
" jika ada masalah, bisakah kau memberi tahuku?! " ucap jimin yang mulai menggennggam tangan arvia.
Arvia diam menatap namja yang sedang menggennggam tangannya itu. namja itupun diam menatap arvia dengan tatapannya yang ingin diberi penjelasan atau diberi jawaban itu. namja itu juga sedikit memiringkan kepalanya.
" em, a-aku b-bukan disakiti oleh namja maupun siapa.. t-tapi a--ku cuma keinget e-eomma d-dan appaku. " ucap arvia sembari menundukkan kepalanya.
" e-eoh? memangnya dimana eomma dan appamu? " ucap jimin dengan polosnya dan membuat arvia diam seketika lalu menatapnya kembali.
" eomma dan a-appaku, s-sudah tiada.. " ucap arvia yang menahan tangisnya dan membuat wajahnya merah seketika.
" a-apa?! " sontak jimin yang terkejut dengan ucapan arvia.
" e-eoh, mianhe aku tak bermaksud.. " ucap jimin mengusap air mata arvia yang tiba-tiba jatuh dan Arviapun tersenyum tipis.
Jimin mulai menarik tangan arvia dan membuat arvia jatuh diperlukannya karena tau arvia akan menangis saat ini juga. ya bagaimana tidak akan menangis, jika masa lalunya yang sangat menyakitkan itu kembali teringat.
pelukan yang menghangatkan itu berakhir karena Arvia yang tiba-tiba melepas pelukan itu dan bersin2. jimin yang melihatnya bersinpun langsung bertanya kepada arvia ada apa, kenapa.
" kau baik2 saja? " tanya jimin yang melihat hidung arvia merah.
" ani, hhacyyuhhhh " ucap arvia tapi kembali bersin.
" benar kau tak apa? " ucap jimin yang mulai panik.
Brukhh...
tiba-tiba arvia pingsan dan jatuh ditangkapan jimin, jimin yang panikpun langsung menepuk pipi arvia pelan dengan alasan bisa menyadarkan arvia dari pingsannya itu.
_____+
___+
__+
__+
___+
_____+
Jimin mengetuk pintu rumah Soya yang sudah sejak sekolah menengah pertama arvia tinggali. tapi belum ada satupun pemilik rumah itu yang membukakan pintunya.
" Siapapun, kumohon buka pintunya! " ucap jimin sembari menggendong arvia dan ucapannya yang khawatir.
" Arvia kau kenapa?? Kumohon bangunlah.. " ucap jimin yang sudah benar-benar panik.
kali ini, jimin benar-benar panik dan tidak tahu harus berbuat apa ia hanya terus menggedor-gedor pintu rumah arvia dan berteriak-teriak disana.
" kya, siapa kau? kenapa kau menggedor-gedor rumahku?! " ucap soya yang datang bersama yoona.
" Arvia? " ucap soya dan yoona yang melihat arvia digendong oleh jimin.
" ya, kau apakan adikku?! " ucap yoona yang menatap jimin.
" Yoona, ini aku jimin.. " ucap jimin yang seketika langsung membuka masker hitam yang ia pakai.
" Jimin?! " ucap yoona terkejut.
" Jimin? " ucap soya yang bingung.
" ayo masuk!! " ucap jimin.
Soya mengarahkan jimin agar kekamar arvia dan menidurkannya disana, dan soya akan memanggil dokter, sementara yoona akan mengambil kompresan untuk arvia karena badan arvia terasa hangat.
Jimin berlari sembari menaiki tangga untuk kekamar arvia. sampai dikamar, jimin langsung membaringkan arvia dikasurnya itu. tapi sebelum itu, saat jimin memegang gagang pintu itu dan pintu itupun terbuka. jimin terkejut dengan apa yang dilihatnya.
ini adalah pertama kalinya ia masuk kedalam kamar penggemarnya (army). begitu banyak poster wajahnya dikamar arvia. beberapa rak kecil yang dipenuhi bingkai foto jimin dan beberapa album dan lightstick. sprai dan peralatan2 arvia serba chimmy, yaitu animasi yang jimin buat dan grup bt21. tapi yang lebih menganggetkannya adalah, sebuah poster terbesar yang ada dikamar arvia, entah itu sebesar apa. poster itu juga tertuliskan \= your body is mine. melihat poster dan tulisan itu membuat jimin mengeluarkan smirknya.