My Heart Was Moved

My Heart Was Moved
Rara



Kursi panjang di sampingku ini begitu menyedihkan. Tidak ada siapa pun yang menudukinya.


Hah...


Warnanya juga putih, Entah kenapa Ayah begitu menyukai warna ini.


Kakak... Aku menunggumu.


Awan bergelut di atas angin, menandakan sebentar lagi akan turun hujan, tapi Kak Vania masih belum menjemputku sama sekali. Sementara sekolah ini mulai sepi. Ada satu persatu murid yang keluar kelas dan lenyap di pintu gerbang.


Dingin....


Aku memeluk tubuhku sendiri.


Jauh di sini, Aku menatap gerbang sekolah lekat-lekat, menantikan ada suara deru sepeda yang membuyarkan lamunanku.


Meski sudah satu jam menunggu, Aku masih setia di kursi ini, hingga rintikan hujan turun perlahan. Ku arahkan tanganku agar menyentuh setiap butiran indah ini. Awalnya hatiku merasa senang. Tapi lama kelamaan Aku merasakan semakin resah. Kenapa dengan datangnya hujan Aku tersenyum ? Sudah tahu kalau langit sedang menitikkan air matanya.


Perlahan....


Semakin deras....


Aku masih menunggu Kakak dengan wajah cemas. Di mana dia ? Hari juga semakin sore dan sinar matahari lambat laun memudar begitu saja. Angin bertiup semilir menusuk-nusuk jantungku. Sesak. Apa Kak Vania lupa ?.


Jika Aku menunggunya lebih lama, tentu tidak akan bisa pulang sampai malam hari. Yakin saja Kak Vania juga punya kesibukan.


Ku buka resleting tasku, megambil sebuah map yang di dalamnya terdapat tugas kliping yang sudah di nilai guru. Biarlah! Nilai ini juga sudah masuk ke daftar pelajaran. Aku harus melindungi buku yang lainnya.


Sebenarnya ini sangat menyakitkan, tapi....


Aku tidak mau merepotkan Kak Vania lagi.


Sedikit saja, biar Aku yang bekorban.


Aku mengangkat map biru itu tepat di atas kepala, tas yang awalnya berada di punggungku kini beralih ke dalam dekapanku.


Mataku tidak bisa terbuka saking derasnya, hujan ini tidak mengizinkan Aku melihat arah. Padahal Aku ingin cepat pulang. Aku ingin menemui Vania secepatnya.


Berlari, meninggalkan setiap tapakan di genangan air, di mana langkahku tidak berbekas sama sekali. Tidak peduli bajuku basah. Ayah bilang Vania seperti Ibuku. Dia akan merawatku seperti Ibu. Dan Ayah....


Dia adalah jantung Kami semua.


" Kak Vania !. "


Panggilku dari luar rumah, Aku benar-benar kedinginan. Biasanya Kak Vania mengunci pintunya tapi ini malah terbuka. Aku tidak bisa masuk karea bajuku yang basah.


Akhirnya hanya memberanikan diri untuk mengintip. Kosong !


Tidak ada siapa-siapa di rumah.


Masuk dengan langkah gontai....


Hari ini begitu melelahkan.


Tidak jauh dari tempat berdiri, sebuah ponsel begitu saja tergeletak di lantai.


Aih...Aku tersenyum, sejak kapan anak ini tidak peduli dengan barangnya.


hahaha...Biar Vania saja yang mengepelnya.


Ponsel Vania kini berada di genggamanku. Begitu banyak panggilan yang masuk. Ini dari Ayah, Pasti Ia merindukan Kak Vania.


Sebuah pesa?


Tanpa ragu Aku membukannya dan membacanya sekilas.


Aku tertawa....


" Kak, Vania ! Kau memberi kejutan untukku, ya ?. "


" Dasar. "


Aku menggeletakkan ponsel itu begitu saja. Pesan tidak jelas seperti itu pasti salah sasaran.


" Kak Vania !. "


Aku memanggilnya tapi tidak ada jawaban sama sekali.


" Kak!. "


Mulai ada rasa cemas bergelut dalam pikiranku. Kemana semua orang yang menghiburku ketika ketakutan?.


" Vania !. "


Tidak Jauh di depan meja belajar Vania ada setitik genangan air, Aku belum ke tempat ini. Aku kira atap bocor, tapi tidak.


Dan pesan tadi....


" Vania !. "


Aku berlari keliling rumah, tidak ada siapa pun. Kak Vania, Kamu di mana?.


****


Vania terduduk lemas di depan pintu rumah sakit, kenyataan pahit harus merenggut kehangatan yang ia tidak miliki sebelum lahir, Air mata ini...Tidak akan bisa membuat orang yang Ia cintai kembali. Tidak juga merubah posisinya saat ini.


Rasanya, seakan langit runtuh mendengar kematian kedua orang tuanya itu. Vania...


Seorang gadis yang hidup tapi tanpa nyawa. Entah kemana Ayah dan Ibunya membawa cinta ini. Ia bahkan tidak sempat memikirkan keadaan Rara. Gadis yang malang. Kenapa nasib juga berpihak kepada Rara. Vania sudah Yatim piatu dari kecil. Dan kini Rara juga mendapatkan kepedihan yang lebih mendalam.


Vania menghapus air matanya, meski begitu berat merelakan keduanya pergi, masih ada Rara, setidaknya gadis itu menjadi sumber kekuatan untuknya. Ia berdiri dari tempat duduknya, sama halnya dengan Rara. Vania juga basah kuyup. Kulit ini terasa mati, Ia tidak merasakan dingin atau hangatnya kasih sayang.


Bibirnya bergetar. Alam semesta rasanya ambruk begitu saja, hujan semakin deras, hatinya semakin tersayat. Melihat Rara yang tiba-tiba berada di depannya. Keadaannya tidak kalah hancurnya dengan Vania, gadis kecil ini harus merasakan sakitnya kehilangan orang yang ia cinta.


Keduanya saling menatap, satu sama lain. Rara yang tidak percaya dan Vania yang harus menerima dan meyakinkan semuanya. Mereka tidak bergerak sama sekali. Tetap pada posisi yang sama.


" Rara...Kamu masih punya, Kakak. Kita akan saling melengkapi. Itu pesan Ayah dan Ibu. "


Batin Vania.


Seperti ini mengingatkan Rara yang menangis sendirian di pojokan rumah. Di situlah Vania akan datang dan memeluknya.


Maaf ya, memang sedikit membosankan. Semoga kalian suka dengan cerita ini.