
Jimin menidurkan arvia dikasurnya yang bersprai chimmy itu. jimin tersenyum melihat arvia tidur, sesekali ia mengusap rambut arvia perlahan dan menatap wajah arvia dengan begitu dalam. sesekali jimin tertawa kecil karena mengingat poster yang ada dikamar arvia dan kata2 yang ada dioster itu.
Cup...
jimin mengecup dahi arvia lama dengan penuh perasaan. setelah itu, ia kembali menatap dalam wajah arvia sembari mulai mendekatkan wajahnya pada wajah arvia, dahi jimin dan dahi arvia menyatu hidung merekapun menyatu juga.
" I Love You... " ucap jimin sembari memejamkan matanya. ditengah-tengah itu, ada kedua detakan jantung yang berdetak hebat, jimin dan arvia yang memiliki detakan itu. mengetahui hal itu, jimin mulai menjauhkan wajahnya yang tadi menyatu dengan arvia dan dengan cepat memegang jantungnya. entah kenapa ia gugup sekali detik itu juga, walau ia yang sendiri mendekatkan dirinya pada arvia. mungkin jika arvia tidak pingsan, pasti dia yang akan gugup, atau mungkin langsung mati ditempat saat itu juga.
" Jimin? " panggil Yoona yang melihat jimin masih memegang jantungnya itu.
" eoh? Yoona? " ucap jimin terkejut.
" Jadi kau yang mengajak arvia? " ucap yoona yang menaruh alat kompres dinakas samping tempat tidur arvia.
" Nee, memang arvia tak membari tahumu? " tanya jimin.
" Tidak, dia hanya bilang kalau temannya yang mengajaknya.. tapi aku heran teman yang mana.. "
" Maksudmu? "
" ya, karena setahuku arvia jarang mau berteman.. "
" kenapa memangnya? "
" dia pernah punya pengalaman bullying gitu entah bully dari lelaki atau perempuan, dari sekolah dasar sampai sekolah menengah atas dan semenjak itu, dia tidak mau berteman lagi dengan siapapun.. walau sebagian besar banyak yang ingin berteman dengannya karena ia baik, tapi arvia tetap berjaga jarak. makanya dia hanya menganggap orang sebagai teman baiknya yang hanya 4 orang. "
" empat? "
" Iya, diantaranya aku, soya, yuna, dan nayrah.. "
" Soya yang tadi? "
" Iya.. "
" Yuna sama Nayrahnya? kemana? "
" nanti kau tanya arvia saja, panjang ceritanya.. " ucap yoona yang sedang memeras kain kompres untuk arvia.
" sini biar aku saja! " ucap jimin yang mengambil kain kompres yang dipegang oleh yoona. Jiminpun mulai menaruh kain itu didahi arvia pelan.
" kau benar2 menyukai arvia? " tanya yoona yang tersenym melihat kepeduliian jimin pada arvia.
" aihh, akukan sudah bilang padamu saat itu.. apa kurang cukup jelas ha?! " ucap jimin sedikit malu.
" kau kira aku sedang mabuk hah? "
" ishh kau ini sensitif sekali yah? "
" biarin~ "
" katanya dokter dia akan kesini jam 9 malam " ucap soya yang masuk kekamar arvia.
" lama banget? " ucap yoona.
" ya gatau "
Drttt... ( hp jimin berbunyi )
" Yeobuseo? "
" hyung, kau dimana? pulang cepat! " ucap jungkook.
" aishh kau ini aku sedang--
" pulang!! " teriaknya.
" kya kenapa kau jadi mengatur hyungmu ini? " kesal jimin.
" Namjoon hyung yang suruh! "
" aishh iya2 " (menutup telfon)
" (menatap arvia sekilas) em, soya, yoona aku pulang dulu yah? "
" Yee~ "
Beghh...
" Jangan pergi Jim~ " lirih arvia dengan matanya yang masih terpenjam sembari memegang tangan jimin. Sontak jimin langsung terkejut dan langsung menoleh ke arvia.
" Jangan pergi! tetaplah disini kumohon? " lirih arvia lagi.
" Nee, aku tak akan pergi.. aku akan tetap disini ya? " ucap jimin yang menggennggam tangan arvia dan mengusap rambutnya. yoona dan soya yang melihat jimin memperlakukan arvia seperti itupun merasa iri hati karna menurutnya itu sangat romantis.
" aku dan soya dibawah ya jim, sekalian tungguin dokternya! " alasan yoona lalu menarik soya kebawah padahal ia hanya ingin meninggalkan Jimin dan Arvia berdua disana.