
"tuh kaki enga sakit" kata Reza
"ya iyalah sakit enga liat saat kursinya kena kakinya Irvan" kata Hendra
"udah udah ayu pesan dulu"
"ya udah kamu pesan apa Van"
"biasa oh ya aku minta sama es batu untuk buat kaki nih"kata Irvan
"Reza kamu mau apa?"
"aku ikut kamu pesan sendiri"
"ya udah deh kami tinggal dulu"
"eemmm ya"
"sara itu Irvan kenapa?"kata Bella
"Irvan mana irvan"
"itu yang lagi duduk sendiri lagi pegang kakinya"
"apa yang terjadi sama Irvan ganteng ku"
"aduh mulai lagi centilnya"
"maksud kamu apa hah"
"enga ada kok"
"ayu kita samperin ayang ganteng ku"
"ya iya"nyesal deh ngasih taunya batin Bella
"sayang ganteng kenapa,sakit ya aduh ya ampun kenapa bisa merah gitu kakinya"
"enga papa kok"
"apanya yang enga papa kaki sampai merah gitu"
"ayu iku aku sekarang"
"kemana"
"ke UKS lah sayang"
"enga usah dan satu lagi sara berhenti panggil aku dengan sebutan sayang karena aku bukan pacar kamu ngerti"
"tapi sayang"
"enga ada tapi tapian ngerti"
"udahlah saraswati mendingan kamu cari cowo lain apa kamu enga malu di tulak terus"kata Hendra
"betol itu" kata Reza membenarkan kata Hendra
"dari kelas 1 sampai sekarang kamu masih aja ngejar Irvan kamu tau kan Van enga mau punya hubungan sama cewe manapun harus kamu sadar dong"
"aku yakin satu saat Irvan akan jadi miliku hanya milikku"dengan kata penuh keyakinan teriak sara
sampai orang di kantin mengarahkan padangan sara,Bella,Reza ,Hendra dan Irvan mereka tau sara sangat mencintai Irvan sudah berapa kali sara si ratu cantik sekolah di tulak oleh Irvan
"udah" kata Irvan dengan nada membentak kearah sara
"sara terdiam"melihat kearah mata Irvan dia tau van enga pernah menaruh perhatian padanya yang membuat hatinya sakit namun dia tak mengatakannya betapa tersiksanya mendengar penolakan dari Irvan namun bukan sara namanya kalau menyerah dia akan buktikan bahwa Irvan akan jadi kekasihnya
"ya ampun Mita coba lihat ka Irvan kasian banget"
"apanya yang kasian coba"
"kamu liat ka sara memaksakan perasaan sama ka Irvan"
"ya aku liat kan wajar naksir sama ka Irvan jadi kaya gitu"
"terus kenapa kamu diam aja liat orang yang kamu suka dipermalukan gitu"
"apa yang harus aku lakuin bilang klo aku pacar dia"
"nah itu ide bagus juga"
"maksud kamu"
"sini aku bisikin.....bla bla bla"
"what maksud kamu bla bla bla apa coba"
"duh anak ini,kamu sering kan lihat akting didrma"
"eemmm gitu" aguk aguk paham yang di maksud elin
"ayu sekarang kamu cepat tolongin pangeran kamu dari mak lampir
"oke siap"
"good luck Mita"
"eemmm" lihat mengarahkan tangan agar elin melihat drama yang dibuatnya
dengan gaya tomboi mita melangkah menghampiri mereka yang jadi perhatian anak Kanti tiba-tiba
"hi pangeran katak"mita berteriak
membuat anak di kantin mengarah suara itu
"apa enga ada panggilan romantis buat yang dia suka, yang keluar pangeran katak" kata elin dengan hanya memperhatikan perilaku temannya itu
Mita tak menghiraukan pandangan anak anak disana dengan gayanya yang sangat membuatnya terlihat keren tangan kanan yang migang leher dibelakang
sara melihat Mita mengarah menghampiri mereka
"apa yang kamu katakan tadi"
"apa telinga kamu budak apa harus aku ulangi lagi,oke baik lah Irvan pangeran kataku"
"apa kamu mehinna ayang irvan ku"
"hello apa penghinaan itu ada panggilan kesayanganku sama Irvan pangeran katak ku ya kataku? mengarah padangan ke irvan
Irvan,Reza dan Hendra terdiam melihat kelakuan Mita lestari
"apa aku salah dengan pangeran katak pangilan sayang sama Iva,dasar cewe jadi jadian " batin Hendra
"sejak kapan Ivan suka cowo eh salah cewe tomboi,tunggu apa mungkin gadis tipenya Irvan kaya gini astaga apa karena ini Irvan selalu tulak cewek cantik"batin Reza
Irvan hanya terdiam dengan loading
sampai Mita mengulang perkataannya
"ya kan pangeran kataku tersayang"
"iya"Irvan menjawab pertanyaan Mita
membuat anak anak di kanti kaget apa lagi sara dan Bella yang mendengar jawaban iya dari mulutnya Irvan
Reza dan Hendra tak kalah kagetnya mendengar jawaban dari temannya itu
"apa Irvan sudah crazy" batin Hendra
"nah kamu sudah dengarkan dan kalian yang semua jadi saksinya dengan suara kerasnya, jadi berhenti dekati pangeran katak ku sekarang kamu ngerti pergi kata mita
Bella pun menari sara untuk menjauh dari Mita
nah sekarang pangeran katak ku melanjutkan makan dan jangan lupa pakai es batunya untuk mengurangi bengkaknya oke dengan sekali kedipan matanya
"iya"angguk angguk setuju perkataan Mita
Mita pun pergi kembali duduk dimeja
elin pun memberi dua jempolnya kepada temannya atas drama yang dia buat
"gila aku kaget benget laut bisa keren banget,tapi hati hati mita sekarang kamu jadi topik utama sekarang"
"biar aja aku enga perduli"
"kamu jangan biasa biasa aja sekarang kamu jadi musuh wanita yang naksir sama ka Irvan tau harus tetap hati-hati tau
"ya iya tau,makan sekarang"
"punya aku udah habis saat nonton drama kamu main tadi smpai-smpai nasi dalam piring habis tau Tampa sadar"
"dasar kamu"membuang napas berat
"kenapa?" elin bertanya melihat teman membuang napas berat
"nih burgerku jadi dingin jadi enga enak lagi"
"astaga aku pikir apa udah makan z"
"den nih pesanannya tadi "kata pak Kanti
"Taru aja pak makasih ya"
"ya den sama sama"
Irvan kembali duduk namun pikirannya entak Kana
"Van kamu enga kenapa-kenapa kan"kata Hendra
"em ya apa Hendra" setengah sadar
"Hendra tanya kamu baik baik aja kan"
"oh ya baik kok,ayu makan"
"ada yang aneh perilaku Van sekarang,ah nanti aku tanya"batin Hendra
mereka bertiga menghabiskan makannya
"Mita ayu ke kelas"
" em iya"
"Bella aku enga salah dengarkan kurang cantik apa aku dari gadis tadi,kamu liat kan gaya berpakaiannya dan tingkah lakunya itu apa benar aku kalah dengan gadis itu ini enga benar Bella Irvan jodohku dia adalah milikku kamu tau kan"
"ya iya, sara udah yu ke kelas bentar lagi masuk"
"Irvan enga mungkin pacar gadis jelek itu ya kan Bella"
"iya sara sekarang masuk yu"
"kok ngomong iya ya aja mulu mulai tadi"
"terus aku harus ngomong apa sara"
"ngeselin" sara meninggalkan Bella
"sara tunggu" aduh apa salah lagi