My Ideal Wife

My Ideal Wife
당신은 나에게 말할 수 있습니다!



Cuppp..


itulah ciuman pipi terakhir yang jimin beri untuk arvia. awalnya arvia sudah dua kali mematung dan ditambah satu cium pipi lagi dan itu membuat jantung arvia berdegup kencang. walaupun ciuman itu jimin berikan dipipi, tapi itu benar2 membuat arvia sangat bahagia. sampai ia tak tahu jika pipinya yang sudah dicium jimin itu sudah menjadi merah merona. ditambah lagi, pengakuan jimin yang berkata bahwa Arvia seperti tipe ideal wanitanya. akh, itu benar2 membuat arvia luluh. mungkin ia benar2 ingin pingsan, atau semacam itu.


jimin menatap arvia dan arvia menatap jimin. tatapan itu terhenti karena jimin menarik tangan arvia dan mengajaknya berlari-larian disekitar taman itu sembari menunggu turunnya salju dan adanya ice agar mereka bisa bermain ice skating.


. ❄️


. ❄️


. ❄️


. ❄️


. ❄️


. ❄️


. ❄️


rintik2 saljupun mulai turun, Arvia dan Jimin yang tadi sedang berlari-larianpun berhenti dan mulai menatap keatas. dilihatnya mereka, kepingan2 salju kecil jatuh diatas kepala mereka satu persatu. apalagi, pas dikepala jimin itu banyak sekali turun saljunya yang membuat arvia tertawa karena saat salju itu turun tepat dikepalanya wajahnya itu seperti wajah melucu. jiminpun yang menyadari bahwa Arvia tertawa karnanya langsung tersenyum kearah Arvia dan arvia malah malu karena jimin tersenyum padanya.


🌨️. 🌨️. 🌨️


salju mulai lebat, jalanan ditamanpun mulai membeku dan menjadi es. Arvia dan jimin dengan segera memakai sepatu ice skating mereka masing2.


setelah selesai memakai sepatu itu. kini, Arvia ragu untuk berdiri karena takut jatuh. jimin yang berada disampingnya langsung menarik tangannya untuk berdiri. tapi,


Brukh..


tak sengaja, jimin terpeleset dan pas saat ia menarik tangan arvia. akhirnya, merekapun terjatuh bersamaan. posisi mereka kini, Arvia ada diatas jimin sementara jimin dibawah arvia. terjatuhnya merema alhasil membuat mereka bereyes contact secara dekat. jantung yang mereka miliki masing2pun berdegup dengan sangat kencang. dan apalagi arvia, udah keempat kalinya jimin membuat malu dan merasa ingin pingsan saat itu juga.


10 menit kemudian, mereka sudah tak saling bertatapan karena Arvia sudah benar2 malu saat itu juga. dan saat itu juga jimin serasa menang banyak.


untung saja taman itu sudah jimin sewa, jadi tak ada orang lain yang bisa mengganggunya saat bersama dengan arvia.


mereka mulai berdiri, dan arvia terus menerus memalingkan wajahnya yang sedang merah merona karena masih malu akan insiden tadi.


jimin mulai meraih dagu arvia untuk menatapnya. dan mulai menarik arvia kembali agar bermain bersamanya.


begitulah cara mereka bermain, saling memegang tangan dan berhadapan. dan sembari berputar2. Woahh, itu adalah kenangan yang mungkin tak akan bisa arvia lupakan. apalagi kejadian itu bersama pujaan hatinya sendiri.


" kau senang? " tanya jimin Di akhir permainan ice skating mereka.


" sangat! " ucap arvia tersenyum.


jimin tersenyum mendengar jawaban arvia yang berkata sangat senang itu.


" oh ya saat Fansign itu, oppa ingin membicarakan soal apa? " tanya arvia menatap jimin.


" oh ya aku sampai lupa😅" ucap jimin lalu diam sejenak.


" saat konser lusa kemarin, aku melihatmu menangis! kau kenapa? " ucap jimin yang membuat arvia terkejut sekaligus bingung, bagaimana jimin bisa melihatnya? ya walaupun arvia paling depan.


" oppa melihatku?! "


" nee, aku melihatmu! sekaligus aku bingung kenapa kau menangis disana, dan tangismu itu seperti tangisan yang bukan bahagia "


Arvia diam.


" apa ada masalah? "


Arvia masih diam.


" jika ada masalah, bisakah kau memberi tahuku?! " ucap jimin yang mulai menggennggam tangan arvia.


MAAF JIKA TYPO🔥