
" ihh, liya! tunggu aku! " ucap Yoona yang dari tadi mengejar arvia.
Arviapun mulai mengalah dan berhenti tepat didepan pintu keluar basement, dengan segera yoona menghampiri arvia dan menatapnya sayu. terlihat jelas dari matanya bahwa ia cemburu berat dengan sahabatnya itu, terlebih lagi ia tau bahwa tadi sahabatnya yang bernama yoona itu berbincang-bincang dengan biasnya dengan sangat serius itu.
" kau knp? dari tadi aku memanggilmu dan mengejarmu huh?! " ucap yoona yang Pura2 tak tau mengapa sahabatnya itu.
" kya! apa yang kau bincangkan dengan jimin oppa? segala bisik2 gitu! apa kau menyukainya huh?! " ucap arvia yang memang benar2 kesal padanya.
" eoh? " kikuk yoona yang terkejut dengan sikap arvia kini.
" jujur saja! kau menyukainya kan? hah? " ucap arvia dengan nada sedikit teriak dan mulai menangis.
" kau berfikir seperti itu ya? " ucap yoona menundukkan kepalanya karena takut arvia akan menjauhinya.
" kau percaya padakukan? " ucap yoona kembali menatap arvia, dengan segera arvia mengalihkan pandangannya yang tadi menatap yoona kesal.
" *apa kau tak mempercayaiku? " ucap yoona yang mulai ketakutan. dan lagi2 arvia terus menatap kealihan tatapannya tadi.
" a-ahh.. baiklah! " ucap yoona yang mulai melangkahkan kakinya untuk pergi dari hadapan arvia*.
perasaan arvia kini tercampur aduk, entah perasaan apa saja ia tak tahu itu. iapun juga tak mungkin tak percaya dengan sahabat kesayangannya itu, walau bagaimanapun ia adalah orang kedua yang arvia anggap sebagai kakaknya termasuk juga dengan soyaa.
ya, Arvia langsung menghampiri yoona yang masih tak jauh dengan jarak mereka. Arvia spontan memeluk yoona dan menangis dipundak orang yang ia peluk itu. kalau boleh jujur, hatinya sakit saat mengeluarkan kata2nya yang tidak pernah ia keluarkan itu.
Arvia terus menerus berkata βmianheβ pada eonnie kesayangannya itu, dan terus mempererat pelukannya hangatnya yang tadi ia berikan pada wanita yang berumur sepantaran dengan salah satu member idolanya jungkook.
yoona yang menyadari arvia mempererat pelukannyapun langsung membalikkan badannya dan berhadapan dengan Arvia yang matanya masih mempunyai bekas air dikelopak matanya.
" nan gwechannayo! kau tak perlu menangis. "
ucap yoona mulai menghapus air mata arvia lembut.
" mianhe.. aku tak bermaksud--
" aku mengerti, dia adalah pujaan hatimu.. lagian juga salahku kenapa aku mengobrol dengannya! " ucap yoona yang menatap arvia pilu.
Arvia dengan sigap langsung memeluk eonnienya kembali dan semakin mempererat pelukannya itu.
yoona tersenyum dengan pengakuan arvia yang berkata bahwa ia adalah orang yang dianggap sebagai saudara melainkan eonnie oleh arvia. banyak yang ingin dianggap lebih dari mulai pertemanan kehubungan fan lain2 oleh arvia tapi itu sulit, dan hanya orang beruntung saja yang dapat dijadikan lebih oleh gadis imut sepertinya.
lagipula, entah apa yang melintas kedalam pikiran yoona bahwa Arvia akan memarahinya bahkan akan menjauhinya, padahal arvia tak pernah seperti itu. semarah-marahnya dia, dia takkan pernah memusuhi orang itu.
yoonapun menghadapkan posisi tubuh arvia menghadapnya lagi, dan menghapus airmatanya lembut, tak lama yoona meraih tangan arvia dan menggenggam erat tangan mungil dan berkulit lembut itu dan menariknya pergi dari tempat itu. yoona membawa arvia masuk ke mobilnya dan berniat mengantarkan arvia pulang.
π₯
π₯
π₯
π₯
π₯
π₯
π₯
π₯
___-++-___-++-___
" **tuan, saya sudah merekam semua percakapan mereka "
" ahh, baik kalau begitu.. Gomawoyo!! "
" munje eobseoπ** "
ππππππππππππππππ
MAAF JIKA TYPOπ₯