
Malam ini begitu sunyi, lebih sunyi daripada sebuah mimpi buruk. Aku memang tidak menyalakan lampu. Duniaku, begitu kelam, perginya Ayah dan Ibu, menghilangkan separuh kesempurnaan kehidupan Kami. Rara juga tidak keluar dari kamarnya. Kini Kami hanya bisa melihat senyuman Ayah dan Ibu di sebuah figora.
Perilakunya, cara bicara, senyum dan tawa, tertanam dengan begitu jelasnya. Aku hanya bisa memutar masa lalu jika suatu saat nanti merindukan mereka. Mungkin hanya sebatas nostalgia, Tapi itu lebih berharga dari sebuah berlian.
Ku langkahkan kakiku perlahan, menuju ke kamar Ayah dan Ibu. Dalam bayanganku, mereka sedang tertawa dan saling berbisik untuk menjaili salah satu dari Kami. Lalu setelahnya tertawa tanpa ada masalah sedikitpun. Tuhan...begitu indahnya, sekarang Kamar ini bagai surga yang tak berpenghuni. Bisakah Aku melihat tawa mereka sekali saja ?
Pintu ini akan tertutup, barang-barang peninggalan mereka seperti baju, dan lain-lainnya, Aku masukkan ke dalam sebuah dus kosong untuk di sumbangkan.
Ayah...Ibu...Lihatlah! Kalian masih bisa membuat orang lain tersenyum. Lihatlah Ayah...Semuanya akan kembali seperti semula.
langkah kaki begitu berat, seperti ada beban yang tidak bisa membuatku untuk melangkah maju. Sekarang, dengan langkah gontai Aku menaiki tangga, menuju ke kamar Rara. Hati ini, seperti diremukkan begitu saja.
Aku, sama sekali tidak bergeming di depan pintu. Sedang apa Rara di dalam. Untuk sekejab, Kami seperti orang asing dan aku sangat membenci situasi ini. Namun, kuyakinkan hatiku untuk menguatkan Rara secara perlahan.
tok...tok...tok...
" Ra...Kamu sudah siap? Besok kita harus segera pindah. "
Setelah pemakaman Ayah. Nenek menyuruh Kami untuk pindah ke kota. Awalnya Rara menolak untuk ikut. Memang. Rumah ini begitu banyak menyimpan kenangan, Tapi buat apa jika pada akhirnya selalu membuka luka. Melangkah maju. Hanya ini satu-satunya jalan. Melupakan segalanya dan menganggap hari ini adalah bayangan kelam.
Ada dorongan dan desiran hati untuk melihat kedalam. Seolah ada yang memanggilku untuk mengambil kesedihannya.
ceklek....
Krieeet...
Ku buka perlahan pintu kamar, secara bersamaan mengingat kembali peristiwa tragis itu. Awan yang gelap, hujan turun dengan derasnya seolah membawa pesan tersembunyi. Motor yang dikendarai ayah oleng kemudian menabrak pembatas jalan dan terjung ke jurang. Pihak polisis bilang ini hanya kecelakaan tunggal. Aku tidak dapat membayangkan bagaimana sakitnya mereka. Hanya beberapa detik, luka ini menghancurkan Kami sampai ke tulang rusuk.
begitu pintu terbuka lebar, tidak ada tanda kebahagian yang bisa Aku rasakan.
Kosong.
tidak ada siapapun di dalam. Apakah Rara berada di balkon rumah?.
Saat Aku ingin beranjak pergi. Langkahku terhenti, sebuah bayangan tanpa jiwa kini sedang bersandar lemah di sebuah pojok tembok tempat meja belajar. Rara, gadis yang masih Aku anggap kecil itu duduk, memeluk dirinya sendiri.
Ra...Apakah Kau mau bertahan sendiri ?
Hati ini semakin tersayat.
Lantai ini begitu dingin. Tapi tidak ada rasa cemas sama sekali di raut wajahnya. Kini, hanya ini masa depan yang Aku punya. Tidak akan kubiarkan dinginnya lantai ini melukai lagi orang yang Aku cintai. Mungkin, sebuah selimut akan menghangatkan tubuhnya. Meski tidak sehangat pelukan Ayah, Aku yakin. di tempat lain Ibu sedang tersenyum, mengetahui kalau Kami merasa kehilangan. Mereka tertawa karena Kami begitu menyayangi dan mencintai mereka.
Bagaimana gadis ini menahannya ? hingga Aku sendiri tidak menyadari kepedihan yang Ia alami.
Kepalanya yang mendongak ke atas, kini kualihkan untuk bersandar di bahu rapuh ini, Tanganku berusaha untuk membelai rambutnya dengan sisa cinta yang Aku miliki.
Menatap wajahnya dalam. Damai dan...Tentram.
Aku merasakan Ibu berada di dekatku sekarang. Begitu dekat hingga Aku mampu merasakan deruan napasnya yang iklas. Angin bertiup semilir, Ku gerai selimut yang tadinya Aku ambil di almari pakaian. Lalu ku peluk tubuhnya erat, seakan tidak mau untuk melepasnya walau sekejab.
Malam....
Kenapa pagi begitu lama?
Aku ingin menunggu hari esok.
Ku tatap langit rumah, hanya sebatas kedipan mata, tapi bagaimana mereka yang jauh di sana. Melihatnya saja Aku sudah tidak bisa.
*Ayah...Ibu....
Aku akan menjaga gadis kecil ini, semampu yang Ku bisa, untuk kalian berdua.
Ayah...Ibu....
Bisakah kalian melihat dua anak kecil yang merasa terbuang ini, Kami hanya bisa bernapas dengan kenagan kalian. Dua putri kecil, yang kalian besarkan dengan susah payah. Kini harus menggali tebing kehidupan dan jurang yang paling dalam untuk tersenyum*.
Tanpa sadar, alunan kegelapan ini membawaku untuk mengenang masa lalu.
Kami saling berdekapan satu sama lain. Berkelana pada mimpi yang tak ada ujungnya sama sekali.
Rara, Aku....
Kini terlelap dalam setiap bait kerinduan, menanti pagi yang akan bersinar dan membawa kami ke jembatan kehidupan.
Hanya satu kata yang Aku titipkan pada Rara.
Semua....
Akan....
Baik-baik saja.