
Kami adalah dua kakak adik yang tidak mempunyai hubungan darah, ya...seperti itulah. Di sini, Rara lah yang mempunyai Ibu dan Ayah. Sementara Aku hanya anak angkat di sini. Ayah Rara mengambilku dari panti Asuhan. Umurku waktu itu sudah 4 tahun, Aku selisih 2 tahun dengan adikku.
Aku bertanya kepada Ayah....
" Yah, Kenapa Ayah mengambilku dari panti Asuhan?."
Aku kira Ayah akan menjawab ' Karena aku kasihan ' Ternyata dugaanku salah. Ayah menatapku dengan senyum sembari membelai rambutku pelan. Di pangkuannya ada adikku Rara yang tertawa ria.
" Itu karena Ayah sudah jatuh cinta saat pertama kali melihatmu, Vania."
Jawab Ayah sembari menarik hidungku yang mancung, melihat kelakuan Kami, Ibu tertawa ria. Senyumannya lepas, Aku seperti berada di surga yang Aku inginkan. Begini saja sudah cukup dan Aku tidak menginginkan hal lain.
Tapi seiring berjalannya waktu, kasih sayang mereka berubah. Memang kami hanya keluarga sederhana, masih banyak kebutuhan yang harus di sesuaikan. Dan Ayah memilih untuk mencukupi kebutuhan Rara.
Aku tidak berkesah hati, selagi Aku bersama mereka semua terasa begitu ringan.
Masa SMP begitu Indah, Ayah dan Ibu juga tidak membedakan kasih sayang Kami. Dalam dua hal Kami nampak berbeda, Aku yang sederhana dan Rara yang mewah. Dia berangkat seperti seorang putri, di mana rambutnya tergerai dengan bando berwarna pink bersandar di kepalanya.
Banyak pria yang tertarik, itu karena Dia cantik. Ibu, kerap kali mendandaninya pada pagi hari. Sementara Ayah bertugas untuk menguncit rambutku.
hahah.... Umur 17 tahun keahlianku menguncit rambut sangat buruk. Ayah yang melakukannya.
" Vania, Kau Kakakku kan ? Apa yang bisa Kau lakukan untukku?." Tegas Rara sembari melipat tangannya di depan Dada, Aku hanya tersenyum, Ayah masih menyisir rambutku untuk di kepang.
Ibu sama sekali tidak mengubris kata-kata Rara. Ia hanya fokus merapikan bando di kepala Rara. Rara begitu menunggu jawabanku, Saat Aku hampir menjawab.
" Dia, akan berkorban segalanya, hanya untukmu."
Ucap Ibu sambil tersenyum, Rara menatapku penuh selidik, dan kata-kata Ibu tadi sedikit menyesak di hatiku. Apakah semuanya harus?
Aku menoleh ke belakang, tempat Ayah masih sibuk dengan kepangan rambutku ternyata dia mempunyai pendapat bertentangan dengan istrinya. Rangkulannya begitu hangat, dia mencium keningku lembut.
"Tidak semuanya, Kalian, harus mengerti satu sama lain. Vinia, Dia Kakakmu. Kau, harus menghormatinya, sama seperti Ibumu."
Pada hari ulang tahun. Karena pihak panti asuhan tidak mengetahui ulangtahunku. Ibu memutuskan hari kelahiranku disamakan dengan Rara. Saat itu, pada malam hari.
Aku tidak menyangka kalau kedua orang tua angkatku menemuiku terlebih dahulu, mereka membangunkanku pada pukul 02.00 dini hari. Ibu tidak bisa memelukku, itu karena ia membawa satu kue ulangtahun yang menurutku besar. Di atas kue itu tertancap lilin berangka 18 tahun.
Ayah mengadoiku sebuah kalung permata, Aku tahu ini mahal. Aku berniat meminta Ayah untuk memberikannya saja kepada Rara. Tapi Ibu malah memakaikan kalung itu ke leherku.
Kelihatannya Ibu tidak membawa kado seperti Ayah dan rasa kecewa ini tidak bisa aku sembunyikan.
Mereka menurutku adalah utusan Tuhan. tubuhnya begitu hangat mendekapku erat. seolah ada yang mereka sembunyikan. Perlahan Aku merasakan air mata Ibu mengalir.
" Kenapa, Bu?."
"Ada satu rahasia, Kamu mau tau ? Rara masih belum mengetahuinya."
Ayah tersenyum, Mereka melonggarkan pelukannya, Ibu mengarahkan tanganku ntuk menyentuh perutnya. Tidak ada apa-apa.
Aku sontak terkejut saat Ibu mencium hidungku lalu berkata.
" Kamu akan punya adik lagi. "
ini hari ulang tahun terindah dalam kisah hidupku, Aku memeluk keduanya dengan rasa syukur yang Aku tidak tahu, seberapa bahagianya Aku. Rasanya keluarga ini begitu sangat sempurna.
" Ayah bakal ajak Ibu besok ke rumah Nenek untuk memberitahu ini sebagai kejutan. "
Aku tidak melarang keduanya pergi, tapi tanganku begitu saja terangkat memegang lengan Ayah saat Ia beranjak untuk menyiapkan pakaian saat menginap beberapa hari di rumah Nenek.
" Yah, cepat kembali, ya?. "
" Iya, sayang. Dengar. "
Ayah memegang bahuku erat, sementara Ibu tersenyum di ambang pintu.
Aku...merasa damai.
" Ayah, pesan. Jaga adik Kamu selagi Ibu dan Ayah pergi. Kamu paham? Ayah tidak tahu kapan kembalinya, itu tergantung Ibu Kamu yang mau. "
Ibu sekilas tertawa dan langsung menutup mulutnya, takut jika Rara bangun seketika.
Mungkin Ayah dan Ibu tidak tahu kalau ada genangan air di mataku saat keduanya menghilang di balik pintu.
Entah kenapa....
Aku....
Begitu mencintai mereka.