Monster Evolution

Monster Evolution
BAB 24: Murid Tahun Pertama 2/2



Masih di dalam restoran yang terlihat sederhana namun berkelas ini, Etzell dan Cassie mulai menyantap makanan mereka dengan penuh selera.


Etzell menggigit burger dagingnya dengan lahap, sausnya mengucur dan menetes di sisi bibirnya. Setiap gigitan menghasilkan rasa gurih dan lezat yang membuatnya mengangguk-angguk puas.


Walaupun Etzell memesan makanan itu secara terpaksa, dia tetap memakannya dengan lahap tanpa memperdulikan apapun lagi.


Sementara itu, Cassie menikmati setiap kentang goreng dengan senyum di wajahnya. Dia merasakan kelezatan kentang yang renyah di luar dan lembut di dalamnya. Minuman bersodanya yang berbuih memberikan kesegaran di tenggorokannya setiap kali dia meminumnya.


"Yah, ini memang enak," kata Cassie sambil tersenyum, dia benar-benar menikmati makanannya.


"Bagaimana denganmu, Etzell?" tanya Cassie pada Etzell.


"Tidak ada masalah, semua makanan akan terasa enak jika gratis," jawab Etzell.


"Hahaha, jujur sekali kau ini," balas Cassie, dia tertawa karena mendengar jawaban dari Etzell.


Setelah beberapa menit melahap makanan yang ada, akhirnya mereka berdua telah menghabiskannya, dan kini mereka berniat untuk melanjutkan pembicaraan yang terpotong sebelumnya.


Sedari awal, Cassie memang berniat untuk membicarakan banyak hal dengan Etzell, karena dia penasaran tentang kekuatan dan teknik darinya.


"Jadi, Etzell, apa yang ingin kau tanyakan sebelumnya?" tanya Cassie.


"Umm.."


Mendengar pertanyaan dari Cassie, Etzell berpikir sejenak tentang apa yang ingin dia tanyakan sebelum pelayan itu datang dan membawakan makanan yang dipesan.


"Jangan bilang kau melupakannya?" tanya Cassie lagi.


"Aku tidak mungkin lupa," jawab Etzell.


"Aku ingin menanyakan keberadaan Melissa, jadi di mana dia sekarang?" sambungnya sambil bertanya.


Dalam beberapa saat saja, Etzell sudah mengingat tentang apa yang ingin dia tanyakan. Tentu saja dia tidak melupakannya, karena itu adalah tentang orang yang dicintainya.


"Oh, aku ingat sekarang," kata Cassie sambil menepuk tangannya.


"Tapi, percuma saja jika kau ingin mencari Melissa," sambungnya.


"Kenapa percuma?" tanya Etzell bingung.


"Sama seperti Tiwaz Re, walaupun lebih lemah, Melissa bisa memakai teknik teleportasi dan kurasa agak merepotkan jika ingin mencarinya," jawab Cassie.


Mendengar jawaban dari Cassie, Etzell tetap memantapkan dirinya untuk bertemu dengan Melissa. Etzell ingin melihat keadaannya secara langsung, karena itulah dia tetap ingin melakukannya.


"Aku tetap ingin bertemu dengannya, bisakah kau membantuku?" tanya Etzell.


"Sudah kubilang, mencari Melissa adalah hal yang merepotkan," jawab Cassie.


"Tapi aku ingin bertemu dengannya sekarang!" balas Etzell, dia menatap Cassie sambil memohon padanya.


"Astaga, ternyata mengurus murid tahun pertama itu lebih menyusahkan," gumam Cassie, dia mengeluh karena mendengar permohonan dari Etzell yang memang agak merepotkan.


Cassie tidak mengerti alasan kenapa Etzell sangat ingin bertemu dengan Melissa. Awalnya Cassie berpikir kalau Etzell hanya merasa bersalah karena telah membuat Melissa terluka, tapi entah kenapa, dia merasakan ada maksud lain dari Etzell.


"Maafkan aku, Etzell, mungkin akan lebih baik jika kau meminta tolong pada Tiwaz Re nanti," kata Cassie dengan nada pelan.


"Begitu ya?" tanya Etzell, dia menjadi murung karena Cassie tidak dapat membantunya.


Sebenarnya Etzell bisa meminta tolong pada Tiwaz Re, tetapi dia merasa tidak enak karena sudah ditolong beberapa kali olehnya. Lagipula, Etzell tidak tahu keberadaan Tiwaz Re sekarang. Apakah dia masih berada di rumah Etzell, ataukah sudah pergi dari sana?


"Ya, sebaiknya kita bersantai dulu disini sambil menunggu teman seangkatanmu," kata Cassie.


"Aku mengerti," balas Etzell.


Pada akhirnya, Etzell memutuskan untuk tetap berada di restoran ini bersama dengan Cassie sambil menunggu teman seangkatannya datang.


"Cassie," Etzell memanggil.


"Ada apa?" tanya Cassie.


"Bukan masalah tepat atau tidaknya, tetapi ini masalah yakin atau tidak yakin. Jika kau ragu sepersekian detik saja, maka akan sangat fatal untuk kedepannya," kata Cassie menjawab pertanyaan dari Etzell.


"Ah, jadi begitu, Tiwaz Re juga mengatakan hal yang sama padaku," balas Etzell.


"Apa kau mengerti sekarang?" tanya Cassie.


"Ya, kurang lebih," jawab Etzell.


Satu hal yang pasti, Etzell merasa kalau dirinya harus yakin akan suatu hal dan tidak boleh ragu walaupun hanya sesaat, karena jika dia merasa ragu, maka jalan untuk kedepannya akan menjadi lebih sulit.


"Cassie?"


Saat Etzell dan Cassie sedang berbicara satu sama lain, tiba-tiba suara yang asing terdengar di telinga Etzell. Namun berbeda dengan Cassie, dia mengenal suara itu.


Sumber suara yang baru terdengar di pintu masuk restoran, itu membuat Etzell dan Cassie menatap ke arah pintu masuk itu. Mereka melihat dua orang, satu laki-laki dan satunya lagi perempuan.


"Oh, Fauna, Asar! Aku disini!" kata Cassie menyambut suara itu, dia menatap mereka berdua sambil melambaikan-lambaikan tangan kanannya.


Dengan datangnya dua orang yang baru saja memasuki ruangan, Cassie telah memanggil semua murid tahun pertama ke restoran ini.


"Oh, Cassie, kau terlihat lebih bersemangat dari biasanya," kata seorang perempuan yang baru saja mendekati Cassie.


"Karena kita baru saja kedatangan murid baru," balas Cassie.


"Siapa dia?" tanya seorang lelaki di sebelahnya.


"Perkenalkan, namanya Jizi Etzell, kalian bisa memanggilnya Etzell," kata Cassie memperkenalkan Etzell pada mereka berdua.


Setelah diperkenalkan oleh Cassie, mereka berdua mulai menatap Etzell dengan serius. Mereka memperhatikan penampilan Etzell dari bawah kaki sampai ujung rambut.


"A-anu, salam kenal," kata Etzell dengan nada pelan, dia merasa malu karena diperhatikan secara detail oleh mereka berdua.


"Akan lebih baik jika kalian ikut memperkenalkan diri juga," kata Cassie.


Merasa sudah cukup melihat-lihat, perempuan itu mulai menatap mata Etzell sambil tersenyum, dia berniat untuk memperkenalkan dirinya kali ini.


"Namaku Fauna Jocasta, kau bisa memanggilku Fauna, salam kenal!" kata Fauna memperkenalkan dirinya.


"Iya, salam kenal juga!" balas Etzell.


Perempuan itu bernama Fauna Jocasta, panggilannya Fauna, dia memiliki rambut panjang berwarna hijau yang mencerminkan cintanya pada alam. Dia juga sering mengenakan pakaian yang terbuat dari bahan-bahan alami dan aksesori yang terinspirasi oleh alam.


"Kalau aku, Asar Savitr, panggilanku Asar," kata Asar, dia memperkenalkan dirinya secara singkat.


Asar adalah seorang pria dengan penampilan sederhana, dia selalu mengenakan kacamata dan pakaian formal. Namun, keunikannya adalah bahwa dia selalu membawa buku kecil yang dia taruh di kantong celananya.


"Salam kenal, Asar, Fauna juga," kata Etzell.


"Ya," balas Asar.


"Mohon kerjasamanya," balas Fauna.


Dengan sesi perkenalan yang diadakan secara singkat, kini mereka bertiga telah resmi berkenalan dan saling mengenal satu sama lain.


"Kalian bertiga adalah murid tahun pertama di SMA Monster, jadi aku ucapkan sekali lagi, selamat datang di SMA Monster!" kata Cassie menyambut mereka bertiga.


"Terima kasih, Cassie," kata Etzell berterimakasih.


"Ini akan jadi hal yang menyenangkan," kata Fauna, dia merasa bersemangat karena ingin berburu banyak Monster.


"Kuharap begitu," balas Asar.


"Baiklah, ayo kita segera kembali ke SMA Monster," kata Cassie.


Selesai dengan sesi penyambutan, Cassie meminta Etzell, Fauna, dan juga Asar untuk kembali ke SMA Monster.