
Nafasku tersenggal-senggal, Beberapa map masih ada di tanganku karena tadi tidak ada kesempatan untuk memasukkannya ke dalam tas.
Keringat dingin membasahi dahiku.
Tidak ada siapa pun.
Dan wajahku langsung pucat pasi saat tanganku ditarik dari belakang. Langkahnya begitu lebar, badannya tinggi dan bertubuh atletis. Sementara Aku harus berlari lagi mengikuti langkahnya yang cepat. Rambutku berkibas ke sana ke mari dan ini sangat menyiksaku.
"Lama sekali!."
Ucapnya pelan dan dingin. Entah kenapa disini Aku seperti terpojokkan.
"Kamu mencoba menghindar kan? Aku tahu itu. Tapi sadar saja. Kalau Aku menikahimu bukan atas kemauanku. Jadi...Tetaplah berdrama seolah menjadi istri yang baik di depan istriku nanti. Dia mengajakmu makan besok malam."
"Angga..."
Langkahnya terhenti...Ia berbalik dan menatapku datar tanpa ekspresi. Menakutkan. Aku hanya bahagia saat Angga bersama Tania. Itu pun karena pria ini bisa tersenyum bahkan tertawa seperti orang biasanya. Aku menunduk ketika Ia melepas tanganku sedikit keras.
"Sudah ku bilang. Jangan panggil namaku?." Tegasnya.
"Sebenarnya Aku ini siapa?."
Dia sedikit terperanjat karena kata-kataku yang sedikit keras. Ada rasa tidak suka yang Ia salurkan dari matanya.
"Bukan siapa-siapa. Aku tidak menganggapmu istri, atau pun sahabat. Jadi mudah saja jika Aku menceraikanmu nanti."
Aku tersenyum miris...
"Kau lupa Pak? Kau tidak akan bisa menceraikanku selama istrimu masih mau menjadikan Aku sebagai istrimu. Maaf. Tapi Aku sebenarnya juga tidak mau berstatus sebagai Istri Angga Sanders. Kau seharusnya berterimakasih. Karena mulutku ini masih menyimpan rahasia dari semua orang."
Angga sudah menggertakkan giginya, rahanganya mengeras.
Begitu sakitnya Aku Angga. Setiap kali Kau melukaiku dengan kata-katamu dan Aku hanya diam. Sekarang. Cobalah untuk sesekali berada di posisiku.
"Aku berjanji suatu saat nanti Kau akan bebas dan Aku tidak akan pernah menyesalinya."
Ucap Angga sinis lalu meninggalkanku sendirian. Aku hanya ingin bertanya kepada Mbak Tania.
Apakah gadis itu juga berada di fase yang sama sepertiku sebelum pria ini mencintainya? Tania...Katakan padaku. Bagaimana Kau mampu bertahan sampai Ia rela memberika seluruh cintanya hanya kepadamu? Bisakah Kau bujuk dia untuk menghargaiku walau sesaat.
Aku menunduk dan berlari menuju mobil Angga. Dia sudah kesal dan Aku malah semakin membuatnya kesal karena Aku duduk di depan. Meski begitu, Ia tidak menyuruhku untuk berpindah ke kursi belakang.
"Mbak Tania mengirim permintaan VC."
Angga tertegun lalu senyuman tipis nampak diwajahnya. Apakah Aku hanya berlian yang berkilau sementara di malam hari? Apakah Aku ini seperti bulpoin di dunia Angga, di mana Ia mampu menulis apa pun dalam takdirku.
Aku menyendehkan Ponsel itu di depan. Dan melihat Mbak Tania yang tersenyum sembari bermain bersama Andre. Hasil cinta dari mereka berdua. Angga tersenyum dan merangkulku lalu mengelus rambutku asal seolah Ia gemas.
Papa Angga, Andre katanya kangen nih.
Ucap Mbak Tania sembari memainkan tangan Andre yang mungil. Entah kenapa aku melihat keikhlasan di hati Mbak Tania. Angga bilang, Istrinyalah yang menyuruhnya untuk bersikap sedemikian dengan kepadaku. Tapi kenapa Aku merasa berharga di saat hanya ada Mbak Tania?.
Wanita itu sama sekali tidak mengganggu Kami. Ia lebih memilih tinggal di kampung. Meninggalkan Aku dan Angga di kota ini.
Mbak...Cepat kembali....
Aku sudah gak kuat Mbak.
Lirihku dalam hati.
Angga terus merangkulku dan tersenyum. Tanpa sengaja pandangan Kami bertemu satu sama lain. Kami terdiam sejenak. Begitu dekat. Wajahnya sangat dekat hingga Aku dapat merasakan hembusan napasnya menerpa wajahku. Kenapa seperti ini Aku jauh lebih damai? Lalu seketika Angga mengerjabkan matanya. Saat melirik ponselku kembali, Mbak Tania sudah mematikan ponselnya.
Otomatis dia langsung menjauhkan badannya dan bersikap seperti biasa.
Setelahnya hening. Tidak ada suara sama sekali. Dan mendadak canggung.
"Tetap jaga rahasia! Aku tidak mau mereka mengetahui status kita."
Aku hanya diam, bersandar di kaca mobil.
Kemana Angga membawaku?
Aku tidak tahu. Mungkin di rumah Mbak Tania? Atau di rumah orangtuanya?
"Kau paham?."
Angga mendengus kesal. Mungkin dia merasa Aku mendiaminya cukup lama hari ini.
Dan kalian tahu dia mengajakku kemana?.
Bersambung....