
Saat Xoriz bertanya tentang sosok Melissa, gadis berambut biru muda itu menatapnya dengan tajam. Matanya berkilat ketika dia merasa terganggu oleh kehadiran Xoriz di antara mereka.
"Xoriz, ini Melissa," kata Etzell, mencoba memperkenalkan keduanya.
Melissa masih menatap Xoriz dengan pandangan yang sama tajamnya. "Etzell," katanya dengan nada tegas, "bisakah kita bicara sebentar empat mata?"
Xoriz, yang sebelumnya agak terpesona oleh penampilan Melissa, mengangguk cepat. "Tentu, Etzell. Aku akan mencarimu lagi nanti."
Etzell tersenyum pada Xoriz dan berjalan bersama Melissa menjauh dari keramaian siswa-siswa sekolah. Ketika sudah cukup jauh, Melissa berbicara dengan nada serius. "Etzell, kita perlu bicara."
Etzell mengangguk, merasa siap untuk berbicara dengan Melissa.
Mereka duduk di bawah pohon yang rindang, tempat Etzell biasanya bersantai saat istirahat. Angin sepoi-sepoi musim panas menerpa mereka, menciptakan suasana yang lebih tenang. Melissa memulai pembicaraan.
"Semua hal aneh yang terjadi kemarin, itu semua terkait dengan Monster Energy. Aku percaya kau punya banyak pertanyaan, dan aku akan mencoba menjawab sebanyak mungkin."
Etzell duduk dengan penuh perhatian, bersiap untuk mengikuti penjelasan yang akan diberikan oleh Melissa.
Melissa menjelaskan kepada Etzell, "Monster Energy adalah energi yang memberikan kemampuan kepada manusia untuk melihat Monster. Namun, konsep ini lebih rumit daripada yang terlihat. Sebenarnya, manusia yang telah mencapai tahap akhir evolusi akan kehilangan kemampuan untuk melihat Monster. Sebaliknya, manusia yang belum mencapai tahap akhir evolusi akan tetap bisa melihat Monster."
Etzell semakin penasaran, "Jadi, manusia yang sudah mencapai tahap akhir evolusi kehilangan kemampuan untuk melihat Monster? Kenapa?"
Melissa melanjutkan, "Itu karena Monster Energy dalam tubuh manusia yang sudah mencapai tahap akhir evolusi sudah mencapai puncaknya. Mereka memiliki kemampuan yang kuat, tetapi tidak bisa lagi berinteraksi dengan Monster. Sebaliknya, orang yang belum mencapai tahap akhir evolusi masih memiliki Monster Energy yang berkembang. Itulah mengapa mereka masih bisa melihat Monster."
Etzell mulai memahami konsep yang lebih rumit ini, "Jadi, ada perbedaan antara manusia yang sudah mencapai tahap akhir evolusi dan yang belum, dan itu memengaruhi kemampuan mereka untuk melihat Monster."
Melissa mengangguk, "Ya, dunia ini sangat rumit dan penuh perbedaan. Tugas kami, yang memiliki kemampuan untuk melihat dan melawan Monster, adalah melindungi manusia dari bahaya yang mungkin datang dari Monster yang masih berkeliaran."
Melissa menjelaskan lebih lanjut, "Itulah sebabnya, Etzell, aku dan Tiwaz Re memutuskan untuk memindahkanmu ke sekolah yang khusus diperuntukkan bagi siswa yang bisa melihat Monster. Di sana, para siswanya memiliki kemampuan yang sama seperti kita. Jika kau memaksa dirimu bersekolah di tempat yang bercampur dengan manusia yang sudah mencapai tahap akhir evolusi, para Monster akan memiliki peluang untuk melukai manusia yang berevolusi tersebut, bahkan bisa membunuhnya."
Etzell merenung sejenak atas penjelasan yang diberikan Melissa. Ia mengerti betapa pentingnya keputusan ini. "Aku mengerti, Melissa. Itu berarti aku akan aman di sekolah yang khusus bagi siswa yang bisa melihat Monster."
Melissa mengangguk, "Ya, dan aku akan selalu menjagamu. Jangan khawatir, kami akan membantumu untuk belajar mengendalikan kemampuanmu dengan baik."
Setelah mendengar penjelasan Melissa dan menyadari pentingnya alasan di balik pemindahannya, Etzell berpikir sejenak. Kemudian, dengan mantap, ia berkata, "Aku setuju untuk pindah sekolah, Melissa, demi keselamatan diriku dan manusia yang berevolusi lainnya."
Setelah memberikan penjelasan dan mengatur segalanya, Melissa berkata pada Etzell, "Sampai jumpa besok, Etzell." Dengan senyum singkatnya, dia menghilang begitu saja, menggunakan teknik teleportasi yang sama seperti Tiwaz Re.
Teknik teleportasi yang digunakan oleh Melissa dan Tiwaz Re adalah sebuah kemampuan yang memungkinkan dia untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain dengan instan, tanpa perlu melewati perjalanan fisik di antara keduanya. Ini adalah kemampuan yang mengesankan, yang memungkinkan dia untuk mengubah posisinya secara tiba-tiba, seperti menghilang dalam sekejap mata dan muncul di tempat lain.
Teknik teleportasi milik Melissa, meskipun kuat, itu masih memiliki batasannya. Jika dibandingkan dengan teknik teleportasi Tiwaz Re, yang bisa berpindah antar-dimensi dan ke tempat-tempat yang sangat jauh, teleportasi Melissa terbatas pada sekitar lingkungan sekitarnya saja.
Dan kini setelah Melissa menghilang, Etzell duduk sendirian di bawah pohon yang rindang ini, merenung tentang perubahan besar yang akan segera terjadi dalam hidupnya. Tidak ada lagi Melissa yang mencolok di tengah keramaian, hanya kerindangan pepohonan dan suara angin yang mengisi keheningan.
"Aku tidak bisa memberitahunya," kata Etzell.
Kemudian Etzell berdiri dengan perasaan bercampur aduk. Dia merasa keputusannya untuk tidak memberi tahu Xoriz tentang kepindahannya adalah yang terbaik, tetapi itu juga membuatnya merasa sangat bersalah.
Air mata mulai menitik perlahan dari matanya. Dia merasa sedih dan hancur karena akan meninggalkan temannya, tanpa peringatan apa pun. Tetapi dalam hatinya, dia tahu bahwa ini adalah tindakan yang harus diambil untuk melindungi Xoriz.
"Xoriz..." gumamnya pelan, air mata terus mengalir di pipinya. "Aku sangat menyesal, tapi ini demi kebaikanmu."
Etzell tahu bahwa jika Xoriz mengetahui tentang Monster Energy, dan bahaya yang mengintai manusia yang berevolusi, itu bisa menjadi ancaman bagi keselamatan temannya. Xoriz mungkin saja berusaha memahami hal-hal tersebut, tetapi Etzell tidak mau mengambil risiko.
"Maafkan aku, Xoriz. Aku harap kau akan baik-baik saja," ucapnya dalam hati sambil menghapus air mata dari pipinya.
Walaupun Etzell yakin bahwa dia telah mengambil keputusan yang benar, perasaan bersalah dan rasa kehilangan masih tetap ada. Etzell tidak tahu kapan dia akan bertemu lagi dengan Xoriz, atau apakah mereka akan bertemu lagi. Yang pasti, hari ini adalah hari terakhir mereka bersama di sekolah ini.
Etzell berdiri di bawah pohon itu, membiarkan air mata mengalir, dan berdoa dalam hati agar Xoriz akan selalu aman dan bahagia, tanpa harus terlibat dalam dunia yang begitu kompleks dan berbahaya seperti yang dia ketahui sekarang.
Kemudian Etzell memutuskan untuk langsung pulang ke rumahnya setelah berada di bawah pohon sekolah. Meskipun waktu pembelajaran belum berakhir, dia tidak ingin bertemu dengan Xoriz dan mengucapkan salam perpisahan padanya. Bagi Etzell, itu akan menjadi lebih menyakitkan.
Dia merasa bahwa tidak mengucapkan selamat tinggal kepada temannya adalah tindakan yang paling baik. Menghadapi kenyataan bahwa dia akan meninggalkan sekolah saja sudah terasa cukup sulit, apalagi jika menyusahkan Xoriz dengan perpisahan yang mendadak hanya akan menambah kepedihan mereka berdua.
Sebagai gantinya, Etzell memilih untuk pulang dan bersiap-siap menghadapi perubahan besar dalam hidupnya. Dia akan pindah ke sekolah yang berbeda dan menghadapi dunianya yang baru.
Meskipun hatinya penuh dengan rasa bersalah dan kehilangan, dia tahu bahwa keputusan ini adalah yang terbaik untuk melindungi temannya. Dengan langkah berat, Etzell meninggalkan sekolah dan memulai perjalanannya menuju rumahnya, merenungkan perpisahan yang tak terelakkan.