
"Ra Lo udah buat tugas Matematika dari Bu Sri?" Tanya Arga yang melajukan motornya dengan kecepatan sedang.
"Udah dong, emang nya kenapa?" Tanya Ara
"Ga papa sih" Jawab Arga singkat.
"Gue tau, pasti lo ga ngerjain kan?" Celetuk Ara, dia tahu betul watak temannya ini, jika sudah menanyakan hal pelajaran pasti dia sedang memiliki masalah dengan pelajaran tersebut.
"Buat kok" Jawab Arga gugup
"Udah ga usah bohong sama gue" Ungkapnya
"Iya-iya gue lupa" Ungkapnya jujur dia tidak bisa lagi mengelak sekarang.
"Mampus, nanti gue aduin sama Bu Sri lo" Ucapan Ara sukses membuat Arga cemas
"Jangan dong Ra, nanti gue bisa di hukum sama Bu Sri" lirih Arga yang memohon kepada temannya.
"Lo tau sendiri kan kalau dia udah ngasi hukuman, bisa-bisa gue di suruh bersihin kamar mandi cowo selama sebulan emang lo tega Ra ngeliat sahabat lo yang ganteng ini ngebersihin kamar mandi?" Lanjutnya, sementara di jok belakang Ara tertawa geli mendengar perkataan Arga.
"Kok lo malah ketawa si Ra" Tanya Arga yang melihat Ara tertawa dari kaca spion.
"Ya lucu aja" Ucap nya yang masih diiringi gelak tawa.
"Tapi emang bener kan, apa lagi suaranya yang menggelegar itu bikin sakit telinga 7hari 7 malam" Tawa Ara semakin menjadi mendengar hal itu begitu juga dengan Arga yang ikut tertawa.
Tapi kegembiraan mereka tidak berlangsung lama, entah ada apa dengan motor yang di Naiki mereka, Arga merasa tidak nyaman ketika mengendarainya.
"Kenapa ni motor" Ucap Arga yang merasa ada masalah pada motornya.
"Kenapa Ga"Tanya Ara.
"Ga tau ni" Arga mengangkat bahunya.
"Sebentar gue cek dulu" Arga menghentikan motornya di tepi jalan, lalu melihat ke arah ban motornya.
"Ckk, Ban nya pecah Ra" Ujar Arga
"Terus gimana Ga, kita bakalan telat ni" Ungkap Ara yang merasa bingung sekaligus cemas.
"Tenang ya Ra" Arga menenangkan, matanya menjelajahi tempat itu mungkin saja ada bengkel di sekitar sana.
"Di situ ada bengkel tu, kita kesana aja Ra" Tunjuk Arga, Ara melihat ke arah yang ditunjuk benar saja ada bengkel di sebrang jalan.
"Ayo Ra" Ajak Arga sambil membopong motornya.
Ara mengguk dan mengikuti Arga dari belakang.
Entah sudah berapa lama mereka berada di bengkel tadi, hingga kini sampailah mereka di depan gerbang sekolah, benar saja mereka sudah terlambat, bel sekolah sudah berbunyi sejak 10 menit yang lalu.
"Pak bukain dong" Rengek Ara dari luar gerbang.
"Iya pak kita mau masuk" Tambah Arga
"Tidak bisa, sudah jam berapa ini" Ucap nya
"Yaelah Pak cuma beberapa menit doang bukan beberapa jam" Timpal Arga enteng.
"Pak bukain dong" Ara memohon, tapi msi tidak di hiraukan oleh Penjaga sekolah.
"Biarin mereka masuk Pak" Suara Pak Agus sukses membuat mereka mengalihkan pandangan.
Arga dan Ara tersenyum sumringah mendengar Perkataan Pak Agus, sementara penjaga sekolah langsung mengangguk kan kepalanya dan menuruti perintah Pak Agus.
"Baik Pak" Penjaga sekolah membukakan gerbang dan mengizinkan mereka berdua untuk masuk.
Pak Agus merupakan KEPSEK dari SMA Garuda tempat Arga dan Ara bersekolah.
"Makasih Pak" Ucap Arga dan Ara serempak, mereka dengan antusias memasuki gerbang sekolah dan ingin menuju langsung ke kelas.
"Tunggu, mau kemana kalian?" Suara Pak Agus membuat kedua remaja itu menghentikan langkah kaki mereka.
"Ya mau ke kelas lah pak masa iya mau ke kantin" Ucap Arga yang di ikuti anggukan oleh Ara.
"Siapa yang nyuruh kalian untuk ke kelas, Ayo kemari" Pak Agus menyuruh Arga dan Ara untuk berdiri didepan nya.
Arga dan Ara saling memandang satu sama lain dengan bingun kemudian menghampiri Pak Agus
"Kenapa kalian bisa terlambat?" tanya pak Agus pada kedua murid dihadapan nya.
"Ban motor saya pecah pak" Jawab Arga jujur
"Iya Pak" Tambah Ara
"Baiklah saya terima alasan kalian, tapi meskipun begitu kalian berdua harus tetap saya hukum" Perkataan Pak Agus sukses membuat kedua remaja itu membulatkan kedua bola mata mereka.
"Hukum Pak" Tegas Arga dan Ara bersamaan
"Iyaa" Angguk Pak Kepsek
"Sekarang kalian berdiri di tengah lapangan sampai bel istirahat berbunyi!" Perintah Pak kepsek.
"Apa berdiri di tengah lapangan pak?" Ucap Arga dan Ara bersamaan lagi.
"kenapa kalian tidak terima, apa hukumannya kurang?"Tanya kepsek.
Arga dan Ara menatap satu sama lain dengan pasrah.
"Kenapa masih berdiri di sini, ayo buruan pergi mau saya tambah lagi hukumannya?" Ucapan itu langsung membuat kedua remaja itu tertegun.
"Iy-iya pak kita pergi" Jawab mereka serempak, lalu berlari terbirit-birit ke tengah lapangan.
Sesampainya di tengah lapangan Arga dan Ara langsung menghormat menghadap tiang bendera.
"Sial banget si hari ini" Gumam Ara
"Tapi ada bagusnya juga si, Setidak nya kita gak perlu hadir di jam pelajarannya Bu Sri" Ucap Argaa tanpa dosa, setidaknya dia terbebas dari hukuman yang akan diberikan Bu Sri karena tidak membuat tugas.
Ara menatap Arga kesal dengan posisi tangan yang Masi menghormat kepada bendera.
"Itu mah Maunya Lo bukan gue" Tegas Ara, dia tidak habis pikir masi bisanya Arga berkata seperti itu di tengah situasi yang sekarang.
Arga yang mendengar itu hanya diam membisuĀ dia tidak berani menjawab perkataan Ara bisa-bisa panjang urusannya jika berdebat dengan temannya itu.
Setelah beberapa jam berdiri di tengah lapangan, akhirnya bunyi bel istirahat menggema seantero SMA Garuda.
"Huuh, akhirnya" Ara menghembus nafas lega, dia mengelap keringat yang telah menyucur di pelipis wajahnya.
"Nih buat lo"
"Ni ambill !, Lo Haus kan" Ucap Saga yang melihat Ara hanya memandangi wajahnya.
"I-iya" Ara mengambil sebotol minuman itu dengan gugup lalu meminumnya.
Ara menutup kembali minuman itu setelah meminumnya, dia terus memandangi wajah tampan Saga tanpa memalingkan matanya satu detik pun.
Gimana nggak tambah baper kalau dia aja perhatian gini sama gue_Batin Ara
"Lo kenapa?" Tanya Saga yang melihat Ara terus menatapnya dengan senyum aneh.
Ara mengerjapkan matanya "Engga kok aku ga papa" Ara menggeleng, lalu tersenyum kembali membuat Saga menaikan kedua Alisnya bingung.
Ara juga tidak mengerti kenapa setiap kali bertemu dengan Saga matanya seolah terhipnotis dengan keindahan dari wajah Saga.
"Ni anak kenapa kok tingkah nya jadi aneh gini" Gumam Arga yang ikut keheranan dengan sikap aneh Ara.
"Oh iya, ini buat Lo" Saga juga memberikan sebotol minuman kepada Arga, meskipun dengan nada sedikit tak suka.
"Ga usah sok baik sama gue" Arga menepis botol minuman itu.
"Argaa Lo kenapa si?" Tanya Ara bingung sekligus kesal dengan sikap nya.
"Asal Lo tau, gue juga ga mau ngasih minuman ini ke Lo kalau bukan perintah dari Pak Agus langsung" Tegas Saga dengan nada tak santai.
"Ga usah repot-repot lo gue bisa beli sendiri" Balas Arga dengan nada tak santai.
Ara yang sudah tidak tahan melihat perdebatan mereka langsung menengahi kedua pemuda itu.
"Sini biar aku yang ambil" Ara langsung mengambil sebotol minuman di tangan Saga yang membuat Arga menatap nya jengkel.
"Raa" Arga kesal kenapa Ara mengambil minuman itu.
"Makasih ya minum nya" Ucap Ara tersenyum lalu menarik pelan tangan Arga untuk pergi dari sana.
"Tunggu" Suara Saga sukses membuat Arga dan Ara menghentikan langkah kaki mereka.
Ya ampun kenapa lagi ni, jangan sampai mereka berantem disini_Batin Ara, situasi saat ini benar-benar membuat nya tidak tenang.
Saga berjalan mendekati mereka dan berhenti tepat di hadapan Ara, dia melepaskan Jaketnya lalu melingkarkan jaket itu di pinggang Ara.
Ara yang mendapatkan perlakuan tidak biasa dari Saga langsung terheran, tapi tidak bisa di tutupi pipinya kini memerah karena perlakuan Saga ini.
Apaan ni anak sok perhatian banget, si Ara juga malah diem aja_Batin Arga dia menatap Saga tak suka.
"Saga Ada apa?" Tanya Ara yang heran dengan perlakuan Saga kepada dirinya.
"Belakang Lo tembus, gue ga mau kalau anak-anak yang lain pada ngeliat" Ujar Saga yang sudah selesai mengikatkan jaket di pinggang Ara.
Mendengar ucapan Saga, Ara membelahkan matanya dengan lebar dan langsung memeriksanya.
"Tenang aja, udah ga keliatan lagi" Beritahu Saga
"Huuh, Syukur lah" Ara menghembuskan nafas lega.
"Modus" Gumam Arga tak suka, ntah kenapa dia begitu kesal melihat perlakuan Saga kepada Ara, seperti ada rasa cemburu yang bergejolak di hatinya.
"Sagaa" Ara menatap temannya itu dengan kesal.
"Sekali lagi makasih ya" Saga hanya mengangguk dan kemudian pergi meninggalkan mereka berdua.
Ara menatap punggung Saga yang pergi sampai menghilang dari pandangannya.
.
.
.
Sepulang sekolah tadi Ara langsung mengganti pakaiannya, dia duduk di meja belajar sambil menatap jaket di tangannya ya tentu saja jaket itu milik Saga, dia terus tersenyum ketika mengingat kembali kejadian di saat Saga mengikatkan Jaket di pinggangnya.
"So sweet banget sih" Ara tenggelam dalam lamunannya dengan posisi tangan yang menopang dagunya.
"Sayang kamu ga makan siang dulu?"
Tanya Dewi sambil mengelus pucuk rambut Ara yang membuat wanita itu tersadar.
"Mama" Ucapnya sedikit terkejut.
"Iya ini Mama, kamu kenapa?" Tanya Dewi yang merasa heran dengan gelagat anaknya.
"Ga papa Ma, oh ya tadi Mama ngomong apa?" Ara menanyakan kembali apa yang tadi sempat Mamanya katakan.
"Kamu ga makan siang dulu?" Ulang Mamanya yang di balas anggukan oleh Ara
"Nanti aja Mah, Ara juga belum laper" Ucapnya tersenyum manis kepada Dewi.
"Ya udah nanti kalau kamu lapar, langsung ke bawah aja Mama udah siapin makan siang buat kamu"
"Iya Ma"
Entah kenapa pandangan Dewi tertarik kepada jaket yang berada di atas meja belajar anaknya.
"Itu jaket siapa Sayang?" Tanya Dewi yang melihat Jaket di atas meja Ara.
"I-ini Jaket nya Arga Ma, tadi ketinggalan di rumah" Ucap Ara gugup dan di balas anggukan oleh Dewi, sepertinya Dewi tidak begitu memikirkan tentang perkara jaket itu.
"Ingat kamu jangan sampai telat makan, nanti magh kamu kambuh lagi" Peringat Dewi.
"Iya Ma" Dewi mengelus pundak Ara kemudian keluar dari kamar anaknya.
Ara memandangi kepergian Mamanya sampai hilang di balik pintu, dia menghela nafas lega untung saja Mama nya langsung percaya dengan perkataan nya, lalu Ara kembali menatap jaket Saga dengan tersenyum sumringah, bahkan sesekali dia juga mencium jaket itu untuk mendapatkan aroma wangi dari parfum Saga, entah kenapa semenjak kejadian kemarin Ara menjadi candu dengan aroma parfum milik saga.
"Ya Ampun kok bisa si, malu maluin aja" Gerutu Ara, dia begitu malu ketika memikirkan kejadian di mana ketika Saga melihat belakangnya yang tembus.
Tapi tidak bisa di pungkiri dia juga tersenyum bahagia ketika mengingat perlakuan Saga kepadanya, ntah apa yang harus dia rasakan saat ini, apakan harus merasa senang karena perlakuan Saga tadi atau bahkan sebaliknya, dia malah merasa malu karena kejadian yang menimpanya.
****
Seperti biasa setiap pagi Arga melakukan rutinitas nya di kamar mandi, setelah selesai melakukan rutinitas nya dia melanjutkan memakai seragam sekolah dan kemudian di iringi dengan melingkarkan jam tangan merk Louis Moinet Meteoris di tanganya yang membuat penampilannya terlihat semakin gagah.
"Perfect" Dia tersenyum tipis di depan cermin melihat pantulan dirinya sendiri.
Setelah semuanya selesai Arga pun bergegas turun ke bawah tapi sebelum itu dia juga menyemprotkan parfum terlebih dahulu karena bagaimanapun wangi itu nomor satu baginya kemudian Arga mengambil tasnya lalu pergi ke bawah.
"Morning Bunda"