
Setelah bertemu dengan seseorang yang dikenal oleh Cassie, kini mereka semua berada di lingkungan sekolah yang telah hancur dan berantakan oleh puing-puing bangunan.
Orang yang dikenal oleh Cassie itu adalah seorang laki-laki bernama Loand Ego, panggilannya adalah Loand. Dia memiliki tubuh yang bungkuk dan kaku, serta rambutnya yang berwarna coklat.
Loand adalah seorang murid tahun kedua sama seperti Melissa, sedangkan untuk Cassie sendiri, dia adalah murid tahun ketiga di SMA Monster. Dan yang sudah pasti, Etzell, Asar, dan juga Fauna adalah murid tahun pertama yang baru saja masuk.
Loand juga telah berkenalan dengan Etzell, Fauna, dan Asar berkat kata-katanya yang membuat mereka bertiga salah paham.
Invasi Monster, sebenarnya itu adalah rahasia yang masih disembunyikan oleh para petinggi sekolah. Menurut mereka, para Monster akan datang dan memburu semua pengguna Monster Energy sampai benar-benar habis. Dengan adanya dugaan seperti itu, maka para petinggi sekolah memutuskan untuk menyembunyikannya demi kenyamanan para murid-murid sekolah.
"Apa kau benar-benar melakukan ini?" tanya Loand pada Etzell.
Sedari tadi, mereka berempat berada tepat di depan gerbang sekolah yang kini hanya berdiri setengah, untuk setengahnya lagi, itu sudah dihancurkan oleh Etzell. Mereka menatap lingkungan di sekitar sekolah dan terpaku pada pemandangan reruntuhan yang memang terlihat seperti habis diserang oleh gempa.
Setelah melihat keadaan sekolah yang hancur parah, wajar saja jika beberapa orang mungkin akan merasa terkejut. Sama halnya dengan Loand, Asar, dan juga Fauna, mereka sama sekali tidak bisa mempercayainya.
"Maafkan aku," jawab Etzell dengan nada rendah, dia benar-benar merasa bersalah akan itu.
"Kalian semua, jangan menekan Etzell!" perintah Cassie.
Untungnya Etzell merasa lebih baik karena Cassie bisa membantu dan memihak pada dirinya, jadi dia tidak terlalu memikirkannya.
"Aku sedikit kecewa karena tidak bisa menyaksikannya secara langsung," kata Asar.
"Apa maksudmu?" tanya Fauna bingung.
"Ya, kau benar," kata Loand menyela.
"Padahal akan sangat menarik jika aku melihat langsung pertarungan antara Etzell dan Cassie, lalu teriakan Etzell yang membuat gempa besar dan meruntuhkan sekolah ini," sambungnya.
"Itu memang sangat disayangkan, bukan?" balas Asar.
"Begitulah," jawab Loand singkat.
Mendengar pembicaraan diantara mereka, Etzell hanya bisa terdiam, dia merasa canggung karena dirinyalah yang telah membuat kerusakan itu.
"A-anu," Etzell berbicara pelan, kini dia memberanikan dirinya untuk berbicara.
"Ada apa?" tanya Cassie merespon.
Tidak hanya Cassie, yang lainnya juga merespon perkataan Etzell yang pelan itu dengan langsung menoleh ke arahnya.
"Kalian semua, maafkan aku!" kata Etzell dengan nada yang lebih tinggi.
Melihat Etzell yang terus-terusan meminta maaf pada dirinya dan yang lainnya, Cassie merasa kalau dia hampir kehabisan cara untuk menenangkan Etzell dan menghapus rasa bersalahnya itu.
"Etzell," Cassie memanggil.
"Ya, maafkan aku!" jawab Etzell.
Lagi dan lagi, Etzell terus meminta maaf pada siapapun yang dianggapnya telah dirugikan oleh dirinya sendiri.
"Bukan itu maksudku," balas Cassie.
"Aku memang tidak tahu apapun tentang dirimu, tapi aku ingin agar kau tidak terlalu menyalahkan dirimu sendiri," sambungnya.
Labil, bahkan sangat labil, itulah yang Cassie pikirkan tentang keadaan Etzell sekarang. Pada awalnya Etzell bisa merasa tenang, tetapi perasaannya berubah dengan cepat tanpa mengenal waktu, entah itu cepat atau lambat.
"Aku, maafkan aku," kata Etzell dengan pelan.
Seperti itulah, entah sudah berapa kali Etzell meminta maaf dan menundukkan kepalanya ke bawah, tetapi yang pasti, pada akhirnya Cassie hanya mendapatkan satu solusi dari permasalahan itu.
"Huh.. jika Tiwaz Re atau Melissa yang ada disini, apakah kau akan lebih tenang?" tanya Cassie sambil menghela nafasnya.
"Kenapa kau terus meminta maaf?" tanya Fauna ikut bertanya.
"Mungkin kau perlu obat penenang," kata Asar.
Mendengar beberapa perkataan dari orang disekitarnya, Etzell mulai merasa pusing, dia memegang kepalanya dan tubuhnya mulai bergetar tidak karuan.
"Etzell?" tanya Cassie.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Fauna.
"Aku tidak mengerti dengan orang ini," kata Asar.
Etzell terlihat semakin aneh, dan itu membuat mereka semua juga merasa semakin bingung dengan tingkah lakunya. Tubuhnya kini bergerak kesana kemari, hingga akhirnya dia berlutut sambil memegangi bagian kepalanya yang sakit.
Dengan pandangannya yang terus melihat ke bawah, Etzell meringis kesakitan dari dalam dan dia mengabaikan semua perkataan dari mereka.
"Jangan terlalu memikirkannya, jangan terlalu memikirkannya!"
Kata-kata itu terus terulang dalam pikiran Etzell, tapi sayangnya, dia tidak bisa mewujudkannya.
"Etzell, angkat kepalamu!" perintah Cassie.
Mendengar perintah dari Cassie, sebenarnya Etzell ingin segera mengangkat kepalanya, tapi apa boleh buat, kini bukan hanya kepalanya saja yang terasa sakit, namun semua bagian tubuh dalamnya juga ikut terasa sakit. Etzell tidak mengerti kenapa dia bisa mengalami hal ini, karena itulah dia terus mengeluh.
"Jizi Etzell? Kau kenapa?" tanya Loand saat melihat Etzell yang sedang berlutut.
"Etzell, kau baik-baik saja?" Asar ikut bertanya.
"Apa kau merasa tidak sehat?" Fauna juga ikut bertanya.
Loand, Asar, dan juga Fauna merasa khawatir saat melihat Etzell yang berlutut dan terdengar seperti meringis kesakitan, mereka ingin menolongnya, tapi mereka tidak tahu caranya.
Berbeda dengan Cassie, dia tidak terlihat khawatir pada Etzell. Sebenarnya Cassie merasa lebih khawatir jika dia tidak bisa menjalankan perintah dari Tiwaz Re dengan benar, jadi dia memutuskan untuk segera mengakhiri kesadaran Etzell.
Mengakhiri kesadaran bukan berarti membunuhnya, tetapi lebih ke membuatnya tak sadarkan diri atau pingsan. Cassie berencana menggunakan teknik bonekanya untuk memindahkan kesadaran Etzell dan mengakhirinya, dengan begitu dia akan merasa lebih tenang karena tidak perlu memikirkan apapun lagi.
"Etzell?!"
Secara perlahan, Etzell mulai bangkit dan dia mengeluarkan ekspresi yang sangat berbeda dari sebelumnya. Wajahnya penuh dengan keringat, dan bola matanya yang berwarna hitam hampir tidak terlihat lagi. Hal itu membuat mereka semua merasa terkejut, termasuk Cassie sendiri.
Setelah menunjukkan ekspresi yang aneh itu, Etzell mulai membuka mulutnya dan sepertinya dia ingin berteriak dengan sangat keras.
"WA-"
"Gawat!" seru Cassie.
"Angry Doll, Soul Swap!"
Untungnya sebelum Etzell sempat berteriak, Cassie sudah menyadarinya dan dia pun dengan cepat mengeluarkan tekniknya yang bernama "Angry Doll, Soul Swap!". Itu adalah teknik yang digunakan Cassie untuk menukar jiwa seseorang dengan jiwa boneka melalui perantara boneka beruangnya. Dengan begitu, jiwa Etzell akan tertukar dengan jiwa boneka beruang milik Cassie.
"Etzell?!" kata Asar terkejut.
"Apa dia pingsan?" gumam Loand.
Karena tubuh Etzell saat ini dihuni oleh jiwa boneka beruang milik Cassie, jadinya tubuhnya langsung ambruk dan pingsan di tempat. Itu membuat Fauna dan Asar mendekati tubuh Etzell dengan perasaan khawatir.
"Cassie, apa yang kau lakukan?" tanya Fauna.
"Aku tidak memiliki pilihan lain lagi, lagipula aku hanya ingin membuatnya lebih tenang," jawab Cassie dengan santai.
"Tapi, apakah dia akan baik-baik saja?" tanya Fauna, dia terus merasa khawatir dengan kondisi Etzell.
"Baiklah, ini perintah untuk kalian berdua, Fauna dan Asar," kata Cassie.
"Hah?!" tanya Fauna bingung.
"Perintah apa?" Asar ikut bertanya.
"Kalian berdua, bertarung lah denganku," jawab Cassie dengan tatapan seriusnya.
Mendengar perintah dari Cassie, Fauna dan Asar merasa semakin bingung. Mereka menatap satu sama lain, sebelum akhirnya kembali menatap Cassie.
"Loand, bawa tubuh Etzell pergi dari sini," kali ini Cassie memerintahkan Loand.
"Aku mengerti," jawab Loand.
Setelah diperintahkan oleh Cassie, Loand pun dengan cepat membawa tubuh Etzell pergi dari lingkungan sekolah yang penuh dengan reruntuhan ini.