, Ara jangan nangis lagi ya"  Arga menyeka air mata yang mengalir di pipi Ara.


"Arga, Ara kenapa?" Tanya Dewi bingung melihat anaknya yang menangis, dia mengelus lembut puncak rambut Ara.


"Tadi mereka ngejatuhin es krimnya Ara Tante" Arga menjelaskan, Mendengar itu Dewi langsung memeluk Ara yang masi menangis.


"Sayang jangan nangis lagi ya nanti Kita beli es krim yang Baru" Ucap Dewi menenangkan lalu mengecup puncak rambut Ara.


"Ara takut Ma nanti kalau mereka balik lagi terus gangguin Ara gimana hiks" Ucap Ara yang masi menangis tersedu.


Arga memegang pundak Ara "Ara tenang aja selama ada Arga, Argaa janji bakal ngelindungin dan ngejaga Ara sampai kapan pun" Ucap Arga dengan penuh arti.


"Arga janji?" Tanya Ara dengan sesegukan, dia menatap kedua mata Arga.


"Iya Arga janji" Arga mengacungkan Jari kelingkingnya di hadapan Ara.


Ara yang melihat pun ikut menunjukan jari kelingkingnya dan mengaitkan di jari kelingking Arga mereka menatap satu sama lain dengan tersenyum simpul.


Dewi yang melihat keduanya tersenyum haru dia harap Arga tidak mengingkari janjinya dan bisa menjaga Ara sampai mereka dewasa nanti.


Flash back off


"Gue sayang sama Lo" Ara memeluk Arga yang sukses membuat perasaannya lagi dan lagi terlonjak karena sentuhan dari Ara.


Arga dengan perlahan membalas pelukan dari Ara.


Tapi gue ga tau sayang gue ke Lo cuma sebatas teman atau lebih_batin Arga, dia sadar jika ada perasaan lain muncul ketika bersama Ara.


Sementara di lapangan Dinar dan Rena berdiri menghadap tiang bendera mereka di beri hukuman tambahan akibat ulah mereka tadi.


"Huaaa Mamii Kulit Rena bisa Hitam ni gara-gara Di jemur Pak Agus" Rengek Rena yang Masi berdiri menghadap tiang bendera.


Dinar yang mendengar itu hanya bisa menghela nafas kasar dan menutup telinganya rapat-rapat.


"Eh Mak Lampir ngapain lo nutup telinga, merasa terganggu Lo sama suara emas gue?" Rena kesal melihat Dinar menutup telinganya.


"Sabar Dinar sabar jangan emosi" Gumam Dinar sambil mengelus dadanya.


Dia harus bisa menahan emosinya kali ini jika tidak dia akan mendapatkan hukuman lagi bahkan lebih berat dari ini.


"Hallo Ayang Rena" Ucap Abi yang baru saja datang bersamaan dengan Sadnan.


"Hadeh suaminya Dateng" Dinar memutar bola matanya malas.


"Idihh apaan si ayang ayang pala lo peang, yang boleh manggil gue ayang itu cuma Argaa ngerti lo" Rena jengkel dengan Kelakuan Abi sudah jelas dia tidak menyukai Abi tapi Masi saja lelaki itu terus mengganggunya.


"Ihh ayang kok gitu" Ucap Abi yang di balas tatapan julit oleh Rena.


Tingg


Suara notif dari Handphone Sadnan berbunyi dari dalam saku celananya, dia mengambil Handphone di sakunya lalu membaca pesan masuk itu.


Arga


Nan tolong beliin Makanan buat Ara, pakai duit Lo dulu ntar gue ganti.


^^^Oke^^^


Setelah membalas pesan dari Arga Sadnan segera memasukkan kembali Handphone di saku celananya.


"Bi Ayo ikut gue" Ajak Sadnan


"Kemana?"


"Arga nyuruh beliin makanan buat Ara" Mendengar itu Rena dan Dinar langsung membelalakkan kedua bola matanya, mereka terlihat kesal sekaligus iri kepada Ara.


Enak banget si jadi Ara_Umpat Dinar dalam Hati dengan wajah yang murung.


"I-iihhhh" Dengan nada suara yang menekan.


"kesel banget si kenapa harus si Ara kan gue juga mau" Umpat Rena sambil memanyunkan bibirnya.


"Ohh Ayang Rena juga mau di beliin makanan, kalau gitu sekalian aja biar Mamas Abi beliin buat ayang Rena" Ucap Abi yang di balas tatapan meloya oleh Rena.


"Idih Apaan si, lagian gue maunya Arga yang beliin bukan Lo" Ucap Rena.


"Emm, ya udah deh kalau Ayang Rena ga mau" Ucap Abi yang sedikit kecewa.


"Ya udah ayo" Sadnan mengajak Abi untuk segera pergi.


"Mamas Abi pergi dulu ya Ayang" Ucap Abi yang membuat Sadnan memutar kedua bola matanya malas, bisa-bisanya dia memiliki teman sebucin ini.


"Ya udah pergi aja sana yang jauh" Usir Rena dia tidak tahan jika Abi berlama-lama di dekatnya.


"Kalau Mamas Abi pergi Nanti Ayang Rena kangen loh" Ucap Abi Yang sekali lagi membuat Rena bergidik ngeri


"Kebanyakan Drama Lo, ayo buruan" Sadnan menarik Tangan Abi untuk bergegas pergi, tapi sebelum itu Abi Masi menyempatkan memberi subuah kiss bye kepada Rena yang membuat Rena dan Dinar merasa jejap melihatnya.


.


.


.


"Arga gue ke kelas aja ya" Pinta Ara dia merasa tidak nyaman berada di sana.


"Ga Lo disini aja, di kelas tu berisik nanti lo malah makin pusing" Tolak Arga dia tidak mau Ara terganggu jika berada di kelas.


"Gue udah ga pusing lagi kok" Ucap Ara meyakinkan.


"Ga Ra Lo tetap disini, batu banget" Tegas Arga yang membuat Ara bersedekap dada dan memanyunkan bibirnya cemberut.


"Ngeselin banget si lo" Umpat Ara yang sama sekali tidak di tanggapi Arga.


Tidak lama dari itu Sadnan dan Abi datang untuk mengantarkan makanan yang tadi Arga minta.


"Ni Makanan nya" Sadnan menaruh Bungkusan yang berisi makanan di atas meja UKS lalu berjalan menghampiri Arga dan Ara.


"Makasih ya Nan, ni ganti duet Lo tadi" Arga memberikan selembar uang kertas kepada Sadnan.


"Iya Sama-sama" Sadnan dan Abi tersenyum sumringah bagaimana tidak Arga mengganti duit belanjaan tadi dua kali lipat.


"Wih mantab ni" Ucap Sadnan kepada Abi.


"Yoi"Jawab Abi menaikan alisnya senang.


"Oh iya, Gimana Ra udah mendingan?" Tanya Abi


"Iya gue udah mendingan" Ucap Ara tersenyum simpul.


"Bagus deh kalau gitu" Timpal Sadnan yang di ikuti anggukan oleh Abi.


"Oh iya udah mau bel masuk ni" Ucap Abi yang melihat jam di pergelangan tangannya.


"Ya udah kalau gitu ayo kita ke kelas" Ajak Sadnan.


"Gue ga ikut ke kelas, gue mau jagain Ara kasian kalau dia sendirian di sini" Arga menatap kedua temannya.


"Bilang aja mau berduaan" Ucap Abi Spontan


"Ngomong apa Lo tadi?" Kesal Arga dia menatap tajam Abi


Abi terdiam kikuk mendapat tatapan ngeri dari Arga"Ga bukan apa-apa" Elak Abi, sementara Arga Masi menatap Abi kesal.


Sadnan merasa suana tidak begitu baik segera berpamitan dan menarik Abi keluar UKS"kalau gitu kita cabut dulu" Pamit Sadnan lalu pergi bersamaan dengan Abi.


Setelah kepergian Sadnan dan Abi, Arga berbalik menatap bungkusan berisi makanan yang tadi Kedua temannya bawa.


Dia berjalan mendekati bungkusan itu dan dengan perlahan membukanya.


Aroma khas dari makanan itu tercium jelas di ruangan UKS, Ara tau betul aroma makanan apa itu.


"Bubur Ayam"