
Maja belajarku ini penuh dengan buku pelajaran sekolah, sebentar lagi akan ada ujian akhir semester jadi wajar aja kalau berserakan tidak pada tempatnya.
Terkadang Rara sering mencari buku novel dan tidak mengambalikannya lagi, Aku sampai bingung mencarinya hingga bukuku sendiri amburadul.
Jam dinding masih menunjukkan pukul 13;00. Masih kurang 2 jam setengah Rara bakal pulang. Aku hanya merenung di meja makan. Biasanya Ayah dan Ibu akan bercanda bersama Rara di ruang keluarga. Akhir ini Aku sering mengenang kejadian bersama mereka. Padahal masih belum 1 hari. Tapi berasa satu tahun aja.
" Ra, Kamu pulangnya kenapa lama, sih ?. "
Gerutuku di depan vas bunga. di samping meja makan, Aku melihat foto keluarga yang terpajang di meja belajarku. Ada aku, Rara, Ayah dan Ibu.
Senyum...Di foto itu, Aku lah yang paling bahagia. berada di keluarga ini, membuat kisah hidupku lebih bermakna. Aku mengambil ponsel yang ada di sakuku, Ayah pernah memarahiku saat Aku memakai earphone untuk mendengarkan musik. Dan Aku tidak mau mengulanginya lagi. Kalau keseringan bisa merusak telinga. Begitu nasehat Ayah.
Jadi Aku memilih mendengarnya langsung dan tanpa sadar tertidur begitu saja. Tuhan...Aku harap bangunkan Aku.
Di sini Aku bermimpi. Gelap, tidak ada siapapun di lorong ini, dan Aku hanya berjalan sendiri. Tidak ada siapapun. Di sini Aku mungkin menyadari satu hal. Kalau Aku bukan siapa-siapa. Aku terus berjalan, rasanya seperti seribu langkah, dan ini sangat sangat lama, hingga Aku sendiri tidak sanggup menemukan jalan keluar. Hanya ada jalan lurus, tidak ada belokan sama sekali.
Dan Aku....
Mulai putus asa. Tidak adakah orang di sini ?
Aku mau keluar dari tempat ini. Saat itu Aku sudah menangis sembari menekuk kedua lututku. Dan tidak ada siapa-siapa.
Kalau bisa Aku ingin mati jika seperti ini.
Lalu pikiran ini sirna begitu saja, ketika Aku melihat setitik harapan jauh di sana. Sebuah cahaya biru yang menyuruh hatiku bergerak maju. Aku ingin keluar dari tempat ini.
Aku bangun dan mengejarnya, Cahaya itu semakin jauh. Tidak ! Aku mohon jangan pergi.
Hingga semua kembali gelap. Aku masih mengejarnya dan seketika langkahku terhenti ketika seseorang menarikku dari belakang. Ia memakai baju putih dengan mahkota di kepalanya. " Kak...Ayo pergi bersama! Pintu kita bukan di sana. "
Aku memgernyit bingung, wanita ini Aku mengenalinya, perlahan pandanganku Kabur, saat itu Aku melihat Vania tersenyum dan mengarahkan tangannya.
" Aku tunggu, Kakak. "
Aku terbangun dan jam dinding masih menunjukkan pukul 13;59. Tapi Aku seperti bermimpi sampai malam hari. Aku kembali menyalakan ponselku yang masih berbunyi dengan lagu yang Aku suka. Ayah memanggilku sebanyak ini? untuk apa?.
Dan beberapa No yang tidak Aku kenal.
Ku tunggu nada dering sambung di seberang sana, begitu terjawab Aku langsung bicara.
" Halo, Yah. Ada apa?. "
Aku tersenyum...
Senyumanku seketika hilang, di rumah ini Aku sendirian dan itu menyeramkan. Sama seperti mimpiku tadi? Tapi ini lebih buruk, Ada sinar tapi hatiku kelam seketika. Aku berharap ini hanya mimpi buruk. Ya!!!.
Aku jatuhkan ponselku, tanganku lemas dan tenagaku seperti tidak berguna, air mataku lolos begitu saja. Dada ini begitu sesak, lebih sesak dari pada sebuah kematian. Dengan kaki yang bergetar, Ku langkahkan kakiku meninggalkan meja.
Ayah....
Ibu....
Sakit ini begitu luarbiasa memukul batinku, seperti membunuhku secara perlahan. Badanku ambruk ke lantai, Apa yang harus Aku katakan kepada Rara sekarang?
Genggaman tanganku begitu erat, Aku...ingin...lari.
Menyusul Ibu dan Ayah yang sudah berada di pangkuan Tuhan. Aku ingin menyusul mereka dan terus tertawa bersama.
Tuhan...Aku tidak mau menjalani kesedihan ini sendirian.
" Kado buat Kamu, Vania? Ibu...tidak punya apa-apa. tapi Ibu...selalu ada di sini. Di hati Kamu, selamanya. Sedih, bahagia, kecewa. Ibu akan merasakannya."
Hanya ini kata termanis yang Aku dengar. Hatiku....
Aku terduduk dan terisak, sebisa mungkin Aku menahan rintihan ini agar tidak ada yang mendengar.
Apakah Ibu sekarang bisa melihatku ? kalau Aku merasa kehilangan sekarang...Jika memang iya, biarkan Aku merasakan kehangatan kalian untuk terakhir kali.
Ku lihat jam sudah menunjukkan pukul 15;49. Kenapa cepat sekali ?.
Aku masing menangis, bingung apa yang harus Aku lakukan.
Ayah....
Ibu....
Bilang sekali lagi. Katakan kalian tidak benar-benar meninggalkan Aku dan Rara di sini. Kembalilah! Aku percaya...
Kalian sudah janji sebelumnya. Aku menagihnya sekarang. Mataku kini tertuju pada pintu yang tertutup, berharap agar Ayah tersenyum dan membuka pintunya.
Ya! Aku akan menunggunya.
Kalian...tidak akan pernah meninggalkan dua gadis kecil ini. Karena Aku tahu. Kalian sangat menyayangi Kami.