My Cute Wife

My Cute Wife
RAFAEL HARSY ARGANI



" Selalu... Selalu saja begitu " Gumam seseorang di teras rumah, dengan menggelengkan kepalanya ketika matanya masih menatap lekat penampilan putranya yang terlihat begitu masya Allah..


Anting hitam kecil yang setia menempel di telinga bagian kirinya, gaya rambut model kekinian , tato di lengan kanan bagian lengan atas, tapi masih bisa tertutup oleh seragam yang di kenakannya,, yaa walaupun seragam bagian atas tidak ia masukkan dengan rapi seperti yang sudah menjadi peraturan sekolah.


Terlihat begitu astagfirullah di mata seorang ayahnya,..


lain bagi para wanita,. Walau penampilan cowok itu terlihat mengerikan, tapi wajah putih, rahang tegas, alis tebal, sorot matanya yang tajam, jangan lupakan lesung pipit di kedua pipinya itu menjadi daya tarik tersendiri untuk menarik perhatian para wanita.. Meski ia terkesan begitu cuek, tapi jangan salah... Ia adalah seorang playboy kelas atas yang jika hanya membalikkan telapak tangannya, ia bisa dengan mudah meluluhkan hati para gadis yang hanya ingin di permainkan nya.. Itu lah dirinya yang sebenarnya.


" Rafael selalu ngelakuin apa yang menurut Rafael benar pa " Tekan cowok itu, Rafael namanya.


" Menurut kamu benar El, tapi tidak untuk orang orang di sekitar kamu " Kata halil harsy argani, ayah dari seorang RAFAEL HARSY ARGANI,.


Rafael hanya menanggapi ucapan ayahnya itu dengan senyum miring, dan menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


" Lalu?? Papa yang setiap hari berantem sama mama itu bukan sebuah kesalahan bagi orang di sekitarnya!? Gitu? " Kata Rafael enteng,


SKAK MAT, halil diam seribu bahasa dengan ucapan Rafael tadi.


Rafael kemudian dengan santai melangkahkan kakinya menuju halaman luas rumahnya di mana motor nya berada.


Mereka tidak sadar, bahwa perdebatan mereka terdengar hingga keluar gerbang, di mana seorang gadis berdiri mematung dengan senyum mengembang di bibirnya saat melihat perdebatan antara ayah dan anak itu ..


Setelah melihat Rafael yang sudah mengendarai motornya itu, gadis itu kembali melangkah kan kakinya dengan masih menulis kan sesuatu di buku agenda yang selalu ia bawa.


' perfecting life ' itulah kata yang ia tulis di agenda nya .


******


Seorang cowok keluar dari ruang yang nampak bertuliskan ' RUANG KEPSEK ' tepat di atas pintu ruangan itu.


Siapa lagi kalau bukan Rafael.. Murid si biang onar .. Wajah Rafael terlihat begitu santai setelah keluar dari ruangan itu, tidak seperti murid murid lain yang selalu menampakkan wajah tegang mereka masing masing.


Wajah cowok itu sungguh memprihatinkan dengan beberapa luka di bagian wajahnya, juga seragam yang ia kenakan terlihat begitu kusut.


Yaa kalian tau lah apa yang terjadi..


" Abis berantem yaa kak " Sembur suara cempreng dengan tiba tiba, dengan langkah beriringan dengan Rafael.


Rafael menoleh sekilas, di dapatinya gadis bertubuh mungil dengan tinggi sekitar 160 cm yaa jelas lebih tinggi Rafael yang tingginya 175 cm,.


Wajah gadis itu terlihat begitu ceria , senyum tak pernah pudar dari bibir mungilnya itu,


Rafael tak mengubbris ucapan gadis itu, ia terus melangkah menuju base camp tepat di atap di mana para sahabatnya berada.


Cowok itu sudah terbiasa dengan para gadis yang memang terang terangan mendekatinya.


" Emang gak capek yaa kak berantem mulu " Ucap gadis itu lagi, fanya namanya, FANYA KAFTA DINATA. si gadis cantik berkulit putih, pipi yang sedikit tembem, juga bulu mata lentik dengan bola mata berwarna hitam pekat itu.. Yaahh mengesankan keimutan lah pada diri gadis itu.


" Bacot loe " Sembur Rafael yang masih terlihat begitu cuek, itulah dia, jika tidak menyukai gadis yang mendekatinya , maka sikapnya akan terlihat begitu cuek dengan tatapan tajamnya.


" Lah... Kan bener... Kak Arga emang abis berantem kan " Tebak fanya sekenanya, langkahnya masih mensejajari langkah Rafael yang jelas begitu cepat darinya.


" Nama gue Rafael b*go " Sembur Rafael merasa tak Terima.


" Rafael harsy argani kan,? Di panggil Arga juga nyambung " Celetuk fanya masih tersenyum.


" Tapi gue gak suka nama gue di ubah ubah " Kata Rafael dingin.


" Emang ada yang salah yaa sama nama Arga? " Gumam fanya dengan polosnya.


Rafael memelototi fanya karna merasa kesal ketika fanya memanggilnya dengan nama sesukanya,padahal dia tidak mengenal fanya..karna memang pada dasarnya fanya adalah murid baru kelas X1 .


Rafael hendak berbicara, sebelum ada seseorang yang memanggil namanya.


" Rafael " Panggil suara lembut itu, Rafael dan fanya menoleh ke arah di mana ada seorang gadis yang berjalan anggun berjalan ke arah mereka, ralat, lebih tepatnya ke arah Rafael..


Gadis itu tak lain adalah melysa, cewek yang paling populer di sekolah, dan di kabarkan dekat dengan Rafael.


" Hai " Sapa Rafael dengan senyum yang jelas memperlihatkan lesung pipitnya yang semakin ke dalam saat ia tersenyum manis.


" Siapa dia? " Tanya Mely sinis melirik ke arah fanya. Dan di tanggapi dengan senyum nyengir oleh fanya.


" Gak kenal juga gue , udah yuk ah " Ajak Rafael langsung.


" Ke atap lagi? " Tanya Mely pada Rafael. Dan Rafael mengangguk.


" Iyaa deh, lagian gue juga mau obatin luka loe itu, berantem mulu gak ada bosennya " Cerocos Mely menurut, Rafael pun langsung merangkul pundak Mely dan berlalu begitu saja meninggalkan fanya yang sedari tadi berada di antara mereka .


Fanya mendengus pelan ketika di tinggal oleh kedua makhluk tak berperasaan itu.


" Dadah Kak Arga,.. Sampai ketemu lagi" Teriak fanya saat Rafael sudah agak jauh dari nya. Rafael sekilas menoleh dengan tatapan datar, setelah itu ia kembali tertawa riang bersama Mely..


" Fanya!! " Sembur seseorang yang sudah merangkul akrab pundak fanya, fanya tidak usah menoleh, karna memang mengenal orang itu, siapa lagi kalau bukan nisa, sahabat barunya di sekolah ini.


Nisa merupakan seorang teman yang asik ketika di ajak bicara, dia sangat cocok jika bersanding dengan fanya yang juga cerewet .


" Kenapa?? Kangen yaa? Baru juga di tinggal sebentar " Celetuk fanya dengan tawa renyahnya.


" ceehh.. Gue?? Kangen sama loe??? Emang iyee " Nisa kemudian menjitak kepala fanya dengan sekenanya.


" Jujur amat sih " Gumam fanya terkekeh.


" Ke kelas aja yuk ah, " Ajak Nisa yang langsung menyeret fanya tanpa menunggu persetujuan dari gadis itu.


_._._._._.


" Kita udah nungguin loe dari tadi b*go, baru nongol aja loe " Ujar seseorang merasa dongkol saat melihat rafael yang melangkah ke arahnya dengan menggandeng seorang gadis cantik berambut pirang, tapi bukan Mely,. Kok bisa yaa?? Padahal kan Rafael tadinya sama Mely, kok udah berubah gitu ceweknya? Kapan yang ngegaet coba? Emang dasar si Rafael!?


" Loe gak liat muka tampan gue yang lecet gini " Ketus Rafael yang langsung duduk di sofa yang di sediakan di atap itu khusus tempat mereka bertiga, yaitu Rafael, alex, dan doni, sahabat se nakalnya Rafael.


" Kalau itu mah, udah biasa juga kan " Celetuk cowok yang tadi, alex namanya.


" Berantem " Sambung doni singkat yang memang cowok itu memiliki sikap yang begitu dingin. Tangannya masih setia memegang comik yang di bacanya


" Sayang... Kamu ke kelas aja dulu yaa, nanti aku nyusul, sekarang aku lagi ada urusan penting sama alex " Titah Rafael bersikap begitu lembut pada gadis yang dari tadi hanya bergelayut manja di sampingnya.


" Oke.. Tapi cepetan yaa " Katanya menyetujui. Rafael mengangguk, setelah itu mencium bibir gadis itu singkat.


" Aku duluan " Kata gadis itu yang langsung berlalu.


Gadis bodoh... Jelas bodoh lah, sudah tau seorang Rafael memiliki banyak gadis yang di pacarinya, tapi masih saja dia mau di jadiin bonekanya, bukan hanya dia, tapi gadis yang lainnya juga.


Ck.. Rafael, Rafael, pesonamu sungguh memabukkan.


" Sama siapa lagi loe adu jotos tadi? " Tanya alex kemudian.


" Rangga " Jawab Rafael singkat sambil menyulut satu batang rokok, kemudian di hisap nya dengan begitu santainya.


" Masalahnya? " Tanya doni menaikkan satu alisnya ke atas.


" Ck.. Gak tau lah, masalah sepele doang, setelah itu, seperti biasa, gue di panggil ke ruang kepsek " Jelas Rafael santai . Ia sudah terbiasa dengan semuanya, termasuk luka di wajahnya itu.. Sudah ia anggap sebagai nikmat Tuhan untuk memberikan pelajaran pada wajah tampannya itu .


" Kayaknya, tu ruangan emang khusus di buat untuk selalu jadi saksi perdebatan antara loe sama pak Tono (kepala sekolah) deh " Celetuk alex terkekeh.


" Mungkin "


😘😘😘😘😘😘


jangan lupa like & comment nya