Monster Evolution

Monster Evolution
BAB 22: Kondisi Mental 2/2



POV (Tiwaz Re)


Masih dalam sudut pandang Tiwaz Re, kini dia menghadapi Pangu Konshu yang sedang terikat dengan rantai.


"Aku tidak tahu kenapa kau begitu penasaran tentang Etzell," kata Pangu Konshu.


"Kau tidak berhak tahu," balas Tiwaz Re.


"Jika kau tidak ingin menjelaskan, silahkan mati disini sekarang," sambungnya mengancam.


Mendengar ancaman yang diberikan oleh Tiwaz Re, bukannya merasa takut, Pangu Konshu malah mulai tersenyum kecil.


"HAHAHA! Aku akan mati!" kata Pangu Konshu sambil tertawa, dia tertawa dengan keras dan suaranya memenuhi seisi ruangan ini.


"Astaga, ternyata dia lebih parah dari yang aku kira," gumam Tiwaz Re.


Tiwaz Re memahami tentang kondisi mental yang dialami oleh Pangu Konshu setelah dia menceritakan tentang kehidupannya. Namun satu hal yang tidak disangka-sangka oleh Tiwaz Re, ternyata Pangu Konshu tidak memiliki rasa takut sama sekali. Jika dia diancam untuk dibunuh, maka dia akan semakin senang.


"Percuma saja jika aku merantai-nya," gumam Tiwaz Re lagi.


Dengan ancaman yang telah dia berikan sebelumnya, yang dimana jika Pangu Konshu berbohong maka tubuhnya akan semakin remuk, hal itu hanya akan memberikan jalan buntu bagi Tiwaz Re. Alasannya karena Pangu Konshu sudah berada di titik di mana dia tidak memiliki alasan untuk hidup lagi. Bisnis restorannya adalah segalanya, kira-kira seperti itulah maksud dari Tiwaz Re.


"Bunuh aku! Bunuh aku!" seru Pangu Konshu, tatapannya semakin kosong seolah-olah merasa siap untuk dibunuh kapan saja dan dengan cara apapun.


Melihat Pangu Konshu yang semakin menggila padahal sebelumnya sudah cukup tenang, Tiwaz Re memutuskan untuk segera melepas rantai yang mengikat tubuh Pangu Konshu.


"Akan sangat merepotkan jika kau menyadarinya," kata Tiwaz Re.


"Menyadari apa? Hah?!" tanya Pangu Konshu sambil membentak Tiwaz Re.


Hanya dalam beberapa waktu saja, Pangu Konshu kembali bersikap seperti sebelumnya. Bahkan kali ini, dia bersikap lebih kasar saat menyadari kalau ikatan rantainya mulai melemah. Dia juga mulai menggeliat seperti cacing dan berusaha untuk membebaskan dirinya.


"Tidak, bukan apa-apa," jawab Tiwaz Re.


TAK!


Tiwaz Re lalu menjentikkan jarinya dan tak lama kemudian teknik Chain Slash miliknya benar-benar hancur, itu membuat Pangu Konshu terbebas sepenuhnya.


"Akhirnya aku bebas!" seru Pangu Konshu.


Rantai yang mengikat Pangu Konshu kini telah menghilang, dan dia pun terbebas dari jeratan rantai itu. Tentu saja, kebebasannya itu disambut dengan baik oleh dirinya sendiri.


"Bisa-bisanya aku sempat tertipu," gumam Tiwaz Re, dia menatap Pangu Konshu yang terlihat mulai bangkit dari kursi tamu.


Tiwaz Re memang belum mendapatkan informasi apapun tentang Etzell dari Pangu Konshu, bahkan mungkin, dia tidak akan bisa mendapatkan informasi apapun. Alasannya hanya satu, karena...


"Kau tahu? Aktingmu sangat bagus, Loke Lityous," kata Tiwaz Re.


"Apa?!" balas Pangu Konshu terkejut.


Saat dipanggil menggunakan nama Loke Lityous oleh Tiwaz Re, dia merasa sangat terkejut. Tatapannya terpaku pada Tiwaz Re selama beberapa saat, sebelum dia mulai kembali berubah menjadi sosoknya yang asli, yaitu Monster murni.


"Sedari awal, aku merasa aneh karena kau bisa melihat teknik Chain Slash milikku. Manusia biasa tidak akan bisa melihatnya, karena mereka tidak memiliki Monster Energy," kata Tiwaz Re.


"Eh, benar juga," balas Loke Lityous sambil tersenyum kecil.


"Siapa sangka kita akan bertemu lagi disini?" tanya Tiwaz Re.


"Ya, aku kesal karena kau melarikan diri," jawab Loke Lityous.


"Aku tidak melarikan diri, aku hanya fokus pada satu tujuan saja saat itu, yaitu menyegel pimpinan kalian," balas Tiwaz Re.


Loke Lityous menggunakan tubuh Pangu Konshu untuk menyamar dan dia terus dapat memakai wujud dari Pangu Konshu karena tekniknya sendiri.


"Kau hanyalah pengecut yang suka main di belakang," kata Loke Lityous mengejek Tiwaz Re.


"Kau lebih pengecut karena bisa memakai semua teknik dari semua Monster, kecuali milik Dionysius," Tiwaz Re membalas ejekan dari Loke Lityous.


Seperti yang dikatakan oleh Tiwaz Re, itu tadi adalah teknik dari Loke Lityous, yang dimana dia bisa menggunakan semua teknik dari para Monster kecuali teknik dari sang raja dari para Monster, yaitu Loke Dionysius.


"Memangnya kenapa? Kau sendiri juga terlalu bangga karena menggunakan teknik pinjaman," balas Loke Lityous lagi.


"Ya, sudahlah. Jadi, Lityous, bisa katakan kenapa kau mengincar Jizi Etzell?" tanya Tiwaz Re.


Karena pembicaraan sudah berlangsung cukup lama, terlebih lagi dengan Tiwaz Re yang tidak mendapat informasi apapun, jadi dia dengan segera ingin mengakhirinya.


"Kau tidak berhak tahu," jawab Lityous.


"Tapi aku berterimakasih padamu, karena kau telah memperkenalkan teknik Red Flash padaku. Ini pertama kalinya aku terkena serangan dari Normal Flash yang diperkuat, jadi aku akan beradaptasi untuk nanti," sambungnya.


Pada dasarnya, para Monster memang diberikan kemampuan adaptasi yang luar biasa. Berbeda dengan manusia yang perlu banyak pengalaman untuk beradaptasi, Monster hanya perlu satu atau dua kali lihat untuk beradaptasi. Karena itulah, pada saat berburu Monster tipe bayangan, Tiwaz Re menyuruh Melissa untuk menggunakan teknik terlemahnya saja, karena mereka akan melakukan adaptasi untuk kedepannya jika terus melihat teknik baru.


"Setidaknya tunjukkan rasa terima kasihmu," balas Tiwaz Re.


Mendengar perkataan dari Lityous, Tiwaz Re mulai tersenyum dan menganggap kalau Lityous adalah lawannya yang pantas setelah Dionysius. Tubuhnya mulai terasa panas karena ingin segera memulai pertarungan dengan Lityous.


Tiwaz Re mulai meregangkan ototnya dengan melompat-lompat kecil dan mengayunkan kedua tangannya ke arah yang tidak beraturan.


"Jangan terburu-buru, Tiwaz Re!" kata Lityous.


"Aku tidak mendapat apa-apa lagi jika berada disini, jadi kita bisa melakukannya nanti saat aku menjadi lebih kuat, bukannya itu adalah harapanmu?" sambungnya sambil bertanya.


Melihat Tiwaz Re yang mengajaknya untuk bertarung, Lityous menyuruhnya agar tidak terburu-buru, karena sebenarnya dia yakin dengan apa yang telah dia miliki sekarang, itu tidak akan cukup untuk mengalahkan Tiwaz Re.


"Ayolah, aku sedang panas sekarang," kata Tiwaz Re sambil memainkan jari tangannya.


"Tidak, terima kasih," balas Lityous.


Tentu saja, dengan persentase kemenangan yang hampir mencapai 0%, Lityous tidak ingin mengambil resiko dengan melawan Tiwaz Re sekarang. Dia berencana untuk melawan Tiwaz Re nanti, saat dia sudah mencapai tujuannya dan menjadi lebih kuat.


"Big Spike!"


Kemudian Lityous menggunakan teknik Big Spike untuk menampilkan duri-duri yang tajam dan menusuk, dia menggunakan teknik itu untuk melarikan diri. Walaupun itu untuk melarikan diri, tetap saja duri itu akan berefek sangat fatal jika terkena ujungnya secara langsung.


Karena teknik dari Big Spike milik Lityous, bagian bawah tanah di rumah Etzell bergetar begitu saja, lalu tak lama kemudian duri-duri besar dan tajam mulai menusuk semua bagian rumah Etzell.


"Serangan lemah macam apa ini?" tanya Tiwaz Re.


Tiwaz Re memang berhasil menghindari semua serangan duri itu, tetapi tidak untuk rumahnya Etzell.


Rumah Etzell yang sebelumnya adalah tempat yang nyaman dan penuh kenangan, kini telah berubah menjadi reruntuhan yang tragis. Serangan duri-duri besar dan tajam yang tak terkendali telah merobohkan hampir seluruh struktur rumah.


Dinding-dinding yang dulunya kokoh kini penuh dengan celah besar dan sobekan. Atapnya runtuh, dan serpihan atap berserakan di sekitar halaman rumah. Ruangan-ruangan yang dulunya terasa nyaman dan penuh kehangatan kini hanya tersisa tumpukan puing-puing dan debu.


"Astaga, apakah ini cara yang baik untuk berterimakasih?" tanya Tiwaz Re sebelum melihat Lityous benar-benar menghilang.


"Ya, terserahlah, kupikir rumahnya yang hancur ini hampir mirip dengan kondisi mental Etzell yang sekarang," gumam Tiwaz Re.


"Teleportation!"


Selesai berurusan dengan Lityous, Tiwaz Re menggunakan teknik teleportasinya, dia memutuskan untuk menemui Etzell dan memberitahukan tentang keadaan rumahnya.