Monster Evolution

Monster Evolution
BAB 23: Murid Tahun Pertama 1/2



Sudut pandang beralih kembali ke Etzell, dia baru saja menghancurkan sekolah barunya dengan penuh perasaan bersalah. Walaupun Cassie sudah mengatakan kalau Etzell tidak perlu terlalu memikirkannya, tetap saja dia merasa gelisah.


"Kau masih memikirkannya?" tanya Cassie.


"Tentu saja, kan? Aku hampir mengancam nyawa banyak orang, bahkan nyawamu juga! Terlebih lagi aku telah menghancurkan sekolah baruku!" jawab Etzell dengan sedikit nada tinggi, dia masih merasa gelisah atas apa yang telah dia perbuat.


Saat ini, dengan keadaan sekolah yang sudah hancur parah, Cassie mengajak Etzell untuk pergi makan dan bersantai di restoran yang berada dekat dengan sekolah. Untungnya, restoran itu tidak terkena dampak gempa yang ditimbulkan oleh Etzell. Lalu dengan wajahnya yang sulit ditebak, Etzell pun menyetujui ajakan dari Cassie.


Sebuah restoran sederhana di dalam ruangan ini menawarkan atmosfer yang nyaman dan hangat. Dindingnya dihiasi dengan kayu berwarna coklat dan lukisan-lukisan makanan yang menambah nuansa restoran berkelas. Lantainya tertutup dengan ubin keramik bersih dan berwarna putih lembut. Dan juga, meja-meja kayu dengan kursi yang nyaman tersebar di seluruh ruangan, menciptakan suasana yang ramah dan santai.


Untuk Etzell dan Cassie, mereka berdua duduk di meja kayu yang nyaman dalam restoran yang penuh cahaya alami ini.


Tidak hanya itu, restoran ini memiliki pelayan yang ramah berjalan ke sana kemari, mengantarkan hidangan lezat kepada setiap pelanggan yang menikmati makan pagi mereka. Karena itulah, aroma masakan segar mengisi udara, menggugah selera setiap pengunjung.


"Tenanglah, Etzell!" kata Cassie berusaha menenangkan Etzell.


"Percaya padaku, semuanya akan baik-baik saja!" sambungnya.


Etzell menatap Cassie dengan tatapan bingung. Tentu saja Etzell merasa bingung, karena menurutnya, semua hal yang telah dia lakukan itu sudah tak termaafkan.


"Oh, begini saja. Ayo kita lakukan tes lanjutan disini!" kata Cassie lagi, dia berusaha untuk menenangkan Etzell yang terlihat labil.


Sebelumnya, Cassie masih bisa melihat Etzell dengan keadaan yang tersenyum, bahkan setelah melihat sekolah barunya itu hancur parah. Namun setelah berada di dalam restoran ini, entah kenapa keadaannya berubah, Etzell menjadi merasa sangat bersalah atas apa yang telah dia perbuat.


Setelah melihat perubahan drastis dalam diri Etzell itu, Cassie menyimpulkan kalau Etzell terlalu banyak berpikir dan terus menyalahkan dirinya sendiri. Untuk itu, Cassie berniat untuk membuat Etzell merasa lebih tenang dan benar-benar tenang.


"Tes lanjutan? Tapi aku tidak ingin menghancurkan sesuatu lagi," kata Etzell.


"Tenang saja, tes kali ini sangat mudah, karena kau tidak perlu menghancurkan apapun," balas Cassie.


Dengan keadaan yang semakin membingungkan, Etzell terdiam menatap Cassie, dia hanya bisa berharap kalau tes lanjutan itu bukanlah sesuatu yang menghancurkan lagi.


"Apa yang harus kulakukan?" tanya Etzell.


"Pesanlah sesuatu di restoran ini, aku yang akan membayarnya," jawab Cassie.


"Eh?!" kata Etzell bingung.


Mendengar perkataan atau tes yang diberikan oleh Cassie, secara sesaat, Etzell merasa bingung karena kesulitan mencerna kata-kata darinya. Dia hanya mendapat satu jawaban atas apa yang harus dia lakukan, yaitu dengan membiarkan Cassie membayar makanan yang telah dia pesan.


"Jika kau melakukannya, maka aku menjamin kalau mereka semua akan memaafkanmu," kata Cassie.


"Kenapa begitu?" tanya Etzell.


"Lakukan saja! Apa kau ingin dimaafkan?" Cassie bertanya balik sambil memerintah.


"Aku mengerti," jawab Etzell.


Apa boleh buat, Etzell berpikiran kalau dia memang harus melakukannya. Walaupun Etzell tahu tujuan sebenarnya dari tes lanjutan yang diberikan oleh Cassie, dia tidak ingin membicarakannya lebih lanjut dan memutuskan untuk mengikuti alurnya saja.


"Jadi, kau mau pesan apa?" tanya Cassie.


"Umm.. biar kulihat daftar menunya," jawab Etzell.


Etzell mengambil daftar menu yang berada di atas meja tempatnya duduk, lalu membacanya.


"Permisi, kami mau pesan sesuatu," kata Cassie pada pelayan restoran, dia mengangkat tangan kanannya dan menyuruh salah satu pelayan untuk mendatanginya.


"Ya, mau pesan apa?" tanya pelayan restoran itu yang dengan cepat mendekat ke arah Cassie dan Etzell berada.


"Etzell, bagaimana?" tanya Cassie pada Etzell.


"Eh, iya, aku ingin memesan burger daging dan minuman soda dingin," jawab Etzell, dia menjawab dengan sedikit keraguan.


"Baiklah, satu burger daging dan satu soda dingin, bagaimana denganmu?" tanya pelayan restoran itu lagi.


"Baiklah, satu burger daging, satu kentang goreng, dan dua minuman soda dingin," balas pelayan restoran itu sambil mencatat pesanan dari Etzell dan Cassie.


Mereka berdua telah memesan hidangan mereka, dan kini mereka hanya perlu menunggu sambil bersantai di restoran yang tenang ini.


Etzell, dengan keadaan yang sedikit terpaksa, memesan burger daging. Untuk minumannya, dia memesan minuman bersoda dingin yang akan menyegarkan tenggorokannya.


Sedangkan Cassie, dia memesan kentang goreng yang renyah dan lezat sebagai hidangan utamanya. Untuk minumannya, dia juga memilih minuman bersoda yang akan menyempurnakan hidangan kentang gorengnya.


"Pesanan akan segera datang, jadi silahkan menunggu!"


Selesai meminta pada Etzell dan Cassie untuk menunggu pesanan yang datang, pelayan restoran itu dengan cepat berbalik dan menuju dapur restoran.


"Apa kau sedikit lebih tenang sekarang?" tanya Cassie.


"Entahlah," jawab Etzell.


"Huh," Cassie menghembuskan nafasnya.


Melihat Etzell yang tak kunjung merasa lebih tenang, Cassie menjadi bingung tentang apa yang sebenarnya Etzell pikirkan.


"Sebenarnya, apa yang kau pikirkan?" tanya Cassie, dia sudah terlalu penasaran dan ingin mendengar alasannya secara langsung dari mulut Etzell.


Mendengar pertanyaan dari Cassie, Etzell menundukkan kepalanya, kini pandangannya hanya melihat kedua kakinya sendiri dan juga ubin lantai restoran.


"Maaf, Cassie," jawab Etzell dengan pelan.


"Kenapa kau meminta maaf?" tanya Cassie lagi.


"Jujur saja, aku takut membebani kalian," jawab Etzell.


Masih dengan kepalanya yang tertunduk, Etzell mengutarakan tentang apa yang telah dia khawatirkan sepanjang pagi ini.


"Membebani? Apa maksudnya?" tanya Cassie.


"Ya, karena diriku yang tidak bisa berbuat apa-apa kemarin, Melissa jadi terluka parah, dia bahkan rela tertusuk-tusuk hanya untuk melindungiku," jawab Etzell.


Cassie mulai sedikit memahami tentang hal yang Etzell khawatirkan sekarang, dia mengerti tentang Etzell yang menganggap kalau dirinya hanyalah seorang beban dan membuat seseorang terluka.


"Kau tahu, Etzell? Melissa sudah sangat sehat sekarang, dia bahkan berlatih lebih keras dari sebelumnya untuk hari ini," kata Cassie.


Perasaan Etzell menjadi campur aduk setelah mendengar pernyataan dari Cassie kalau Melissa sudah sehat sekarang, bahkan sangat sehat. Dia merasa bingung, tetapi juga senang karenanya. Karena itulah, Etzell kembali mengangkat kepalanya dan menghadapi Cassie dengan benar.


"Apa lukanya bisa sembuh dalam satu hari?" tanya Etzell merasa bingung.


"Ya, begitulah," jawab Cassie singkat.


"Lalu dimana dia se-"


"Maaf menunggu lama, pesanan kalian sudah tiba!"


Pembicaraan antara Etzell dan Cassie menjadi terpotong karena kedatangan pelayan restoran yang telah mengantarkan pesanan mereka berdua sebelumnya. Pelayan itu datang dengan dua buah piring berisikan burger daging dan juga kentang goreng, lalu dua buah gelas yang sama-sama berisikan minuman bersoda dingin.


"Pembicaraan kita akan segera dilanjutkan," kata Cassie sambil menerima pesanan dari pelayan itu.


"Kebetulan aku juga telah mengundang semua murid tahun pertama untuk datang kesini, jadi akan lebih baik jika kita habiskan dulu makanan yang kita pesan," sambungnya.


"Semua murid tahun pertama? Bukankah itu terlalu banyak?" tanya Etzell bingung.


"Tidak, kok. Murid tahun pertama hanya berjumlah dua orang, itu akan menjadi tiga orang jika ditambah denganmu," jawab Cassie.


"Hah?!" balas Etzell dengan tatapan tidak percayanya.