My Heart Was Moved

My Heart Was Moved
Cerolin.



5 jam mendekam di dalam kelas. Sudah saatnya semua murid keluar seperti orang-orang yang bebas dari tahanan. Menyerbu kantin yang sudah padat seperti Bandara. Beruntung bagi yang lebih awal datang ke kantin. Mereka akan memiliki tempat duduk dan tidak akan mau beranjak sebelum bel masuk berbunyi.


Seperti sekarang ini. Para murid di gegerkan dengan keluarnya seorang siswa yang baru masuk selama 3 hari. Padahal kepintaran IQ-nya sudah di atas rata-rata.


Dan semua ramai membincangkan masalah ini. Padahal pria itu bisa di bilang tampan, berpostur tinggi dan sudah menyita banyak perhatian Kaum hawa di sekolah ini.


"Sayang banget ya, Kakak itu keluar. Padahal banyak yang ingin masuk di sekolah ini. Tapi dia malah milih surat dari kepala sekolah."


Anna, Seorang siswi yang polos. Tidak begitu pintar tapi berbakat dalam bernyanyi. Pialanya juga sudah memenuhi ruang tamu. Tapi gadis itu sama seka tidak paham dengan aturan sekolah di sini. Bahkan bisa dibilang, murid perempuan jauh lebih banyak dari pada laki-laki.


"Katanya sih, rumor yang beredar. Dia itu sepenuhnya murni tidak menginginkan keluar sekolah?."


Febrian mungkin salah satu murid pria yang bisa berbaur dengan Anna dan Sofia. Pria itu juga pernah hampir keluar karena ada masalah. Tapi Ia sedah berjanji, Kalau tidak akan ada satupun temannya yang tahu.


"Maksudnya?." Sofi dan Anna mulai serius. Tapi Febrian malah menatap mereka enteng dan lebih memilih menghabiskan Pempek miliknya.


"Sudahlah! Abaikan."


Maaf, Aku gak bisa cerita sama Kalian. Ini menyangkut semua siswa disekolah ini. Jika bercerita sama halnya memghadapi sebuah maut. Batin Febrian.


"Lah...cerita dong. Gimana sih?."


Ucap Sofi kesal, Sementara Febrian hanya meringis karena bahunya menjadi sasaran pukul gadis itu.


"Cewek gak boleh kasar, harus kalem kayak Anna. Menantu idaman."


Febrian mengerling nakal kepada gadis itu.


Tapi yang digoda malah berpikir tidak jelas.


"Mata Kamu kelilipan ya?."


"Enggak! Sakit lihat Si Sofi yang dari tadi natap kayak mau nerkam."


"Heyyy!!!."


"Mau kemana?."


Febrian mengambil mangkok dan jus yang sudah ludes. Makanan itu begitu cepat masuk ke mesin perutnya.


"Lah...Mau ketoilet. Kebanyakan minum jadi...."


"Polos banget sih, Kamu." Febrian mengelus dan mengacak rambut Anna gemas. Nyatanya gadis itu belum paham makna dunia luar. "Kenapa? Mau ikut?." Lanjut Febrian sembari menarik tangan Anna dan langsung di tepis olah Sofia.


"Gak usah tarik-tarik. Pergi aja sendiri. Gak usah ajak Anna."


"Jangan lupa ya Sofi, Kamu janji bakal bantu ngerjain soal Kimia dirumahku nanti. Kamu Anna. Kusus buat Kamu Aku undang makan malam ke rumah. Kalau mau belajar bareng bagus juga sih. Hehehe."


"Ya udah...dah...udah Gak tahan."


Febrian menyengir kuda dan langsung meninggalkan dua sahabatnya itu setelah mengembalikan mangkuk dan gelas itu ke kantin.


"Dia tadi bilang apa?."


"Bilang Aku mau jadi pacarnya apa enggak. Anna. Janji sama Aku. Kamu gak bakal kejebak sama Febrian...Dia itu...."


"Sofi...Jangan lupa, Febrian itu teman kita dari kecil. Ya, meskipun Aku gak terlalu paham sama sifatnya. Aku yakin dia baik kok."


"iya...iya...Aku percaya."


Koridor kelas lumayam sepi. Itu karena sebagian para murid sudah memasuki kelas untuk menyiapkan mata pelajaran berikutnya. Padahal masih 5 menit lagi. Tapi kedisiplinan mereka dapat diacungi jempol.


Febrian mengeluarkan ponsel miliknya. Ia menaikkan Headphone yang dari tadi mengalung di lehernya. Dan benda itu sekarang setia berada di kedua telinga Febrian dengan musik Dj K-Pop yang membuat dirinya menganggukkan kepala tanpa sadar.


Tap...tap...tap...tap...


Meski benda itu memutar musik dengan volume lumayan besar. Febrian masih bisa merasakan ada beberapa orang yang mengikutinya dari belakang. Ia membuka Headphone tersebut lalu dengan ragu melihat ke belakang.


"Sial...." Umpat Febrian.


Tiga orang pria tersenyum dengan maksud tertentu. Mereka membiarkan Febrian yang berlari tanpa arah. Bagaimana pun juga lelaki itu tidak akan bisa lolos.


Mereka tertawa ria, ini masih tersisa 4 menit dan ini adalah hiburan terbaik. Pikirnya.


Febrian kini sudah berada di atap teratas sekolah, nafasnya tersenggal-senggal dengan seragam yang sudah semrawut. Ia langsung menumpukan tubuhnya ke dinding. Berharap agar mereka tidak menemukannya.


"Cerolin...Please. Untuk kali ini. Buat mereka diam."


Maaf...mungkin terlalu panjang? atau bosenin? Baru nulis jadi masih butuh masukan. Heheh