
Keesokan paginya Farell sudah bersiap untuk berangkat ke sekolah. Ia memakai seragam putih biru yang sudah lengkap. "Pagi pa, ma, put" sapa Farell kepada kedua orangtuanya dan adiknya yang bungsu.
"Bang lo cuman nyapa mama, papa, sama puput? Terus lo anggap gue disini apa? Setan?!" ujar Fitra dengan kesal karena tidak di sapa oleh Farell.
"Gak ngeliat lo tadi jadi ya maap" jawab Farell dengan santai.
"Dedemit lo emang! Badan gue segede ini, dan lo nggak ngeliat? Katarak emang mata lo"
"Udah jangan berantem ya masih pagi" ucap Vionika mamanya Farell.
"Yaudah ma Farell nggak sarapan dulu soalnya udah mau telat jadi Farell sarapan di kantin sekolah aja. Farell berangkat dulu ya, assalamualaikum" ucap Farell sambil berjalan tergesa-gesa.
"Wa'alaikumussallam"
*****
Sementara itu Sherly masih tengah tidur di kasur miliknya. Gadis itu selalu bangun kesiangan. Rafa yang melihat adiknya belum bangun merasa jengkel karena sedari tadi ia sudah berusaha membangunkan adiknya tapi hasilnya gagal.
"Lyly bangun dek udah siang. Ntar lo telat! Jangan terus-terusan jadi anak nakal dong"
Lyly tidak bangun, ia hanya menggeliat ke kanan dan kiri untuk mencari posisi yang lebih nyaman. Rafa menyerah, karena membangunkan adiknya emang begitu sulit bahkan lebih sulit dari pelajaran MTK. Dengan kesal Rafa menuju ke kamar mandi yang ada didalam kamar Sherly. Ia keluar dengan membawa air untuk menyiram wajah Sherly agar gadis itu terbangun dari tidurnya.
Byurr
"Woi anjing banjirrr" ucap Sherly yang terbangun dari tidurnya dengan kaget.
Tawa Rafa menggelegar di seluruh sudut ruangan kamar Sherly. "Hahahaha adik ****. Banjirr darimana? Hahaha" ucap Rafa sambil tertawa memegang perutnya.
"Ehh ******* ya lo! Gue lagi enak-enakan tidur juga! Lo gak tau tadi gue mimpi....."
"Nggak" potong Rafa dengan cepat
"Sekarang bangun dari sini terus mandi!! Gue mau berangkat dulu byeee" lanjutnya.
"Abang sialan lo" ucap Sherly sambil menghela nafas panjang. Ia berusaha sabar, karena ini juga salahnya. Ia terlalu susah tidur dimalam hari dan akhirnya pada saat pagi hari ia menjadi susah untuk bangun lebih awal.
Sherly keluar dari kamarnya dengan pakaian sekolah putih biru tetapi tidak lengkap. Ia tidak menggunakan dasi dan juga kaus kaki yang digunakannya di bawah mata kaki.
Ia menunggu kendaraan umum. Tadi ia disarankan oleh papanya supaya diantar oleh supir tetapi gadis itu menolak. Ia tidak begitu suka diantar atau di jemput.
Saat menunggu kendaraan umum, ia melihat Farell dari kejauhan. Sepertinya sedang mengisi bahan bakar kendaraan. Sudut bibirnya terangkat. Ia menghampiri Farell dengan wajah ceria.
"Farell" sapa Sherly kepada Farell.
Farell melihat kebelakang dan ternyata itu gadis manis yang tidak sengaja jumpa dengannya kemarin. Tetapi tunggu manis?
"Farell kenapa diam aja? Gue tadi nyapa elo. Lo nggak denger ya? Mau gue ulangi lagi?"
"Gak perlu" jawab Farell dengan ketus.
Satu pertanyaan terlintas di benak Sherly. Senyum di wajah Sherly semakin mengembang. "Gue boleh bareng nggak?" tanya nya
"Gak! Gue udah telat!"
"Gue juga udah telat. Gimana kita jalan-jalan aja"
"Lo ngajarin gue bolos?! Denger ya cewek aneh! Kita beda sekolah dan kita juga ketemu tanpa disengaja!"
Senyum di wajah Sherly memudar. Tetapi ia kembali tersenyum, ralat tersenyum paksa masksudnya. "Lo tega liat gue telat?" tanya Sherly
"Oke mulai sekarang kita pacaran aja biar lo tau urusan gue apa, gimana?"
"Itu sih mau lo! Gue udah punya pacar jangan gangu gue lagi" bohong Farell
"Kalo lo punya pacar ,gue pastiin lo putus sama pacar lo" batinnya. Sherly menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan nya dengan perlahan. Ia merasakan sesuatu yang sesak di hatinya. Ia tidak mengerti mengapa ia merasakan sesuatu yang hancur di hatinya saat Farell berkata seperti itu.
Farell memandang wajah Sherly dengan bingung. Apa ia mengatakan hal yang salah? Mengapa cewek itu terlihat berbeda, tidak seperti tadi. "Lo kenapa?"
"Gue pengen kesekolah tapi gak ada angkot yang lewat" ujar Sherly berbohong.
"Please antar gue ya. Sekolah gue nggak jauh kok" pintanya sekali lagi dengan wajah memelas.
Farell menghembuskan nafas dengan kasar. "Oke gue anter".
Senyum Sherly mengembang begitu saja saat mendengar ucapan Farell. "Makasih"
"Hmm"
"Sekolah lo dimana?" tanya Farell saat di perjalanan.
"Sekolah gue di situ tuh di situ"
"Disitu itu dimana?" ujar Farell dengan menahan kesal.
"Udah ikutin aja"
Akhirnya Farell telah sampai di sekolah Sherly. Sherly bersekolah di SMP Negeri. SMP yang cukup terfavorit di kotanya.
"Makasih Farell"
"Ya"
"Tuh gerbang udah di tutup. Lo manjat atau gimana?" tanya Farell dengan kepo. Ia tidak mengerti mengapa ia menanyakan hal itu kepada Sherly padahal ia bukan tipe orang yang selalu ingin tau urusan atau masalah orang lain.
"Manjat" jawab Sherly dengan enteng.
"Oh"
"Gue pergi dulu" lanjutnya sambil menghidupkan motor miliknya.
"Bye Farell hati-hati"
Sherly memanjat gerbang dengan cepat. Ia sudah terbiasa melakukannya. Ia selalu saja telat padahal sudah ada alarm dan abangnya yang membangunkan nya tetapi tetap saja ia tidak bisa bangun lebih awal.
"SHERLY KAMU TERLAMBAT LAGI??" teriak buk Soit guru BK di tempat Sherly bersekolah.
"Yaelah buk. Cuman terlambat 5 menit doang"
" 5 menit doang kamu bilang?" kesal buk Soit karena mendengar apa yang di katakan Sherly.
"Iya buk 5 menit doang. Baru juga segitu ibuk udah marah, gimana kalau saya bolos kaya kemarin" jawab Sherly dengan santai.
"Sekarang kamu keruangan saya! Teman-teman kamu juga sudah ada disana! Cepat! Saya mau keliling dulu. Saya masih mau pantau siapa lagi yang telat dan tidak ikut masuk di barisan"
"Iya buk"
*****