
Suara kicauan burung yang ceria memecah keheningan pagi, memberikan sentuhan kedamaian pada saat fajar. Tetapi kedamaian itu hanya berlangsung sesaat bagi Etzell, karena dia akan menghadapi Cassie yang sepertinya akan menyerangnya tanpa ampun.
Etzell menatap jarum besar yang melayang di atas kepalanya. Dia bingung harus berbuat apa karena jarum itu seolah-olah siap untuk menyerangnya kapan saja.
"Sudah kubilang, jangan lengah!" seru Cassie.
Cassie mulai menyerang Etzell menggunakan jarum besar yang dikendalikannya. Pada dasarnya, teknik milik Cassie adalah pengendali boneka dan objek yang berhubungan dengan boneka, jadi karena itulah dia bisa mengendalikan jarum besar untuk menyerang. Cassie juga bisa menggunakan boneka beruang-nya untuk menyerang, tetapi itu terlalu berbahaya bagi Etzell yang masih awam tentang Monster Energy.
Jarum besar itu benar-benar bergerak dengan cepat, dan tujuannya adalah untuk menyerang Etzell. Disaat itulah, Etzell harus bisa berpikir sepersekian detik tentang apa yang harus dia lakukan.
"Apa yang harus kulakukan?" tanya Etzell pada dirinya sendiri, dia merasa sedikit panik karena jarum yang melayang itu terlalu besar.
Karena Etzell menganggap kalau keadaan sekarang adalah keadaan yang genting, secara terpaksa, dia melakukan kilas balik singkat dan mencoba mencerna apa yang telah dikatakan Tiwaz Re padanya sebelumnya. Walaupun otak Etzell terasa panas, dia tetap melakukannya.
"Kau akan mati karena keraguan itu," kata Tiwaz Re di pikiran Etzell.
Mengingat kembali kata-kata dari Tiwaz Re, Etzell merasa beruntung karena berhasil mengingat perkataannya pada bagian penting. Kemudian setelah mengingat kata-kata itu, Etzell kembali mengingat tentang teknik apa yang mungkin bisa dia pakai, dan jawabannya hanya satu, yaitu teriakan.
Satu hal yang harus Etzell lakukan sekarang adalah meyakini kalau dia tidak boleh ragu lagi, karena jika masih ragu, maka pikiran untuk melindungi orang yang dicintainya hanyalah omong kosong belaka.
"Ini demi Melissa," gumam Etzell.
Dalam waktu sepersekian detik, Etzell melihat jarum besar itu masih melayang diatas kepalanya, lalu tak lama kemudian jarum itu bergerak ke arahnya. Kecepatan serangannya tidak diketahui oleh Etzell, jadi dia memutuskan untuk segera berteriak sebelum jarum itu mengenai dirinya.
Etzell merasa seakan-akan seluruh Monster Energy mendesaknya untuk melepaskan semua yang ada di dalam tubuhnya. Dengan tatapan penuh keyakinan, tanpa ragu sama sekali, dia mengumpulkan segala kekuatan yang dimilikinya. Kemudian, dengan teriakan yang luar biasa keras, dia melepaskan Monster Energy dengan kapasitas yang besar.
"BERHENTI! JANGAN MENYERANGKU!"
Sesaat setelah Etzell berteriak dengan sangat keras, getaran kembali terjadi sama seperti sebelumnya, tetapi kali ini lebih dahsyat dan berefek.
Teriakan Etzell benar-benar menggema, seolah-olah dia menciptakan getaran di sekitarnya. Getaran itu semakin kuat, merambat seperti gelombang ke segala arah. Tanah di bawah kakinya berguncang, dan bangunan-bangunan sekitarnya bergoyang hebat.
"Kekuatan apa ini?!" tanya Cassie terkejut sambil melihat sekelilingnya bergetar hebat, dia menjaga keseimbangannya di atas getaran yang dibuat oleh Etzell.
Getaran itu semakin menguat dan berlanjut menjadi gempa bumi yang mengerikan. Semua bangunan di sekitarnya terguncang, beberapa bahkan roboh karena kekuatan getaran yang luar biasa. Suara deru gempa mengisi udara, dan debu beterbangan di mana-mana.
"Uh.. sial," kata Cassie.
Cassie pada akhirnya terjatuh dan tidak bisa menjaga keseimbangannya karena getaran itu terlalu kuat. Boneka beruang yang dipegangnya juga ikut terjatuh karena terlepas dari pelukannya, sama halnya dengan jarum besar yang menyerang Etzell tadi, jarum itu langsung tergeletak ke tanah sesaat setelah Etzell berteriak.
"Hah?! Apa yang sudah kulakukan?" tanya Etzell pada dirinya sendiri, dia tidak menyangka kalau teriakannya akan berefek sangat parah pada lingkungan sekitarnya.
Jika dihitung, teriakan dari Etzell barusan telah membuat skala gempa mencapai 5,0 SR, itu membuat beberapa bagian dari sekolah hancur dan meratakan apa pun yang berada di jalurnya.
Etzell, dalam kekuatannya yang tak terkendali, melahirkan bencana yang tak terelakkan. Dia jadi merasa bersalah karena membuat Cassie dan beberapa orang yang ada di lingkungan sekolahnya dalam bahaya.
Walaupun Etzell tidak tahu apakah ada orang selain dirinya sendiri dan Cassie di lingkungan sekolahnya, dia tetap merasa bersalah karena telah menghancurkan beberapa bangunan sekolah.
"Jangan khawatirkan yang lain, karena mereka sedang berlibur," sambungnya.
"Berlibur?! Apa maksudmu?" tanya Etzell bingung.
"Ya, mereka semua tidak ada disini sekarang," jawab Cassie sambil memungut boneka beruang-nya yang terjatuh.
Mendengar perkataan dari Cassie, Etzell merasa sedikit lega karena secara kebetulan tidak ada orang di lingkungan sekolahnya, yang ada hanyalah dirinya sendiri dengan Cassie.
"Baiklah, Etzell, aku menyerah. Dan selamat, kau lulus dalam tes kelayakan!" kata Cassie dengan tatapan mengantuk-nya.
"Aku? Lulus?" gumam Etzell.
Mengetahui kalau dirinya lulus dalam tes kelayakan yang diujikan oleh Cassie, tentu saja Etzell merasa senang. Dia merasa bangga pada dirinya sendiri karena berhasil melawan keraguannya itu.
Namun, Etzell menyadari kalau kesenangan itu hanyalah awal dari segalanya. Dia akan berhadapan dengan banyak makhluk mengerikan yang bernama Monster, karena itulah dia tidak boleh berbangga diri secara berlebihan.
Tidak hanya itu, pemahaman Etzell tentang dunianya yang baru bisa dibilang masih sangat awam, bahkan ketika sudah dijelaskan panjang lebar oleh Tiwaz Re dan Melissa, dia masih tidak mengerti. Jadi, Etzell berpikir kalau semuanya akan menjadi semakin rumit.
"Walaupun kau lulus, tapi sayang sekali, aku tidak bisa memperkenalkan lingkungan sekolah ini padamu," kata Cassie.
"Eh? Kenapa?" tanya Etzell.
"Kau bahkan masih bertanya? Lihatlah sekitarmu!" jawab Cassie sambil memerintah.
Etzell melihat lingkungan di sekitarnya seperti yang Cassie perintahkan, dan benar saja, ternyata semua bangunan di sekitarnya memang telah hancur.
Reruntuhan dan kehancuran terjadi dengan cepat, menciptakan pemandangan yang tidak biasa bagi Etzell. Bangunan-bangunan sekolah yang sebelumnya kokoh dan berdiri tegak kini roboh seperti kertas yang terkena angin kencang.
Tanah di sekitarnya juga terbelah, menciptakan celah-celah besar yang menjalar ke dalam. Pohon-pohon dan tanaman hancur, daun-daun berguguran dan ranting-ranting patah akibat guncangan yang hebat.
Etzell menyadari kalau semua itu adalah ulah dari dirinya sendiri. Dengan teriakannya yang sangat keras, ditambah dengan Etzell yang tidak bisa mengendalikan kekuatannya, itu berakhir dengan membuat gempa yang lumayan besar.
Rasa bersalah memang ada di benak Etzell, tetapi dia yakin kalau semuanya akan baik-baik saja. Bahkan entah kenapa, Cassie malah terlihat senang dan menampilkan senyum tipisnya.
"Etzell," Cassie memanggil.
"Ada apa?" tanya Etzell.
Disaat Etzell sedang fokus melihat keadaan di sekelilingnya, Cassie memanggil, jadi itu membuat pandangannya beralih ke arah Cassie berada.
"Selamat datang di sekolah barumu, kuharap kau bisa berteman akrab dengan yang lainnya nanti!" kata Cassie, kali ini dia benar-benar tersenyum.
"Ya, aku senang jika kalian semua menerimaku," balas Etzell, dia juga membalas senyuman dari Cassie.