My Cute Wife

My Cute Wife
ice cream



HAPPY READING


.


.


.


Mata fanya terbuka secara perlahan.. Ia memijat mijat keningnya yang masih terasa pening,. Matanya menangkap langit langit kamar yang jelas itu adalah kamar apartemen nya.


" Kok udah di sini? " Gumamnya pelan,


" Apa kemaren cuma mimpi " Lanjutnya lagi tak yakin.. Tidak itu bukan mimpi, ia masih merasakan berat di kantong mata miliknya, badannya juga terasa ngeri.


Dengan pelan, fanya bangun dari pembaringannya. Ia melihat seluruh tubuhnya... Dan... Fanya membulatkan bola matanya karna pakaiannya sudah di ganti menjadi pakaian tidur.


" Kenapa bisa aku di sini? Bukanya kemaren aku ada di makam mama, dan sekarang,? Apa ini? Kenapa bajuku sudah di ganti? " Berbagai pertanyaan meluncur dari bibir mungil gadis itu.


" Udah bangun " Ujar suara berat tiba tiba,. Ia mendapati Rafael yang melangkah mendekat ke arahnya..


" Jangan coba mendekat " Fanya dengan segera menjulurkan kedua tangannya ke depan mengisyaratkan agar Rafael tak melangkah ke arahnya.


" Kenapa? " Tanya Rafael bingung.


" kakak jahat, kenapa kakak menodai ku, dasar kejam, brengsek, kenapa kak Arga mengambil kesempatan di dalam kesempitan, aku benci kak Arga " Teriak fanya yang tidak tinggal diam, dia melempar bantal dengan keras ke arah Rafael.


Rafael terkekeh pelan, kemudian dengan santai ia menghampiri fanya, duduk di tepi ranjang samping gadis itu.


" Aku bilang jangan mendekat, " Teriak fanya lagi beralih mendorong tubuh Rafael dengan sisa tenaganya . Tapi tubuh Rafael tak bereaksi sama sekali .


" Loe apaan sih? Siapa juga yang memperkosa loe " Rafael terkekeh kecil.


Fanya diam sesaat, benar juga, ia tidak merasakan sakit di bagian bawahnya, seperti yang sering ia dengar..


" Jadi gak di perkosa? " Tanya fanya polos,. Beralih menatap mata Rafael, mencari kebenaran di sana.


" Ya nggak lah, loe kan masih kecil, mana berani gue " Ujar Rafael tertawa meledek.


" Aku udah dewasa yaa " Fanya merasa tak Terima, pipinya berubah memerah karna merasa sangat malu atas tingkah nya tadi. " Terus kenapa baju ku lain? " Tanya fanya lagi sambil menatap baju tidur yang di pakainya saat ini.


" Kemaren seragam loe basah, jadi gue ganti dengan baju tidur, " Jelas Rafael.


" Jadi... " Ucapan fanya menggantung, ia menggigit bibir bawahnya sendiri karna merasa malu sebab Rafael sudah melihat seluruh tubuhnya.


" Iaa ... Gue udah liat semuanya " Kata Rafael terkekeh.


" Ya udah, ya udah, sekarang sarapan dulu, dari kemaren loe belum makan kan? " Kata Rafael langsung. Ntah kenapa sikapnya sekarang sudah agak melembut.


Fanya mendengus, ia kembali mengingat kejadian kemarin, di mana Rafael yang membentaknya dan dengan begitu tega mengusirnya..


Fanya dengan segera kembali membaringkan tubuhnya dengan posisi miring membelakangi Rafael dan dengan segera menarik selimut menyembunyikan seluruh tubuh serta kepalanya di dalam selimut itu.


" Ada apa?? " Tanya Rafael yang merasa tak mengerti.


" Aku masih marah yaa ke kakak, kak Arga jahat tau gak? " Ketus fanya dengan suara serak, sepertinya gadis itu kembali ingin menangis.


Rafael menghela nafasnya dengan pelan . Setelah itu ikut membaringkan tubuhnya di samping fanya, dan entah apa yang merasukinya sekarang, dengan hangat Rafael memeluk tubuh mungil istrinya itu. Mendekap nya dengan erat,..


Fanya merasa begitu nyaman berada di dalam pelukan itu, sangat nyaman. Bahkan ia berharap, jarum jam berhenti untuk berdetak saat ini juga.


Ia tak bergerak sama sekali, juga tak membalas,. Ia hanya ingin merasakan kenyaman itu, hanya itu.


" Gue minta maaf soal kemaren " Kata Rafael datar, tapi masih erat mendekap tubuh fanya.


" Kalau gak ikhlas gak usah minta maaf" Cetus fanya dengan nada kesalnya.


" Ikhlas gue.. Lagian kemaren gue gak sengaja ngebentak serta ngusir loe, sumpah deh " Rafael berusaha meyakinkan.


" Gak sengaja gimana?? Orang udah jelas kok kemaren tangan kakak yang narik aku keluar, dan itu jelas bukan setan yang menyamar jadi kak Arga " Celetuk fanya pelan. Kepalanya masih tersembunyi rapat di dalam selimut tebal itu.


" Gue kemaren emosi fan, dan gak bisa nahan amarah gue "


Fanya diam tak menjawab..


" Di maafin kan? " Tanya Rafael lagi.


" Gak mau "


" Kok gak mau? Gue kan suami loe, kata ustad gak boleh loh marah sama suami"


Rafael menakuti.


" Dan kata pak ustad juga gak boleh nyakitin hati istri, " Timpal fanya yang masih terlihat kesal.


" Iye.. Iye.. Gue yang salah, nggak akan ke ulang lagi kok " Rafael memilih mengalah saja, dia benci berada di situasi seperti saat ini, di mana ia yang selalu di pojokkan,. Tapi untuk saat ini, Rafael mengenyampingkan egonya karna rasa bersalah nya pada fanya.


Fanya memilih diam saja, tak mau menanggapi Rafael lagi.


" Gimana sebagai permintaan maaf gue, sekarang kita gak usah sekolah dulu, dan pergi ke tempat ice cream, loe mau ice cream kan " Akhirnya ia menemukan bujukan ampuh juga .


Fanya yang mendengar kata ' ice cream' dengan segera membuka selimut nya, dan menghadap ke arah Rafael dengan wajah yang berbinar..


Jarak mereka benar benar dekat bahkan sangat dekat.


" Ice cream? " Tanya nya sumringah.


" Iyaa ice cream " Rafael tersenyum meyakinkan.


" Kak Arga gak lagi bohong kan? " Tanya fanya memicingkan matanya tanda tak yakin.


" Serius gue, mau gak? " Tawar Rafael dengan menaik turunkan alisnya menatap fanya.


" Mau " Girang fanya " Sekarang kan? Ya udah yuk " Fanya bangun dari pembaringannya, tak peduli walau sudah melepas pelukan dari seorang Rafael, kali ini, ice cream jauh lebih penting.


" Loe sarapan dulu, baru kita berangkat " Rafael juga ikut duduk dan mengambil mangkok berisi bubur untuk menyuapi fanya.


" Oke "


" Mudah sekali membujuk gadis ini, masak cuma ice cream doang marahnya udahan.. Menarik, beda banget sama pacar pacar gue, yang kalau marah harus di bujuk dengan berbagai aksesoris mahal " Batin Rafael sambil mencibir.


******


" Gue duduk di sana aja yaa " Kata Rafael menunjuk salah satu meja tepat di pojok ruangan saat sudah menaruh 2 mangkok ice cream versi jumbo di salah satu meja yang fanya tempati sekarang.


" Oke " Fanya mengerti, karna memang pernikahan ini di rahasiakan, Rafael pasti was was jika ada salah satu dari teman sekolah melihat mereka bersama. Sedang dalam sejarahnya, Rafael tidak pernah dekat dengan fanya.


" Kalau nanti aku nambah gak papa kan kak? " Tanya fanya masih berbinar dengan mulut yang sudah penuh dengan ice cream itu.


" Terserah kau saja " Jawab Rafael tersenyum tipis, setelah itu melangkah ke meja yang tadi ia tuju.


......


2 mangkok ice cream dengan varian rasa vanilla juga coklat sudah ludess hanya dalam waktu 10 menit.


Fanya begitu puas memakan ice cream itu secara langsung, tidak seperti sebelumnya, ia selalu memakan apa saja hanya di dalam rumah, tidak seperti saat ini .


" Mbak mau pesen ice cream lagi? " Ujar seseorang tiba tiba, menghampiri fanya dengan satu mangkok ice cream di tangannya.


Fanya menoleh, ia mendapati seorang pria kuliahan dengan wajah kuning langsat nya juga senyum manis yang terus mengembang di bibir pria itu.


Fanya merasa pria itu tak bicara dengan nya, makanya ia menoleh celingak celinguk mencari orang lain yang mungkin berdiri tak jauh dari nya.


" Saya bicara sama mbak " Kata pria itu menyadari kebingungan fanya.


" Saya? " Tanya fanya kemudian menunjuk dirinya. Dan pria itu mengangguk mantap.


" Duduklah " Titah pria itu.. Entah karna apa, fanya malah menurut untuk kembali duduk, dan melupakan kalau dirinya tadi hendak ingin memesan kembali.


Pria itu juga duduk di hadapan fanya.


" Makanlah " Katanya menyodorkan satu mangkok ice cream tadi pada fanya.


Fanya sempat ragu... Tapi hatinya tidak bisa menolak dengan ice cream itu.


" Tidak apa apa, tadi aku ingin sekali makan ice cream tapi udah gak nafsu gitu aja " Kata pria itu meyakinkan fanya.


" Bener gak apa apa nih kak? " Tanya fanya lagi.


" Iyaa, kapan lagi dapet gratisan " Ujar pria itu tertawa.


" Terima kasih " Akhirnya fanya menerima ice cream itu dan kembali memakannya dengan begitu lahap, tak peduli jika pria di hadapan nya itu menatapnya dalam dengan senyum yang terus mengembang.


" Nafsu kakak rendah yaa " Ucap fanya masih terus menyuapkan ice cream nya ke dalam mulut nya itu.


" Rendah gimana? " Tanya pria itu terkekeh.


" Iyaa, masak sama ice cream seenak ini gak nafsu sih, kalau aku mah, paling suka sama ini, mood ku yang berantakan akan hilang kalau udah makan ice cream, apalagi yang rasa coklat , beeuh.. Enak banget, sumpah, " Celoteh fanya tanpa merasa canggung .


" Semudah itu? " Tanya pria itu tertawa


" Apanya? " Fanya balik bertanya.


" Apa semudah itu ngembaliin mood kamu? "


" Iyaa lah, kan kalau hati ,pikiran , ataupun badan lagi panas, di ademin pake ice cream aja, kan ikutan adem nantinya " Ucap fanya asal


" Unik " Gumam pria itu terus menatap fanya. Dan fanya jelas mendengar ucapannya.


" Namanya juga ice cream kak, yaa pasti unik lah "


" Nama kakak siapa? " Tanya fanya lagi.


" Aku arka,.. Kalau kamu?? " Jawab arka sekaligus bertanya.


" Aku fanya kafta dinata, panggil saja fanya, atau .....aku sih lebih suka kalau di panggil ata " Kata fanya panjang lebar.


" Ata??? Bukanya terkesan kaya manggil anak kecil yaa? "


" Nggak juga, tapi kakak bener, aku kan lebih kecil dari kakak, emmm, tapi setelah di pikir pikir, panggil aja aku fanya "


" Ngegemesin banget sih " Gemas arka dengan tawa renyahnya.


" Setelah selesai makan , nanti aku ada cerita lelucon buat kakak " Kata fanya sekilas menatap arka dengan senyum manis..


" Kenapa gak sekarang aja " Arka mulai tak sabar, karna ice cream yang di makan fanya masih tinggal separuh, mungkin karna gadis itu selalu berceloteh.


" Sekarang gak bisa, kan aku lagi makan, pamali tau kak, kalau makan sambil ngomong " Jawab fanya dan itu berhasil membuat arka tertawa..


Fanya mengernyitkan alisnya karna tak mengerti dengan tawa arka. Dia juga sedikit malu, karna sebagian pengunjung sekilas menatap ke arah mereka.


" Bukannya dari tadi kamu udah berceloteh yaa " Ucap arka masih tertawa.


" Iyaa juga sih " Fanya hanya bisa nyengir kuda.


Rafael yang baru saja keluar dari toilet, tatapan nya langsung tertuju pada fanya yang bersenda ria dengan seorang pria.


Tangan nya mengepal, entah karna fanya istrinya berbicara akrab dengan cowok lain atau malah hal lain??


Tapi untuk saat ini, dia tak memikirkan itu, dengan segera ia menghampiri dua muda mudi itu. Emosinya sudah meluap luap.


" Pulang sekarang " Tekan Rafael yang tanpa menunggu aba aba langsung menarik pergelangan tangan fanya untuk segera menariknya pulang.


" Kak.. Sebentar " Fanya berusaha berontak. Tapi Rafael tak memperdulikan itu.


" Woyy, santai dong " Arka juga ikut tersulut emosi saat melihat fanya yang di tarik paksa secara tiba-tiba.


Rafael memberhentikan langkahnya, ia menatap arka dengan begitu tajam nya.


Tangannya masih tak lepas menggenggam tangan fanya.


" Jangan kasar juga kalik narik fanya nya " Ujar arka tersenyum remeh.


" Apa peduli loe " Sergah Rafael tak Terima.


" Gue peduli sama fanya " Ucap arka enteng,. Dan ucapan arka barusan malah membuat Rafael semakin emosi.


" Kak, pulang aja yuk " Ajak fanya langsung, karna melihat wajah Rafael yang tak bersahabat,. Dia jelas tau kalau Rafael tipe cowok yang suka emosi dan akan berujung berkelahi.


" Ehh loe siapanya? " Ucap Rafael balas menatap remeh ke arka , ia melepas genggaman nya dan kemudian berdiri tepat di hadapan arka.. Tinggi mereka sejajar, jadi... Mata kedua pria itu sudah saling menatap dengan tatapan yang sama sama ingin membunuh.


" Kalau gue yang nanya gitu , loe bisa jawab gak? " Arka malah makin menantang.


" Dia is_" Hampir saja Rafael membocorkan semuanya. " Dia temen gue, dan gue gak mau dia deket dengan orang asing kaya loe " Kata Rafael kemudian.


Fanya merasakan perih yang luar biasa di ulu hatinya saat mendengar ucapan Rafael tadi,. Dia pikir Rafael hanya akan merahasiakan pernikahan mereka di depan orang orang yang Rafael kenal, tapi tidak, Rafael terlihat enggan untuk mengakui nya sebagai istri kepada satu orang tak di kenal sekalipun. Sadar fanya.. SADAR..


" Cuma temen kan?? Emang ada, undang undang yang melarang seorang pria dilarang dekat wanita, gak ada kan? Jadi gue berhak dong buat ngedeketin fanya sekalipun, ups, sekarang mungkin emang ngedeketin , tapi gak tau besok, mungkin udah gue pacarin,. Temen loe unik, cantik juga,. Gue rasa, gue udah jatuh hati ke dia " Kata arka yang tatapannya kemudian bertemu dengan tatapan fanya.


Rafael benar benar sudah tidak bisa menahan emosinya saat ini,. Dengan cepat ia mendaratkan pukulan keras pada wajah arka hingga membuat arka hampir terjatuh, dan sepertinya, ujung bibir kirinya sedikit sobek .


Tatapan semua orang sudah tertuju cepat pada mereka.. Bahkan banyak dari mereka yang sudah berbisik tidak jelas.


Fanya yang sudah panik, merasa bingung harus bagaimana.


Sementara arka yang merasa tak Terima juga membalas pukulan dari Rafael.


Jadilah mereka sekarang saling baku hantam satu sama lain . Menjatuhkan barang barang juga meja serta kursi yang ada di sana,.


" Kak arga stop, " Teriak fanya berusaha melerai. " Berhenti kalian " Teriak fanya lagi,. Tapi dua pria itu seakan sudah tak mendengar dan masih asik saling memukul satu sama lain.


Pelanggan yang lainpun tidak ada yang melerai, mereka hanya menonton, dan juga ada yang antusias merekam perkelahian itu .


Sampai akhirnya dua satpam menghampiri perkelahian itu dan dengan sekuat tenaga berusaha untuk melerai.


Rafael dan arka sudah berhasil di pisahkan .


" Ikut kami ke kantor sekarang juga " Titah satpam itu, sambil membopong salah satu dari mereka.


" Lepaskan saya, saya akan ganti rugi akan hal ini "gertak Rafael menolak keras dan melepas diri dari sang satpam, setelah itu, dengan segera ia mengeluarkan beberapa uang tunai merah dari dalam dompetnya, sekitar 7 juta mungkin , dan menaruhnya begitu saja di atas meja.. Setelahnya, ia dengan cepat menarik tangan fanya melangkah pergi dari tempat itu.