MY BAD GIRL AND MY COOL BOY

MY BAD GIRL AND MY COOL BOY
Chapter 5



Mereka masuk ke dalam ruang kelasnya. Pelajaran berganti sesuai dengan jadwalnya masing-masing. Beberapa menit yang lalu bel istirahat sudah berbunyi, semua murid berhamburan keluar menuju kantin sekolah begitu juga dengan Sherly dkk.


"Guys duduk di sebelah sana aja yuk" ucap Putri sambil menunjuk meja yang berada di ujung.


"Hmm" jawab Fifi.


Mereka berjalan ke meja yang berada diujung. Meja itu melewati meja Rifan dkk. Sebenarnya banyak meja yang kosong tetapi entah mengapa mereka malah memilih meja di yang berada di pojokan.


"Sher, sayang duduk sini dong di sebelah aku" ucap Rifan dengan nada yang di buat lebay.


"Siape lu selebgram?" jawab Sherly sambil berjalan tanpa melihat ke meja Rifan dan kawan-kawan nya.


"Lyly jahat sama babang sakit hati babang" ujar Rifan dengan wajah pura-pura sedih sambil memegang dadanya.


Teman-teman Rifan tertawa kecuali Adrian. Adrian hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan Rifan.


"Ehh kalian mau makan apa biar gue yang pesanin" tanya Citra kepada teman-temannya.


"Gue makan mie ayam sama es kosong" jawab Bila


"Gue samain aja kaya Bila"


"Gue juga" ikut Putri menjawab.


"Lo ly?" tanya Citra pada Sherly yang sedari tadi memainkan handphone nya.


"Gue? Gue bakso sama teh manis dingin aja" jawab Sherly tanpa mengalihkan matanya dari handphone tersebut


"Oke" ucap Citra. Ia berbalik dan melangkahkan kakinya tetapi tangannya seperti di tahan seseorang. Citra menaikkan alisnya sebelah.


"Gue bantuin ya biar lo gak kerepotan" ujar Fifi dengan santai.


Citra tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Mereka membagi tugas ada yang membeli makanan dan membeli minuman.


"Ly gimana lo udah tau dia tinggal dimana?" tanya Putri


"Apanya? Terus siapa yang lo maksud" tanya Sherly balik


"Si Farell-Farell itu loh"


"Ohh blm tau gue"


"Bahas apaansih kalian?" tanya Bila yang tidak mengerti apa yang sedang di bahas oleh Sherly dan Putri.


"Jadi gini si lyly suka sama cogan. Mereka jumpa di angkot katanya. Kalo gak salah sekolahnya di SMP Negeri 5 gitu deh. Kata Sherly tuh cowok dingin kaya kulkas tiga puluh lima pintu"ucap Putri panjang lebar.


"Ehh gue gak pernah bilang dia dingin kaya kulkas tiga puluh lima pintu ya put" ucap Sherly tidak terima karena kata-kata terakhir Putri.


"Gapapa ly penambahan dalam cerita namanya" jawab Putri sambil nyengir.


"Terus gimana?" tanya Bila dengan cepat sebelum Sherly mengeluarkan suaranya.


"Ya gitu aja sih"


"Ohh"


Citra dan Fifi balik dengan nampan yang berisi makanan dan minuman. "Nih pesanan kalian" ucap Citra sambil mengambil ancang-ancang untuk duduk.


Mereka makan dengan tenang walaupun sesekali bercanda dan tertawa.


"Oi kelas kuy bentar lagi bel masuk" ajak Sherly.


"Kuy" jawab mereka semua dengan bersamaan.


Mereka masuk berjalan di koridor. Setelah mereka di depan pintu bel masuk langsung berbunyi. Dan seluruh warga sekolah melanjutkan pelajaran masing-masing.


*****


Sekarang sudah jam dua tetapi Sherly belum juga sampai ke rumah. Karena angkot yang ia tunggu-tunggu belum lewat juga dari tadi. Sherly mengedarkan pandangannya ke jalanan. Sherly tersenyum saat tidak sengaja melihat ada seseorang bersama teman-temannya cowoknya  sedang berteduh di bawah pohon di dekat kafe yang tidak jauh dari tempat Sherly berdiri. Mereka duduk di atas motor masing-masing. Dengan cepat Sherly berjalan ke arah mereka.


"Hai Farell kita ketemu lagi. Jangan-jangan jodoh?" tanya Sherly sambil tersenyum riang.


Farell melihat Sherly dengan wajah datar. "Najis gue jodoh sama lo" jawabnya


Senyum Sherly menghilang. Namun beberapa detik kemudian ia tersenyum kembali. Ia melihat teman-teman Farell sedang memperhatikannya.


"Hai semuanya kalian teman-teman Farell ya? Kenalin gue Sherly Rimdani. Gue masih kelas 2 SMP" ucap Sherly dengan riang dan tersenyum manis.


"Wih anjirr gue disenyumin dong" ucap Briyan salah satu teman Farell.


"Manis banget ***** senyum nya. Gak kuat abang dek" lanjutnya dengan nada alay


"Iya ***** buat gue aja rell kalo lo gak mau. Gue masih mau nampung kok" ucap Arfan


"Lebay lo pada. Cewek jelek kaya gini di bilang manis"


"Berisik lo pada anjing. Dan lo ngapain kesini?! Puas lo karena gue di ketawain sama teman-teman gue hah?!" tanya Farell dengan sinis.


"Gak kok rell. Ohh iya gue rell gue ada tiket nonton lo mau ikut gak?" tanya Sherly dengan hati-hati.


"Gak" jawab Farell tanpa berpikir terlebih dahulu


Sherly mengambil nafas dalam-dalam lalu membuangnya dengan perlahan. "Mau dong kasian tiketnya gak kepakai" bujuk Sherly dengan wajah memelas


"Sama gue aja sher" tawar Dian.


"Tapi lyly maunya sama Farell. Maaf ya" jawab Sherly dengan perasaan tidak enak karena menolak ajakan Dian. Sementara teman-temannya Farell dan Dian tertawa terbahak-bahak.


Dian tersenyum. "Gapapa sans aja" ucapnya sambil mengelus rambut Sherly.


Sherly tersenyum. Dan kembali ke tujuan awalnya untuk mengajak Farell tetapi lagi-lagi Farell berkata "Gak"


"Please dong rell kasian tiket nya ke buang"


"Gue bilang enggak ya enggak! Lo paham gak?!" bentak Farell


"Ajak aja teman-teman lo! Kenapa harus ngajak gue?!" tanya Farell yang berusaha menenangkan dirinya.


"Karena gue suka sama lo" ucap Sherly dengan gugup


Farell terdiam setelah mendengar penuturan dari gadis didepannya ini. Ia berusaha untuk tidak terlalu memikirkan ucapan Sherly.


"Sinting" ucapnya


"ISSHHH GUE SERIUS. GUE BAKAL KEJAR LO SUPAYA LO SUKA SAMA GUE DAN MAU JADI PACAR GUE!!!" teriak Sherly setelah melihat Farell ingin pergi dari tempat tersebut.


"Liat aja nanti lo bakal nyerah" jawab nya sambil tersenyum sinis


"Oke tunggu aja"


*****


*Sudah hampir dua tahun Sherly mengejar Farell. Semenjak kejadian dimana Sherly mengungkapkan perasaannya ia terlihat lebih bersemangat mengejar Farell. Walaupun terkadang hatinya sedikit sedih mendengar kata-kata kasar yang sering di lontarkan oleh Farell.


Sekarang Sherly sudah kelas 9 dan sebulan lagi ia akan keluar dari sekolahnya. Ia sedikit sedih karena akan pergi dari sekolah yang menyimpan kenangan Sherly*.


 


"Ly....... Lyly........" teriakan tersebut berasal dari Putri.


"Kenapa put?" tanya Sherly. Ia melihat Putri berlari\-lari di koridor sekolahnya yang sepi.


"Lo tuh ya tuli kali. Gue panggil sampe teriak\-teriak lo gak denger! Malah jalannya cepat banget macam Super Hero" ucap Putri dengan nafas tersengal\-sengal.


Sherly hanya menyengir tidak jelas. Saat ia ingin bertanya lagi ia melihat ketiga temannya juga sedang berjalan menuju dirinya dan Putri dengan santai.


"Kalian juga disini?" tanya Putri


"Iya. Btw kalian nanti masuk SMA mana?" tanya Citra


"Gue sih di SMA negeri 8 aja" jawab Sherly setelah berpikir


"Oke kita semua nanti masuk sana aja" ucap Bila dengan santai dan berjalan menuju kursi yang berada di koridor.


"Oke deal!" ucap Putri dan Citra dengan girang


Sedangkan Fifi hanya mengangguk. Ia hanya ikut\-ikutan saja. Dimana sahabat nya disitulah dia.


"Hai sayang" sapa Zikhri kepada Fifi.


*Ohh iya gue lupa bilang ke kalian. Jadi semasa mereka kelas delapan di semester genap. Rifan dkk mengejar teman\-teman Sherly. Kecuali Adrian. Cowok itu tidak terlalu memikirkan tentang cinta. Rifan yang masih mengejar Sherly. Alex yang sudah pacaran dengan Bila. Zikhri yang pacaran dengan Fifi. Arif yang lagi ngegebet Citra. Dan Adrian yang lagi di kejar\-kejar oleh Putri.


Oke balik ke cerita*.


Fifi tidak menanggapi sapaan dari Zikhri. Sedangkan Citra senyum\-senyum sendiri saat melihat Arif berdiri di samping Adrian. Ia berharap Arif juga akan menyapanya.


"Hai cit" sapa Arif


Citra kaget saat keinginannya terwujud. Sepertinya dewa Neptunus sedang berada di pihaknya. Citra menjadi grogi sendiri.


"Pipi lo kenapa merah cit? Lagi sakit atau lagi bulshing karena gue sapa?" tanya Arif sambil menggoda Citra.


Pipi Citra sendiri semakin merah seperti kepiting rebus. Ia segera memegang pipinya dan menundukkan kepalanya karena malu. Arif yang melihat hal itu hanya terkekeh geli. Ia mengacak\-acak puncak kepala Citra dengan gemas.


Putri yang melihat hal itu sedikit iri karena ia tidak pernah di gituin oleh Adrian. Ia menghela nafas panjang. Adrian yang melihat wajah Putri yang cemberut itu hanya tersenyum kecil. Ia mendekati Putri dan berbisik "Gak usah iri ntar kalo udah masanya gue bakal lakuin hal yang sama kaya yang di lakuin oleh Arif ke Citra bedanya nanti gue bakal lakuin ke elo bukan ke Citra ataupun yang lain". Sementara Putri menundukkan kepalanya. Ia berpikir pipinya pasti memerah seperti tomat. Baru kali ini ia mendengar Adrian berbicara dengan panjang dan romantis. Biasanya Adrian hanya menjawab cuek seperti "hmm, iya, oke".


\*