
Di hari itu rencanaku berhasil, bahakan setelah kejadian itu berita terbaru dan berita yang sangat viral si tante dan si suaminya bercerai. Meskipun akibat kejadian itu film yang harusnya di produksi harus mundur bahakan ada berita terancam batal, sebenarnya aku sendiri sedikit sedih saat aku melihat Ryo yang murung karena hal itu.
Aku mengerti ini adalah awal debutnya dari seorang anggota boyband menjadi pemain film, tetapi aku percaya kalau Ryo berbakat tidak perlu melakukan hal - hal tidak jelas seperti menuruti keinginan tante - tante gila seperti itu. Jadi aku harus membuatmu berjalan di jalan yang lurus untuk menempuh impianmu.
------ ""-----""------
Jam 10.00
Di cafe Blue
Aku sengaja datang ke cafe itu karena sebelum cafe itu di bangun di situ tempat pohon yang tinggi dan rindang,disitu tempat aku bermain dengan Ryo, meskipun tampak berbeda tetapi dengan sedikit imajinasi cukup untuk mengenang masa kecil dengan Ryo idola para remaja sekarang ini.
Aku menoleh di sudut cafe dan melihat papan tulis yang banyak tertempel tulisan dari pelanggan yang pernah berkunjung, aku mendekatinya dan membaca beberapa tulisan di papan itu, benar - benar sangat lucu tulisannya. Lalu ada salah satu pegawai menghampiriku dan memberikan secarik kertas dan pulpen, aku mengambil kertas dan pulpen tersebut, aku bingung dengan apa yang harus aku tulis sampai aku ingat kejadian di SMA kelas 1 dengan Ryo.
---- kembali ke masa SMA ----
Di bawah pohon rindang aku melihat Ryo tertunduk sedih, aku menghampirinya dan bertanya kepadanya "yo.. kenapa disini?".
untuk pertama kalinya aku melihat Ryo menangis, waktu itu bukannya sedih tapi rasanya ingin tertawa melihat dia menangis dengan mata yang mulai sembab, dia berkata kepadaku "ta... apa kamu tau?".
"tidak... kan kamu belum cerita?". Jawabanku sambil berusaha untuk tidak tertawa
"aku putus dengan Moci!".
"Moci, kue?". Jawabku
"bukan pacarku". Ucapnya
"ow.. jadi selama ini pacarmu namanya Moci?". Jawabku
Aku tidak kenal dengan pacarnya Ryo tetapi dia sering cerita denganku tentang pacarnya, dan aku sebenarnya tidak peduli juga dengan pacarnya, karena aku sebenarnya tidak suka jika Ryo punya pacar.
"iya...".
"lalu putusnya kenapa?". Tanyaku sambil duduk di sampingnya
"entah... tapi dia tadi bilang mau putus, apa aku punya salah dengan dia?".
"mana aku tahu kan situ yang punya pacar".
"bantu mikir donk biar aku bisa baikan sama Moci?". Ucapku
"hem... kasih hadiah aja, dia pasti mau baikan bahkan balikan". Ucapku
"iya... kamu pinter". Jawabnya sembari mengusap ingusnya
"Jorok untung ganteng". Ucapku
Ryo hanya tertawa mendengar ucapanku, tetapi keesokan harinya aku melihat Ryo murung lagi di bawah pohon, aku pun menghampirinya lagi dan bertanya "kenapa lagi bang?".
"aku bingung". Ucapnya
"pegangan sana". Jawabku
"aku serius".
"Serius enggak lagi cari personil". Ucapku sembari menggodanya
"ta... serius". Ucap Ryo sengan jengkel
"iya ... iya .. maaf bingung kenapa?". Tanyaku
"aku bingung mau kasih hadiah apa buat Moci". Jawabnya
"dari kemarin masalah Moci belum selesai ini?". Tanyaku dengan duduk disampingnya
"belum ... bantu donk".
"bantu bagaimana?".
"hem... apa ya... ". Ucapku sembari berfikir tetapi aku sebanarnya malas membatu dia dan pacarnya si kue Moci.
"bantu donk cepet".
"bisa diam dulu, aku lagi berfikir mau di bantu tidak".
"eh iya.. iya ... monggo kalo mau berfikir aku akan diam (sambil menutup mulutnya seolah dia mau mengkunci pintu)".
Akhirnya aku memberikan satu ide yaitu aku menyarankan membuat origami berbentuk hati dan memberikan kepada si kue Moci tersebut dan tidak lupa di dalamnya ada tulisan alias isi hati si Ryo.
Dua hari berlalu selama itu aku tidak melihat Ryo bersedih di bawah pohon lagi, "Ryo mungkin berhasil balikan dengan si kue Moci". Gumamku
Namun keesokan hari tepatnya hari ke tiga setelah aku memberikan ide tersebut, aku melihat dia murung sekaligus kebingungan.
Aku sengaja tidak memperdulikannya,tetapi dia memanggilku "itta... jahat selangkah lagi jalan jangan anggap aku temanmu lagi".
Aku hanya menoleh dan aku mengejeknya, Ryo menghampiriku dan merengek di hadapanku " itta .. Moci... ".
"Moci itu ada di toko bu Ima". Jawabku
"ehhh... bukan kue moci itta.. Moci pacarku".
Menghela nafas "kenapa lagi sih?".
"masak.... Moci ingin aku buat origami hati sebanyak 100 biji".
"eh .. busettt kue Moci mu kebanyakan gaya".
"ayooo lah taaaa... batu".
"yaudah sana buat origaminya, kenapa malah merengek di depanku".
"bantu ta... aku gak yakin bisa buat origami ini dalam semalam".
"se.. malam?". Ucapku dengan kaget
"iya si Moci yang minta".
"trus kamu setujui?".
"iya lah".
Dengan sangat berat hati dan dengan rasa kasihan dengan Ryo, aku membantunya mengerjakan origaminya, di tengah kami membuatannya aku terus mengoce tiada habisnya aku berbicara tentang film yang aku lewatkan untuk membantunya, tentang tenagaku yang terkuras karena kegilaan kue Moci nya dan banyak hal lainnya Ryo hanya diam memdengarkamemdengarkan ocehanku, padahal aku tidak sedang melucu dalam bicaraku tapi sesekali dia tertawa.
Aku membantunya sampai aku tertidur lalu jam lima pagi aku terbangun, aku masih melihat dia melipat origami, dia masih mengerjakannya terbesit di pikiranku "dia benar - benar menyukai si Moci itu ya".
lalu tepat jam enam selesai origami, Aku memutuskan pulang, jujur aku berdoa supaya Rio gagal untuk baikan dengan Moci. Maaf aku sampaikan dari hati untuk Ryo untuk doa jelekku. Entah apa yang aku rasakan tentang ini, mungkin ada rasa cemburu kepada si kue Moci itu.
Dirumah aku merasa gunda tidak tenang ingin secepatnya mendapat berita tentang Ryo dan Moci itu, apa mereka baikan atau bahkan mereka kembali berpacaran. Rasanya ingin menyusul Ryo, aku keluar rumah berjalan menujuh pohon besar yang sejuk dan rindang, aku duduk di bawahnya. Suara angin terdengar seolah berusaha menjatuhkan dedaunan pohon ini, tidak lama kemudia aku mendengar suara lain yaitu langkah kaki yang semakin mendekat kearahku aku menoleh kearah suara tersebut ternyata itu Ryo, karena aku penasaran dengan hasilnya aku berlari ke arah Ryo dengan semangat yang menghebuh - hebuh aku bertanya tentang hasilnya.
Aku melihat wajahnya yang murung, membuatku semakin penasaran.
"yo.. bagaimana?". Tanyaku tetapi Ryo tidak menjawabnya
"bagaimana kamu baikan dengan Moci , atau bahkan kami pacaran lagi dengan Moci itu?". Tanyaku lagi dan tentunya Ryo hanya diam
"Ayo lah... yo.. aku penasaran".Ucapku sembari memelas
Ryo menghela nafas dan mengatakan "tidak... aku tidak baikan dengannya bahkan pacaran lagi pun tidak"
"apa?". Ucapku
Aku terkejut, kenapa doaku terkabul, aku merasa bersalah dengan Ryo.
-----"""---- tunggu lanjutannya ya....
"hai...hai... salam kenal aku Silveon author cerita ini semoga kalian menikmati ceritaku ini, pembaca boleh kok.. memberi saran atau kritik... monggo mas... mbak,... adek, kakak... 😊, terima kasih telah membacanya ya... maaf kalau ada typonya 🙊 ".