
HAPPY READING
.
.
.
Di seperjalanan pulang, fanya tak berbicara sepatah kata pun, ia terlalu takut ketika melihat wajah Rafael sampai saat ini masih terlihat begitu marah, dan diam adalah hal yang bagus untuk fanya saat ini,.
Begitu pun Rafael , rahangnya mengeras karna masih belum bisa meredakan emosinya. Sesekali ia kembali mengepalkan tangannya dan memukul stir dengan dengan keras hanya untuk meluapkan emosinya.
*******
Di sekolah SMA 8 SEJAHTERA...
" Loe duluan aja ke kantin nya,gue ke toilet dulu,kebelet pipis " Suruh nisa dengan tergesa-gesa , pasalnya bel istirahat sudah berdering, saat ini fanya dan nisa masih di kelas karna membereskan buku buku nya untuk di masukkan ke dalam bag.
" Gue nunggu loe aja,lagian belum laper juga kok " Ujar fanya dengan senyum manisnya.
" Ya udah, gue duluan yaa " Pamit nisa kemudian
" Oke "
Setelah membereskan buku nya, fanya memilih memainkan ponselnya terlebih dahulu, matanya berfokus pada HP nya, tapi tidak untuk pikiran serta hatinya.
Fanya begitu merasa lelah, pikirannya juga kacau, entahlah, semenjak kejadian 3 hari yang lalu , Rafael tidak bicara sepatah katapun padanya..bahkan cowok itu tidak sarapan seperti pagi pagi Sebelumnya . Fanya terlalu takut untuk meminta maaf, dia takut Rafael akan membentak nya kembali,. Iyaa, gadis itu terlalu tidak suka dalam hal di bentak.
" Kenapa kak arga harus marah?? Apa dia sari awan sampai harus mendiamkan aku sampai sekarang? " Gerutunya kesal.. " Aku kok jadi serba salah gini sih?? " Lanjutnya lagi dengan mata yang sudah berkaca kaca,. Tapi seperti biasa, ia selalu menahan diri agar tidak menangis. Dia tidak selemah itu.
Fanya baru tersadar, setelah 10 menit berlalu, nisa belum juga kembali ke dalam kelas.
" Tuh orang kemana sih?? Masak iya nisa ke kantin duluan? Wahh awas aja tuh, gak setia kawan banget sih " Fanya menggerutu pelan bersamaan dengan langkah nya yang menuju ke luar.
.......
Di tempat lain, sepuluh menit sebelumnya,...
Saat nisa baru keluar dari toilet, matanya menangkap sosok pria yang sangat di cintai nya sedang bercumbu mesra dengan siswi lain di depan gudang sekolah yang memang jelas terlihat dari toilet perempuan.
Penglihatan nisa tak salah, ia dengan jelas melihat wajah alex yang sedang berciuman dengan cewek lain.
Matanya langsung memanas merasakan sakit yang teramat dalam pada hatinya.. Sekarang.. Hati itu pecah berkeping keping sudah..
Air matanya lolos begitu saja tanpa permisi.. Ia ingin pergi saja dari tempat itu .. Tapi hatinya berkata lain.. Langkahnya dengan segera menghampiri tempat di mana alex yang sedang bermesraan.
" Jadi gini? " Teriak nisa lantang, yang membuat dua sejoli itu terkejut dan menghentikan aktivitas nya.
" Ni.. Nisa " Kaget alex yang dengan susah payah menelan ludahnya sendiri.
Dengan segera, nisa menarik tangan alex menjauh dari cewek yang masih terlihat bingung itu , dan berhenti di taman sekolah yang agak dekat dengan gudang..
. _._._._._.
Fanya yang sudah dari tadi mencari sahabatnya itu, seketika langkahnya terhenti saat melihat pertengkaran hebat sepasang kekasih yang jelas fanya sangat kenal dengan mereka...
Samar Samar ia mendengar suara dari nisa yang terdengar begitu pilu .
" Ku mohon... Jangan tinggalkan aku dengan cara yang seperti ini " Kata nisa sesenggukan.. Namun alex, cowok itu seakan acuh tak acuh pada nisa.
Sungguh sangat tidak punya hati bukan!? ..
Fanya yang sudah merasa marah karna alex bersikap seenaknya, hendak melangkah ingin menghampiri mereka, tangan nya sudah merasa gatal bersiap untuk menampar sang empu yang brengsek.
Namun langkah nya terhenti saat tangan nya di cekal oleh seseorang...
Fanya menoleh, ia mendapati Rafael yang menatap nya dengan wajah datar.
" Lihat... " Tukas Rafael dengan senyum miring nya, setelah itu melepas kan tangan fanya " Lihat.. Bucket list loe berakhir dengan cara yang seperti itu. Seharusnya loe sadar,.. Gak semua harapan loe itu terkabul dan berakhir dengan indah.. Sekarang loe tau kan rencana loe itu udah membuat sahabat loe hancur " Ucap Rafael sinis.
Dan fanya.. Gadis itu hanya diam, karna ia sadar kalau yang patut di salahkan atas kehancuran nisa adalah dirinya. Orang yang di anggap sahabat oleh nisa..
" Loe mikir gak sih fan, sebelum menginginkan sesuatu, loe bisa kan memikirkan nya lebih dulu, loe bisa memikirkan ending selanjutnya, seharusnya, loe mikir dulu gimana alex yang sebenarnya.. Pantes nggak alex yang bar bar itu pacaran sama nisa,? loe pasti tau kan kalau alex itu playboy kelas kakap " Kata Rafael lagi. " Gue cuma mau bilang, jangan suka mengatur kehidupan orang lain, nggak semua yang loe inginkan itu bakal loe dapetin.. Berhenti bersikap seakan semua baik baik saja, berhenti ngelucon, karna nanti akan ada saatnya dunia yang menertawakan loe, dan dunia yang akan menciptakan lelucon buat loe" Sengit Rafael lagi.
Fanya yang awalnya menunduk, akhirnya mendongak, membalas tatapan Rafael, hingga tatapan mereka bertemu.
" Udah dari dulu kak,.. " Fanya balas tersenyum sarkas, " Udah dari dulu dunia menertawakan ku, udah dari dulu dunia membuat lelucon terhadap hidupku,. Dunia mempermainkan ku kak.. Aku melakukan itu semua, bucket list itu, harapanku, aku ingin mengabulkan semuanya sebelum dunia benar benar mengambil hidupku.. Aku ingin semua nya terkabul sebelum aku akhirnya benar benar meninggalkan dunia ini . " Kata fanya berkaca kaca, tapi ia masih bisa tersenyum manis.
" Dan sekarang, ucapan kak arga benar, semua harapanku itu tidak akan pernah bisa berakhir dengan bahagia, tidak akan pernah " Lanjut fanya menekankan setiap kalimatnya, setelahnya , gadis itu pergi begitu saja meninggalkan Rafael yang masih mematung karna tak percaya.
Rafael menatap nanar punggung fanya yang berlari kecil semakin tak terlihat dari pandangannya..
" Jangan bilang....!? " Gumam Rafael mengacak rambutnya frustasi..
Ia dengan cepat menhampiri tempat di mana alex dan nisa bertengkar,.
" Yang gentle dikit dong lex " Seru Rafael yang tanpa aba aba langsung menerkam rahang alex dengan keras hingga membuat alex tersungkur jatuh.
Nisa menjadi kaget, begitu juga alex,. Ia tak habis pikir Rafael akan menerkam nya, sebagian siswa yang melihat itu hanya berbisik tak jelas, karna mereka tau, setelah ini akan ada adu tinju antara Rafael dan alex.
" Kenapa loe nyakitin nisa? Huh!? " Sergah Rafael emosi.. Sementara alex, dia semakin bingung dengan tingkah Rafael yang tiba tiba membela orang lain..
Padahal sebelumnya, Rafael bersikap bodoh amat jika alex melakukan hal sepeti itu..
Alex lebih memilih diam dan tak membalas pukulan dari sahabat nya itu. Dan doni, yang sepertinya baru saja keluar dari perpustakaan , tiba tiba saja melihat Rafael memukul alex hanya karna belain seorang cewek , ia buru buru menghampiri kedua sahabatnya itu.
" Ada apa ini? " Tanya doni langsung.
Rafael juga alex sama sama diam, dan dengan segera Rafael pergi begitu saja dari taman itu..bukan menuju kelas atau pun atap, melainkan menuju parkiran.
******
Motor Rafael berhenti tepat di sebuah rumah besar mewah bernuansa Paris .
Dia bernafas lega saat melihat mobil yang terparkir di halaman rumah itu, yang artinya, orang yang di cari oleh Rafael ada di dalam rumah itu..
Dengan segera , Rafael turun dari motor dan berlari kecil melangkah di teras rumah itu.
Setelah 2 kali memencet bel, pintu langsung di buka oleh dua pelayan di rumah itu.
" Papa irsyad ada kan mbak? " Tanya Rafael langsung.
" Tuan besar ada di dalam tuan, mari saya antar " Jawab pelayan itu lembut.
_._._._.
" Ada apa Rafael? Apa fanya menyusahkan mu? " Tanya irsyad lembut. Pasalnya Rafael sudah duduk berdampingan dengan irsyad di ruang keluarga.
" Tidak sama sekali pa " Jawab Rafael.
" Lalu? "
" Ada yang mau Rafael tanyakan " Ucap Rafael serius,. Ia menunduk kemudian menghela nafasnya dengan pelan.
" Tanyakan saja "
" Sebenarnya ada apa dengan fanya pa? Mengapa dia berbicara seolah olah dia akan meninggal " Tanya Rafael to the point.. Dia menatap irsyad dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.
Irsyad diam tak menjawab, matanya berubah menjadi sendu..
" Pa jawab Rafael pa, Rafael berhak tau semuanya, karna Rafael suami fanya "
" Sebenarnya,.. Sejak kelas 6 SD, fanya menderita penyakit lupus " Jelas irsyad kemudian.
" Lupus? " Ulang Rafael yang merasa asing dengan penyakit itu.
" Iyaa, lupus, di mana penyakit itu dapat menyebabkan peradangan di beberapa bagian tubuh ,sendi ,ginjal , hingga otak.
Seseorang yang mengidap penyakit tersebut , sistem imun nya justru menyerang sel , jaringan, dan organ tubuh yang sehat. " Jelas irsyad, setelah itu menghela nafasnya.
" Yang papa tau, siapapun yang mengidap penyakit lupus jika sudah beberapa tahun, maka bisa menyebabkan kematian, dokter yang menangani fanya tidak bisa berbuat lebih, dan hanya bisa memberikan resep obat secara rutin , mencegah munculnya gejala, Serta selalu memperingati fanya untuk menerapkan pola hidup sehat, ... Fanya gadis yang begitu kuat, dia hanya akan mengalami gejala kecil, seperti demam tanpa sebab yang jelas, sari awan, dan lebih seringnya adalah kelelahan tanpa sebab, tidak seperti penderita lain yang mungkin lebih parah dari fanya " Jelas irsyad lagi.
" Apa sudah tidak ada jalan pa, untuk menyembuhkan fanya? " Tanya Rafael terdengar putus asa.
" Sebenarnya ada.. Tapi fanya tidak pernah mau jika itu di paksakan..dia bilang, biarlah semua berjalan apa adanya.. Dan papa, papa hanya bisa menuruti keinginannya itu.
Papa orang yang egois, papa tidak pernah mau fanya merasa kesakitan, saat fanya mulai masuk kelas SMP, papa menyuruhnya untuk home schooling saja, dan seperti biasa, dia hanya menurut,. 3 tahun gadis itu menjalani hidupnya hanya dengan berdiam diri di rumah, papa tidak pernah mengizinkannya keluar, karna papa takut fanya akan kelelahan dan penyakitnya bisa semakin parah, papa tidak mau itu terjadi " Gumam irsyad tertunduk lesuh.
Dan Rafael, dia hanya diam, tak tau lagi harus bagaimana..
" Maafkan Rafael pa " Hanya itu.. Hanya itu yang keluar dari bibir Rafael.
" Kau tidak bersalah.. Kenapa harus meminta maaf, yang salah dalam semua ini, perjodohan ini adalah papa, sebenarnya kalian akan dinikahkan saat sudah beranjak dewasa, tapi saat halil juga mengetahui keadaan fanya, dia meminta untuk pernikahan ini di percepat.. Maafkan kami yang telah merusak masa muda kamu El, "