
bel berbunyi menandakan pelajaran pertama akan berlangsung
"selamat pagi anak anak"
"selamat pagi Bu" semua murid
"hari ini adalah hari pertama ibu mengajar apa ada yang tau nama ibu"
"belum bu" semua murid
"kan ibu belum perkenalkan diri"Reza
"begitu ya, ya sudah ibu perkenalkan dulu nama ibu Winna mulan biasa dipanggi ibu Wiwin"
"salam kenal Bu"
"nah sekarang giliran kalian perkenalkan diri masing masing oke dari ujung kanan "
"maju kedepan Bu"
"enga usah berdiri dimeja masing-masing"
perkenalan pun selesai dengan murid 30 orang
"baik kita lanjutnya buka bukunya"
"iya Bu" semua murid
Mita yang sedang mencari sesuatu elin pun bertanya
"kenapa ada yang tertinggal?"
"enga ada sudah aku masukin semua"
"terus kamu sedang nyari apa?"
"itu polpen"
"nih aku pinjaman ngah usah panik"
"bukan itu polpen ada kok"
"tadi katanya nyari polpen"
"iya"
"terus"
"polpen itu beda elin"
"apa yang beda polpen ya polpen"
"polpen itu sangat penting selama 4 tahu enga pernah aku pakai cuma aku jadiin gantungan kunci tapi kemarin lepas aku lupa pasang lagi,perasaan tadi aku bawa"
" mungkin tertinggal dirumah kali"
"enga mungkin tadi aku bawa, tapi muga aja tertinggal dirumah klo hilang aku enga tau harus apa"
"sebegitu pentingnya ya Mita"
"ya iya lah itu dari teman aku lagi SD tau pas lulus dia kasih itu buat kenangan karena dia akan pindah rumah juga jadi enga bisa bareng lagi,gimana dong"
"ya iya muga enga hilang"
anak anak sekarang ibu akan menjelaskan bab pertama dan seterusnya.
"irvan kamu punya polpen lagi enga"
"enga ada"
"bilang aja enga mau pinjam aku"
"maksudnya"
"itu dikantung baju kamu ada polpen"
"apa sih melihat" ke kantungnya
baru ingat polpen yang ditemukan Hendra pagi
tadi
"pelit"
"oh ini bukan punyaku tadi Hendra yang nemu enga tau punya siapa?
"ya udah aku pakai ya"
"eh jangan"
namun teman sebangku Irvan tetap mengambil polpenya namun saat temannya mau pakai enga bisa menulis
"apa apaan nih Van kok enga bisa ditulis?"
"masa sih"
"coba kamu lihat"
"kamu sih main ambil aja mungkin polpenya ngambek sama kamu ngambil paksa"
"mana ada kaya gituan tahayol to"
"sini balikin"aneh sih apa ini sampah batin Irvan memasukan kedalam tas
"terus gimana dong"
"salah sendiri"
"Hendra kamu ada polpen lagi"
"ada kamu ketinggalan polpen"
"bukan aku tapi dia nih"
"eemmmm"
"nih polpenya "
"woahhh makasih Van"
"enga perlu, kamu berterimakasih sama Hendra"
"eemmmm oke, Hendra makasih ya"
"ya sama,tapi jangan lupa balikin lagi"
"ya iya" selamat selamat batin ardiyan
bel berbunyi menandakan istirahat
"oke anak-anak sekarang bukunya dikumpulkan waktunya sudah abis"pak Irwan
"ya pak" semua murid
"nih polpenya makasih banyak"meletaka diatas meja Hendra"
"ya sama"
"eemmm mau ke kantin bareng"
"boleh kita bareng bertiga"
kantin sekolah
"bu saya mau pesan teh es dua sama nasi goreng dan burgernya"
"oke neng"Bu kantin
"Mita kamu lagi ngapain sereyus banget"
"nih aku lagi main ini asik banget tau"
"oh itu yang sekarang lagi rami itu"
"iya kamu harus cobain deh"
"aku enga tau cara mainnya"
"sini ponsel kamu aku download permainannya
nah sekarang kamu udah bisa mainnya"
"gimana caranya"
"sini kamu" Mita menyuruh elin mendekatkan kursinya
saat elin mau narik kursinya
aduh hhhajsjg
elin pun menuleh kerah suara
"astaga maaf ka Irvan aku enga sengaja"
"enga papa lain kali hati mau mindahin kursinya"
"ya ka sekali lagi maaf ka Irvan"
"eemmm"
lalu berjalan menuju duduk mereka biasa
"kamu enga papa" Mita bertanya
"enga papa kok"
"ya udah duduk sekarang"
"neng nih pesanannya" ibu kantin
"ya bu makasih" kata Mita elin
"Mita kok diam aja tadi"
"emangnya kenapa"
"yang kena kursi tadi ka Irvan Mita"
"what kamu serius elin, Sekarang Irvan ada dimana"
"telat kamu Mita itu disana"
melihat kearah yang ditunjuk elin
"pasti sakit banget"
"pastilah suaranya saja buat aku kaget tau"
"masa sih kok aku enga dengar"
"kamu sih fokus main terus,ya udah makan sekarang"
"iya ya nih aku makan"mata Mita fokus kearah Irvan keliatan banget sakit sampai merah gitu"
"Mita kamu liat apa?"
"enga ada kok"
"enga ada gitu tapi mata enga lepas dari pandangan ka Irvan"
"udah ah cepat habisin makanannya"
elin hanya senyum senyum melihat temannya salah tingkah, jujur aja seandainya Mita pakai pakaiyan rapi dan sedikit pakai make up pasti canti banget ka sara kalah deh batin elin