
Malam begitu menusuk di setiap pori-poriku. Ada desiran hati di mana ada sebuah perintah menyuruh mereka kembali. Rasanya, pelukan tadi masih kurang. Aku memeluk tubuhku sendiri. Melihat jikalau lilin angka 18 tahun itu masih menyala dan belum Aku tiup.
Ayah dan Ibu juga tidak memberitahu Rara kalau mereka pergi. Bagaimana jika Rara bertanya? Apa yang harus Aku jawab?.
Ceklek....
Ku putuskan untuk ke kamar Rara.
Gadis itu masih terlelap dan belum mau untuk bangun. Aku membawa Kue ini dan menaruhnya di meja. Tidurnya begitu lelap, tidak ada satupun rasa keluh kesah pada dirinya. Semakin dia besar, tanggung jawabku semakin berat sebagai seorang Kakak.
perjanjian kalau aku selalu berkorban, mungkin suatu pukulan pilu yang harus Aku sembunyikan dari Rara. Apalagi...di saat kini hanya Aku yang bersama gadis ini.
" Ra...Kamu tahu kan ? Kakak bakal lakuin apa pun buat Kamu. Tapi Ra, Kakak punya satu permintaan buat Kamu di hari ulangtahun kita. Berjanjilah suatu saat Kita akan terus bersama, seperti ini. Sampai kapanpun. Karena selain Ayah dan Ibu, Kamu juga hartaku yang paling...paling berharga. Kamu...Apa pun masalahnya, ceritakan pada Kakak. Biar Aku yang menanggung sakit itu. Aku gak mau Kamu sakit, Ra. Tapi tolong, biarin Ayah dan Ibu juga mencintai Aku, sama sepertimu."
Aku tidak tahu, Apakah Rara mendengarnya atau tidak. Jika memang Ia terjaga saat ini. Mungkin, Aku tidak akan berani berkata seperti sekarang. Dan dia masih tertidur juga, Dasar adik kecilku. 😊
rambutnya yang panjang, sama seperti rambut Ayah, agak sedikit bergelombang, alisnya mirip Ibu, dan dagunya seperti nenek. Rara...di mana Aku merindukan mereka, semua ada pada dirinya. Belaian halus, Aku daratkan pada pipinya yang mulus.
Ku dekatkan bibirku ke telinganya, Aku berharap dia bisa dengar, kalau Aku begitu menyayanginya.
" Selamat ulangtahun, Ra. Semoga hari Kita di penuhi dengan kegembiraan. Apa pun yang Kamu doakan, Aku akan mengamininya."
kecupan manis mendarat di dahinya, Aku lihat lilin di kue itu sudah mati. Aku yakin pada saatnya nanti semua juga akan berakhir seperti lilin itu, tidak akan ada yang tersisa.
Dan kalung ini, Aku melepasnya dan memakaikannya di lehernya, Aku tidak membutuhkannya. Cukup Ibu menciumku sebelum tidur, itu lebih dari cukup.
" Kamu cantik, Ra. Cantik banget. "
Aku tersenyum. Memang benar, Ayah dan Ibu tidak mengadoi apa pun kepada Rara. Jadi Aku mengambil secarik kertas, dan Aku tuliskan persis seperti tulisan ayah.
haha...diam-diam Aku suka meniru tulisan seseorang. Setidaknya ini yang bisa Aku lakukan.
' Kami semua cinta Kamu, Ra. Dari Ayah dan Ibu. '
Kini Aku hanya menunggu kedatangan esok hari, di mana satu untaian kisah akan terukir seperti biasanya.
****
" Kak, Vania!. "
Kali ini Aku memutuskan untuk libur sekolah, pekerjaan rumah juga menumpuk, Rara juga bangun kesiangan. Tidak ada yang bisa di andalkan. Hampir saja Aku terjatuh saat dia memelukku dari belakang dan berkali-kali menciumi pipiku dan memelukku gemas.
" Ada apa, Ra?. "
Rara menunjukkan giginya yang rapi, Entah kenapa... Rasanya seperti aku bersama tiga orang yang Aku cintai. Gadis itu lagi-lagi memelukku dan kini mencium hudungku seperti yang Ibu lakukan. Aku tertegun sejenak. Dia...begitu bahagia.
" Selamat ulang tahu, Kakak Vania. "
Tawa Kami pecah, Aku kira Rara melupakannya. Ia bolak-balik melihat kalungnya dan menunjukkan sebuah surat yang Aku tulis tadi malam. apa yang Aku bisa? Hanya tersenyum.
Aku terdiam sejenak, pastinya Rara akan bertanya berbagai hal, dan kalian tahu. Aku paling benci kebohongan. Jadi untuk sekarang Aku ingin melakukannya.
" Tidak...tadi saat Kakak ke kamar Ibu, mereka udah gak ada. "
" Kemana ya ?. "
kedua Bahuku terangkat ke atas pertanda tidak tahu.
" Mungkin, lagi ajak Ibu piknik. "
" Huh!!."
Dia mendengus kesal dan tanpa pikir panjang Aku memeluknya dari belakang lalu mendorongnya untuk mandi.
" Udah sana mandi! pagi ini Kakak yang antar Kamu ke sekolah. "
" Emh...Kakak gak sekolah ?. "
" Kalau sekolah yang ngurusin Kamu siapa? Cepetan!. "
ku dorong pintunya namun terhalangi oleh Kaki Rara, Ia menatapku tajam.
" Naik apa?. "
" Naik pesawat. "
Ini yang Aku mau selama hidupku. Tertawa bersama Rara. Aku sudah berjanji menemaninya berangkat ke sekolah.
Kami hanya punya sepeda. Sekolah Rara lumayan jauh, tapi tidak apa lah. toh ini kesempatan Aku buat mengukir kenangan bersama dia. Jarang kan? Anak umur 16 tahun di bonceng Kakaknya dan tertawa ria di atas sepeda? Hahah...
Sesampainya di sana, Aku masih setia menahan sepeda ini agar Rara turun sempurna.
" Ingat ya ? Jangan mau di anterin siapa-siapa kalau bukan Kakak sendiri yang jemput. Ngerti ?. "
Rara menunjukkan Ibu jarinya yang menggemaskan seolah meyakinkan Aku.
" Belajar yang pinter. "
" SEMANGAT, VANIA !. "
Ucapnya sembari berjalan mundur menuju kelasnya, Aku masih mengawasinya hingga sampai benar-benar masuk ke kelas.
Hanya lambaian tangan yang Aku berikan. Semangatnya tadi membuat Aku bangkit untuk kembali kuat.
" Ibu, Ayah. Aku tunggu kalian, segera pulang ya?. "
Lirihku lalu pergi meninggalkan sekolah untuk kembali ke rumah. Pada saatnya juga mereka akan merindukan Kami dan kembali. Ya, hanya itu.