
HAPPY READING
.
.
.
Fanya dan nisa memilih untuk tetap di kelas saja, padalah 3 menit yang lalu, bel istirahat sudah berdering, bukan karna mereka tidak lapar, tapi karena fanya yang memilih untuk istirahat dan tidur dengan beralaskan tangannya, sedangkan nisa, gadis itu jadi tidak tega untuk meninggalkan fanya sendirian di dalam kelas. Dia memilih memainkan ponselnya saja, 'dari pada bosan' pikirnya juga .
" Nisa " Panggil seseorang tiba tiba, si pemilik nama menoleh. Nisa sempat kaget saat melihat Alex, Rafael, juga doni yang berdiri di ambang pintu kelas.
" Kakak manggil aku? " Tanya nisa memastikan.
" Iya " Jawab Alex yang langsung melangkah menghampiri nisa di susul oleh Rafael juga doni di belakangnya.
Sekilas Rafael menoleh ke arah fanya yang tertidur pulas dengan wajah yang terlihat sedikit pucat.
" Ada apa kak? " Tanya nisa langsung.
" Gue mau ngomong hal penting sama loe " Ujar Alex begitu serius,.
" Apa? " Tanya nisa lagi.. Alex dengan tiba tiba menyentuh tangan nisa seraya membantu nisa berdiri agar menghadap ke arahnya, dan nisa hanya menurut kaku dengan hati yang terus berdebar tak karuan.
" Nis, gue suka sama loe, gue jatuh cinta sama loe, gue pengen loe ngelengkapin semua kekurangan yang ada di diri gue, mau gak loe jadi pacar gue " Kata Alex dengan senyum manisnya.
" Kaka serius nembak aku? " Tanya nisa tak percaya. Hatinya benar benar terasa berbunga bunga saat ini .. Ia benar benar merasa terbang tanpa merasa di hempaskan sekalipun.
" Gue gak pernah seserius ini kali nis " Alex berucap terdengar begitu tulus di telinga nisa.. Padahal, dia juga merupakan buaya darat.
" Gimana? Loe mau kan? " Tanya Alex sekali lagi.
" Mau kak " Jawab nisa langsung, wajahnya benar benar terlihat begitu bahagia.
Alex dengan segera memeluk tubuh nisa karna juga bahagia, jangan salah, cowok itu bahagia bukan karna nisa melainkan karna untuk yang pertama kalinya dia menang taruhan dari Rafael, dan selama sebulan ini, Alex bisa meminta apapun pada sahabat tengilnya itu secara gratis. Dia juga bisa merasakan pelukan serta ciuman gratis dari seorang nisa.
Fanya merasa terganggu dengan suara riuh di sekitarnya, . Dengan sangat terpaksa ia membuka matanya dan pandangan pertama kali yang dia lihat adalah nisa yang berpelukan dengan Alex,.. Ia mencerna apa yang terjadi sebenarnya... Dan setelahnya , bibirnya ia tarik ke atas membentuk sebuah senyuman.
" Selamat nis " Ucap fanya tiba tiba. Ia juga sangat bahagia melihat sahabat nya bahagia .
" Loe bangun? Sorry yaa, gue ngeganggu " Nisa terkekeh kecil.
" It's Oke " Balas fanya masih tersenyum.
" Terima kasih Kak " Ujar fanya kemudian pada Alex , dan Alex hanya tersenyum tanpa peduli dengan perkataan fanya, saat ini dia benar benar merasa menang.
Alex dan nisa kembali berpelukan , tak menyia nyiakan waktu, fanya dengan segera mengabadikan momen ini menggunakan Polaroid PIC- 300P instans film analog camera .
Di mana kamera ini fanya bisa mengambil gambar dan mencetak saat itu juga, keunggulan dari kamera ini terletak pada fokusnya yang begitu tajam, hasilnya pun terlihat sangat terkesan.
kamera ini khusus ia pakai untuk melengkapi semua daftar keinginan nya..
Setelah gambar 2 sejoli itu tercetak, dengan segera, fanya menempelkan foto itu di dalam buku diary nya samping kata yang bertuliskan ' NISA DAN KAK ALEX MENJADI SEPASANG KEKASIH'
" Huft, baru satu halaman yang terkabul, beri aku kesempatan Tuhan " Gumam fanya lirih,.
*****
" Terima kasih Kak Arga " Ucap fanya setelah Rafael sudah di apartemen,. Gadis itu memang menunggu Rafael yang belum juga pulang padahal jam sudah menunjukkan pukul 23.08 hanya untuk mengucapkan kata Terima kasih.
Rafael yang sepertinya begitu kelelahan memilih mengabaikan fanya dan melewatinya begitu, dengan segera Rafael menyandarkan kepalanya di sofa.
" Kaka hebat yaa, bisa dengan mudah nyatuin kak Alex dengan nisa, sungguh, aku berhutang budi pada kakak " Celoteh fanya yang masih terlihat bahagia.
" Loe bisa diem gak sih " Bentak Rafael yang merasa emosi. Fanya kaget seketika mendengar teriakan dari Rafael , pikirannya jadi melayang ke mana mana, takut takut Rafael akan menyiksanya, atau bahkan Rafael bisa dengan mudah membunuhnya, apalagi saat ini mata Rafael benar benar memerah karna terlihat emosi, dan fanya, dia tidak mau mati sia sia di tangan suaminya sendiri , mbak ina juga ijin menginap di rumah anaknya " Gue lagi capek " Lanjut Rafael menekankan kalimat nya.
" Oke oke.. Lagian cuma mau bilang makasih doang kok " Celetuk fanya yang karna takut amukan Rafael, fanya dengan segera berlari melangkah ke ranjang dan meringkuk tidur dengan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya.
" Aku belum mau mati Tuhan " Batin fanya memejamkan matanya dengan erat...
******
Sudah tiga minggu berlalu Rafael dan fanya tinggal satu atap .
Mereka sudah terbiasa dengan kehadiran satu sama lain.
Walau sikap Rafael pada fanya belum juga berubah, sikap dingin dan ketus yang selalu Rafael tampakkan pada istri kecilnya itu . Tapi fanya bersikap biasa saja dengan sikap suaminya itu.
******
Fanya yang baru saja pulang dari sekolah melangkah gontai memasuki apartement, perutnya sudah berontak minta di isi, tapi mbak ina baru mengabari kalau beliau masih berada di super market untuk berbelanja bulanan.
Akhirnya fanya memilih menunggu saja.
Dengan pelan jari2 lentik milik fanya menekan pasword apartemen yang sudah hampir satu bulan ia tempati itu.
Mata fanya membulat sempurna saat melihat Rafael yang asik berciuman dengan seorang wanita di sofa tepatnya di ruang tengah itu.
" Kak argaaaa " Teriak fanya yang sudah terlihat begitu emosi, Rafael dan gadis itu dengan segera menghentikan pungutan nya dan menatap kaget ke arah fanya.
Dengan amarah yang luar biasa, fanya menjauhkan gadis itu dari Rafael dan dengan segera menjambak rambut gadis itu dengan begitu kuatnya..
" Aduhh... Sakitt " Keluh gadis itu.. Tapi fanya bersikap seakan tak peduli, ia masih berkutat menjambak rambut gadis itu, dan si gadis tidak bisa melawan sama sekali, entah terlalu kaget, heran, juga merasa sakit.
" Apa yang loe lakuin fanya? " Sentak Rafael yang dengan cepat menjauhkan fanya dari gadis itu.
" Kalian berciuman, dan aku nggak suka" Balas fanya membentak.fanya jelas tidak kenal dengan gadis itu, karna dia bukan murid dari sekolah SEJAHTERA, Terlihat dari Pakaiannya juga beda dengan Rafael yang masih berseragam dan gadis itu memakai dress sepaha.
" Ini sungguh sakit El " Keluh gadis itu, yang tak lain bernama shasha.
" Maaf sayang, sebaik nya kau keluar dulu , aku harus berbicara dengannya " Titah Rafael kemudian menunjuk fanya dengan tatapan membunuhnya. Shasha mengangguk mengerti, dia dengan segera keluar dari apartement milik kekasihnya itu.
" Loe gilak yaa " Sentak Rafael memegang dengan kuat pergelangan tangan fanya, bahkan sangat kuat hingga fanya meringis kesakitan.
" Kak Arga yang gila, aku ini istri kakak, aku gak pernah rela jika ngeliat kakak berciuman dengan wanita lain di depan mata kepala aku sendiri, termasuk di tempat ini " Fanya berteriak dengan tangis yang sudah pecah..
Dan untuk pertama kalinya, Rafael melihat seorang fanya menangis.
" Dengan loe bersikap kaya gini, loe bisa nge bongkar semuanya " Tekan Rafael yang masih berusaha untuk menahan semua amarahnya. Satu tangannya lagi ia gunakan untuk mencengkram pundak fanya dengan kuatnya.
" Aku minta maaf , aku salah,. Lepaskan aku dulu kak, jangan bersikap kasar kaya gini " Suara fanya melemah, untuk pertama kalinya dia di bentak juga di perlakukan dengan kasar oleh seseorang, dan itu Rafael, suaminya sendiri.
" Kata maaf saja tidak bisa mengembalikan ciuman panas kami " Sentak Rafael lagi .
" Kak.. Maaf " Lirih fanya lagi.. " Jangan marah kaya gini " Lanjut nya lagi sesenggukan.
" Gue gak mau liat muka loe lagi, sekarang loe keluar " Bentak Rafael menarik tangan fanya dengan kasar menuju ke luar apartement.
Fanya hanya menurut, dia dengan berlari kecil keluar dari base ment dan dengan air mata yang terus berderai.
Seharusnya dia yang marah, tapi kenapa keadaan malah berbalik seperti ini, seharusnya Rafael yang meminta maaf, tapi juga fanya yang akhirnya meminta maaf.
Fanya ingin pulang ke rumah nya saja, tapi dia takut irsyad akan khawatir..
Dia kemudian memutuskan untuk pergi ke satu tempat yang bisa membuatnya tenang, yaa hanya tempat itu...
******
Pukul 21.08 ....
Fanya belum juga kembali ke apartement, dan ina malah semakin bertambah khawatir.
Karna tadi sore pun ina sudah menanyakan fanya pada pelayan di rumah irsyad dan mereka semua mengatakan kalau fanya tidak sana, sedang irsyad sudah berada di rumah,.
Ina mencoba menghubungi keluarga Rafael, dan halil bilang fanya tidak berkunjung ke sana sore tadi...
" Nona dimana? " Gumam ina yang terlihat begitu panik, ia terus saja mondar mandir sambil menggigit kukunya hanya untuk melampiaskan kekhawatiran nya.
Seperti biasa, Rafael juga baru tiba di apartemen jika sudah jam segini, bukan mencari fanya, melainkan asik berbalapan liar dengan para musuhnya.
" Apa nona tidak pulang bersama tuan?" Tanya ina langsung, dia bertambah panik saat melihat Rafael pulang sendirian.
" Tidak, mungkin gadis itu sudah berada di rumah nya sekarang " Jawab Rafael yang merasa bodoh amat.
" Tidak tuan, nona tidak ada di rumah utama, dia juga tidak ada di rumah keluarga tuan, kalau tuan irsyad mengetahui semua ini, beliau bisa marah besar.. Saya mohon tuan, temukan nona, dia mudah demam jika sudah lelah " Pinta ina memohon, dia sudah tidak peduli kalaupun Rafael akan memecatnya sekarang juga. Dia panik saat belum mengetahui di mana fanya saat ini.
" Apa mbak sudah menelponnya? " Tanya Rafael yang juga terlihat khawatir.
" Sudah.. Tapi tak di angkat " Jawab ina masih cemas.
" Kemarikan ponselnya " Rafael meminta ponsel ina, dan dengan cepat ina memberikan ponselnya itu.
****"
" Permisi pak, " Sapa Rafael pada penjaga makam, yaa sekarang dia sudah berada di TPU.
" Iyaa mas, ada yang bisa di bantu? " Tanya bapak itu ramah.
" Begini, apa bapak tidak melihat gadis cantik dengan tinggi se dada saya? Dan yaa, bando pink yang melingkar di rambutnya " Tanya Rafael berusaha mengingat apa yang di pakai oleh fanya
" Dia juga memakai seragam sekolah pak " Imbuh Rafael lagi.
" Oohhh, mbak cantik itu,. Dia ada di makam ibunya mas, sudah dari tadi siang dia berada di situ, menangis pula, padahal sebelumnya, jika dia kesini, dia selalu tersenyum ceria dan tak lupa untuk menyapa saya.. Tapi untuk saat ini, sepertinya gadis periang itu menampakkan topeng yang sebenarnya" Jelas bapak itu yang terlihat begitu prihatin.
Rafael ikut mengedarkan pandangannya, mencari sosok yang menyusahkan baginya. Dan benar saja, Rafael mendapati fanya yang memeluk makam yang tak lain adalah makam sang mama dengan kondisi yang acak acakan.
Tanpa menunggu lama, Rafael berlari menghampiri fanya..
Ia jadi sangat merasa bersalah saat mendapati fanya yang tertidur dengan wajah yang sudah pucat dan mata yang membengkak.
" Fanya " Panggil Rafael pelan, ia menyentuh pundak istrinya itu, bajunya benar benar dingin, setelah itu tangan Rafael berpindah menyentuh pipi fanya, dan yaa pipi gadis itu sangat sangat dingin, bibir yang biasanya berwarna pink alami itu, kini sudah berubah menjadi abu abu..
" Bertahan lah.. Kita akan pulang " Ujar Rafael seraya mengangkat tubuh mungil fanya ke dalam dekapannya.
Rafael menatap wajah polos itu dengan rasa bersalah yang amat sangat besar.
Dia jadi menyesal karna sudah membuat fanya menjadi seperti ini .
Entahlah dia juga tidak habis pikir dengan pikiran nya saat ini, karna pada dasarnya, seburuk apapun dia melakukan kesalahan, tak pernah terlintas di benaknya kata menyesal atau hanya kata minta maaf pada lawan yang di celakainya itu
" Aku benci kak Arga " Racau fanya tapi masih dengan mata yang terpejam.
" Seharusnya aku yang marah, tapi kenapa malah aku yang di usir " Racau nya lagi dengan air mata yang sudah mengalir.. Sepertinya gadis itu masih sedikit sadar..
" Semua memang tidak adil " Gumam fanya lagi, dengan sisa tenaga yang dia punya, dia memukul dengan pelan dada Rafael. " Aku membencimu " Katanya yang masih sesenggukan. Rafael membiarkan nya.. Ia juga yang salah.
"*****
Ina sedikit lega saat melihat Rafael yang sudah membawa fanya ke dalam gendongannya..
" Nona kenapa tuan? " Kepanikan nya kembali saat melihat wajah pucat fanya. Tangannya dengan segera menyentuh dahi fanya,.
" Sepertinya nona demam " Kata ina lagi.
" Demam? " Rafael terlihat semakin khawatir .
" Iya tuan, tapi tuan tenang saja, nona jika demam tidak akan lama, mungkin hanya semalam, cukup kompres saja dan saya akan memberikan obat pada nona " Jelas ina
" Siapkan saja, biar saya yang mengompresnya, dan yaa, lakukan dengan cepat " Titah Rafael sambil sedikit mengangkat tubuh fanya dengan pelan karna merasa tak nyaman dengan gendongannya .
" Baik tuan "
****
Setibanya di kamar, Rafael dengan pelan membaringkan tubuh mungil itu.
Sejenak, Rafael menatap wajah fanya yang masih pucat.. Sungguh dia merasa sangat menyesal telah membentak gadis itu tadi .
" Gue minta maaf " Gumamnya seraya mengelus dengan pelan pipi mulus istrinya itu..
Selang beberapa menit, ina masuk ke dalam kamar majikannya itu dengan sebuah nampan berisi air hangat juga handuk kecil untuk mengompres fanya.
" Terima kasih mbak " Ujar rafael setelah ina sudah berada di luar pintu kamar.
Rafael kemudian membuka laci kecil yang berisi peralatan mandi dan mengambil satu handuk kecil lagi untuk membersihkan tubuh fanya .
" Maafin gue .. Gue terpaksa ngeliat ini, dan gue akan berusaha untuk menahannya " Kata Rafael yang dengan hati hati membuka seragam yang menempel di tubuh fanya agar ia bisa leluasa membersihkan tubuh fanya.
.
.
.
😘😘😘😘