My baby

My baby
Sarapan Pagi



Sinar mentari pagi mulai menembus celah-celah jendela kamar hotel. Kai dan Muya masih asik dalam dunia mimpi. Kai masih memeluk erat tubuh mungil itu. Seolah tak mau beranjak Muya membuka matanya perlahan dan mulai memainkan rambut Kai yang berantakan.


"Emmhh,"


Kai merasa ada yang menggangu tidurnya. Matanya masih terpejam enggan untuk membuka.


"Cup."


Sebuah bibir yang manis mengecup kening pria yang masih di ambang dunia mimpi. Tetapi kecupan itu seolah membangunkan sebuah roh yang mati. Dengan berat kai membuka matanya. Gambar pertama yang dia rekam adalah sosok cantik wanita dengan manik mata hitam yang redup dan indah.


"Sayang." Suara serak khas bangun tidur sontak membuat Muya tersenyum dan kembali mengecup kening sang suami.


"Seksi sekali suaranya."


Ucap Muya dengan senyum semanis madu. Kai membalas senyuman Muya dan Kai langsung memberikan kecupan pada bibir ranum wanita itu.


"Cup."


Mereka tersenyum dengan rasa bahagia. Bulan madu mereka di tunda kepulangannya dan itu membuat Muya sangat senang.


"Sayang, kamu membangunkan kami."


Ucap Kai dengan serak.


"What ,kami?...


Muya tersentak mendengar ucapan Kai mengatakan bahwa ada seorang yang bangun juga selain dirinya.


"Hmm, kami terbangun karena kecupanmu."


Kai mulai tersenyum.


Muya masih kebingungan dengan ucapan dari kai. Siapa kami itu bahkan Muya tidak tau.


Ucap Muya penuh tanda tanya.


"Baiklah akan aku suruh dia menyapamu."


Ucap Kai langsung memeluk dan menindih Muya, mengecupnya dengan lembut. melumat bibir manis Muya dengan penuh gairah. Kai lalu melepas semua kain yang menempel di tubuh Muya tanpa melepaskan ciuman mereka. Satu demi satu kai lempar entah kemana. Begitupula dengan dirinya kini mereka hanya berbalut selimut penuh sensasi sarapan pagi di atas tempat tidur.


Keringat dipagi hari membuat ruangan seolah sangat panas. Sepasang muda-mudi itu kini telah dilanda panasnya api cinta yang membuat tubuh mereka membara. Muya memeluk tubuh kekar sang suami dengan desahan yang membuat orang merinding mendengarnya. Tidak ada kata lelah untuk Kai jika berada disamping sang Muya. Karena bagi Kai saat ini Muya adalah istrinya.


Bermain peran sebagai suami dengan totalitas. Butuh waktu beberapa menit hingga akhirnya kai berhasil menuntaskan kegiatanya. Tubuh lelah itu ambruk dengan keringat bercucur. Mereka mencoba menarik nafas panjang. Menstabilkan degupan jantung mereka. Kai memejamkan mata dengan wajah lelah namun terpancar aura kepuasan. Dan Muya masih menempel di samping tubuh kekar sang suami.


"Adiku bangun karena kamu sayang."


Ucap Kai dengan senyuman nakalnya. menatap sang istri dengan mata berbinar.


"Adikmu tak kenal lelah sayang "


Ucap wanita itu sambil mengatur nafasnya yang masih tersenggal-senggal.


Kai mengecup kening Muya dengan lembut lalu Kai tertidur kembali karena begitu lelah. Begitupula dengan Muya seolah enggan untuk beranjak bangun.


"Hari ini kita tidur saja sayang."


Ucap Muya sambil memejamkan matanya sambil merangkul tubuh kekar sang suami yang masih basah dengan keringat.


"Hmm."


Ucap Kai dengan mata yang terpejam.


Pagi itu mereka tertidur kembali karena rasa lelah yang menyerang mereka berdua. Kai seolah lupa yang dia peluk dan kecup adalah adik iparnya sendiri. Kai totalitas dalam berperan. Sehingga Muya benar-benar tidak mencurigai apapun.


Bersambung.