My Life In Pesantren

My Life In Pesantren
Menunggu giliran ke depan



Sang peserta pertama telah turun karena sudah menyelesaikan tantangan yang juri berikan,, saat nya maju ke undian ke 2 dan seterus nya...


Diriku masih merasa santai dan belum merasa tegang dan jantung pun masih berdetak dengan tenang karna sang undian masih jauh,,, dan mungkin perkiraan akan terpanggil setelah adzan isya berkumandang...


Setengah jam sebelum isya..


Karna waktu masih jauh untuk ku tampil,, sebelum tampil tentu perut harus di isi,, kalau tidak nanti akan lebih tegang..


Saat nya mengambil uang jajan yang ada di saku,, aku hanya membawa uang 2000 untuk saat ini... Dan sang patrol teh epon selalu terdepan kalau soal berdagang.. karna membuat nya juga dari asar mula,, bahkan setelah pulang ngaji dzuhur atau siang,, karna terkadang memasaknya juga sering di tungku atau dapur yang ada di dekat asrama santri tepatnya di belakang asrama ber sejajar dengan wc,, ya enak juga sih sebenar nya,, Dan juga bagi payros teh epon jarang mengaji sore,, bukan jarang bahkan tidak menghadiri mengaji sore karna kesibukan yang di buat,, karna stor uang yang akan di beri nanti harus dari penghasilan dagang malam sampai sore,, dan di perkirakan 21 ribu atau 23 ribu per hari dari setiap patrol dan jika ada sisa maka uang itu akan dijadikan modal buat patrol yang akan datang setelah nya,, dan juga kita sering ngasih modal pula jika ada lebih dari stor yang sudah di siapkan maka sisa nya buat mengganti modal dari kita dan membelanjakan sebagian bahan bahan bagi patrol nanti supaya sedikit ringan,, dan begitulah seterusnya...


Sang patrol pun sudah berada di terlas madrasah luar,, dan isi nya itu berbagai makanan ide sendiri,, seperti cimol,, cireng,, cigo,, dan yang lain nya,,


Dan biasanya patrol teh ade itu datang nya setelah adzan isya,, karna membuat dagangan nya juga di rumah dewan itu sendiri,, kadang sudah di buatin oleh dewan sendiri dan kita hanya tinggal mengambil dan menjual nya saja,,


Waktu pun begitu tak terasa,, adzan isya pun berkumandang dan undian lombapun sudah di urutan ke 12,, semakin dekat aku semakin tegang,, jantung pun mulai berdetak tak tenang ,, bagitu cepat,, namun aku tetap mencoba tenang,, supaya bisa tampil dengan baik..


Dan saat adzan berkumandang,, kami pun berdiam sebentar mendengarkan adzan dan setelah adzan barulah memulai kembali,, kami tak langsung solat,, karna biasa nya solat isya itu nanti jam 8,, sebab kan waktu isya itu panjang,, dan juga sering membiarkan masyarakat dahulu berjamaah untuk solat,, lagian bubar mengaji magrib juga jam 8 jadi sudah biasa kami berjamaah isya jam 8,, dan itu pun sudah di tetapkan oleh sang syaikhuna dari dulu mula...


Dan berjalan sampai sekarang dan seterusnya tidak akan berubah..